I am Not a Girl

I am Not a Girl
Chapter 27



.


.


.


"Apa Nona Olivia baik-baik saja ya?" gumam Oliver.


"Jangan khawatir, dia adalah gadis yang kuat," sahut Samuel.


Setidaknya dulu dia pernah merasakan pukulan maut dari Olivia, jadi dia percaya bahwa gadis itu pasti bisa menjaga dirinya sendiri.


Luke terlihat lebih pendiam dari pada sebelumnya, tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Matanya sedari tadi hanya menatap kearah api unggun dengan pandangan kosong.


Aiden menghampiri mereka dan memberikan masing-masing dari mereka satu mangkuk sup gandum.


"Yang Mulia, ini makanan anda," ucap Aiden sambil menyodorkan sup gandum.


Luke menatap sekilas kearahnya, "tidak, aku tak berselera makan saat ini."


Mereka bertiga terdiam, ini adalah pertama kalinya Luke menolak makan, biasanya dalam kondisi apapun dia tidak pernah melewatkan waktu makan.


"Emm.. tapi Yang Mulia, dari siang anda belum makan apapun."


Luke menatap Aiden dengan tajam, "sudah kubilang aku tidak ingin makan saat ini!" tegasnya sambil beranjak pergi dari sana.


"Sepertinya Yang Mulia Raja sedang dilanda kegelisahan," celetuk Samuel.


Aiden dan Oliver menatapnya secara bersamaan, "apa? Aku tidak salah menebak kan?" tanyanya dengan ragu.


Aiden memutar matanya, sedangkan Oliver kembali menikmati sup gandumnya.


Luke berjalan menjauh dari sana, kakinya terus melangkah kedalam hutan, pikirannya terasa kosong, dia tidak bisa memikirkan apapun selain gadis bersurai pirang pemilik mata indah sama seperti dirinya.


Ini adalah kedua kalinya hatinya terasa sangat hampa, dia ingin melihat gadis itu, melihat mukanya yang selalu cemberut karena keinginannya tidak dipenuhi, atau melihat mukanya yang bersemu merah saat dia menggodanya.


Luke menghentikan langkahnya dan menatap rembulan yang bersinar terang di atas langit, dia berharap dapat menemukannya, kalau tidak, dia akan kembali kehilangan seseorang yang berarti di dalam hidupnya.


"Tidak akan lagi.." gumamnya.


Sreekk..


Suara semak-semak membuat matanya waspada, ia memposisikan dirinya untuk bersiap menerima apapun yang ada di depan sana.


Setelah sosok itu terlihat sepenuhnya di bawah sinar bulan, kewaspadaan nya berkurang, ternyata itu hanya seekor tupai liar.


"Huuft.. aku pikir apa.."


"Memangnya tadi kau berfikir apa?" bisik seseorang tepat di telinganya.


Dengan secepat kilat Luke membalikkan badannya dan menemukan sesosok pria bertopeng kelinci.


"Siapa kau?" tanya Luke cepat.


Pria itu memiringkan kepalanya ke kanan dan kiri secara lambat, "siapa aku?" ujarnya, "aku adalah manusia!" teriaknya dengan semangat.


"Aku tahu kau manusia, tapi siapa kau sebenarnya? Dan apa yang kau lakukan ditengah hutan seperti ini?"


Pria itu berhenti bergerak dan menatap Luke dengan serius, "kau ingin tahu apa yang kulakukan disini?" ucapnya sambil mendekati Luke dengan perlahan.


Tanpa sadar Luke melangkahkan kakinya mundur, dia tidak tahu siapa pria di depannya ini, namun yang jelas dia sangat aneh dengan topeng kelinci yang menutupi bagian atas mukanya saja.


Pria itu menyipitkan matanya dan berbicara pelan pada Luke, "jawabannya adalah.. RAHASIA!" teriaknya diakhir kalimat, lalu dia tertawa dengan keras seperti layaknya penjahat.


Luke mengerutkan keningnya, sepertinya dia adalah orang gila yang tersesat di dalam hutan, tapi pakaian yang dia kenakan terlihat bersih dan terawat, jadi siapa sebenarnya orang ini?


Setelah pria itu selesai tertawa dia kembali menatap Luke, "fufufu.. kau sedang mencari calon Permaisuri mu kan?" tanyanya sambil tersenyum.


Luke membulatkan matanya,"ba.. bagaimana kau tahu?" tanyanya tak percaya.


"Anggap saja aku ini adalah seorang peramal yang mengetahui segala sesuatu tentang dirimu, bahkan sampai hal kecil sekalipun aku tahu!"


"Peramal?"


"Yap peramal," dia loncat-loncat memutari Luke layaknya seekor kanguru, "bahkan aku tahu apa yang kau tidak tahu fufufu.."


Sepertinya ada yang tidak beres dengan pria ini, tapi meskipun begitu dia tahu bahwa Luke sedang mencari Olivia.


Luke menatapnya tajam, "jadi.. kau tahu segala sesuatu tentang diriku? Kalau begitu apa kau tahu keberadaan calon Permaisuri ku saat ini?"


Pria bertopeng itu berhenti bergerak, dia terdiam layaknya sebuah patung untuk waktu yang cukup lama, sampai Luke berfikir bahwa pria itu sedang mengabaikannya.


"Hei! Aku sedang bertanya padamu!" ucap Luke sedikit keras.


Kepala pria itu bergerak secara perlahan menatap kearah Luke, dan saat Luke bisa menatap mukanya dia sedikit terkejut melihat siluet bola mata pria bertopeng di depannya di bawah sinar bulan.


Warna bola matanya kuning keemasan, dan sangat terang namun unik, rasanya Luke terhipnotis dan tidak ingin mengalihkan pandangannya dari sepasang mata itu.


"Dia.. " ucapnya dengan pelan.


Luke tidak dapat mendengar suaranya dengan jelas karena pria itu berbisik.


"Apa yang kau katakan tadi?" tanya Luke.


"Dia tidak.." suaranya kembali tak terdengar di telinga Luke.


Karena Luke mulai kesal akhirnya dia mendekati pria bertopeng itu dan memasang telinganya baik-baik di dekat mulut pria itu.


"Dia.. tidak ada di sini.." ucapnya masih dengan suara pelan, namun sekarang Luke cukup bisa mendengarnya.


"Dia.. sudah memasuki dunia gelap.."


"Kau takkan bisa mengalahkannya.. kecuali kau bisa membangunkan monster itu.."


Tubuh Luke menegang saat mendengarnya.


"Kalau tidak, permaisuri mu.. kau takkan bisa melihatnya lagi.."


"APA MAKSUD MU!" teriak Luke sambil menatap ke arah pria itu, namun matanya tak menemukan siapapun disana.


Pria bertopeng kelinci itu telah menghilang tanpa jejak, dan bahkan Luke sendiri masih belum paham apa maksud sebenarnya yang ingin dia sampaikan.


Namun, saat Luke mendengar kata monster, mungkin dia bisa sedikit mengerti akan hal itu.


.


.


.


.


.


Mata hijau emerald itu menatap sosok di depannya dengan jengkel, "apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya pria itu.


Pria bertopeng itu balik menatapnya dengan malas, "tentu saja melakukan tugas ku."


"Apa maksudmu dengan tugasmu? Ini adalah tugas ku dasar kau otak kelinci!" teriaknya.


"Hei! Jangan panggil aku seperti itu dasar pria pemalas!"


"Siapa kau sebut pemalas hah?!"


"Tentu saja kau bodoh!"


Kedua pria itu saling melempar tatapan maut yang sangat menakutkan, namun beberapa detik kemudian pria bertopeng itu pun mengalah dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Terserah lah, aku hanya ingin membantumu sedikit, dan setidaknya sudah kulakukan," ucapnya kembali duduk dan bersender pada sebuah batang pohon kayu yang sudah tumbang.


"Memangnya apa yang kau lakukan?"


"Tentu saja mengarahkan tokoh protagonis untuk bisa menemui pasangannya."


"Ahh.. aku mengerti," pria pemilik mata hijau itu pun duduk di dekat pria lawan bicaranya.


"Jadi.. kenapa tokoh wanitanya bisa melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dia lakukan di dalam buku?" tanya pria bertopeng itu.


"Aku pun tak tahu apa yang pria itu pikirkan."


"Pria?" tanyanya bingung sambil menatap ke arah pria bermata hijau itu.


"Iya, dia sebenarnya adalah seorang pria di dunia asalnya."


"Ahh.. pantas saja dia melakukannya, aku mengerti apa yang ada di dalam pikirannya saat ini."


"Ya.. aku juga sama.."


"Tapi.. Alex.. kenapa kau malah membiarkannya pergi? Kenapa kau tidak menghentikannya hmm?" tanya pria bertopeng itu sembari menatap tajam ke arah Alex.


"Aku hanya ingin dia tidak tahu siapa aku sebenarnya."


Tiba-tiba kedua tangan pria bertopeng itu memegang erat pundak Alex dan mengguncang nya dengan sangat cepat.


"DASAR BODOH! KENAPA KAU TIDAK MENGHENTIKANNYA SAJA! APA KAU TAHU TOKOH WANITAMU ITU TELAH MENGHANCURKAN CERITAKU!!"


"Ma.. maaf.." ucap Alex dengan terbata-bata.


.


.


.


.


.


To Be Continued


.


.


.


Hai readers..


Maaf, author sudah lama gak up cerita ini, dikarenakan kesibukan author di dunia real..


Jadi mohon dimaklumi, saya ini juga manusia yang harus mencari nafkah uhuk.. :'v


Kalo soal update, saya akan berusaha sebisa mungkin untuk meluangkan waktu saya membuat cerita ini, jadi mohon bersabar menunggunya ya readers..


Terimakasih juga untuk para pembaca yang masih setia menunggu update cerita ini, dan juga terima kasih untuk kalian semua yang mau meluangkan waktu kalian membaca cerita yang menurut saya ini masih kurang bagus..


Oh iya, vote and coment kalian juga membuat saya sedikit terharu karena saya pikir novel ini gak laku..


Jadi jangan lupa vote and coment nya ya readers ^^


See you next chapter~