I am Not a Girl

I am Not a Girl
Chapter 7



.


.


.


Kedua mata itu masih menampakkan kesedihan yang mendalam, nampak jelas bahwa dia sudah sangat lama sekali memendam kerinduan yang begitu besar.


Olivia yang masih setia berada di samping pria itu seakan melihat sesuatu yang sangat rapuh, bener-benar rapuh sampai dia berfikir kalau ada yang menyentuhnya sedikit saja dia akan langsung hancur berkeping-keping.


Sosok Raja yang saat ini sedang dia lihat bukanlah sosok yang sering dia lihat sebelumnya, kemana kah sifat angkuh, berdarah dingin, dan tatapan tajamnya pergi?


Apa mungkin yang sedang dia lihat ini bukan Raja yang sebenarnya?


Mereka berdua terdiam dengan kesunyian yang terasa aneh, dan Olivia tidak menyukai suasana atmosfer yang seperti ini, akhirnya dia mencoba mencairkan suasana dengan bertanya.


"Emm.. Yang Mulia, bisa ceritakan seperti apa adikmu itu?" tanyanya dengan lembut.


Raja tak langsung menjawab, dia masih terdiam dengan muka sedihnya itu, mulutnya terbuka tapi tak mengeluarkan suara apapun, dan itu membuat Olivia merasa bersalah telah menanyainya.


"Ka.. kalau anda tidak mau cerita pun tak apa," ucapnya lagi sambil tersenyum.


"Tidak apa-apa," ucap Raja akhirnya, "aku akan memberitahumu seperti apa adikku itu."


Raja memandang ke arah atas, dimana langit sedang menampakkan keindahannya, warna biru itu sangat mirip dengan warna mata adiknya, dan juga warna mata gadis di samping nya.


"Adikku sangat suka memandang langit, dia selalu berkata bahwa dia ingin sekali melihat seperti apa sosok malaikat itu, dia juga bahkan bertanya pada ku 'apa para malaikat bisa membawaku menemui ayah dan ibu?' dan aku akan selalu menjawab 'iya, mereka akan membawamu pergi sangat jauh, ketempat dimana ayah dan ibu berada, bahkan tempat itu di penuhi dengan bunga Middlemist Camelia', setelah mendengar nya dia akan langsung tersenyum lembut kearahku, bahkan sampai akhir hayatnya senyumnya itu tidak pernah pudar dari bibir mungilnya yang manis."


Genangan air mata mulai terlihat muncul ke permukaan lagi, dia memang tidak bisa menghentikan air mata itu keluar, karena hatinya terasa sangat sesak, dia merasa sakit, sakit karena ditinggalkan adik tersayangnya.


Air mata itu mulai meluncur mulus di pipinya yang putih, lagi dan lagi air itu tak berhenti keluar dari kedua matanya yang mulai membengkak, sebisa mungkin dia menahan keluarnya suara isakan, dia hanya tidak ingin terlihat memalukan di depan orang lain.


Namun tanpa di duga suara isakan terdengar jelas dari arah sampingnya, saat dia menoleh ternyata isakan itu keluar dari mulut Olivia, dia menangis bahkan lebih parah dari dirinya sendiri. Luke jadi merasa sangat heran, kenapa malah gadis ini yang menangis? Seharusnya dialah yang menangis seperti itu.


"Hei, kenapa kau menangis?" tanyanya.


"Aku.. aku hanya merasa sedih Yang Mulia, anda begitu sangat menyayangi adik anda, sampai hati ku tersentuh.. hiks.. hiks.." ucap Olivia sambil mengelap air matanya.


Tanpa Luke sadari bibirnya mengukir sebuah senyuman, dan entah kenapa hatinya yang semula sangat dingin mulai menghangat hanya dengan melihat tingkah gadis di depannya.


Olivia menatap Raja dengan air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya, dan dia langsung berhenti mengeluarkan isakan saat dia sadar bahwa Raja Luke saat ini sedang tersenyum kearahnya.


"Dia.. tersenyum? Pria berdarah dingin ini tersenyum?"


Apa matanya tidak salah liat, bibir itu membentuk senyuman yang sangat tipis, tapi Olivia tahu bahwa itu adalah senyuman. Dia jadi berfikir bahwa Raja tersenyum untuk meyakinkan dirinya baik-baik saja, dan Olivia jadi sangat tersentuh dengan Raja yang berusaha terlihat tegar, namun sebenarnya tidak seperti yang terlihat di depannya.


Tangannya langsung merangkul leher pria itu dengan erat, dia hanya berfikir bahwa Raja ternyata membutuh kan seseorang untuk jadi tempat pengaduan rasa sakit yang selama ini dia pendam sendirian.


Sedangkan Raja yang tiba-tiba di peluk seperti itu sangat kaget, namun dia tak berusaha untuk melepaskan dirinya dari gadis itu.


"Kenapa kau memelukku?" tanyanya.


"Yang Mulia, anda tidak bisa terus menerus memendam rasa sakit di dalam hati, sewaktu-waktu anda harus mengeluarkannya, jadi inilah waktu yang pas untuk anda mengeluarkan semua rasa sakit itu," ucap Olivia sambil mengelus punggung lebar milik Raja.


Raja terdiam mendengar perkataan Olivia yang begitu lembut di telinganya, hatinya tambah menghangat, di tambah usapan di punggungnya memberikan dia kenyamanan, tiba-tiba hatinya berdetak dengan kencang, dia tidak tahu mengapa jantungnya bisa berdetak seperti itu, dia hanya merasa tidak ingin semua ini berakhir dengan cepat.


Dia teringat dengan adiknya yang selalu memeluknya seperti ini, pelukan itu begitu hangat, sama percis seperti yang sekarang dia rasakan, tak bisa di pungkiri dia memang sangat merindukan adik kecilnya, orang yang selalu setia menemaninya kemanapun dia pergi dan melangkah, kaki kecil miliknya selalu mengikutinya.


Dia rindu, sangat merindukannya, air matanya kembali keluar, tapi ini bahkan lebih banyak dari sebelumnya, isakan yang tadi dia tahan pun tanpa di sadar telah meluncur mulus keluar dari mulutnya.


Olivia tersenyum, dia sudah menduga Raja akan menangis seperti ini, dia yakin sedingin dan sejahat apapun seseorang dia pasti memiliki titik lemahnya tersendiri, termasuk pria di pelukannya ini.


Dia terus mengelus punggung itu dengan pelan, "keluarkan semuanya Yang Mulia, tidak ada orang di sini kecuali kita berdua, jadi anda tak perlu takut ada yang melihat anda yang keadaannya seperti ini," ucapnya dengan lembut.


Tanpa Olivia duga suara tangisnya semakin kencang, dan kedua tangan Raja membalas pelukannya dengan erat, Olivia sedikit terkejut, namun dia masih terus saja mengelus punggungnya yang sudah mulai bergetar.


.


.


.


Suara isakan itu sudah tak terdengar lagi di telinganya, dan mereka berdua masih di posisi yang sama, saling berpelukan memberikan kehangatan. Olivia ingin melepas pelukan itu rasanya tangannya sudah mulai keram karena terlalu lama memeluk Raja, tapi dia pun tidak ingin menjadi orang pertama yang melepas pelukannya.


"Oh ya Tuhan, ini sangat menyiksa," batinnya mengeluh.


Akhirnya yang ditunggu Olivia pun datang, Raja melepas pelukannya dan mulai menatap kedua bola mata berwarna biru milik Olivia. Gadis itu pun membalas tatapan nya, dia bisa melihat muka Raja Luke yang terlihat berantakan.


Kedua matanya bengkak, hidung nya berwarna merah, dan masih ada sisa air mata di bulu matanya. Olivia langsung mengusap kedua mata bengkak itu dengan pelan.


"Yang Mulia, anda terlihat seperti seorang anak kecil yang kehilangan mainannya," ucapnya sambil tersenyum.


Raja tak berbicara apapun, dia tetap diam sambil menatap gadis di depannya, Olivia jadi merasa sedikit kasian padanya, seandainya saja adiknya masih hidup, pasti pria di depannya ini akan mudah tersenyum hangat pada semua orang, bukannya tatapan tajam dinginnya yang selalu ia lontarkan.


Tapi takdir sudah berkata lain, Putri Abby sudah ditakdirkan untuk meninggal di usianya yang masih muda, dan Olivia sangat mengerti akan hal itu, dia pun juga sering berfikir bagaimana kalau ibunya tidak meninggal dalam kecelakaan, pasti dia bisa merasakan rasanya memiliki seorang ibu.


"Olivia," panggil Raja.


"Iya Yang Mulia, ada apa?"


"Apa kau belum mandi?"


Olivia langsung terdiam, dia masih mencerna pertanyaan itu di otaknya dan saat dia sadar mukanya berubah warna menjadi merah padam.


"Apa-apaan pria ini? Dia bertanya sesuatu seperti itu di saat seperti ini?"


Olivia tidak habis pikir dengan sifat pria di depannya, bukannya dia baru saja menangis, tapi kenapa dengan cepat dia berubah kembali menjadi pria yang menyebalkan?


"Ke.. kenapa anda menanyakan itu?" tanyanya dengan malu.


"Tubuhmu bau," jawab Raja dengan muka datarnya.


Olivia langsung mengepalkan tangannya tanpa sadar, amarahnya sudah hampir mencapai ubun-ubun, kalau saja dia bukan seorang Raja mungkin tangannya sudah melayang untuk memukul pria tidak tahu diri di depannya ini.


"Sabar Allen, sabar, anggap saja kau sedang berhadapan dengan orang idiot."


"Ma.. maafkan aku kalau itu membuat anda terganggu," ucap Olivia yang sebenarnya tidak ingin meminta maaf.


"Tidak apa-apa, aku tidak merasa terganggu dengan hal itu," ucapnya yang kembali memeluk tubuh ramping Olivia, "aku hanya ingin memberitahumu, itu saja."


Olivia benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya, dia jadi sangat yakin dengan Raja yang tidak pernah berhubungan dengan seorang wanita satupun, sampai dia selalu mengatakan sesuatu yang bisa menyakiti seorang wanita, tapi untungnya dia bukan seorang wanita, jiwanya adalah seorang pria yang tidak mudah terusik dengan kata-kata seperti itu.


"Yang Mulia, bila anda sudah tahu tubuhku bau, kenapa anda tetap memelukku?" tanya Olivia dengan heran.


"Aku hanya suka memelukmu, apa tidak boleh?"


"Ahh.. tentu saja boleh," jawab Olivia sambil senyum terpaksa.


"Dasar pria aneh!" teriak batinnya marah.


.


.


.


Besok paginya, seperti biasa Olivia sarapan pagi dengan Raja di ruang makan, dia menatap kearah pria yang sedang fokus dengan makanannya itu dengan tajam. Setelah kejadian kemarin dimana Raja menangis di pelukannya pria itu sudah sedikit berubah, meskipun tatapan dinginnya masih belum hilang dari kedua iris mata birunya.


Tapi dia bener-benar berubah, sampai tadi pagi saja dia mendatangi kamarnya, padahal sebelumnya dia tak pernah melakukan hal itu, Olivia jadi punya firasat buruk akan hal ini, dan dia tidak tahu apa itu, hanya saja hatinya gelisah.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Raja yang langsung membalas tatapan tajam yang Olivia lontarkan padanya.


Olivia langsung menunduk, dia tidak ingin menatap mata itu terlalu lama, "aku hanya ingin menanyakan sesuatu."


"Menanyakan apa?"


"Apa aku boleh jalan-jalan keluar is.. "


"Tidak boleh!" potong Raja dengan cepat.


Olivia menatap Raja dengan kaget, dia bahkan belum menyelesaikan pertanyaan! Tapi pria itu sudah langsung menjawabnya dengan cepat.


"Kenapa?"


"Kalau aku bilang tidak boleh ya tidak boleh!" ucapnya dengan tegas.


"Aku sungguh benci pria ini."


Memang apa salahnya dia jalan-jalan keluar istana? Olivia hanya ingin melihat lihat kota, lagipula dia sudah terlalu lama berada di dalam Istana, dia sudah bosan dan ingin mencari suasana baru untuk dilihat matanya.


Olivia menunduk dengan sedih, dan Raja yang melihatnya jadi merasa bersalah telah berkata sedikit kasar padanya.


"Memangnya apa yang membuatmu ingin keluar istana?" tanya Raja.


Olivia kembali menatap kearah Raja, "aku hanya merasa bosan di dalam istana Yang Mulia, aku hanya berfikir mungkin dengan ber jalan-jalan di kota aku tidak akan terlalu merasa bosan," ucap Olivia pelan.


Raja menghembuskan nafas beratnya, dia tidak boleh membuat gadis di depannya ini serasa berada di dalam kurungan besi, dia tidak ingin membuatnya sedih hanya karena dia tidak memperbolehkan gadis itu keluar istana.


"Baiklah, kau boleh keluar istana," ucap Raja akhirnya.


Olivia menatap Raja dengan senang, bibirnya terlihat membentuk senyuman manis, "benarkah Yang Mulia? Apa aku boleh keluar istana?" tanya Olivia tidak percaya.


Dia memang merasa aneh karena Raja yang tiba-tiba saja berubah pikiran, padahal tadi pria itu terdengar sangat menentangnya untuk keluar istana.


Raja mengangguk, "ya, kau boleh keluar, tapi ada dua syarat," ucapnya sambil menatap Olivia dengan tajam, "pertama, kau akan keluar di temani kesatria terpilih ku, dan kedua.." ucapnya menggantung.


Olivia gugup, dia memang sudah tahu kalau dia pasti akan di kawal, namun Raja mengatakan dua syarat yang membuatnya tiba-tiba merasa sesak nafas.


"Yang kedua?" tanya Olivia yang sudah sangat penasaran.


"Habiskan makanan mu dulu," ucapnya yang langsung kembali memasukkan makanan kedalam mulutnya.


"Hanya itu?"


Dia pikir syarat keduanya sesuatu yang akan membuatnya kesusahan, tapi ternyata dia hanya di suruh habiskan makanan nya, sungguh benar-benar aneh pria ini.


.


.


.


Olivia saat ini sudah siap untuk pergi keluar istana, dan dia di dampingi oleh seorang kesatria bernama Oliver, rasanya dia ingat dengan pria ini, bukankah dia adalah kesatria yang dulu pernah disuruh untuk membantunya turun dari kuda. Ya itu benar, Olivia masih bisa mengingatnya dengan jelas.


"Nona, sungguh sebuah kehormatan bagi saya karena terpilih untuk menjadi penjaga anda," ucapnya ramah sambil sedikit membungkuk.


"Ahh.. ya, tentu saja, saya merasa sangat tersanjung," jawab Olivia lembut.


Mereka berdua pun berjalan menuju ke gerbang istana, Olivia sudah tidak sabar ingin melihat pemandangan di luar benteng istana ini, sudah lebih dari seminggu berada di dalam istana, dan Olivia sudah sangat bosan, memang dia itu mudah merasa bosan, makanya dia meminta izin pada Raja untuk keluar dari istana.


Namun suara seseorang memanggil dari arah belakang yang langsung menghentikan langkah kaki mereka berdua, saat Olivia menoleh, dia menemukan dua sosok pria yang berjalan mendekatinya, salah satu pria itu sangat tinggi, mungkin tingginya hampir sama dengan Yang Mulia Raja, dan yang satunya lagi bisa dibilang tingginya setara dengan Samuel.


"Ahh.. maaf karena saya memanggil anda dengan lancang seperti itu," ucap pria berambut pirang.


"Emm.. maaf, siapa kalian?" tanya Olivia penasaran.


"Perkenalkan namaku Aiden Jordan," ucap pria berambut hitam memperkenalkan diri.


"Hah? Aiden Jordan?"


Olivia ingat, dia adalah mentri persenjataan di istana, pria bersurai hitam dan bertubuh jangkung ini sekilas mirip dengan sosok Raja.


"Kalau nama saya Frederick Stone Nona," ucap pria berambut pirang sambil tersenyum ramah.


"Frederick.. Stone?"


Olivia sedang berusaha mengingat nama itu di dalam cerita, dan saat ia ingat bulu kuduk nya langsung berdiri semua. Frederick Stone, dia adalah mentri keuangan kerajaan, dan dia adalah salah satu tokoh antagonis yang akan menjadi dalang dari sebuah kudeta!


"Oh God, firasatku buruk tentang hal ini," batin Olivia takut.


.


.


.


To Be Continued