I am Not a Girl

I am Not a Girl
Chapter 26



.


.


.


Sepasang mata indah itu membuka dengan perlahan, dan dia langsung disambut oleh langit gelap diatasnya, dia melihat sekelilingnya dengan teliti, dia kenal dengan tempat ini.


Ini adalah tempat yang biasanya ada di dalam mimpinya, itu artinya dia memang sedang bermimpi sekarang.


"Olivia!" panggil seseorang dari kejauhan.


Olivia beranjak dari sana dan mendekati asal suara itu, suara panggilan itu semakin terdengar pilu di telinganya, membuat dahinya mengerut bingung, apa yang terjadi pada Luke?


Setelah Olivia sampai di dekat Luke, pria itu sedang membungkuk sambil menangis, entah apa yang terjadi padanya sampai seperti itu, apa mungkin dia kehilangan Abby? Karena Olivia tidak melihat gadis kecil itu sedari tadi.


"Luke?" panggil Olivia pelan.


Luke berbalik dan menatap mata Olivia dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Olivia?" tanyanya masih sedikit terisak.


"Iya ini aku, ada apa?" tanya Olivia.


"Sungguh ini kau Olivia?"


Olivia mengangguk dan dengan segera tubuh Luke menabrak tubuhnya sangat keras, kedua tangannya memeluk tubuh Olivia sampai rasanya tulang punggungnya akan patah.


"Jangan pergi! Aku.. aku mencintaimu, kumohon jangan pergi dari sampingku lagi Olivia.." ucapnya dengan suara serak.


Sepertinya Luke sudah cukup lama menangis sampai suaranya terdengar seperti itu, namun yang membuat Olivia merasa bingung adalah dia bilang jangan pergi dari sampingnya lagi? Apakah sebelumnya dia pernah pergi dari samping Luke?


"Tidak, aku tidak akan pergi lagi," ucap Olivia lembut sambil membalas pelukannya.


"LEPASKAN DIA!" teriak seseorang di belakangnya.


Luke melepas pelukannya dan menatap pria itu dengan tajam, tatapannya terlihat dipenuhi dengan kebencian yang dalam.


Olivia membalikkan badannya dan menatap orang itu, namun dia tak bisa melihat seperti apa muka pria itu, karena tudung jubah yang dipakainya menutupi mukanya.


"Menjauh lah dari calon istriku, sebelum kau menyesal," ucapnya terdengar dingin.


Luke menggenggam tangan Olivia dengan erat, seakan dia takut kehilangannya.


"Tidak akan pernah! Dia sudah menjadi calon Permaisuri ku!"


Dalam beberapa detik Olivia bisa melihat siluet mata berwarna merah milik pria yang tidak dia kenalny itu menatap kearah Luke dengan tajam. Dengan secepat kilat pria itu sudah berada di hadapan Luke dengan pedang menancap di perutnya sampai tembus ke punggungnya.


Olivia kaget dan dia bisa merasakan cengkraman tangan Luke melemah dan melepaskannya, entah kenapa hatinya merasakan rasa sakit saat itu, dia melihat pria bersurai hitam berdarah dingin itu dibunuh di depan matanya sendiri.


Luke memuntahkan darah dari mulutnya, ukiran darah terpahat dari mulutnya turun menuju dagu dan tetesan darah turun dari sana jatuh ke tanah. Matanya menatap Olivia dengan sendu sebelum kedua matanya menutup.


Pria bertudung itu menarik pedangnya membuat tubuh Luke terjatuh ke tanah dengan lemas, Olivia menutup mulutnya karena shock, air matanya keluar tanpa sadar, ini adalah pertama kalinya Olivia melihat Luke seperti ini, hatinya sakit, sangat sakit sampai rasanya dia bisa menangis selamanya.


Pria itu menatap Olivia dengan tajam, "kau adalah milikku, tidak boleh ada orang lain yang menyentuhmu selain aku, kalau tidak aku akan membunuhnya."


Tubuh Olivia bergetar, dia sangat takut dengan pria didepannya, dan saat tangan pria itu mencoba untuk menyentuhnya dia langsung berteriak dengan keras sampai terbawa ke dunia nyata.


"AAAAA..." teriak Olivia yang terduduk dari posisi tidurnya.


Jantungnya berdetak dengan kencang, nafasnya tersengal-sengal, dia tidak pernah menyangka akan mendapat mimpi buruk seperti itu, namun yang jelas dia berharap mimpinya tidak akan menjadi kenyataan.


"Aku.. aku tidak ingin memimpikannya lagi.." ucapnya dengan bibir bergetar.


Hatinya tiba-tiba merindukan Luke, dia ingin bertemu dengan pria menyebalkan itu lagi, pria yang selalu menatapnya dengan mata biru langitnya yang tajam, dia ingin.. sangat ingin mendapatkan pelukannya yang hangat.


Setelah Olivia mulai tenang, dia menatap sekitarnya dan kembali kaget karena dia baru sadar sedang berada di sebuah kamar berdinding kayu, kamar itu disinari oleh obor membuat pandangannya sedikit remang disini.


"Dimana aku?"


Dia melihat bajunya yang telah berubah, siapa yang telah mengganti pakaiannya? Kalau dia pria Olivia pastikan dia akan mendapat pukulan tepat diwajahnya.


Olivia beranjak dari kasur dan berjalan menuju pintu kamar, dia menatap sekelilingnya yang penuh dengan patung kayu, semua patung itu memiliki bentuk yang beragam, namun yang memikat perhatiannya adalah patung berbentuk bunga mawar.


"Wow.. ini keren sekali," ucapnya kagum.


Kira-kira siapa orang yang telah membuat semua patung ini? Siapapun dia, tangannya sangat terampil sekali mengukir kayu dengan lembut.


Olivia melangkahkan kakinya kembali menuju pintu di ruangan itu, dan dia langsung disambut dengan banyaknya rumah penduduk, didepan rumah mereka masing-masing terdapat satu obor untuk menjadi penerangan.


"Huh? Aku sebenarnya ada dimana? Dan siapa yang membawaku kesini?"


Olivia melangkahkan kakinya untuk melihat tempat itu, rasa dingin langsung menusuk ke dalam kulitnya, baju yang dia kenakan lumayan tipis membuatnya sedikit tidak nyaman karenanya.


Telinganya mendengar sebuah bisikan, matanya mencoba mencari tahu darimana asalnya suara itu, tapi lama kelamaan banyak suara bisikan disekitarnya.


Olivia terjatuh karena terkejut melihat sebuah penampakan yang tiba-tiba muncul di hadapannya, sosok itu menyerupai manusia dengan seluruh tubuhnya seperti terbuat dari asap.


"Kau.." tunjuk nya pada Olivia, "kau bukan orangnya!" teriaknya dengan suara lengkingan yang menyakitkan.


Olivia menutup telinganya, tubuhnya bergetar kembali, dia tidak tahu sedang dimana dan apa yang sedang dia hadapi sekarang.


Makhluk lainnya yang serupa muncul dihadapannya, sampai Olivia terkepung oleh mereka semua.


"Kau bukan orangnya!"


"Siapa kau, bagaimana kau bisa kesini?"


"Kau hanyalah manusia yang hina! Kau tidak pantas menjadi pasangan Tuan kami!"


Mereka terus berteriak dengan marah ke arah Olivia, gadis itu membenamkan kepalanya diantara kedua kaki nya, dia takut melihat wujud mereka yang mengerikan dan Olivia harap akan ada seseorang yang bisa menjauhkan mereka darinya.


"BERHENTI!!" teriakan itu menggelegar bagaikan petirpetir memenuhi udara.


Semua makhluk asap itu terdiam menatap seorang pria tinggi bertudung gelap.


"Jangan ganggu calon istri ku!" tegasnya.


Mereka menjauh dari Olivia dengan takut, pria itu mendekat dengan perlahan dan saat Olivia membalas tatapan pria itu jantungnya berdetak dengan kencang, nafasnya terasa sangat sesak. Dia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan orang yang telah membunuh Luke didalam mimpinya.


"Jangan takut, aku tidak akan melukaimu," ucapnya dingin.


Namun siluet mata merahnya serasa mengatakan hal sebaliknya bagi Olivia.


.


.


.


To Be Continued