I am Not a Girl

I am Not a Girl
Chapter 3



.


.


.


Olivia saat ini sedang menatap pria bersurai hitam yang memiliki tatapan tajam yang dingin bagai es, tangan pria itu terus bergerak untuk memasukkan makanan kedalam mulutnya.


Sedangkan Olivia sendiri belum menyentuh makanan di depannya sedikitpun, dia masih memikirkan tentang Putri Abby, adik kandung sang Raja yang meninggal karena sakit.


Para pelayan bilang bahwa Raja Luke yang sekarang sangat berbeda dengan saat Putri Abby masih hidup, Raja Luke sangat mencintai adiknya itu, dia rela melakukan apapun hanya untuk adiknya. Tapi sayangnya Putri Abby terkena penyakit langka yang obatnya sangat sulit untuk di dapatkan.


Awalnya sang Raja mau mencari obatnya itu, meskipun nyawanya sendiri yang jadi taruhannya, hanya saja sebelum sang Raja berangkat Putri Abby sudah menghembuskan nafas terakhir nya di pelukan kakaknya itu.


Dari semenjak itulah Yang Mulia Raja berubah menjadi berdarah dingin, senyuman yang biasanya selalu menghiasi wajahnya telah berganti menjadi muka datar yang sangat dingin.


Olivia memang sering membaca novel atau menonton film, dimana sang tokoh protagonis berubah karena orang terdekatnya meninggal atau di sakiti, dan ini adalah pertama kalinya Olivia bisa langsung berhadapan dengan tokoh protagonis yang seperti itu, dia memang benar-benar masuk kedalam buku cerita dongeng.


"Kenapa kau belum makan makananmu?" tanya Raja Luke yang membuat lamunan Olivia buyar.


"Ahh.. aku.. aku hanya sedang memikirkan sesuatu Yang Mulia," ucap Olivia sambil menunduk.


"Memangnya kau memikirkan apa?"


Olivia diam, dia tidak mungkin mengatakan padanya dengan jujur bahwa dia sedang memikirkan Putri Abby kan?


"Anu.. aku sedang memikirkan keluarga ku Yang Mulia," ucap Olivia sedikit pelan.


Raja Luke terdiam mendengar jawaban Olivia, matanya memandang kearah gadis berambut pirang di depannya ini dengan tatapan yang tidak bisa diartikan itu tatapan apa.


Tangannya kembali bergerak untuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya, "habiskan dulu makanan mu, setelah selesai barulah kau boleh melanjutkan lamunan mu itu," ucapnya masih dengan suara dingin.


Olivia langsung menuruti apa yang di katakan Raja Luke, dia tidak ingin membuat pria itu merasa risih karenanya.


"Oh iya, dari pertama kali kita bertemu aku belum tahu siapa namamu," ucap Raja Luke, "Siapa namamu Nona?" tanyanya.


"Namaku Olivia Yang Mulia."


"Hanya Olivia saja?"


"Ahh.. tidak, namaku Olivia Taylor Yang Mulia," jawab Olivia dengan gugup.


"Hmm.. nama yang unik," ucapnya kembali melanjutkan memotong daging di atas piringnya, "oh iya, apa kau sudah tahu namaku?" tanyanya.


"Nama anda Luke Adams," jawab Olivia dengan cepat.


Raja Luke terdiam menatap Olivia dengan muka datarnya, dan Olivia kembali merasa tak enak dengan situasi ini, sungguh kalian harus mengerti bahwa berhadapan dengan seseorang bermuka datar seperti Raja Luke sangat tak biasa baginya.


Rasanya sungguh menyiksa, seperti kalian terjebak di dalam sebuah ruangan yang hanya ada sebuah patung manekin di dalamnya.


"Oh God, buatlah waktu berjalan dengan cepat," batin Olivia.


"Kupikir kau belum tahu siapa namaku," ucapnya yang kembali fokus pada makanan di depannya.


"Bagaimana mungkin aku tidak tahu namamu setelah aku hampir menamatkan cerita dongeng yang kau berada di dalamnya!" teriak batin Olivia.


Setelah itu mereka tidak saling berbicara lagi, hanya ada suara sendok dan piring yang saling bergesekan menemani makan malam mereka.


.


.


.


Malam ini adalah malam pertama bagi Olivia untuk tidur di dalam dunia dongeng ini, dia tidak bisa tertidur semenjak acara makan malam selesai.


Mengingat tentang makanan, dia berfikir ternyata rasa makanan di masa ini tidak seburuk seperti yang di bayangkan nya. Makanannya masih memiliki cita rasa dan pastinya koki kerajaan memakai rempah-rempah yang pas, hanya saja beberapa bumbu itu tidak berbentuk bubuk seperti di masa depan. Bahkan tak jarang dia menjumpai gumpalan garam di dalam masakan yang tadi dia makan.


Olivia bangun dari tidurnya, dia ingin mencoba melihat lihat isi istana, tadi saat dia baru sampai di istana dia belum sempat berkeliling karena para pelayan sangat lama sekali mandandaninya.


Kalau dia boleh jujur, sebenarnya ini pertama kalinya dia memakai gaun wanita, dan rasanya sungguh tak nyaman. Dulu saat dia masih menjadi Kayden Allen dia sempat penasaran bagaimana rasanya memakai gaun dan rok, dan setelah ini dia tahu, bahwa para wanita sungguh hebat bisa tahan memakai pakaian seperti ini.


Olivia dengan perlahan memutar pegangan pintu, dia sedikit mengintip keluar untuk memastikan keadaan di luar aman dan tak ada siapapun. Setelah yakin tak ada orang diluar, dia langsung keluar dari dalam kamar.


Udara malam yang begitu dingin menusuk kulitnya yang hanya memakai piyama tidur yang tipis, kedua telapak tangannya saling mengusap memberikan kehangatan untuk sementara waktu.


Olivia terus berjalan tanpa tahu dia sedang melangkah dan pergi kemana, matanya hanya terus terfokus ke ukiran yang terpahat indah di beberapa bagian dinding Kerajaan.


Sampai ia tidak sadar telah sampai di taman Kerajaan yang dipenuhi berbagaii macam bunga yang indah, dia berjalan ke tengah taman dan memandang satu persatu bunga dengan teliti.


Malam itu bulan bersinar dengan terang, dan rambut pirang bergelombang milik Olivia terlihat begitu cantik saat bulan menyinari nya, tanpa Olivia sadari ada sepasang mata yang terus menatap kearahnya, dia terus saja mengamati setiap gerak gerik Olivia.


"Wah.. apa ini bunga Middlemist Camelia?" ucap Olivia kagum melihat salah satu bunga di taman itu, "bunga ini sudah lama punah di Inggris," ucapnya lagi dengan masih memperhatikan bunga ber kelopak pink itu.


"Inggris? Apa itu nama suatu daerah?" tanya seseorang di belakang Olivia.


"Ah.. bukan itu adalah nama sebuah.. "


Olivia berhenti berbicara setelah sadar dengan keberadaan orang lain di belakangnya. Jangan bilang kalau dia sedang dihantui oleh hantu Kerajaan, selalu banyak kisah mengerikan di balik Kerajaan besar ya kan?


Dengan perlahan dia memutar kepalanya untuk melihat siapa yang sedang berada di belakangnya, dan ternyata itu adalah seorang pria berambut putih yang sedang tersenyum manis kearahnya.


"AAAA.. hmmp.. "


Mulut Olivia dengan cepat di tutup oleh pria itu, "sshuutt.. " desis pria itu sambil menempelkan telunjuknya di depan bibir.


"Tenanglah Nona, aku bukan orang jahat," ucapnya pelan.


Setalah itu dia melepas mulut Olivia, "Siapa kau?" tanya Olivia dengan cepat.


"Namaku Samuel Gardner Nona," ucapnya sambil tersenyum lembut.


"Samuel?"


Olivia ingat nama itu, Samuel Gardner dia adalah salah satu Mentri di Kerajaan yang terkenal karena ketampanannya, dan di dalam cerita Samuel jatuh cinta pada Olivia, bahkan ada satu adegan dimana dia ingin membawa kabur Olivia dari istana.


Dia harus sedikit berhati-hati dengan orang yang satu ini, karena di dalam cerita Samuel adalah orang yang sangat misterius, meskipun prilaku nya sangat ramah tapi bisa saja itu adalah tipu muslihat nya.


"Ahh.. salam kenal Samuel, namaku Olivia," ucap Olivia mengenalkan diri.


Samuel tersenyum, "aku sudah tahu nama Nona sebelumnya."


"What? Bagaimana dia bisa tahu? Aku bahkan baru saja memperkenalkan diri pada Yang Mulia Raja," ucap batin Olivia bingung.


Sudah Olivia duga, pria ini memang sangat misterius!


Pria itu terdiam, kedua matanya yang memantulkan sinar bulan terlihat berubah menjadi tajam menatap Olivia, dan entah kenapa tiba-tiba saja bulu kuduk nya berdiri semua saat melihat itu. Seperti dia bisa merasakan ada ancaman di balik tatapan dinginnya.


"Nona, sebaiknya anda kembali ke dalam kamar anda, ini sudah larut malam, dan sangat berbahaya bila anda berkeliaran di sekitar istana di jam segini," ucapnya sambil berbalik membelakangi Olivia.


"Nah skak!" ucap batin Olivia senang.


Pria ini tidak menjawab pertanyaannya dan malah mengelak, itu artinya dia memang menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh di ketahui oleh siapapun.


Olivia mengikuti Samuel dari belakang, mereka berdua berjalan berdampingan di koridor istana, suara sepatu Samuel terdengar lebih dominan di banding langkah kakinya sendiri, tapi tidak lama kupingnya bisa mendengar langkah kaki lain yang di timbulkan bukan dari Samuel maupun dirinya.


Suara langkah kaki itu terdengar jelas di telinga mereka berdua sampai sesosok pria tinggi berdiri di depan mereka, Olivia tidak bisa melihat siapa pria itu, karena dia berdiri dibawah kegelapan, sosok itu berjalan mendekati mereka dan akhirnya menampakkan dirinya di bawah sinar bulan.


Rambut hitamnya terlihat berkilau, siluet matanya tajam menatap mereka berdua yang membuat Olivia langsung ketakutan setengah mati, sosok itu tidak lain adalah Yang Mulia Raja Luke.


"Kenapa kalian berdua bisa berada di luar malam-malam begini?" tanyanya.


Olivia menundukkan kepalanya, dia masih belum sanggup untuk menatap mata Raja yang dingin itu.


"Aku tadi tidak sengaja bertemu dengan Nona Olivia di taman kerajaan Yang Mulia," jawab Samuel dengan tenang.


"Kalau begitu antar dia ke kamarnya kembali Samuel," perintahnya.


"Tentu Yang Mulia."


Mereka berdua kembali berjalan, dan saat Olivia berpapasan dengan Raja Luke tangannya langsung di pegang oleh pria bersurai hitam itu, membuat jantung Olivia hampir copot dari tempatnya.


"A.. ada apa Yang Mulia?" tanya Olivia takut.


"Jangan lagi keluar malam-malam dengan baju tidur yang tipis seperti ini," ucapnya dingin dan penuh dengan penekanan.


Olivia tahu, bahwa dia harus mematuhi perintah nya itu, kalau tidak dia bisa terkena masalah.


Raja Luke melepas jubahnya dan langsung membalut tubuh Olivia dengan sehelai kain itu, mata Olivia membulat, dia sedikit tidak percaya dengan perlakuan yang dilakukan oleh Raja Fokerface itu.


Akhirnya mata mereka berdua saling beradu, yang entah kenapa kali ini dia tidak memperlihatkan mata tajam yang biasanya Raja Luke lontarkan padanya, "jangan sampai aku mendengar kabar kau terkena flu setelah ini."


Setelah berkata demikian dia langsung meninggalkan mereka berdua dengan Olivia yang terpaku di tempatnya dan masih setia melihat punggung Raja Luke yang kian menjauh dari pandangannya.


"Sudah lama aku tidak melihat perilaku manisnya," ucap Samuel.


"Maksudmu?"


"Yah kau tahu, semenjak Putri Abby meninggal dia tidak pernah lagi melakukan hal manis seperti tadi kepada siapapun," ucapnya lalu kembali berjalan dengan Olivia yang mengikuti langkah kakinya lagi, "aku penasaran, apa yang membuatmu bisa langsung di tempatkan di dalam hati Raja."


Entah kenapa ucapannya barusan seperti mengandung makna di dalamnya, dan Olivia tidak suka itu.


Sepanjang jalan sampai ke kamar Olivia mereka habiskan dengan saling terdiam dan tidak kembali berbicara.


"Selamat tidur Nona, semoga mimpimu indah," ucap Samuel yang kembali melontarkan senyum menawannya.


Meskipun dia bisa terbilang sangat tampan, tapi Olivia tidak sedikitpun tertarik padanya, kenapa bisa demikian?


Tentu saja karena dia juga seorang PRIA!


Yah lebih tepatnya seorang pria yang terbalut tubuh wanita.


"Ya selamat malam juga," jawab Olivia yang tidak mau kalah langsung melontarkan senyuman termanis yang dia punya.


Setelah itu Olivia menutup pintu kamarnya, diapun kembali berbaring di atas kasur empuknya, meskipun tidak bisa dibandingkan dengan kasurnya yang dulu, tapi ini lebih dari cukup.


Olivia melepas jubah yang membalut tubuhnya, dia terus saja menatap kain itu dengan pandangan kosong, dia masih penasaran dengan sifat asli Raja Luke itu.


Tokoh Protagonis yang terkadang Olivia pikir dia juga bisa di sebut tokoh Antagonis, karena sifatnya yang mudah berubah-ubah, terkadang baik dan terkadang berubah jadi jahat dan psikopat mungkin?


Entahlah, Olivia tidak tahu, yang pasti dia harus kuat menjalani harinya dengan keberadaan orang itu yang akan terus disampingnya.


.


.


.


Sinar matahari menelusup masuk melalui sela tirai, dan dia telah berhasil membangunkan sepasang mata yang masih setia tertutup, kerutan di keningnya terlihat timbul, jelas sekali dia merasa terganggu dengan kehadirannya. Akhirnya dengan perlahan mata itu mulai terbuka, memperlihatkan permata biru muda yang berkilau indah di baliknya.


Olivia mendudukkan dirinya, dia sangat mengantuk sekali, sebenarnya dia ingin kembali melanjutkan mimpi indahnya tadi, tapi sayangnya seorang pelayan sudah mengetuk pintu kamarnya berkali-kali.


"Nona, ini sudah pagi, bangunlah," ucap pelayan itu.


"Masuklah!" teriak Olivia.


Dengan segera pintu kamarnya terbuka dan langsung di masuki 4 pelayan kerajaan yang kemarin telah mendandaninya, mereka langsung menyiapkan pakaian yang akan di pakainya hari ini.


Olivia hanya duduk diam di depan cermin sambil menutup matanya seperti biasa, para pelayan pun tidak merasa aneh lagi karena sudah mengatahui penyebab Olivia melakukan itu.


Rambut panjangnya disisir dengan pelan, menimbulkan sensasi pijitan kecil di kulit kepalanya, sebenarnya Olivia punya niatan untuk memotong rambutnya itu pendek, tapi dia urungkan karena rambutnya itu adalah salah satu daya tariknya. Terlebih ada percakapan di dalam cerita bahwa Yang Mulia Raja sangat suka dengan rambutnya itu.


"Menjadi wanita itu sedikit merepotkan ternyata," ucap batinnya.


Setelah selesai di dandani, Olivia langsung berjalan kearah ruang makan untuk sarapan pagi, tapi dia mendengar sesuatu yang jatuh yang berasal dari ruangan itu.


Olivia langsung bergegas ke ruang makan, dan matanya langsung menangkap pemandangan dimana seorang pelayan wanita muda sedang bersimpuh di depan Raja Luke.


"Apa yang sedang terjadi?"


Sebelum Olivia sempat mengerti dengan situasinya Raja sudah langsung menyuruh para prajuritnya.


"Prajurit, hukum cambuk dia!" perintahnya.


Wanita itu kaget dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya, dia tambah menangis kencang saat para prajurit membawanya menjauh dari hadapan Raja.


"Tunggu dulu!" teriak Olivia tanpa sadar.


Sepasang mata tajam langsung terlontar kearahnya, "ada apa?" tanya Raja Luke dengan dingin.


"Oh astaga, apa aku baru saja menggali lubang kubur ku sendiri?" batinnya cemas.


.


.


.


TBC