I am Not a Girl

I am Not a Girl
Chapter 14



.


.


.


Cahaya matahari menembus masuk lewat jendela yang terbuka lebar, semilir angin menggerakkan tirai dengan begitu anggun, sementara itu seseorang yang sedang tertidur lelap diatas kasur mulai terlihat membuka matanya, warna biru langit pada kedua matanya membuat dia terlihat begitu indah, rambut pirang nya tertiup angin dengan lembut.


Suara kicauan burung diluar jendela mulai menyadarkan orang itu sedikit demi sedikit, dia menatap ke sekitarnya dengan mata lelah, dia ingin kembali tidur, namun saat matanya tertutup, dia bisa mendengar suara yang sangat familiar di telinganya.


Tik..


Tik..


Tik..


Dengan cepat matanya terbuka dengan lebar, apa itu suara jam dinding? Dia melihat kearah langit-langit kamarnya yang berwarna putih tulang, lalu menatap ke sekitarnya, ini tidak mungkin! Sekarang dia ada di dalam kamar apartemen nya! Bahkan dia tertidur diatas kasur nya yang empuk dan nyaman, sudah lama dia merindukannya.


Tunggu..


Kalau dia ada di apartemen nya berarti..


Allen menatap tangannya yang terlihat tegas, ini adalah tangan seorang pria, bukan tangan seorang wanita! Lalu dengan perlahan Allen melihat ke arah dadanya, dan dia bisa melihat dadanya yang rata.


Apa ini?


Ini tidak sedang bermimpi kan?


Dia.. dia telah kembali pulang!


Saking senangnya, Allen berguling-guling diatas kasurnya, akhirnya dia telah kembali pulang, dia sangat merindukan tubuh aslinya ini dan juga dunia nyata nya.


"Allen kau sudah bangun ternyata," ucap seseorang yang sangat ia kenal.


Allen menatap kearah pintu kamarnya, disana sudah ada sosok Nenenknya yang sangat ia rindukan, tapi mengapa Neneknya ada di sini? Seingatnya beliau masih berada di kediamannya di New Heaven.


"Nenek?" panggil Allen dengan sedikit tak percaya.


"Syukurlah, kau terlihat baik-baik saja, Nenek sangat khawatir kau tahu?" ucapnya sambil menghampiri Allen dan duduk di dekatnya.


Allen mendudukkan dirinya dan memeluk Neneknya itu, "Nek, aku sangat merindukanmu, Nenek pasti tidak akan percaya dengan apa yang baru saja aku alami."


Tangan Neneknya mengelus pucuk kepalanya dengan lembut, rasanya sangat nyaman dan sangat hangat, membuat Allen rasanya tidak ingin Neneknya itu berhenti mengelus kepalanya.


"Allen, terkadang di dunia ini kita bisa mendapatkan sebuah keajaiban yang tak masuk akal, meski tidak bisa kita terima hal itu dengan logika, kita tetap harus menghadapinya dengan sabar."


Allen menatap Neneknya, beliau berkata seakan bisa membaca pikirannya, "yah.. aku tahu itu Nek.."


Mereka berdua terdiam dengan kesunyian yang terasa aneh, meskipun begitu Allen tidak terlalu menderita seperti saat bersama dengan Raja Luke. Entah kenapa Allen selalu sulit berhadapan dengan orang pendiam, apalagi yang berdarah dingin seperti Raja Luke.


"Oh iya Nek, bagaimana Nenek bisa ada di apartemen ku?" tanya Allen yang sudah sangat penasaran, kenapa bisa beliau ada disini.


Nenek Allen melepas pelukannya dan menatap Allen dengan tatapan yang sangat lembut, bibirnya tersenyum, "Allen, apa kau lupa, Nenek selalu berada di sini," ucap Neneknya sambil menunjuk kearah dadanya.


Allen mengerutkan dahinya, "maksudnya Nek? Aku.. tidak mengerti," ucapnya bingung.


"Allen, Nenek selalu berada di dalam hatimu, kemanapun kau pergi Nenek maupun Ayahmu selalu bersamamu," ucap Neneknya yang masih tersenyum kearahnya.


"Hah? Aku.. tidak mengerti.."


"Harus berapa kali Nenekmu menjelaskan nya agar kau bisa mengerti?" ucap seseorang yang sangat ia kenal.


Allen menatap kearah pintu dan menemukan sosok Ayahnya yang sedang berdiri dengan setelan jas kerjanya, terlihat begitu rapih dan sangat elegan.


"Ayah?"


Ayah Allen bersandar di ambang pintu, "kau tidak pernah berubah Allen, selalu saja berbuat semaumu tanpa memikirkan dampak apa yang akan kau terima nantinya. Tapi meskipun begitu, Ayah selalu bangga pada setiap keputusanmu itu."


Dahi Allen tambah mengerut karena tidak mengerti dengan situasi ini, kenapa bisa Ayahnya bisa ada di sini? Bukanya beliau sedang bekerja luar Negeri?


"Tunggu dulu, kenapa bisa Ayah ada disini?"


"Bukannya Nenekmu sudah bilang tadi, kalau kita berdua selalu berada di dalam hatimu Allen," ucapnya sambil tersenyum, "jadi selesaikan lah masalahmu disana, dan cepatlah kembali pulang, karena kami sangat merindukanmu."


"Hah?"


"Allen sayang," ucap Neneknya lembut, "sekarang saatnya kamu bangun cucuku, seseorang sedang menunggumu bangun sedari tadi, jadi jangan buat dia tambah khawatir Allen."


"Jadilah anak baik disana," pesan Ayahnya.


"Tunggu dulu, aku masih tidak mengerti!" ucap Allen dengan bingung.


"Kau akan mengerti nanti," ucap Neneknya.


Tiba-tiba saja pandangan matanya menghitam, dia tak bisa melihat apapun lagi selain kegelapan pekat, semua itu secara cepat berganti menjadi rasa sakit di kepala dan dadanya.


Dahinya mengerut dan dengan perlahan matanya terbuka, pandangannya buram, dia tak bisa menatap sekitarnya dengan jelas, namun dia bisa melihat seseorang sedang berada di sampingnya. Dia memang tidak bisa melihat dengan jelas, tapi dia bisa menebak siapa orang itu.


"Yang Mulia?" panggil Olivia dengan suara yang serak.


Pria itu menoleh dan menatap gadis yang sedang terbaring lemah di atas kasurnya, kerutan di dahinya terlihat jelas bahwa dia sedang merasakan rasa sakit.


"Tidurlah kembali, kau belum sepenuhnya pulih," ucapnya terdengar sedikit lebih lembut dari biasanya.


Olivia kembali menutup matanya, dia bukan tertidur tapi kembali pingsan untuk yang kedua kalinya, rasa sakit yang dia rasakan lah penyebab utamanya.


Setelah dirasa Olivia kembali tertidur, mata Luke menatap kearah jendela, dimana dia bisa melihat langit hari ini yang begitu cerah.


"Aku sangat membencimu dan aku ingin sekali membunuhmu," gumamnya, "tapi.. entah kenapa, tubuhku menolak semua itu. Sampai akhirnya kau sudah berada di titik ini, titik dimana aku mulai tidak membencimu."


.


.


.


Olivia membuka matanya dengan perlahan, pandangannya sudah tidak buram lagi, dan rasa sakit di kepala dan dadanya pun sudah menghilang. Olivia menatap tangannya yang ramping, terlihat begitu lentik dan halus, dia sangat kenal dengan tangannya ini, tangan seorang wanita.


"Ku tebak, pasti yang tadi itu aku hanya sedang bermimpi," gumamnya dengan raut muka masam.


"Argghhh.." teriaknya kesal sambil berguling-guling diatas kasur.


Setelah dirasa lelah, dia berhenti berguling dengan posisi tengkurap, "kenapa aku harus bermimpi seperti itu disaat aku sedang berada di dunia dongeng ini?" ucapnya dengan cemberut, "Argghhh.. menyebalkan!" teriaknya sambil mengacak-acak rambutnya.


Olivia terdiam, dia berhenti bergerak dan bermaksud hati ingin kembali tidur, namun saat dia sadar dengan warna seprai kasurnya yang berubah dia mengurungkan niatnya itu.


"Dari semenjak kapan seprai kasur ku berwarna merah?" tanyanya pada diri sendiri.


Matanya langsung memperhatikan sekelilingnya dengan teliti, dia ternyata bukan di dalam dikamarnya, lalu kamar siapa ini?


Dia mendudukkan dirinya dengan cepat, dan beberapa detik kemudian rasa sakit di kepalanya menyerang, tangannya menekan bagian yang sakit itu, rasanya seperti ada paku yang menusuk di kepalanya.


"Ouch.. kenapa sakit sekali?" gumamnya.


Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan menampakkan sosok pria bersurai hitam yang sedang memegang semangkuk sup, "kau sudah bangun ternyata," ucapnya yang langsung mendapat tatapan bingung dari Olivia.


"Yang Mulia? Sebenarnya aku ada dimana?"


"Kau ada di kamarku."


Gadis itu terlihat kaget, ini adalah pertama kalinya dia berada di kamar Raja, dan tidur diatas kasurnya. Apa mungkin Olivia masih bermimpi?


Raja mengerutkan dahinya, "kenapa kau pikir ini adalah mimpi?" tanyanya penasaran.


"Karena saat ini aku sedang berada di dalam kamar seorang pria berdarah dingin!" ucapnya histeris.


Raja menampakkan muka datarnya, dia mendekati Olivia dan langsung memukul kepala gadis itu memakai sendok.


TAKK..


"Aww.. sakit!" teriak Olivia sambil mengelus kepalanya pelan, "Yang Mulia, kenapa anda melakukan itu?" tanyanya kesal.


"Kau bilang kalau kau sedang bermimpi kan? Makanya aku melakukan itu untuk menyadarkanmu," ucapnya terdengar tidak merasa bersalah sedikitpun.


Olivia mengembungkan mulutnya dengan kesal, dia memang sedikit tidak percaya kalau dia sedang berada di dalam kamar Raja, dan mengatakan kalau dia tidak sedang bermimpi, tapi bukan berarti Raja harus memukulnya agar dia sadarkan?


Kepalanya dipukul pakai sendok pula, benar-benar pria kejam!


"Sekarang makanlah bubur ini, kau belum makan apapun selama dua hari."


"Dua hari?" tanya Olivia tidak percaya.


"Iya, kau terus tertidur selama dua hari, makanya sekarang kau harus makan."


Raja menyodorkan satu mangkuk bubur gandum pada Olivia, tapi gadis itu tidak berminat untuk memakannya saat ini.


"Aku tidak mau makan dulu, rasanya perutku masih terasa mual," ucap Olivia sambil mengelus perutnya.


"Itu artinya kau harus makan."


"Tapi aku tidak mau."


"Kau harus mau."


"Yang Mulia, kenapa anda memaksa sekali?"


"Aku melakukan ini untukmu juga."


"Kalau aku tidak mau makan buburnya mau bagaimana lagi?"


"Kau harus tetap makan!"


"Argghhh.. pria ini memaksa sekali!" batinnya kesal.


"Baiklah aku mau makan buburnya, asalkan anda menyuapi ku."


Raja terdiam, dia terlihat mengerutkan dahinya kesal, dan Olivia yakin Raja tidak mau melakukan..


"Baiklah!" ucapnya terdengar dingin.


Olivia menatap Raja dengan kaget, apa dia tadi tidak salah dengar kalau Raja baru saja menyetujui keinginan anehnya? Apa mungkin saat ini Raja sedang demam?


"Su.. sungguh?" tanyanya memastikan.


Raja mengangguk, dia duduk di pinggir kasur dekat sekali dengan Olivia, gadis itu tertegun dengan tingkah Raja saat ini, benar-benar tidak bisa dipercaya! Raja berdarah dingin ini ingin menyuapi nya?


Tangan Raja mulai bergerak menyendok bubur gandum itu dan mulai mengarahkannya kedepan mulut Olivia.


"Cepat buka mulutmu!" perintah Raja.


Gadis itu menurut dan membuka mulutnya lebar, lalu dengan pelan Raja memasukkan satu sendok bubur gandum itu kedalam mulutnya.


"Bagaimana rasanya?" tanya Raja.


"Lumayan enak, tapi kenapa ada sedikit rasa pahit?"


"Itu adalah obat yang aku campurkan kedalam bubur."


"Tunggu dulu, anda yang mencampurkannya?"


"Iya, bahkan aku sendiri yang membuat bubur ini."


Olivia terdiam, dia sungguh tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, apa benar Raja yang membuat bubur ini? Hanya untuk dirinya? Kenapa dia tidak menyuruh para koki kerajaan saja untuk membuatnya?


"Aku tidak menyuruh koki kerajaan untuk membuat bubur ini karena ini adalah bubur spesial yang resepnya hanya di ketahui oleh keturunan kerajaan," ucap Raja menjelaskan.


"Apa dia baru saja membaca pikiranku?" tanya batinnya.


Olivia melayangkan tangannya dan menapar pipi Raja lumayan keras.


PLAKKK..


"Akhhh.." ringis Raja sambil memegang pipinya, "kenapa kau menapar pipiku?" tanya Raja dengan marah.


"Ah.. aku.. hanya ingin membuktikan apa anda benar-benar Raja Luke yang aku kenal atau bukan."


"Memang apa yang membuat mu tidak percaya bahwa ini aku yang sebenarnya?"


"Ada tiga hal yang membuatku tidak percaya bahwa ini adalah anda yang asli."


Raja Luke mengerutkan keningnya, "Apa itu?"


"Pertama, anda membiarkan aku tidur di dalam kamar anda. Kedua, anda membuatkan ku bubur gandum. Ketiga, anda mau menyuapi ku makan. Tiga hal itu membuat saya tidak percaya bahwa ini adalah anda yang asli." ucap dengan jujur.


"Memangnya kau pikir aku ini apa? Aku memang manusia berdarah dingin, tapi bukan berarti aku adalah orang yang tidak tahu caranya balas budi."


Olivia terdiam, apa Raja merasa sangat berterimakasih padanya yang telah menyelamatkan dirinya dari racun?


Gadis itu jadi merasa sedikit bersalah karena telah menampar Raja tadi, tapi dia melakukan itu juga didorong dari keinginannya untuk balas dendam karena Raja memukul kepalanya menggunakan sendok, itu rasanya lumayan sakit, kalau kepalanya dipukul dengan keras memakai sendok, mungkin kepalanya bisa saja membengkak.


"Buka mulutmu lagi."


Olivia membuka mulutnya, kali ini dia dalam keadaan hati yang sangat senang, bibirnya terus melengkung keatas dengan imut sambil mengunyah bubur didalam mulutnya.


"Apa dia sangat suka disuapi sampai sampai bibirnya terus tersenyum dari tadi?" batin Luke.


Raja terus menyuapi Olivia, dia seperti sedang menyuapi seorang anak kecil, karena gadis itu terus saja tersenyum, dan saat suapan yang keempat, tiba-tiba tenggorokan Olivia terasa gatal yang membuatnya batuk saat dia masih mengunyah, akibatnya dia menyemburkan bubur di dalam mulutnya mengenai muka dan baju Raja.


Olivia langsung kaget saat melihatnya, "ma.. maafkan aku Yang Mulia!"


Raja kembali menampakkan muka datarnya pada Olivia, "apa kau.. tidak bisa makan dengan TENANG?" teriak Raja diakhir kalimatnya.


"Ma.. maaf! Aku sungguh tidak sengaja, tadi tenggorokan ku gatal, jadi aku batuk," ucapnya sambil membersihkan muka Raja dari bubur.


"Pakai sapu tanganku," ucapnya sambil menyodorkan sapu tangan berwarna Navy.


"Oh baiklah."


Olivia mengambil sapu tangan itu dan membersihkan muka Raja dari noda bubur, dia jadi mirip sekali seperti anak kecil yang saat makan selalu berantakan. Saat dia mengelap bagian alisnya, Olivia tanpa sadar malah menatap iris mata berwarna biru muda milik Raja, mata itu terlihat berkilau dan kalau diperhatikan, warna matanya sedikit lebih tua dari pada dengan mata miliknya.


Kelopak mata Raja mengedip, membuat Olivia tersadar telah menatap mata Raja cukup lama, tiba-tiba saja mukanya terasa memanas, dan jantungnya jadi berdetak dengan kencang, Olivia jadi merasa sangat malu, namun ada hal yang tidak diketahui gadis itu.


Yaitu selain jantungnya, ternyata jantung Raja pun sedang berdetak dengan kencang saat ini, hatinya menghangat saat Olivia dengan lembut mengusap wajahnya, mereka berdua sama-sama menampakkan muka merah padam yang langsung mereka tutupi masing-masing.


.


.


.


To Be Continued