
.
.
.
Olivia masih berada di kota, namun bedanya dia merasa memiliki dua penjaga saat ini, karena Alexander kembali menemani Olivia berkeliling kota.
Sedangkan Oliver terlihat terus menatap pria di sebelahnya dengan sinis, dia hanya masih belum percaya 100% pada pria bersurai coklat yang terus tersenyum kearah Olivia.
"Oliver, kau jangan terlalu tegang seperti itu," ucap Olivia yang sadar dengan tatapan sinis nya.
Alexander menatap kearah pria bermata hitam itu dan langsung tersenyum, "apa kau masih menganggap aku musuhmu prajurit?"
Oliver tidak menjawab, dia malah memalingkan muka dari Alexander, dan entah kenapa dirinya merasa ada sesuatu hal buruk mengitari pria bersurai coklat itu.
"Oliver, dia bukan orang jahat, percayalah padaku," ucap Olivia lembut.
"Baiklah Nona, saya percaya pada anda."
"Itu artinya kau tidak percaya padaku," celetuk Alexander.
Pria itu kembali mendapatkan tatapan tak suka dari Oliver, melihat kelakuan mereka berdua membuat Olivia teringat dengan Billy, terkadang sahabatnya itu juga suka menatapnya dengan sinis, entah itu karena Allen melakukan hal jail, atau tidak sengaja membuatnya marah.
Meskipun begitu, mereka berdua adalah sahabat yang tak mudah terpisahkan, Allen mulai berteman dengan Billy saat dia masih berumur 7 tahun, keluarga Billy kebetulan pindah rumah di sebelah rumah Neneknya waktu itu.
Orang tua Billy yang melihat Allen bermain sendirian di halaman rumah memanggilnya, lalu mereka mengenalkan Billy dengan Allen, semenjak itu Billy dan Allen tak pernah berpisah, mereka selalu masuk ke sekolah yang sama, dan kebetulannya selalu sekelas.
Sampai sekarang mereka enggan untuk memutus kontak, dan akhirnya memilih tempat dan jurusan yang sama. Mungkin baru kali ini saja Allen merasa sangat jauh dengan sahabatnya itu.
"Nona, bukannya itu anak yang pernah anda kasih kue muffin?" ucap Oliver sambil menunjuk kearah kerumunan anak kecil.
Olivia menatap kearah yang ditunjuk Oliver, benar saja itu adalah gadis kecil yang waktu itu, dia pikir anak itu tidak memiliki teman, namun ternyata dia memiliki banyak teman juga.
"Kasian anak itu," ucap Alexander.
Olivia dan Oliver secara bersamaan menatapnya, "apa maksud mu kasian?" tanya Olivia.
"Memang dia kenapa?" tambah Oliver.
"Aku dengar kalau dia adalah anak buangan, dan anak-anak yang mengelilinginya di sana bukan temannya, melainkan mereka sedang membully anak itu."
Olivia kaget setelah mendengar nya, benar saja anak-anak itu terlihat mulai memukul dan menendang gadis kecil itu, dia mencoba melarikan diri, namun tangannya di pegang salah satu anak itu yang membuatnya tak bisa pergi kemana-mana.
Olivia yang melihatnya sangat marah, kakinya berjalan menghampiri mereka dengan cepat, "HENTIKAN!" teriaknya pada anak-anak itu.
Semua anak-anak yang kebanyakan adalah anak laki-laki itu langsung menatap Olivia dengan bingung.
"Kalian jangan ganggu dia! Cepat lepaskan!"
Anak-anak itu awalnya tidak terlalu takut pada Olivia, tapi saat mereka melihat dua tatapan maut dari arah belakang Olivia, mereka langsung lari terbirit-birit dari sana.
Gadis kecil itu menangis dengan pelan, bajunya terlihat sangat lusuh dan kotor dari terakhir kali Olivia melihatnya, tangan mungilnya berdebu bercampur dengan darah dari luka lemparan batu.
Olivia mendekatinya, "Nona kecil, sudah jangan menangis lagi, mereka semua sudah pergi," ucap Olivia lembut.
Gadis kecil itu menatap Olivia, air matanya masih terus mengalir seperti tak ingin berhenti, tubuhnya terlihat bergetar, entah karena menahan sakit atau karena takut. Tapi yang jelas keadaannya saat ini membuat hati Olivia sakit.
Dengan segera Olivia memeluknya dengan erat, "Sudah sayang.. jangan menangis lagi, nanti muka cantikmu akan luntur kalau kau terus menangis," ucapnya sambil mengelus punggung kecilnya yang bergetar.
Sedikit demi sedikit dia mulai tenang, meskipun suara rintihan tangisnya masih terdengar di telinga Olivia.
"Apa aku boleh menggendong mu Nona kecil?"
Kepalanya mengangguk dengan pelan, dan Olivia langsung menggendongnya seperti layaknya anak sendiri. Oliver dan Alexander merasa sangat tersentuh dengan apa yang dilakukan oleh Olivia, mereka jadi ingin ikut menangis melihatnya.
Tiba-tiba ada dua orang wanita berpakaian bangsawan yang menatap kearah Olivia dengan jijik, "lihatlah, wanita itu menggendong sebuah kotoran," ucap wanita berambut keriting.
Mereka bertiga kaget saat mendengarnya, sebenarnya siapa anak ini? Kenapa orang lain seakan tak suka padanya?
"Huuh? Apa mataku tidak salah liat? Anak cacat yang tak bisa bicara itu digendong? Sepertinya wanita itu juga ingin jadi kotoran," ucap wanita berambut lurus dengan muka jijiknya.
Oliver sangat marah mendengarnya, saat ia ingin memarahi para wanita itu mulutnya ditutup oleh Alexander, tentu saja dia langsung menatap pria itu dengan tajam.
"Diam dan lihat saja," bisik Alexander padanya.
Oliver mengerutkan keningnya tidak mengerti, apa maksud sebenarnya dari pria ini?
Tanpa Oliver ketahui, sebenarnya Olivia sudah mengepalkan tangannya dengan kuat saat kedua wanita itu mulai mencibir gadis kecil yang berada di pangkuannya tanpa rasa iba sedikitpun.
Amarahnya sudah mencapai ubun-ubun, dan dia sudah tidak kuat untuk tidak marah saat itu juga.
"Hei kalian!" teriak Olivia sambil menatap tajam kearah dua wanita itu, "apa hak kalian untuk menghujatnya hah?"
Kedua wanita itu menatap Olivia dengan kaget, mereka tidak menyangka kalau gadis bersurai pirang itu berani menjawab cibiran yang mereka lontarkan.
"Lagi pula tidak ada yang melarang untuk tidak menghujatnya," ucap wanita berambut keriting dengan angkuh.
Olivia langsung tersenyum miring, "tidak ada yang melarang itu memang benar, tapi apa kalian tidak memikirkan perasaan gadis kecil ini?"
"Tidak sama sekali," kali ini yang menjawab adalah wanita berambut lurus.
"Oh begitu ya?" ucap Olivia sambil tersenyum geli, "Nona, ternyata anda memiliki wajah yang cantik, tapi sayang badan gemuk anda merusak pemandangan, dan kau Nona berambut lurus, anda sebenarnya memiliki rambut yang indah, sayangnya hidung anda terlalu besar."
Mendengar semua yang diucapkan Olivia membuat kedua wanita itu terlihat geram dan marah, mereka berdua tidak terima dengan cibiran yang diucapkan Olivia.
"Kau.. kau sudah sangat keterlaluan!" marah wanita berambut keriting.
"Akan aku adukan kau ke ayahku!" ucap wanita yang satunya lagi.
"Silahkan saja, lakukan apa yang kalian inginkan, karena aku hanya memberi kalian sebagian rasa sakit yang dirasakan gadis ini saat kalian mencibir nya barusan," ucap Olivia sambil tersenyum puas.
Semua orang disana yang mendengarnya tertegun kagum pada Olivia, apa yang dikatakannya memang benar apa adanya, warga di sekitar yang juga ikut melihat merasakan hal serupa, beberapa dari mereka yang tidak mengenal Olivia bertanya-tanya.
"Siapakah sebenarnya wanita ini?"
Lalu mereka pun kaget saat mengetahui siapa sebenarnya Olivia.
"Benarkah? Dia adalah Calon Permaisuri Raja?"
Akhirnya cerita tentang calon Permaisuri Raja yang bijaksana pun tersebar luas hampir ke seluruh penjuru kota saat itu juga.
"Kalian fikir dicibir menyangkut dengan fisik itu tidak menyakitkan apa? Apa kalian juga tidak pernah berfikir, bahwa manusia tidak pernah ada yang ingin dilahirkan dengan keadaan cacat? Siapa orang yang ingin dilahirkan dengan keadaan cacat? jawabannya TIDAK ADA!" ucap Olivia yang masih memarahi kedua wanita bangsawan itu.
Semua orang disana terdiam dan hanya mendengarkan, bahkan Oliver dan Alexander tidak pernah menyangka kalau Olivia akan mengatakan hal seperti itu.
"Aku tanya pada kalian, bila kalian dilahirkan dengan keadaan tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, atau bisu seperti anak ini, apa kalian mau diperlakukan kejam seperti yang kalian lakukan padanya sekarang?" tanya Olivia.
Kedua wanita itu terdiam, lalu menggelengkan kepala, "Kalau memang kalian tidak suka hal itu, apa kalian bisa menghormati dan memberi kasih sayang pada manusia yang cacat? Bukannya malah mencibir karena fisik mereka yang tidak sempurna?" ucap Olivia akhirnya.
"Aku setuju, kenapa orang-orang selalu membandingkan kami dengan orang normal? Padahal kami tidak pernah minta untuk dilahirkan dengan keadaan cacat," ucapnya.
"Aku juga!" seru seorang pria kurus ikut mendekat, "aku selalu merasa sakit hati dengan apa yang dikatakan orang lain tentang mata kiriku yang buta."
Orang-orang kota jadi mulai ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang cacat, mereka dari saat itu juga jadi sangat menghormati Olivia karena kebijaksanaannya.
Kedua wanita bangsawan itu terlihat sangat malu dan mulai mundur melangkah pergi dari sana, sementara gadis kecil dipangkuan Olivia sudah terlihat lebih tenang, dia menatap sekitar dengan takut, tangannya melingkar dileher Olivia yang jenjang.
Pria paruh baya yang tak memiliki tangan kanan mendekati Olivia, "namamu Esme kan?" tanya pria itu.
Gadis kecil itu mengangguk dengan pelan, "Esme, mulai sekarang kau jangan takut dengan anak-anak nakal tadi ya, karena paman akan menjagamu mulai sekarang oke?" ucapnya sambil tersenyum.
Olivia ikut tersenyum saat mendengarnya, setidaknya anak ini tidak akan terlalu menderita daripada sebelumnya.
Setelah keadaan mulai kembali tenang Oliver mendekatinya, "Nona, saya sungguh sangat kagum pada anda, saya tidak percaya bahwa anda akan mengatakan semua itu."
"Haha.. aku pun juga tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulutku," ucap Olivia sambil tersenyum miring.
"Apa?" tanya Oliver dan Alexander secara bersamaan, "jadi anda tidak sadar telah mengatakan semua itu?" tanya Oliver lagi untuk memastikan.
"Iya, aku tadi hanya terbawa emosi, jadi ya kata-kata itu keluar begitu saja, haahaa."
Tatapan mereka berdua berubah menjadi tatapan aneh pada Olivia.
Gadis kecil di pangkuan Olivia mulai menggerakkan kedua kakinya, Olivia bisa merasakan bahwa ingin turun, setelah Olivia menurunkannya, gadis itu masih memeluk lehernya dengan erat.
"Ada apa sayang?" tanya Olivia lembut.
Sekarang Olivia mengerti, kenapa gadis kecil ini tidak pernah berbicara padanya dari semenjak merka bertemu, ternyata dugaannya tepat, bahwa dia ternyata bisu.
Tanpa aba-aba sama sekali gadis itu mencium pipi Olivia dan langsung berlari menjauh karena malu.
"Wow, sepertinya kau baru saja mendapatkan ciuman pertama," ucap Alexander.
"Oliver," panggil Olivia.
"Ya Nona?"
"Tolong pukul kepalanya untukku."
"Baik Nona dengan senang hati."
BUUKK..
"Ouch.. hei! Itu sangat sakit kau tahu!" teriak Alexander dengan marah.
"Aku hanya menuruti perintah Nona Olivia." ucap Oliver tanpa bersalah sedikitpun.
"Tapi kau memukul ku seakan kau dendam padaku!"
"Memang."
"Hah?!"
.
.
.
"Aku dengar kau membela seorang anak jalanan yang cacat?" tanya Raja.
Olivia mengangguk dengan pelan, dia hanya masih tidak menyangka dengan penyebaran gosip yang begitu cepat sampai ke istana, dia sendiri saja baru pulang dari kota. Namun gosip itu sudah sampai istana, apakah t mungkin di jaman ini sudah ada gadget untuk bisa memberikan informasi dengan sangat cepat?
Raja menatapnya dengan datar seperti biasa, lalu beberapa saat kemudian makanan sudah datang dan langsung dihidangkan di atas meja.
Olivia yang melihat ada 5 piring makanan di hadapannya merasakan firasat buruk tentang hal ini.
"Makan habis semuanya, jangan sampai ada yang tersisa sedikitpun!"
"Argghhh... sudah kudaga!" 。゜(`Д´)゜。
"Sekarang kau tidak akan bisa kabur kemana-mana, karena aku sudah menyuruh para penjaga untuk terus mengawasimu."
Setelah mendengar perkataannya, Olivia melihat sekitar dimana ada 4 penjaga yang melihatnya terus seperti dia adalah sebuah barang berharga yang bisa sewaktu-waktu menghilang secara misterius.
"Oh damn!"
Pria ini benar-benar ingin membuatnya menderita! Sekarang Apa yang harus dia lakukan? Apa dia sungguh harus menghabiskan semua makanan itu sendirian?
"Arrrggghhh.. dasar iblis gila!" umpatnya di dalam hati.
.
.
.
Setelah selesai makan malam, Olivia rebahan di kasurnya dengan perut yang sakit, dia sungguh berniat untuk balas dendam pada Raja, lihat saja nanti, dia akan membalasnya lebih kejam dari ini!
"Lihat saja nanti Yang Mulia, aku akan membalas dendam! Akhh.. perutku.." rintih nya di akhir kalimat.
Kalian bisa merasakan rasanya makan terlalu banyak kan, porsi kalian yang selalu kecil tiba-tiba disuruh untuk memakan porsi besar, sungguh itu sesuatu yang sangat menyiksa, apa lagi untuk Olivia saat ini, dia benar-benar amat tersiksa!
Oh iya, membicarakan tentang Raja membuat Olivia ingat dengan festival bunga Middlemist Camelia, kira-kira seperti apa perayaannya ya? Dia sungguh tidak sabar untuk menunggunya, di tambah dia masih penasaran kenapa Raja Luke tidak akan ikut untuk merayakannya?
Apa mungkin ini semua menyangkut dengan adiknya Putri Abby ya? Sepertinya begitu, Olivia jadi masih merasa kasian pada Raja, tapi di satu sisi dia sangat membencinya.
Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk meluluhkan hati Raja idiot itu, benar-benar membuat emosinya selalu naik.
Mungkinkah dia harus bersikap manja pada Raja? Seperti dia manja pada Oliver? Sepertinya begitu, dia akan mencoba semua cara agar Raja jadi selalu menuruti semua keinginannya.
Setidaknya membuat pria itu jadi tidak memaksanya makan banyak dengan porsi yang gila. Allen saja tidak pernah makan dengan porsi yang sebanyak dirinya tadi makan, apalagi tubuh gadis ini yang sudah biasa untuk makan dengan porsi imut.
Pastilah perutnya sangat sakit sekarang, karena terlalu memaksakan makanan untuk masuk kedalam perutnya, bahkan Olivia bisa merasakan perutnya membuncit.
Olivia yakin besok dia tidak bisa bangun dari tidurnya karena sakit perut, dan tolong salah kan Raja atas apa yang terjadi padanya sekarang!
.
.
.
To Be Continued