
.
.
.
Makhluk berkabut itu berteriak seperti suara burung gagak, lengkingan suaranya memekkakan telinga, dengan cepat Olivia menutup kupingnya sembari memejamkan mata. Ini adalah suara paling menyakitkan yang pernah dia dengar seumur hidupnya, bahkan ini lebih parah dari pada tetangga apartemennya yang selalu menyalakan sound system dengan suara full.
Lengkingan suara itu berangsur-angsur menghilang, Olivia membuka matanya dan mendapati kedua sosok itu sudah tidak ada di depannya.
Sebenarnya makhluk apa itu? Kenapa dia tidak memiliki bentuk tubuh? Olivia bersumpah yang dia lihat hanyalah gumpalan asap dengan sepasang mata merah menyala.
Ini benar-benar sangat menakutkan, mungkin sebaiknya dia kembali ke tenda dan melanjutkan tidurnya, dia akan mencari tahu sosok apa itu saat esok hari.
Dia membalikkan badannya dan langsung terdiam di tempat.
"Oh sial! Aku lupa jalan kembali!" umpatnya.
.
.
.
Pagi harinya semua orang dalam rombongan sedang dalam keadaan ricuh, mereka sudah sadar adik Samuel telah menghilang.
Oliver adalah orang yang paling frustasi diantara yang lain, "aku gagal.. aku gagal.. aku gagal menjaga Nona Olivia.." gumamnya sambil mondar-mandir.
Samuel yang melihatnya malah jadi semakin pusing dan kesal, "bisakah kau berhenti mondar-mandir seperti itu? Rasanya itu menggangguku."
Oliver menatapnya dengan pandangan yang menurut Samuel sangat mengerikan.
"AKU GAGAL MENJADI PENJAGANYA!!" teriaknya sambil mengguncang tubuh Samuel dengan keras.
"Hei! Ada apa denganmu? Bisakah kau bersikap sedikit lebih tenang?" ucap Samuel marah.
"A.. aku.."
"Tuan Samuel!" potong seorang pemuda bersurai pirang yang berlari mendekat.
Mereka berdua langsung menatap kearahnya, "ada apa?" tanya Samuel.
Dia berhenti di depannya dengan nafas yang ngos-ngosan, "ada surat dari kerajaan," ujarnya.
Mata Samuel dan Oliver membulat, mereka saling menatap dengan isi pikiran yang sama.
"Coba berikan padaku."
Pria itu memberikannya pada Samuel, dan dengan cepat dia membacanya, setelah selesai membacanya Samuel menampakkan muka yang begitu shock.
"Apa isi surat itu?" tanya Oliver penasaran.
"Yang Mulia.. dia akan kemari untuk menjemput Nona Olivia.." ucapnya dengan pandangan kosong.
Oliver menatapnya dengan kaget, dia bisa merasakan nyawanya sedang berada di ujung ttanduk sekarang
.
.
.
"Oh shit!" umpat Olivia untuk kesekian kalinya.
Dia sudah mencari jalan hampir semalaman dan hanya bisa tertidur sebentar di bawah pohon raksasa, itupun sebelum dia mendengar suara serigala.
Bisa dibilang dia sudah terjaga semalaman karena takut akan ada hewan buas yang mendekatinya saat dia sedang tertidur nanti, Olivia dulu memang pernah tersesat di hutan saat ada acara kemping disekolahnya. Tapi sungguh, tersesat di dunianya dan disini sangat berbeda!
Pohon di hutan ini kebanyakan tumbuh menjulang tinggi dan besar, Olivia merasa dirinya berubah menjadi kurcaci disini.
Olivia kembali melanjutkan perjalanannya, dia berharap bisa menemukan rombongannya lagi, meskipun dia tahu hanya ada 10% kemungkinannya, namun setidaknya dia sudah berusaha.
Kakinya melangkah tanpa arah tujuan, Olivia lupa kalau dirinya selalu buta arah dengan tempat baru, bahkan waktu di Kerajaan dia sering tersesat. Berterimakasih lah sedikit pada Raja yang menyuruh Oliver menjadi penjaganya, karena semenjak itu Olivia jadi lebih hafal seluk beluk Kerajaan, meskipun hanya bagian barat istana saja.
Olivia masih berjalan santai sampai tanpa sadar kakinya menarik seutas tali, dia menatap kebawah dan langsung menunduk untuk melihat tali apa itu, dan disaat itu juga dia bisa merasakan ada sesuatu yang besar lewat tepat diatas kepalanya.
BOOMM!!
"Jebakan?"
Tubuhnya menegang, keringat dingin bercucuran keluar, dia ingat apa yang pernah dikatakan Alexander sebelumnya, 'lembah Zivlis penuh dengan jebakan para pemburu'.
Apa mungkin dia sudah berada di lembah Zivlis?
"Oh Man! Yang benar saja!"
Olivia melihat sekitarnya dengan teliti, dia takut masih ada jebakan lain, dan sepertinya hanya ada satu jebakan saja disini.
"Oh God, untunglah aku menunduk tadi, kalau tidak mungkin kepalaku sudah terluka parah," ucapnya bersyukur.
Mulai sekarang dia harus lebih berhati-hati dari sebelumnya, karena masih banyak beragam jebakan yang menantinya di dalam hutan.
Olivia kembali melangkahkan kakinya masuk lebih dalam, dadanya terasa berdebar dia tidak menyangka akan berpetualang sendirian seperti ini.
Srek..
Telinganya menangkap suara semak-semak di sebelahnya, dia menjauh dari sana dengan langkah yang pelan, hal yang dia takutkan lainnya selain jebakan adalah bertemu hewan buas.
Srek..
Semak-semak itu bergerak menandakan ada sesuatu yang hidup di baliknya, ini gawat firasatnya buruk tentang hal ini, lalu makhluk itu keluar dari tempat persembunyiannya.
Kaki yang memiliki cakar tajam itu terlihat sangat kuat untuk dipakai berlari, lalu taringnya yang tajam adalah senjatanya untuk merobek mangsa.
Yap.. itu adalah serigala liar.
Mata tajamnya menatap Olivia dengan lapar, air liurnya telah banyak menetes ke atas tanah, suara geraman keluar dari tenggorokannya yang basah.
"Oh shit!"
Serigala itu melompat dan hampir saja menerjang tubuhnya, untungnya dia menghindar dengan cepat dan langsung berlari menjauh dari sana.
Serigala itu mengejar Olivia dari belakang, dia terus mengeluarkan geraman yang membuat bulu kuduknya berdiri semua.
"Help me.."
٩(⌯꒦ິ̆ᵔ꒦ິ)۶ᵒᵐᵍᵎᵎᵎ
Nafasnya memburu, detak jantungnya berpacu dengan cepat, Olivia mulai kelelahan, tapi kalau dia berhenti sebentar saja tamat sudah riwayatnya.
Olivia menengok sebentar kebelakang untuk memastikan serigala itu masih mengejarnya atau tidak, dan ternyata dia sudah hampir dekat dengannya.
"HUAAAA..." teriaknya ketakutan.
Kakinya dipaksa untuk terus berlari meskipun sebenarnya dia sudah sangat lemas dan lelah, namun dia bukan orang yang mudah menyerah begitu saja.
"Siapapun, tolong lah aku!" batinnya berteriak.
Kakinya menginjak sebuah jebakan dan membawanya terperosok masuk kedalam sebuah lubang yang dalam, jantungnya serasa terbang melayang seperti tubuhnya yang turun kebawah.
BRUUKK..
"ARGHH.." teriaknya kesakitan.
Karena dia jatuh dengan kakinya yang mendarat duluan, akibatnya salah satu kakinya terkilir saat berbenturan dengan tanah, rasa sakitnya menjalar sampai ke pahanya.
Olivia menatap keatas dimana srigala itu menatapnya, lalu beberapa detik kemudian dia melangkah pergi meninggalkannya. Dia tadi sempat berfikir kalau serigala itu akan ikut melompat turun, setidaknya sekarang dia bisa bernafas dengan lega.
Hanya saja ada dua masalah baru mengantikannya, pertama kakinya terkilir, dan kedua dia terjebak di dalam lubang ini.
Sepertinya keberuntungan sedang tidak memihak padanya untuk hari ini, Olivia harap akan ada keajaiban yang datang padanya. Entah itu ada orang yang datang menolongnya atau mungkin dia bisa menemukan air dan makanan di dalam lubang gelap ini, karena dia sangat lapar sekarang.
"Tapi.. rasanya itu mustahil terjadi."
(;T▽T)
.
.
.
To Be Continued