
.
.
.
"Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang gadis berparas muka yang sangat buruk rupa, semua orang yang melihat mukanya pasti akan langsung merasa mual dan muntah. Maka dari itu orang-orang menjauhinya karena merasa jijik," ucap Allen mulai membaca cerita.
"Sang gadis yang sudah sebatang kara itu hidup dengan sangat menyedihkan, baju yang selalu ia pakai terlihat lusuh dan kumal, ia tak mampu membeli baju baru karena dia sangat miskin."
"Suatu hari saat dia sedang mencari buah liar di hutan, dia bertemu dengan sesosok Nenek tua yang memakai jubah hitam, tubuhnya bongkok dan dia membawa sebatang kayu di lengan kanannya."
"Gadis itu mendekatinya 'Nenek siapa?' tanya sang gadis, Nenek itu menatapnya lalu membalikkan badan, 'pergilah! Mukamu sangat buruk rupa!' ucap sang Nenek yang secara tidak langsung menyakiti hati gadis malang itu."
"Sang gadis tidak pergi begitu saja dari sana, dia masih penasaran dengan sosok Nenek tua yang berada di hadapannya ini, 'apakah Nenek seorang penyihir?' tanya gadis itu tiba-tiba. Saat mendengar pertanyaan dari sang gadis Nenek itu kembali berbalik dan menatap mukanya dengan tajam."
"Nenek itu menjawab 'memang kenapa kalau aku seorang penyihir?', gadis yang mendengar jawaban sang Nenek terlihat senang, 'Nek, kumohon tolonglah aku, rubah lah takdir hidupku menjadi lebih baik, buat aku berparas cantik sampai siapapun yang melihat mukaku akan langsung terpana karenanya' ucap sang gadis memohon."
"Nenek itu terdiam sejenak, 'memang apa yang kau punya untuk membayar jasaku?' tanya sang Nenek yang membuat gadis itu bingung harus menjawab apa, dia tak memiliki apapun yang berharga, tidak ada kecuali satu hal, 'aku akan memberikan jiwa ku Nek' ucap sang gadis dengan sangat yakin."
"Nenek itu terhenyak mendengar jawaban yang terlontar dari mulutnya, lalu seringai tipis mulai terbentuk di bibirnya yang kering, 'baiklah, aku akan menolongmu' jawabnya, lalu sang Nenek pun mulai merapalkan sebuah mantra 'Gronaurveln Amberband' setalah berkata demikian dia langsung mengarahkan tongkatnya ke arah sang gadis."
Tiba-tiba ada suara benda yang terbanting di kamarnya dengan sangat keras.
Braakk..
Allen langsung ter lonjak kaget karena suara itu, dan saat dia mencari tahu asal suara tadi ternyata itu adalah jendela apartemen nya yang tertiup angin kencang.
"Ahh.. mengagetkan ku saja," ucap Allen sambil mengusap dadanya.
Allen berdiri dan menghampiri jendela untuk menutupnya kembali, "Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan," ucap Allen yang memperhatikan keadaan diluar, dimana awan terlihat sangat hitam.
Dia kembali lagi ke kasurnya yang empuk dan nyaman, lalu melanjutkan membaca ceritanya.
"Cahaya yang menyilaukan mata muncul dari tubuh gadis itu, setelah cahayanya menghilang muka sang gadis yang asalnya buruk rupa menjadi sangat cantik bagai bidadari, 'apa aku sudah jadi cantik?' tanya sang gadis, Nenek itu langsung mengangguk mengiyakan, 'mulai sekarang takdir mu telah berubah, kau akan mendapatkan kebahagian dan juga kekayaan sebentar lagi' ucap sang Nenek memberitahunya."
"Gadis itu sangat senang mendengarnya, karena dia akhirnya bisa keluar dari penderitaan yang selama ini ia rasakan, 'tapi..' ucap Nenek itu lagi, 'hidupmu tidak akan lama, karena kau akan mati di bunuh', tubuh gadis itu bergetar ketakutan saat mendengar kata mati, sejujurnya dia sangat takut menghadapinya, tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur, apa yang telah dia lakukan sekarang tak dapat kembali lagi."
"Gadis itupun bertanya, 'kapan tepatnya aku akan dibunuh? Dan oleh siapa?', sang Nenek menjawab, 'aku tak bisa memberitahu kapan tepatnya kau akan dibunuh, tapi ingatlah satu hal, orang yang akan membunuhmu adalah orang yang sangat mencintaimu' setelah berkata demikian timbul asap tebal entah darimana langsung melahap sosok sang Nenek, dan beberapa detik kemudian dia menghilang dari pandangan sang gadis... "
Mata Allen tiba-tiba saja memberat, dia tak mampu meneruskan membaca buku cerita itu lagi, tapi hatinya begitu penasaran untuk bisa mengetahui akhir cerita.
Allen pun memaksakan dirinya untuk bisa meneruskan membaca cerita itu, dan tanpa dia sadari saat sedikit lagi cerita itu tamat matanya tertutup karena kalah oleh rasa kantuk yang sangat menyiksa.
.
.
.
.
.
Cahaya matahari menyilaukan mata Allen, dia mencoba membuka kelopak matanya yang terasa sangat lengket, setelah cukup terbuka dia mengusap kedua matanya.
Hal yang pertama kali terlihat jelas di matanya adalah langit biru yang indah, Allen memperhatikan sekitarnya dan hanya ada padang rumput hijau yang sangat luas.
Allen kembali menutup matanya rapat-rapat, dia berfikir bahwa dia sedang bermimpi indah, sangat indah sekali sampai dia merasa ini semua adalah kenyataan. Angin menyapa tubuhnya dengan lembut, lalu terdengar suara burung yang begitu merdu di telinganya.
Yaa.. dia hanya sedang bermimpi indah.
Pasti dia sedang bermimpi, tidak mungkin ini semua kenyataan, karena seingatnya terakhir kali dia sedang tertidur di atas kasur empuknya sambil membaca buku dongeng.
Allen berusaha sekuat tenaga untuk bangun dari mimpi ini, dia hanya ingin kembali melanjutkan membaca buku dongeng yang tidak sempat ia tamatkan semalam. Tapi anehnya, dia tak kunjung bangun dari mimpi ini, sampai dia merasakan cubitan kecil di tangan kanannya.
"Aww.. " ucap Allen sedikit meringis.
Setelah semut itu disingkirkan, dia terdiam dan menyadari sesuatu hal yang janggal, bila dia sedang bermimpi, dia tidak mungkin bisa merasakan rasa sakit, dan bukan itu saja yang membuat Allen terdiam.
Pasalnya tadi dia mendengar suaranya sendiri seperti seorang wanita.
Allen langsung bangun dari posisi rebahan, dia terduduk dengan shock, karena dia juga baru sadar bahwa dia sedang memakai baju wanita.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Dia sedang tidak berhalusinasi kan?
Allen pun memperhatikan tubuhnya dan dia melihat rambut pirang panjang menjuntai kebawah, rambut panjang ini adalah rambutnya, bahkan warnanya pun sama percis dengan warna rambut miliknya yang asli, lalu mata Allen terfokus ke dadanya.
Disitu dia langsung kaget, karena dadanya telah berubah menjadi dada seorang wanita!
"AAAAA... " teriak Allen.
Ini pasti bukan kenyataan, iya ini hanya sebuah mimpi, dia hanya terlalu nyenyak tertidur karena lelah setelah berjuang mencari toko buku tua selama 2 jam lebih.
Tapi sekeras apapun Allen mencoba untuk bangun dari mimpi ini hasilnya nihil, dia tetap tak bisa kembali ke kehidupannya.
Bibir tipis milik Allen bergetar, dia mencoba untuk kembali mengeluarkan suara dari mulutnya.
"A.. aku.. aku.. AKU BUKAN SEORANG GADIS!" teriak Allen lagi dengan frustasi.
Allen memeluk lututnya dengan erat, ia membenamkan mukanya diantara dua kakinya, saat ini dia sedang menangis dengan terisak pelan. Allen saat ini hanya sedang merasa bingung, dia hanya masih belum percaya bahwa dia berubah hanya dalam waktu semalam saja, ditambah dia tak tahu sedang berada dimana.
Pikirannya begitu berantakan, akal sehatnya sedang diuji sekarang, ditambah semua ini sungguh tidak masuk akal.
Tubuh Allen yang sepenuhnya sudah berubah 100% menjadi wanita itu mulai terlihat tenang, dia sudah tidak menangis lagi. Dia hanya berfikir bahwa menangis tidak akan menyelesaikan masalah apapun, Allen mulai berdiri dan menghapus jejak air matanya tadi.
Kakinya mulai melangkah ke arah tanpa tujuan, saat ini yang dipikirkan Allen hanyalah mencari jawaban atas apa yang terjadi padanya.
Allen mendekati suara itu, semakin lama dia mendekat semakin keras pula suara air itu, akhirnya diapun sampai di sungai yang aliran airnya tenang, jernihnya air sungguh memanjakan mata Allen, saking jernihnya dia bahkan bisa melihat dasar sungai yang penuh dengan bebatuan.
"Wow.. " ucap Allen takjub.
Dia mulai mendekati sungai itu dan ingin melihatnya dari dekat, Allen duduk dipinggir sungai sambil menatap terus kedalam dasar sungai yang masih membuatnya takjub, sampai dia tersadar dengan sosok bayangan wanita yang timbul di permukaan air.
Sosok wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah dirinya sendiri, Allen dengan perlahan menyentuh pipinya, terasa sangat mulus, bahkan lebih mulus dari pada kulit aslinya, Allen sendiri pun masih terperangah menatap bayangan wanita itu, karena ini pertama kalinya dia melihat seorang wanita yang begitu cantik bagai bidadari dari surga.
"Tunggu dulu, sepertinya aku familiar dengan keadaan dan sosok ini," ucap Allen sambil mengerutkan dahinya.
Kemudian dia ingat dengan tokoh utama di dalam cerita dongeng yang ia baca semalam, gadis berwajah buruk rupa itu berubah menjadi sangat cantik bagai bidadari.
Iya benar! Allen mulai ingat, hampir saja dia menganggap dirinya sedang berhalusinasi, ternyata dia masuk kedalam cerita dan menjadi tokoh utama di dalam dongeng itu!
Tapi tunggu dulu, kenapa ini semua bisa terjadi padanya?
Pertanyaan itu terus terngiang di dalam otaknya, kerena kalau memang benar dia masuk ke dalam cerita, itu semua sungguh tidak masuk akal.
Allen kembali duduk terdiam, dia sedang mencoba menenangkan dirinya dan berusaha mencari cara agar dia dapat kembali kedunia asalnya.
Terbesit sebuah pemikiran di dalam otaknya, mungkinkah dia harus melewati semua jalan hidup si wanita sesuai di dalam cerita, dan saat cerita itu tamat, ia akan kembali lagi ke dunianya?
Yah, hanya itu satu-satunya jalan keluar yang ia pikirkan saat ini, Allen harus mengikuti alur cerita sesuai di dalam buku, tapi masalahnya dia belum sempat membaca buku itu sampai tamat.
Allen berdiri dari duduknya, diapun mulai melangkahkan kakinya kembali untuk menyusuri sungai, karena dia ingat di dalam cerita kota tempat tinggal si gadis dekat dengan sebuah sungai.
.
.
.
Allen sudah cukup lama berjalan menyusuri sungai, kakinya mulai merasa sakit karena dia tidak memakai alas kaki sama sekali, di dalam cerita gadis ini sangat miskin sampai dia tak mampu untuk membeli sepatu, maka dari itu kemana pun dia pergi kakinya akan bertelanjang dan tidak di selimuti oleh apapun.
Perut Allen mulai bersuara merdu, dia kemarin memang belum makan malam, tapi ditambah dengan perut si gadis yang memang sedang kelaparan. Sungguh Allen merasa sangat kasihan pada si gadis yang harus bertahan hidup sebatang kara dengan orang-orang di kota yang membencinya.
Mata Allen mulai menangkap sebuah rumah bertingkat, dia merasa sangat senang dan mulai berlari mendekati rumah itu, lama kelamaan dia dapat melihat rumah rumah lainnya yang berjajar dengan rapih.
Suara orang-orang terdengar jelas di telinganya, akhirnya diapun menginjakkan kakinya di kota, Allen sangat takjub melihat arsitektur bangunan dan juga orang-orang yang berpakaian kuno seperti di jaman era Viktoria.
Allen merasa sedang berada di pameran busana-busana kuno, ini membuatnya begitu bersemangat masuk kedalam kota lebih dalam, tapi dia tidak sadar bahwa tatapan semua orang sedang tertuju padanya.
Mata biru muda indah miliknya terus saja memandang sekitar dengan teliti, "Wow, bahkan aku belum pernah melihat secara langsung baju kuno seperti ini," gumamnya sambil tersenyum.
Tiba-tiba ada seorang pemuda mendekatinya, dan langsung bersimpuh di depannya membuat Allen gelagapan karena bingung.
"Nona, siapakah nama anda?" tanya sang pemuda.
Allen terdiam, dia lupa siapa nama tokoh wanita di dalam cerita itu.
"Ah.. ee.. namaku.. namaku.. " ucap Allen gagap, dia sedang berusaha mencari nama untuk dirinya yang sudah berubah jadi wanita, sampai dia tiba-tiba saja teringat nama seorang penyanyi wanita yang ia sukai.
"Namaku Olivia Taylor," ucap Olivia.
"Oh nama yang sangat bagus," ucap sang pemuda sambil tersenyum, "emm Olivia mau kah kau menikah denganku?"
"What??" batin Olivia berteriak.
Dia tidak pernah menyangka akan secepat ini langsung dilamar oleh seorang pemuda, bahkan dia baru saja berjalan sebentar di dalam kota, tapi sudah ada yang berani melamarnya?
Olivia tidak boleh gegabah mengambil keputusan, dia harus mengikuti alur sesuai yang ada di dalam cerita.
"Ahh.. ma.. maaf tuan, saya tidak bisa menerima lamaran anda," ucap Olivia selembut mungkin agar hati sang pemuda tidak terluka.
"Kenapa tidak bisa?" tanya sang pemuda dengan sedih.
Olivia langsung bingung harus menjawab apa, "emm.. itu.. itu karena aku sedang menunggu seseorang untuk melamar ku, tapi orang itu bukan anda," jawabnya.
"APA!" teriak sang pemuda yang membuat Olivia ter lonjak kaget.
Pemuda itu berdiri dari bersimpuh dan menatap nya dengan tajam, sungguh perubahan sifatnya tidak pernah dia duga sebelumnya.
"Kau bilang kau sedang menunggu seseorang untuk melamar mu, tapi itu bukan aku?" tanyanya dengan nada tinggi.
Olivia menciut ketakutan karena pemuda yang bahkan tidak dikenalnya ini marah hanya karena dia menolak lamarannya.
Teriakan si pemuda tadi sudah memancing pandangan orang-orang di sekitarnya, dan Olivia tidak suka menjadi pusat perhatian seperti ini.
"Kau harusnya bersyukur ada yang mau melamar mu!" ucapnya sambil menunjuk Olivia, "apa kau tidak menyadari dirimu sendiri hah! Lihat lah pakaianmu, sungguh lusuh dan kotor, bahkan kau tidak memakai alas kaki sama sekali. Kau hanyalah gelandangan miskin yang tak punya apa-apa, tapi kau menjual mahal dirimu?"
Olivia merasa sangat marah mendengar semua perkataan si pemuda yang sangat keterlaluan, dia jadi tidak menyesal telah menolak lamarannya.
"Memangnya siapa lagi orang yang mau melamar mu menjadi istrinya selain aku?" ucap sang pemuda lagi.
"Aku mau," tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari belakang si pemuda.
Saat si pemuda berbalik untuk menatap orang itu, ternyata yanga ada di hadapannya adalah orang yang paling di takuti oleh semua orang.
Siapa lagi kalau bukan Raja mereka, Yang Mulia Raja Luke Adams.
.
.
.
TBC