
*
*
*
" Sudah dua Minggu berlalu. Haruskah kita tetap diam padahal semua bukti sudah kita dapatkan,?" Tanya Ritz pada Marcus..
" Kita akan bergerak sekarang. saatnya kau muncul di hadapan Kairos. Putramu sudah di temukan oleh Bawahan Tuan Marvel Setidaknya kau harus melihat wajahnya yang berusia sepuluh tahun sebelum akhirnya kau mendekam di penjara kan,?" Ucap Marcus melihat kearah Faraz yang sudah selama dua minggu bersamanya dan Ritz.
" Ya aku ingin melihatnya walaupun hanya sebentar dan setelah itu aku akan menyerahkan diriku sendiri kepada polisi. Aku juga akan meminta Clayton putraku mengapdikan pada Tuan Marvel sebagai rasa bersalah ku dan balas Budi karena membantuku untuk mengeluarkan Putraku dari Iblis seperti Kairos." Jawab Faraz yang sudah merencanakan pengabdian putranya pada Marvel dan keluarganya.
" Walaupun begitu. Kau tidak bisa memutuskan hidup putramu sesuai keinginan mu untuk membayar perbuatan becatmu dengan meminta putramu menjadi bawahan Tuan Marvel!!" Ucap Marcus yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran Faraz. Walaupun bocah itu adalah putranya bukan berarti Faraz bisa mengatur hidup bocah itu sebagai imbalan atas perbuatannya di masa lalu.
" Keputusan ku sudah bulat.. Clayton harus mengabdikan kesetiaannya pada keluarga Tuan Marvel kalau perlu aku akan meminta Tuan Marvel menerima Clayton sebagai pengawal Tuan Muda Glen di masa depan." Sahut Faraz yang sudah yakin akan keputusannya..
" Sudahlah Marc apa urusanmu mencampuri pilihan pria ini.. sebaiknya kita pergi ke Perusahaan Del Lioyd untuk menangkap bedebah itu.." Kata Ritz menengahi dengan membahas pembicaraan penting di awal .
" Kau benar yang terpenting kita harus menyeret pria tua itu ke penjara secepatnya!" Kata Marcus.
Ketiga pria itu akhirnya mengendarai mobil menuju perusahaan Del Lioyd. Belum sempat mereka turun dari mobl, mereka melihat sosok yang di carinya tengah memasuki mobil yang berhenti di depan lobby. Ritz meminta Marcus dan Faraz tetap di dalam mobul dan kembali melajukan mobilnya mengikuti mobil Kairos..
Setelah mengikuti selama dua puluh menit mobil yang di tumpangi Kairos berhenti di sebuah Mansion.
" Bukankah ini Mansion Besar keluarga Del Lioyd,?" Kata Ritz.
" Hmm. Itu bagus kita bisa langsung menyeretnya di hadapan para pelayan dan penjaga bukankah semua pelayan dan penjaga di Mansion ini adalah bawahan Tuan Kaisar.. mereka pasti lsenang melihat pertunjukan kehancuran Tuan Kairos yang mengambil alih kekuasaan Taun Mereka yang sesungguhnya bukan?" Sahut Marcus tersenyum Devil sembari melepaskan Seatbelt.
Disaat Ritz dan Marcus sedang saling berbicara tanpa mereka sadari bahwa Faraz yang duduk di kursi belakang sudah menghampiri Kairos dan menghajar mantan boss nya itu dengan membabi buta untuk meluapkan dendamnya selama ini..
" Apa apaan ini!!!" Teriak Kairos sembari melindungi kepalanya dengan kedua lengannya.
Dua pengawal yang bersamanya pun tidak harus sa mencegah penyerangan mendadak itu setelah berhasil melayangkan beberapa pukulan barulah kedua tangan Faraz di pegang erat oleh pengawal Kairos..
" Apa apaan kau ini hah??.. beraninya kau muncul di hadapan ku kau ingin melihat putramu mati rupanya,!" Teriak Kairos dengan mata menyalang saat mengetahui bahwa Faraz lah yang berani menyerang dirinya.
" Sebelum kau melakukan itu kau duluan yang mati di tangan ku bajingan!! Karena kau aku menjadi seorang pembunuh dan menghancurkan keluarga orang lain karena kau juga aku tidak bisa melihat putraku selama tujuh tahun!!" Teriak Faraz yang tidak takut dengan tatapan dari mantan boss nya itu..
Faraz mencoba terlepas dari dua pengawal yang menjeratnya dengan cara menyerang dua pria itu tapi dengan kedua tangan di pegang ke kedua sisi Membuat Faraz tidak bisa berkutik sebelum akhirnya Ritz dan Marcus menghajar dua pengawal itu dengan satu kali serangan saja..
Kairos mendelik dan berteriak memanggil para penjaga lainnya namun tidak ada yang datang menolongnya..
Marcus tersenyum Smirk dan dengan perlahan mendekati Kairos yang semakin melangkah mundur.
" Mau lari? Meminta tolong,? Tidak ada seseorang yang akan menolong mu.. mungkin para pengawal dan pelayanan mu itu menunggu hal buruk seperti ini terjadi pada boss mengerikan seperti mu!" Kata Marcus tajam dan tanpa bosa basi menendang kaki pria paruh baya itu..
" Pegang dia dan masuk ke Mansion untuk menggeledah berkas penting miliknya!" Perintah Marcus pada Faraz..
Faraz segera memegang Kairos yang babk belur itu dengan erat.
" Jangan lupa plester mulutnya agar tidak berisik!" Kata Marcus dan Ritz dengan sigap mengambil plester di mobil.
Marcus pun berjalan lebih dulu ke dalam Mansion matanya tidak sengaja melihat mobil sport pink yang di kenalnya. karena mobil itu memiliki stiker hello Kitty jadi Marcus jauh lebih mudah mengenali mibik itu apalagi selama empat tahun ini mobil itu sering di jumpainya di perusahaan maupun Mansion milik Marvel.
" Apa yang kau lihat,?" Tanya Rizt yang baru menyusul setelah menempelkan plester di mulut Kairos.
" Bukankah itu mobil Dela,? Kenapa dia ada disini apa Dela dekat dengan Kairos dan istrinya,? Bukankah wanita itu teman Nyonya Muda bukankah aneh jika wanita itu dekat dengan orang yang menyakiti sahabatnya,?" Tanya Marcus curiga..
" Apa mungkin wanita itu musuh dalam selimut?," Sahut Ritz tak yakin.
Mereka pun memutuskan untuk mencari tahu langsung daripada harus menebak nebak. Sementara itu Faraz mengikuti di belakangnya dengan membawa Kairos yang terlihat tidak berdaya..
" Aunty tahu tidak keponakan Aunty masih hidup dan menghancurkan harapan ku untuk bersatu bersama Marvel?!" Kata Dela pada sang bibi..
" Apa katamu,? Keponakan,?" Tanya Wanita bernama Tery itu bingung. Pasalnya dirinya hanya memiliki saru keponakan dari adik perempuannya yaitu Dela saja.
" Ritz nyalakan alat perekam yang selalu kau bawa!" Perintah Marcus Begitu mendengar suara yang dirinya kenal..
Marcus berjalan lebih mendekat sementara Ritz berjalan keluar berusaha menghubungi Marvel tapi beberapa panggilan tidak ada satupun yang di jawab oleh tuannya...
Marcus tersenyum lebar sembari memainkan alat perekam di tangan nya. saat tanpa sengaja sudah memecahkan teka-teki yang dicarinya. tidak disangka keputusan untuk mendatangi Kairos akan memudahkan pekerjaan Nya. Sekali tepuk dua tiga pulau terlampaui.
Marcus menampakan tubuhnya dan bertepuk tangan sembari tertawa renyah.
Prok!! Prok! Prok!!
" Wow Amazing!. Tidak kusangka aku seberuntung ini!!" Ucap seorang pria yang berada di ambang pintu dengan dua pria paruh baya di belakangnya satu pria yang lebih tua di jerat erat oleh satu pria satunya.
Dela langsung berdiri. Terkejut? Bukan lagi lebih tepatnya wanita itu ingin pingsan saja rasanya. Kali ini sudah berakhir. Dan tidak ada kesempatan tersisa baginya..
" Marcus kau?---
" Astaga tidak ku sangka teryata kau mudih dalam selimut!!. Mengaku sebagai sahabat dan mendekati suami dan anak dari orang yang kau akui sebagai sahabat. Ck ck menjijikkan!" Cibir Marcus memandang jijik pada wanita yang sempat di panggilnya nona itu.
" Tidak!! Kau salah paham!!" Elak Dela melambaikan tangannya..
" Cih!! Dasar tidak tahu diri!!" Cibir Marcus..
Tery yang masih bingung dengan situasinya pun tidak bisa bergerak dari duduknya hingga matanya tertuju pada suaminya yang sudah tidak berdaya di tangan Faraz mantan bawahan suaminya dulu.
" FARAZ!!! Kau apakan Suamiku berani sekali kau!!! Kau sudah tidak ingin putra mu hidup rupanya ya!!" Teriak Tery menyerbu kearah Faraz dengan membagi buta tapi sebelum wanita paruh baya itu berhasil menyerang Faraz tangannya sudah di tarik dengan kuat oleh Ritz...
" Putraku?,, Aku tidak takut lagi oleh ancamanmu itu. Karena apa? Putraku sudah berada di tangan orang yang tetap." Sahut Faraz tenang karena anak buah Marvel yang lain sudah menemukan keberadaan putranya itu..
" Apa?!! Bagaimana mungkin?!" Kaget Tery.
Pasalnya dirinya dan Kairos telah menyembunyikan bocah itu di tempat yang tidak akan di temukan oleh siapapun. Bocah itu dirinya tempatkan di kastil yang ada di Italy. Lalu bagaimana mungkin Faraz bisa menemukan bocah itu?,
" Tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh keturunan Johnson dan Rodriguez!" Sahut Faraz acuh sembari menekan erat Kairos yang ingin terbebas..
" Berhentilah memainkan Drama aku bosan.. Ritz kau sudah menghubungi polisi?!" Tanya Marcus..
" Tentu saja. Oh mereka sudah sampai." Sahut Ritz dan beberapa polisi datang menangkap Dela, Kairos dan Tery.
Melihat Mansion begitu ramai dengan wajah baru dan para polisi pelayan Mansion hanya bisa menonton dan saling berbisik di antara mereka sendiri.. ada rasa puas bahwa Tuan yang tidak punya empati itu berakhir menyedihkan seperti itu.
" Tidak!! Aku tidak salah aku tidak melakukan apapun!!!" Teriak Dela tidak terikat...
" Lepas!! Kau tidak tahu siapa aku hah?? Aku adalah nyonya Del Lioyd kau tidak dengar!!!" Teriak Tery yang di abaikan polisi...
" Done!!" Ucap Titz merasa lega..
" Bawa aku. Aku menyerahkan diri.." kata Faraz tiba-tiba pada salah satu polisi..
Polisi itu terlihat bingung dan melihat kearah Ritz dan Marcus.
Marcus dan Ritz saling pandang lalu mendesah kasar bersamaan. Mau tidak mau kedua asisten itu mengangguk..
" Kita akan membawa Putra mu untuk menemuimu begitu dia sampai di Indonesia." Kata Marcus yang sedikit iba tapi bagaimana pun alasannya berbuatan Faraz sangatlah tidak di benarkan..
Faraz mengangguk " terimakasih banyak.. dan sampai kan terimakasih ku pada Tuan Marvel." Sahut Faraz dengan tersenyum.. Hanya dengan menyerahkan diri yang bisa di lakukan nya untuk menebus dosa pada keluarga kecil Tuan Kaisar..
" Kau harus mengatakan sendiri secara langsung.." Sahut Marcus.
" Baik. Sekali lagi terimakasih." Kata Faraz dam akhirnya di bawa menuju kantor polisi.
Ritz mengusap sudut matanya yang tidak berair." Kenapa aku sedih sekali." Ucap Ritz dramatis.
Plak!!!
" Berhenti bercanda Ritz!!" Kata Marcus menamoar kepala temannya yang tidak bisa serius itu..
" Ck.." Decak Ritz kesal sembari mengusap kepalanya..