
*
*
*
Marvel mengernyitkan dahinya saat Marcus berhenti cerita di tengah di saat bagian terserunya.
" Tuan, bolehkah saya meminta air? Tenggorokan saya mengering karena terus bercerita." Kata Marcus dengan cengiran.
Marvel berdecak dan melempar satu botol minum yang masih bersegel di mejanya ke arah Marcus dan di tangkap dengan tepat oleh empunya.
" Terimakasih banyak Tuan Muda, Anda memang yang terbaik." Kata Marcus mengangkat jempolnya tidak lupa dengan cengiran kudanya untuk yang kedua kalinya. Asisten yang di landa dehidrasi itu segera menenggak air itu hingga habis seperti satu Minggu tidak minum saja.
" Apa kau habis berjalan di gurun pasir dan tidak minum selama berhari-hari,? Cara minumnya seperti orang kesetanan.!" Bibir Marvel..
" Tidak separah itu Tuan. Saya hanya tidak makan dan minum selama lima belas jam." Sahut Marcus setelah habis menenggak minumnya.
" Ck. Lemah sekali kau baru lima belas jam saja kau sudah seperti itu. Kau tidak tahu saja bagaimana Umat Muslim selalu berpuasa selama satu bulan penuh menahan haus dan lapar sedangkan kau baru lima belas jam saja sudah Tepar!" Cibir Marvel lagi.
Marcus hanya bisa bersabar menghadapi tuan mudanya yang kali ini di anggap nya bodoh itu.
" Maaf Tuan, Berpuasa itu tidak se ektrim itu.. memang benar harus menahan lapar dan haus selama satu bulan tapi bukan berarti tidak makan dan minum selama itu. Ada waktu dimana para umat yang menjalankan puasa bisa makan dan minum sebelum melanjutkan puasa ke esok harinya." Jelas Marcus.
" Cepat lanjut kan cerita yang terputus tadi saja!!.." Kata Marvel yang sebenarnya merasa malu karena merasa menjadi orang bodoh se dunia karena itulah dirinya sengaja meninggikan suara dan meminta Marcus menceritakan tentang Keluarga mendiang mertuanya.
Marcus pun berhenti berbicara sok pintar yang sebenarnya dirinya juga tidak terlalu paham. Dan mengambil nafas dalam sebelum melanjutkan cerita tentang keluarga Del Lioyd yang menurut nya masih panjang sepanjang rel kereta api.
" Tapi Tuan, Sampai mana cerita saya tadi,?" Tanya Marcus tanpa dosa.
Alhasil Karena pertanyaan bodohnya itu dahinya menjadi korban lemparan bolpoin dari Marvel.
" Pelayan yang melahirkan putra dan di adopsi kakek istriku!! Dasar Bodoh!!" Kesal Marvel..
" Oh ya itu, saya ingat sekarang.." Sahut Marcus.
Marvel memutar bola matanya. Kemudian memompang dagunya dengan tangan yang di satukan untuk menyimak apa yang di katakan asisten nya itu.
" Ya setelah berhasil mengadopsi anak itu sang pelayan yang mendapatkan imbalan uang yang tidak sedikit itu di pindah ke luar negeri dengan beberapa pengawasan. Pasangan itu begitu bahagia kala itu dan memberikan nama bayi itu Kairos Del Lioyd dan menyayanginya seperti putranya sendiri. Tahun demi tahun hingga Tiga tahun kemudian Nyonya Besar di nyatakan hamil dan itu adalah hadiah yang tidak pernah di bayangkan oleh Tuan Besar. Walaupun begitu hingga putra kandungnya yang di berinama Kaisar Del Lioyd itu lahir, Pasangan itu tidak sekalipun membedakan antara Kairos dan Kaisar. Hinga sampai puncaknya Tuan Besar mengangkat Tuan Kaisar sebagai Presedir hal itu membuat Tuan Kairos merasa bahwa Tuan Besar terlalu bias." Jelas Marcus.
" Tapi Tuan Besar bukan tanpa alasan memilih putranya sendiri untuk menjadi pemimpin. Tuan Kaisar lebih unggul dalam berbagai hal dari Pada Tuan Kairos. Bahkan Tuan Kairos telah Membuat dua perusahaan cabang bangkrut saat Tuan Besar memberi wewenang pada beliau, karena itulah Tuan Besar Memilih Tuan Kaisar untuk menjadi penerus perusahaan setelah pertimbangan yang panjang.." Jelas Marcus mengakhiri cerita nya dengan helaian nafas lega.
Marvel mengaguk agukan kepalanya puas. " Dari cerita ini aku bisa menyimpulkan. Dan rasa curiga ku lebih condong ke Kairos ini hanya dugaan ku tapi kurasa ini tidak sesederhana kelihatan nya. Usut dalam lagi!!" Kata Marvel.
" Baik Tuan.." Jawab Marcus.
" Bagaimana dengan Ritz?" Tanya Marvel.
Marcus melihat jam di pergelangan tangannya, " saya rasa sepuluh menit lagi anak itu akan sampai di atap gedung perusahaan, Tuan." Sahut Marcus.
" Hmm. Istirahat dahulu mulailah tugas bersama Ritz setelah kau beristirahat!!"
" Baik, Terimakasih banyak Tuan, Anda juga harus segera pulang. Saya akan menyetir untuk anda." Kata Ritz.
Marvel mengangguk karena jam juga sudah menunjukan pukul dua dini hari. Pria tampan walau dalam keadaan kacau itu meraih ponsel dan jass-nya dan bergegas pulang dengan Marcus yang menjadi sopir nya..