
*
*
*
*
Senyum dan Tawa lovely berhenti di gantikan dengan ekspresi masam di wajah cantik nya. Moodnya langsung hilang saat dirinya melihat seseorang yang membuatnya cemburu satu minggu yang lalu dengan hanya membicarakan namanya saja. Ya seseorang itu adalah Dela. Wanita dengan rambut panjang berwarna coklat sedikit bergelombang itu sedang duduk di sofa yang ada di luar ruangan Marvel sudah bisa Lovely tebak jika wanita itu datang untuk bertemu Marvel.
Dela yang mendengar ada langkah kaki seseorang yang mendekat segera mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
Wanita itu tersenyum dan mendongak untuk menyapa seseorang yang diyakini adalah Marvel tapi senyum itu seketika membeku dan ada keterkejutan dan ketakutan besar saat melihat wanita yang di peluk dengan posesif oleh Marvel.
" Sstarla,? Bagaimana mungkin,?"Gumanya pelan hampir tidak terdengar tanpa sadar ponsel di tangannya pun terjatuh begitu saja.
Dela tersadar bergegas berdiri mengamati Lovely tidak ada ekspresi yang berarti dari wajah lovely yang menunjukan sesuatu saat melihatnya. barulah Dela bernafas lega dan menghampiri Lovely..
" Star ini beneran kamu,? Oh god..!! Kau masih hidup,? Apa yang terjadi dan selama ini kau dimana kenapa tidak menghubungiku,?" Ucap Dela dengan deretan pertanyaan dan mengguncang bahu Lovely..
Lovely tersenyum kaku. Apa ini,? Reaksinya Kenapa Antusias begini,? Apa selama ini dirinya terlalu berburuk sangka dengan Dela?, Pikirnya.
" Ceritanya panjang aku akan bercerita jika ada banyak waktu luang. Bagaimana kabarmu dan kenapa kau ada disini,?" Tanya Lovely..
Dela menggaruk tengkuknya. " Sudah lama aku tidak bertemu Glen jadi aku datang untuk menemuinya dan membawakan oleh-oleh dari Dubai untuk Glen." Sahut Dela sembari melirik paper bag yang dirinya letak kan di meja sofa tempat dirinya tadi menunggu.
" Oh kalau begitu ayo masuk ke ruangan Marvel dulu." Ajak Lovely. Lovely berjalan dulu di ikuti Marvel yang sedari tadi fokus dengan Glen.
" Dad, Kenapa Aunty Dela masih berkunjung,? Glen tidak suka karena Mommy akan cemburu nanti." Bisik Glen pelan yang hanya bisa di dengar Marvel saja. Anak kecil itu melirik Mommynya yang terlihat sedikit berbeda.
" Bukankah kau yang suka bermain dengannya,? Kenapa sekarang malah bertanya pada Daddy,?" Sahut Marvel tidak kalah pelanya..
" Aku melakukan itu hanya sebagai rasa hormat saja karena Aunty adalah teman Mom. Tapi melihat ekspresi mom yang terlihat tidak suka seperti sekarang Glen jadi takut jika mommy salah sangka." Kata Glen.
" Itu hanya perasaan mu saja. Mommy tidak mungkin berfikiran sempit seperti itu. Nanti daddy akan beritahu Aunty Dela supaya tidak datang lagi saat tidak ada Mom." Kata Marvel. Ya kebih baik menegaskan akan hal itu dirinya juga risih saat Dela berkunjung tiba-tiba seperti ini dan sekarang istrinya sudah kembali Dirinya tidak ingin lovely berfikir macam macam seperti Tempo lalu.
" Emhh." Glen menjawab sembari menganggukan kepalanya.
Marvel meletakkan Glen ke sofa yang ada di ruangan kerjanya. Marvel lalau menghampiri Lovely dan mencium bibir istrinya iti tanpa memperdulikan Glen dan Dela yang melihat adegan itu.
" Aku akan ke kursi kerja ku. Kalau ada apa-apa tinggal panggil aku okey,?" Kata Marvel dan mendarat satu kecupan lagi di bibir mungil Istrinya.
" Hmmm semangat kerjanya, sayang.." Sahut Lovely menepuk pelan atas kepala suaminya.
Marvel tersenyum dan berlalu pergi ke kursi kebesaran nya tanpa menyapa Dela jangankan menyapa meliriknya pun tidak di lakukanya.
Dela tersenyum kecut dan beralih menghampiri Glen sembari membongkar barang bawaannya yang merupakan mainan dan makanan yang matanya oleh okeh dari Dubai itu.
" Bagaimana apa kau suka dengan hadiah nya,?" Tanya Dela yang melihat tidak ada respon yang berarti dari bocah itu saat melihat hadiah pemberiannya.
" Ini aku sudah memilikinya. Ini juga dan ini juga. Dan." Glen mengambil satu camilan dan memasukkan ke mulutnya. " Dan Camilan ini tidak seenak buatan Mommy ku." Katanya yang membuat Dela mengumpat dalam hati.. capek capek mencari barang dan makanan dan jauh jauh membawanya dari negara lain justru tidak di hargai sama sekali oleh bocil ini. Setidaknya berpura-pura lah menyukai barang pemberiannya. Jika saja tidak ada hal lain untuk di capai nya dirinya juga tidak sudi melakukan hal ini apalagi sampai rela bermain bersama bocah nakal ini selama empat tahun lamanya.