
*
*
*
Nafas Lovely terengah tak beraturan Jeffry yang melihat itu berusaha menenangkan putrinya mengusap punggung lovely dengan pelan.
“ it's okey, Sayang. Bernafas lah dengan perlahan." Kata Jeffry.
" Minumlah agar kau sedikit tenang, Love." Ucao Sharon mengulurkan satu gelas air yang baru di ambilnya dan langsung di minum habis oleh lovely.
Jeffry membantu Lovely berdiri dari lantai dan mendudukkannya kembali ke sofa. Keadaan Lovely sudah lebih baik.
" Kau mengingat sesuatu setelah melihat cincin itu,?" Tanya Jeffry.
Lovely mengangguk pelan.
" Apa perlu daddy panggilkan Dokter,?" Tanya Jeffry lagi yang masih khawatir karena wajah putrinya sedikit pucat.
" Tidak perlu Dad, aku baik baik saja." Tolaknya dengan suara pelan.
" Apa yang kau ingat hingga kau histeris seperti itu, Lovely,?" Tanya Sharon sembari meletakkan gelas di meja.
Lovely menangkup wajahnya sembari menunduk. " A-aku mengingat dia Mom. Dad aku mengingat nya." Sahut Lovely lirih sembari tersisak.
Jeffry Membuka tangan putrinya yang menutupi wajahnya yang cantik dan beralih menangkup nya. " Dia siapa,? Katakan pada daddy dia diapa yang maksud,?" Desak Jeffry.
" Suamiku aku mengingat nya. Aku sudah menikah dan Juga punya anak." Jawab Lovely.
Tangkupan di tangan Jeffry mengendur. " Apa pria itu benar Marvel Rodriguez,?" Tanya nya.
" Iya itu dia, Aku sungguh mersa bersalah karena tidak mengingatnya, Dad, apa yang harus kulakukan,?" Tanya Lovely.
Jeffry juga bingung harus mengatakan apa terlebih dirinya Juga terkejut dengan fakta yang begitu tiba tiba ini. Dalam pikirannya hanya takut bagaimana jika orang tua kandung lovely mengambilnya dari sisinya. Itu akan sangat menyakiti hati tuanya ini.
" Aku belum siap. Aku terlalu malu untuk menemuinya setelah mengumpat nya dengan berbagai kata kata kasar tadi.!" Sahut Lovely yang semakin menangis kencang.
" Aduh.. kenapa kau semakin menangis kencang,? Sayang, bagaimana ini putriku semakin menangis." Kata Jeffry kalang kabut dan bingung harus menghibur dengan cara apa.
Sharon menghela nafas berat. Dan mengelus kepala Lovely. " Tidak apa, Suami mu pasti memahami tindakan mu katena bagaimana pun kau melakukan itu karena tidak mengingatnya bukan,? Mommy yakin Marvel dan putramu akan sangat senang jika kau mengunjunginya apalagi tahu jika kau sudah mengingat nya." Tutur Sharon.
Mendengar ucapan sang mommy tangis Lovely mereda. " Mereka akan memaafkan ku kan, Mom,?"
" Tentu saja mereka harus!!. Bersiaplah dan berdandan lah yang cantik. Lihat kemana perginya putri Mommy yang cantik itu, kenapa berubah menjadi panda begini,?" Goda Sharon mengusap sisa air mata di pipi putrinya.
" Mom, Aku tidak seburuk itu ya." Sahut Lovely tidak terima sembari menepuk pelan kedua pipinya.
Sharon terkekeh. " Mangkanya jangan terlalu banyak menangis agar mata mu tidak bengkak dan menjadi panda. Cepat siap siap sana lalu kita pergi bersama ke kediaman Rodriguez untuk bertemu putra dan suami mu." Kata Sharon mendorong putrinya agar cepat bergerak.
" Mom.. tunggu emang nya Mommy tahu dimana kediaman Rodriguez berada.?" Tanya Lovely menoleh kearah Mommynya yang terus mendorongnya agar berjalan.
" Itu gampang daddy akan mencari tahu. Kau hanya perlu berdandan yang cantik saja sisanya biar daddy dan mommy yang mengatur nya." Sahut Sharon yang terus saja mendorong Lovely.
" Mom. Okey okey aku akan berjalan sendiri berhenti mendorong ku." Kata Lovely.
" Cepatlah! Mom dan Dad akan menunggu di Mobil." Kata Sharon.
" Mom. Aku butuh mandi juga tidak bisa secepat itu.!" Kata Lovely bernegosiasi.
" Baiklah Mommy akan menunggu selagi menonton televisi." Sahut Sharon mengalah.
Lovely pun berjalan ke kamarnya dan langsung nenuju kamar mandi. Lovely melakukan ritual mandi nya dengan cepat. Jujur walaupun belum terlalu siap dan bingung harus berkata apa ketika nanti bertemu dengan Marvel tapi setelah mengingat masa lalunya rasa rindu itu hadir begitu saja rasa rindu yang begitu kuat.
Glen bocah kecil itu. Lovely tidak bisa bisa membayangkan bagaimana sulitnya bagi putranya selama ini yang tumbuh tanpa seorang ibu di sisinya rasa bersalah pin muncul di hatinya. Andai saja dulu dirinya menuruti perkataan suaminya pasti semua tidak akan jadi begini dan Glen juga akan tumbuh dengan bahagia bersama orang tua yang lengkap.
" Ngomong-ngomong pada saat itu apa yang begitu membuat ku keras kepala dan terburu buru ke suatu tempat,? Bagaimana pun aku mencoba mengingatnya tapi yang ku ingat hanya sebatas kecelakaan itu terjadi." Batin Lovely termenung.