
Theala
Theala dipaksa mengambil cuti liburnya untuk beristirahat di rumah karena sempat pingsan di kantor waktu itu, oleh Harvey selaku CEO perusahaan yang memberi perintah langsung.
Sudah satu hari Theala tidak masuk kerja dan hanya beristirahat di rumah, pikirnya mungkin hanya kelelahan jadi ia akan langsung merasa baikan setelah ia cukup beristirahat.
Namun selama seharian penuh badannya makin memburuk, pasti aku benar-benar sedang sakit pikirnya setelah mondar-mandid ke kamar mandi karena muntah-muntah sedari pagi hingga malam, tubuhnya lemas sama sekali tidak punya napsu makan dan pusing di kepalanya semakin menjadi.
Keesokan harinya ia memutuskan untuk memperiksakan diri ke rumah sakit, ia takut bahwa ia sekarang sedang sakit lambung atau pencernaan.
Semoga aku hanya kelelahan saja, kalau aku benar-benar harus rawat inap ini akan menjadi masalah bagiku. Aku sudah tidak memiliki keluarga lagi sejak aku keluar dari rumah ayah dan memutuskan untuk hidup sendiri.
Kalau aku sampai menderita penyakit yang sangat parah aku harus bagaimana?
Ia menjadi sibuk dengan apa yang sedang ada di pikirannya, menjadi tidak tenang dan sangat ketakutan di dalam pikirannya sendiri.
Begitu ia sampai di rumah sakit ia selalu komat-kamit berdoa agar ia baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang kondisi keadaannya saat ini.
Dokter memeriksanya dan mendengar semua keluhan-keluhan yang ia sampaikan selama pemeriksaan berlangsung.
Ia kaget saat dokter menyuruhnya berpindah poli priksa untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, ia kaget mengetahui jenis poli apa yang ia datangi.
Beberapa saat setelah selesai menjalani pemeriksaan ia benar-benar tercengang dengan hasil yang keluar dan juga ketika ia melihat dilayar USG di depannya, terlihat jelas seperti ada sebuah biji kacang disana yang menyatakan ia saat ini sedang mengandung.
Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Kenyataan ini bahkan lebih parah dibandingkan aku mengidap suatu penyakit yang mematikan.
Perbuatan ini bukan keinginan ku tetapi janin di dalam kandungan ku ini juga tidak bersalah, aku tidak boleh melibatkannya.
Akan aku rawat dan besarkan sepenuh hati toh aku sudah tidak memiliki seseorang yang menjadikanku keluarganya.
Suatu berkat Tuhan sudah mengaruniai ku janin ini, meskipun ayahnya tidak akan mau mempertanggung jawabkannya.
"Aku tidak boleh membiarkannya mengetahui bahwa aku sedang mengandung anaknya atau dia akan menyuruhku untuk menggugurkan calon anakku," gumam Theala bertekad.
Satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini. Begitulah yang ia pikirkan sepanjang ia menghabiskan libur cutinya dan sudah mengambil keputusannya.
...**...
"Kau sudah masuk rupanya," ucap Harvey.
"Iya Tuan, terima kasih sudah mengijinkan saya untuk beristirahat sekarang saya benar-benar sudah sehat," ucap Theala dengan senyum cantiknya.
"Cih, siapa yang perduli dengan keadaanmu!" jawab Harvey sinis.
Theala tertawa kecil dibalik punggung Harvey, merasa geli tetapi juga merasa tingkah Haevey memang sangat begitu aneh.
Sekarang aku benar-benar mengerti setelah mengenalnya ternyata sebenarnya Tuan Harvey tidak sekejam seperti yang sudah orang-orang ceritakan.
Entah sadar atau tidak aku merasa ia hanya berusaha menutupinya bahwa ia juga seorang manusia yang pada umumnya memiliki perasaan hangat disisi ruang kecil hatinya.
Pernikahan yang diinginkan setiap manusia terutama wanita adalah menikah dengan pujaan hati yang ia cintai dan mencintainya sepenuh hati.
Bukan hanya sekedar pernikahan dengan pesta yang sangat mewah atau tamu-tamu berjabatan tinggi, itu semua tidak penting untuk seorang wanita.
Yang sangat utama dari semua itu adalah siapa pasangan yang bersamanya saat di pelaminan.
Lalu dapat mengandung dan melahirkan anak-anak dari hasil buah cinta mereka, merawat dan juga membesarkannya dengan penuh cinta sebagai sebuah keluarga.
Itulah semua impian setiap wanita di dunia, yang setidaknya dapat dimiliki oleh orang lain namun tidak dengan Theala.
Hari ini Theala terlihat sangat cantik dengan balutan baju kerja yang berwarna terang, menata rambutnya dengan rapih bersama pita yang mengikat manis diatasnya menambah kesan anggun menawan yang terpancar dari dirinya.
Siapa yang tidak akan menjatuhkan hatinya kepada wanita yang sangat sempurna untuk menjadi calon ibu bagi penerus keturunan para lelaki, bahkan setiap sepasang mata yang tertuju padanya pun tidak akan lelah untuk terus memandangi keindahannya yang bak seperti bidadari turun ke bumi.
"Baiklah. Anak ku ayo kita saling menguatkan untuk bertahan hidup!" ucap Theala sambil mengelus lembut perutnya yang masih rata itu.
Selama bekerja wajahnya penuh dengan senyuman sumringah yang tak pernah padam menyinari setiap gerak-gerik yang dipancarkannya.
Sungguh sangat pandai menutupi kesedihannya dan membuatnya sebagai kabar suka cita baginya, bila ada produser film yang melihat mungkin Theala akan mendapatkan penghargaan atas aktingnya yang sangat menawan menutupi keadaannya yang sebenarnya dibalik senyum indah miliknya itu.
"Maaf anak ku. Tapi tidak akan ku biarkan kau menderita seperti ibumu. Jadi ayo kita menjalani kehidupan dengan sebaik mungkin!" gumam semangat Theala mengelus perutnya lembut.
Sama persis seperti masa kecilnya hingga besar saat ia tinggal di rumah ayahnya itu.
Theala tinggal mengulanginya lagi, bersikap semua baik-baik saja dan tidak perlu ada seorang pun yang tahu bagaimana keadaannya karena itu pun tidak membuatnya menjadi tertolong dari keterpurukannya.
"Theala hari ini sepertinya kau sangat bahagia, penampilanmu pun sangat menawan aku jadi ingin mengajakmu makan malam bersama. Bagaimana?" ajak Hansen.
"Terima kasih, Tuan Hansen. Itu tidak perlu saya merasa sangat berlebihan," jawab Theala.
"Berlebihan apanya?! Kau benar-benar curang sudah membuatku kehilanganmu dari sisiku, sekarang pun sudah tidak sungkan untuk menolak ajakanku!" ujar Hansen kesal.
"Ah maaf Tuan, saya tidak bermaksud. Baiklah..." jawab Theala pasrah.
Theala menundukan kepalanya dan membungkukan badan serendah mungkin saat ia meminta maaf kepada Hansen atas penolakannya terhadap ajakan Hansen beberapa saat yang lalu.
Tidak jauh dari tempat keduanya berada, berdiri Harvey disana melihat pemandangan yang membuatnya sangat naik pitam.
Harvey pun tanpa basa-basi langsung menarik dan membanting tangan Hansen yang dari tadi bersinggah di pundak Theala. Langsung membisikan kalimat tepat di telinga Theala dengan nada geram.
"Tegakkan kepalamu! Kau tidak perlu menundukkan kepalamu untuknya! Kau hanya perlu menundukkan kepalamu untukku!" ujar Harvey pada Theala.
"Baik Tuan. Saya pamit duluan, karena mau pergi makan malam bersama Tuan Hansen," ucap Theala.
"Heh, kau juga tidak perlu memanggilnya Tuan! Kau hanya perlu memanggil Tuan untukku!" tegas Harvey menohok.
"Iya, iya, iya, baiklah dia benar Theala. Aku memang sepupunya dan juga sahabat baginya tapi posisiku jauh berbeda darinya," ujar Hansen mengalah untuk menengahi.
Hansen hanya dapat mendengar saat Harvey melarang Theala memanggilnya tuan karena baginya memang dia bukan siapa-siapa dibandingkan Harvey sepupunya itu yang pantas dipanggil Tuan karena memang dialah Tuan Muda sebenarnya, pewaris konglomerat.
Hansen tetap menarik dan menggandeng tangan Theala berjalan menjauh meninggalkan Harvey yang tetap berdiri disana, dengan santainya ia tidak bergeming langsung membawa kabur mainan sepupunya dihadapannya.
"Heh, atas ijin siapa kau meminjam mainanku!" teriak Harvey.
"Kau masih punya banyak. Nanti akan ku kembalikan. Kita duluan," ucap Hansen dan berlalu pergi.
Theala hanya diam mendengar percakapan kedua atasannya tersebut. Ia benar-benar berpikir itu hanya sebuah mainan dalam arti mainan yang sesungguhnya adalah sebuah benda. Ia tidak pernah berpikir bahwa yang sebenarnya dimaksud oleh kedua pria tersebut adalah wanita yaitu termasuk dirinya sendiri.
...•••HATE•••...