HATE

HATE
36



Di sebuah cafe, saat jam makan siang.


"Sayang, kenapa kau belakangan ini sangat sulit di temui? Kau seperti sengaja melakukannya," keluh Rachel manja.


Disalah satu meja di dalam cafe tersebut, tepat berada disamping jendela.


Terlihat sangat jelas dua sejoli yang sedang bermesraan dengan hidangan hot coffee Americano, ice coffee latte dan macarron diatas meja tempat mereka duduk.


Setelah dilihat dengan benar, ternyata hanya si pihak wanitalah yang sibuk mencari perhatian si pihak pria.


"Jadi, maksudmu aku sedang sibuk menghindarimu?" tanya Harvey William dengan intonasi dinginnya. Dan mengulang bertanya lagi dengan menekankan nada bicaranya.


"Aku?"


"Ah, tidak, sayang ma-maksudku--"


"Apa dimatamu aku ini lelaki yang tidak punya kesibukan yang jauh lebih penting untuk dilakukan?" tanya Harvey kembali masih setia dengan intonasinya yang dingin.


"Maaf, aku hanya terlalu khawatir," kini Rachel tidak hanya terus memegangi lengan Harvey.


Namun, dia juga sudah menyenderkan kepalanya ke bahu bidang Harvey.


Sedangkan Harvey masih tetap diam, mengijinkan Rachel bertindak semaunya kepadanya.


Krinciiing


Lonceng pintu cafe tersebut berbunyi, nampak seorang wanita cantik berjalan anggun memasuki cafe yang sama dengan Harvey dan Rachel.


"Tuan Harvey?" sapa wanita cantik itu.


"Siapa?" tanya Rachel ketus matanya tak pernah berhenti menatap tajam ke wanita itu dari atas ke bawah.


"Salah satu wanitaku, mungkin?" suara Harvey mengalihkan perhatian Rachel.


"Tuan Harvey kenapa lama sekali tidak berkunjung lagi ke apartemen ku?" ucap wanita cantik itu.


"Dasar wanita ******!" tangan Rachel hendak menampar pipi mulus wanita di hadapannya itu.


Namun sayang, tangannya di tahan oleh Harvey.


"Sayang apa yang kau--" ucapan Rachel terputus.


Telunjuk Harvey menempel tepat dibibir Rachel menyuruhnya diam. Karena merasa terkejut dan juga kesenangan, Rachel pun seketika diam dan patuh bak seperti peliharaan kepada Tuannya.


"Oh, maafkan aku cantik," ucap Harvey yang kini beralih kepada wanita itu. Lengannya memeluk lembut pinggang ramping si wanita, dan bahkan Harvey mengecup kening si wanita itu.


"Bagaimana aku bisa mengunjungimu lagi, kalau aku saja sudah lupa siapa namamu?" lanjut Harvey yang arti kalimatnya sebenarnya adalah;


"Nama saja aku lupa apalagi alamat apartemenmu."


Sedangkan disisi lain, Rachel yang tadi sempat naik pitam karena melihat sikap Harvey yang memperlakukan sangat lembut kepada wanita lain saat sedang bersamanya.


Kini Rachel tidak kuasa lagi menahan tawanya.


"Hahahaha aduh perutku jadi sakit karena menahan ketawa," ujar Rachel setelah tertawa dengan sangat puas.


"Mungkin besok giliranmu," ucap Harvey dingin tanpa memandang Rachel, dan mengabaikan wanita cantik yang habis dikecup keningnya itu, berlalu meninggalkan keduanya.


"Hahahaha aduh perutku jadi sakit karena menahan ketawa," ujar wanita itu menyindir Rachel dengan tatapan sinis.


Tanpa permisi wanita itu langsung duduk di meja Harvey dan Rachel dan menyicipi kue macarron milik mereka.


Masih dengan tatapan mengolok-olok ke Rachel.


...•••HATE•••...


Lisa


Halaman mansion keluarga William.


"Silahkan Nyonya, barang anda biar saya yang bawakan ke dalam," Lisa setia melayani Theala dengan sangat baik.


"Lisa."


"Apa kau mau jalan-jalan?"


"Saya akan selalu menemani anda, jika anda ingin bepergian maka saya juga."


"Kalau begitu taruh kembali barang-barang itu ke dalam mobil, ayo kita pergi lagi."


"Baik Nyonya."


Lisa langsung melesatkan mobil Audi R8 milik Theala itu kembali keluar dari area mansion.


Entah apa yang sedang di pikirkan Theala, hanya saja ia merasa ingin mencari udara segar untuk menenangkan pikirannya. Seperti banyak hal yang tiba-tiba terjadi begitu saja di dalam kehidupan damainya tanpa adanya peringatan.


Untuk pertama kalinya, Theala mengajak orang lain untuk singgah ke rumah pohon miliknya.


Memang benar, Lisa adalah satu-satunya orang lain yang pernah di ajaknya datang kesana. Karena sebelumnya, keberadaan rumah pohon itu hanya Theala dan kedua orang tuanya saja yang mengetahui lokasi persisnya.


"Waaah, saya tidak pernah mengira Nyonya memiliki warisan yang sangat mengagumkan dari orang tua anda," ucap Lisa yang sedang jatuh cinta dengan pemandangan dihadapannya saat ini.


Sebelumnya, Theala pernah bercerita bahwa dia memiliki satu rumah yang terbuat dari kayu dari peninggalan kedua orang tuanya saat ia masih kecil. Yang terdengar masih wajar bila Theala ingin mengakui atau mengklaim bahwa rumah itu adalah hak dan milik pribadinya.


"Hanya rumah ini yang masih bisa membuatku bersyukur, setidaknya jika suatu saat aku benar-benar tidak punya tempat untuk berteduh aku masih memiliki rumah-rumahan ini," ujar Theala kepada Lisa.


"Apakah rumah pohon ini masih terbilang rumah-rumahan? Nyonya Muda bahkan dapat menyebutnya sebagai rumah sungguhan. Di dalamnya benar-benar seperti kamar di studio apartemen. Tidak! Tidak! Apa seperti kamar hotel tema alam?" ujar Lisa heboh karena merasa takjub.


"Kamu berlebihan Lisa," jawab Theala sesekali tertawa ringan.


Rumah pohon milik Theala tidak besar namun juga tidak kecil, seperti rumah pohon pada umumnya yang hanya terdapat ruang kecil kosong untuk bermain rumah-rumahan.


Rumah pohon ini di desain khusus sebagai kamar yang nyaman untuk berkemah keluarga tanpa tenda di dalam hutan.


Hanya terdapat satu kasur tidur dengan ukuran 140x200, bingkai-bingkai foto yang menghiasi dinding-dinding, tidak lupa dengan lentera batrey yang di tempel pada dinding, dan satu jendela yang menghadap ke danau.


Meskipun tanpa adanya listrik namun rumah pohon ini cukup nyaman untuk di jadikan rumah kemah karena memang dibangun dengan kokoh yang melibatkan arsitektur profesional.


"Lalu, Nyonya Muda apakah menghabiskan bulan madu bersama Tuan Muda Harvey disini?" Lisa yang memberikan pertanyaan tak terduga dengan raut muka ingin tahu.


Namun juga risih, karena ia merasa tidak sopan sudah menduduki kasur dimana adegan-adegan itu pernah terjadi disana.


"Kamu adalah orang pertama yang ku ajak kemari," jawaban Theala sukses membuat Lisa membelalakkan kedua matanya, bola matanya membesar karena kaget dengan jawaban tak terduga dari Theala.


Bagaimana bisa?


Suaminya sendiri belum pernah diajak menikmati keindahan ini, sedangkan aku malah kurangajar karena sudah mendahului Tuan Harvey. Haduh bisa mati aku kalau Tuan Harvey mengetahui fakta ini.


Lisa disibukan dengan monolog-monolog di dalam batinnya, karena tidak punya keberanian untuk menyuarakannya.


Mengingat Harvey adalah pribadi dengan harga diri yang sangat tinggi. Lisa yakin Harvey tidak akan senang kalau dikalahkan.


Benar, Lisa merasa kali ini ia seperti pemenang. Posisi Lisa lebih penting bagi Theala dari pada Harvey yang notabenenya adalah suami Theala sendiri.


"Ayo kita menginap disini semalam. Kamu tidak keberatan kan bermalam tanpa signal dan listrik?" ucap Theala membuyarkan lamunan Lisa.


"Bukan suatu masalah besar bagi saya, Nyonya Theala," jawab Lisa.


"Baguslah. Aku senang mendengarnya," ujar Theala.


"Ah! Menginap?!!" sepertinya Lisa baru fokus sekarang, terlihat dari ekspresinya yang nampak sangat terkejut.


Theala enggan menjawab, dia hanya membalas pertanyaan Lisa dengan menatapnya lembut. Seperti menunggu keputusan Lisa atas permintaannya.


"Tapi Nyonya, kita perlu mendapat ijin dari Tuan Harvey terlebih dahulu. Nyonya juga belum makan malam, sebaiknya kita kembali pulang saja untuk hari ini," ujar Lisa memberi pengertian.


"Ah, permintaanku terlalu berat untuk dikabulkan ya?" kini Theala mengajukan pertanyaannya dengan mendongakan pandangannya ke atas, melihat langit senja yang mulai berganti warna menjadi orange.


Lisa menatap Theala lekat, Lisa menangkap dari raut muka Theala menunjukkan bahwa wanita itu sedang sangat kesepian, nampak kosong di dalam sorot mata Theala.


Tanpa sadar ternyata mereka menghabiskan waktu yang sangat panjang di rumah pohon itu, sampai langit senja memenuhi angkasa pada sore hari itu.


Tanpa sadar juga Lisa ternyata juga melupakan aturan, bahwa ia harus rutin melapor kegiatan mereka kepada Kai sebagai perwakilan Harvey, setiap satu jam sekali.


...•••HATE•••...