HATE

HATE
07



Theala


Semalaman penuh Theala menangis meratapi nasib dan keadaan yang terjadi di dalam hidupnya selama ini. Ia merasa tidak pernah mendapatkan kebahagiaan selama ia hidup di dunia.


Ibu kandungnya sudah meninggal di waktu Theala masih sangat belia, masa kecilnya ia lewati dan tumbuh dewasa tanpa kasih sayang seorang ibu. Jadi ia tidak pernah tahu bagaimana mendapatkan kasih sayang seorang ibu.


Begitu pun dengan sang ayah, sejak ia kecil ayahnya sudah terlalu sibuk dengan urusan perusahaan jadi tidak benar-benar bisa meluangkan waktu untuknya, malah menikah lagi dengan wanita yang hanya memonopoli ayahnya beserta hartanya.


Mata sembab dan raut muka yang lesu tanpa senyuman begitu jelas terlukis di wajah Theala yang terkenal sangat jarang menampakan pemandangan suram di wajahnya itu yang sekarang tergambar dengan jelasnya disana.


Mungkin aku harus ke toilet untuk memperbaiki penampilanku sekarang.


Theala merapikan pakaiannya dan menguncir rambutnya yang selalu tergurai indah di balik punggungnya.


Keluar dari toilet berjalan dengan menundukan kepalanya, tanpa melihat apa yang ada di depannya ia terus berjalan menuju ruangan kantornya.


Di tengah perjalanannya ia tidak sengaja menabrak tubuh seorang lelaki, itulah perawakan yang dilihat Theala.


Ia telah menabrak seseorang entah siapa orang itu ia acuh tidak mau tau dan tetap teguh menundukan kepalanya dan melanjutkan perjalanannya.


Hanya kata, "Maaf."


Yang terucap dari bibir mungilnya tanpa memandang orang yang sedang diajaknya bicara dan berlalu pergi meninggalkan orang itu tanpa permisi.


Seseorang yang ditabraknya mulai geram melihat tingkah laku yang menyebalkan itu. Ia sengaja menjegal kaki Theala dengan kaki kirinya.


Bruuuk


Begitulah suara terdengar di koridor kantor, Theala sukses mendarat dengan keras dan jatuh ke lantai.


Ia merasakan cukup kesakitan di lututnya saat ditengoknya, lututnya benar-benar mengeluarkan darah dan juga telapak tangannya yang lecet-lecet mulai terasa perih.


"Sialan! Kau mengajak bertengkar denganku hah?" ucap Theala penuh amarah.


Ia bangkit pelan dari jatuhnya, mengusap lembut lutut dan telapak tangannya yang terluka.


"Kau cari mati hah?!" teriakan pria itu.


Theala pun mendongakan kepalanya untuk melihat wajah lawan bicaranya itu, sangat dibuat terkejut setelah melihat sosok tersebut.


Jelas siapa lagi manusia arogan yang selalu semena-mena dengan orang lain selain Harvey.


Tetapi Theala yang sudah terbiasa menerima perlakuan buruk Harvey tidak lagi merasa tertekan ataupun takut lagi.


Cih, selama ini sejak kecil aku sudah terbiasa menghadapi manusia dengan kepribadian ganda seperti kalian!


Berkat perilaku sang ibu dan adik tirinya yang berubah-ubah terkadang baik dan juga buruk kepadanya. Perilaku semacam ini sudah tidak ada arti lagi baginya.


Ia tidak menjawab dan malah berbalik pergi meninggalkan boss besarnya itu, nampak cara berjalan Theala kini menjadi tertatih-tatih.


Duduklah ia dibalik meja kerja kantornya, merapikan rambut dan pakaiannya kembali yang sudah acak-acakan karena jatuh terjungkal tadi.


Lalu ia pergi mengambil kotak P3K dan mulai mengobati luka-lukanya sambil sedikit merintih kesakitan.


Walaupun sudah terbiasa merasakan luka-luka yang semacam ini tetap saja Theala adalah wanita dan juga manusia yang dapat merasakan sakit bila ia mendapatkan luka di tubuhnya.


...**...


Harvey


Seperti biasa Theala harus pergi ke kantor Direktur Utama untuk memberitahukan jadwal-jadwal yang harus dilakukan pada hari itu dan juga menyerahkan laporan berkas-berkas yang perlu ditanda tangani Direktur Utama ataupun persiapan untuk rapat dengan klien-klien perusahaan tersebut.


"Baiklah Tuan, sudah selesai saya permisi," ucap Theala santai tanpa emosi.


Begitupun dengan raut muka yang terpampang, Theala tidak menyuguhkan emosi sama sekali. Hanya ekspresi datar yang terlihat diwajahnya saat ini.


"Heh, siapa yang menyuruhmu keluar?"


Sinis Harvey yang melihat hal yang tidak biasa di depannya itupun merasa terganggu dengan perubahan sikap Theala, apalagi yang menurutnya sikap Theala seperti tidak ada hal yang terjadi barusan ataupun kemarin-kemarin.


"Maaf Tuan, pekerjaan di meja kerja saya bertumpukan sedangkan tugas saya disini sudah selesai, saya permisi," jawab Theala santai.


Sialan!


Beraninya dia mengabaikan aku!


Dia yang hanya sebagai mainanku saat aku berada di kantor sedangkan aku yang Tuan Mudanya!


Dasar tidak sadar tempat!


Aku akan membuatmu bertekuk lutut memohon-mohon padaku!


Akan aku pastikan segera kau akan menyadari dimana tempatmu berada!


Begitulah kalimat-kalimat yang ada di benak Harvey yang sedang geram dengan sekretarisnya itu.


...**...


Rachel


Harvey pun tetap mengikuti program perjodohan dari ayahnya. Sekarang ia benar-benar kembali seperti biasanya menjadi Tuan Muda yang selama ini dijabatnya.


Ia kembali bermain-main dengan wanita-wanita miliknya, bahkan dengan wanita-wanita yang baru saja ia temui berkat program perjodohan yang sudah di atur sang ayah untuknya.


Harvey kembali mengencani pasangan perjodohannya malam ini.


Duduklah ia menunggu wanita pilihan ayahnya yang entah sudah urutan keberapa, sambil memainkan ponsel.


Tidak lama kemudian datanglah seorang gadis yang menghampiri meja dimana ia terduduk disana. Gadis itupun memperkenalkan diri kepada pria yang bertatap muka dengannya saat ini.


Benar-benar tampan!


Badannya yang proporsional!


Apalagi ia adalah penerus perusahaan terbesar di negara ini!


Aku harus bisa mendapatkannya, ayah benar-benar keren.


Gadis ini terus melihat Harvey dari atas kepala hingga ujung kaki sambil sibuk bergemuruh kata-kata di dalam hatinya.


"Maaf sudah membuatmu menunggu, perkenalkan aku Rachel Anderson," ucap Rachel memperkenalkan diri.


Harvey yang sedari tadi acuh mendadak terfokus dengan kata Anderson yang diucapkan gadis di depannya ini.


"Siapa nama ayahmu?" tanya Harvey.


Bukannya menjawab pertanyaan malah menimpalinya dengan pertanyaan lagi. Begitulah sifat arogan sang Tuan Muda yang tidak dapat disingkirkan.


"Ah, nama ayahku adalah Tommy Anderson," jawab Rachel.


"Apa kau punya saudara perempuan?" tanya Harvey lagi.


"Aku hanya punya saudara tiri dari pernikahan ayahku yang pertama tapi sudah lama kami sekeluarga tidak tahu anak itu berada dimana," ucap Rachel.


"Aku mengerti," jawab Harvey.


"Sudahlah jangan membahasnya, lagipula sekarang adalah waktu kencan kita berdua untuk saling mengenal, pewaris keluarga Anderson itu juga aku bukan anak sial itu," timpal Rachel bercerita panjang lebar.


"Aku sangat sibuk sekarang, aku harus pergi," ujar Harvey acuh.


"Ah baiklah, lain kali luangkan waktu untuk kencan kita lagi," seru Rachel.


Harvey yang berjalan keluar meninggalkan Rachel tetap acuh tidak perduli saat mendengar teriakan Rachel.


Ia tiba-tiba merasa sangat marah ketika Rachel meperolok-olok sekretarisnya itu.


Entah ada alasan apa yang tersembunyi di dalam benak Harvey sebenarnya, kenapa ia bisa merasakan amarah yang tidak dapat dijelaskannya hanya karena mendengar seseorang memperolok-olok Theala di depannya.


...•••HATE•••...