HATE

HATE
21



Theala


Setelah semalaman kedua orang itu bergulat dengan sangat ganasnya di atas ranjang.


Bulan sudah berganti matahari.


Terik cahaya mentari sudah merata menyinari bumi.


"Sudah siang? Tuan Harvey dimana?" gumam Theala terbangun dari tidurnya matanya mencari sosok suaminya ke seluruh sisi kamar.


"Kau sudah bangun?" tanya Harvey keluar dari ruang ganti.


"Tuan... Saya akan segera mandi. Ouch!" Theala merintih kesakitan saat hendak bangun dari ranjang.


"Kau beristirahatlah di kamar. Tidak perlu berangkat bekerja dulu. Aku akan menyuruh pelayan untuk melayanimu," ujar Harvey akan mengenakan dasi di depan cermin.


"Tuan, bolehkah saya yang memakaikannya. Ouch!" rintihan Theala terdengar lagi.


"Aku akan sangat sibuk hari ini. Tidak perlu menyambutku di depan. Apapun yang kau lihat di berita hari ini anggap saja itu sebatas hiburan untuk mu! Jangan berpikir macam-macam!" ujar Harvey duduk di sebelah Theala yang masih setengah berbaring.


Theala bangkit dari tidurnya mendudukan tubuhnya dan membantu suaminya memasangkan dasi dan memakaikan jasnya.


"Baik Tuan. Hati-hati di perjalanan. Jangan telat untuk makan siang anda," ucap Theala.


Kenapa Tuan Harvey bersikap sangat baik padaku akhir-akhir ini.


Harvey pergi meninggalkan kamar lalu bergegas berangkat ke perusahaan. Sebagai seorang CEO, Harvey memiliki jadwal kerja yang sangat padat dan sibuk. Mungkin memang seperti itulah nasib seorang penerus perusahaan.


Tok Tok Tok


Pintu kamar di ketuk seseorang dari luar.


"Silahkan masuk," ucap Theala.


"Nyonya Muda, saya mengantarkan sarapan untuk anda dan akan membantu anda untuk mandi?" kata seorang pelayan wanita.


"Ah, kamu... Bukankah pelayan yang waktu itu?" tanya Theala.


"Benar Nyonya Muda. Silahkan sarapan anda. Saya akan menunggu anda diluar depan pintu kamar," kata pelayan wanita itu sopan.


"Jangan. Kamu duduklah disini temani saya. Apa kamu sudah sarapan?" ucap Theala.


"Baiklah Nyonya Muda, saya akan berdiri disini. Sudah Nyonya Muda, silahkan menikmati sarapan anda," kata si pelayan.


"Maukah kamu makan dengan saya?" tanya Theala.


"Maaf Nyonya Muda. Saya tidak layak. Sebaiknya saya keluar saja sekarang," kata pelayan.


"Baiklah... Kamu jangan keluar, saya tidak ingin sendirian. Saya akan mulai memakannya," ucap Theala.


Theala selesai menghabiskan makanannya. Lalu ia pergi mandi dengan di bantu oleh pelayan wanita yang sedaritadi sudah berdiri disana menunggu nonanya menyelesaikan sarapannya.


"Nyonya Muda sudah selesai mandi. Kalau begitu saya permisi," kata pelayan.


"Bolehkah saya tahu siapa namamu?" tanya Theala.


"Nama saya Wulan, Nyonya Muda. Anda tidak perlu berbicara formal dengan saya, mau pun pelayan lain di rumah ini. Akan terdengar sangat tidak sopan, bila kami terus menerima sikap tersebut dari Nyonya Muda. Kami juga akan terkena masalah. Maaf bila saya harus mengatakan ini kepada anda," kata pelayan itu.


"Ah, maafkan. Aku tidak bermaksud menyulitkan kalian. Baiklah aku akan berbicara santai mulai sekarang. Terima kasih atas bantuanmu pagi ini," ujar Theala.


"Sama-sama, Nyonya Muda. Sudah menjadi tugas saya. Permisi," ucap Wulan berlalu pergi.


...**...


Konferensi pers diadakan hari ini disalah satu ball room gedung di kota ini.


Tommy Anderson memimpin berjalannya kegiatan tersebut. Dengan didampingi istri dan anak perempuannya. Sarah Anderson juga Rachel Anderson. Mengumumkan tentang pernikahan putrinya dengan pengusaha muda yang sangat disegani di negara ini.


"Terima kasih untuk para awak media yang sudah hadir dan meliput. Dengan mengadakan konferensi pers ini, saya Tommy Anderson selaku ayah akan mengumumkan tentang rencana pernikahan bagi putri saya. Rachel Anderson. Dengan calon menantu saya Tuan Muda Harvey William, yang akan diadakan tidak lama lagi," kata Tommy.


"Apakah sudah mengadakan pertunangan di antara keduanya?" tanya salah satu reporter.


"Dalam waktu cepat ini," Sarah Anderson menimpali.


"Dimana Tuan Muda Harvey? Kenapa tidak ikut melakukan konferensi pers?" tanya reporter lainnya.


"Calon suami ku sangat sibuk akhir-akhir ini. Bahkan ia sudah menyempatkan untuk mempersiapkan konferensi pers ini untuk kami," balas Rachel.


"Lalu kenapa sama sekali tidak ada seorang pun dari pihak William yang bergabung kemari?" tanya reporter yang lain.


Suara yang sangat bergemuruh tidak dapat dihindari. Banyak reporter dan wartawan yang masih penasaran atas pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat terjawab. Apalagi melihat keadaan yang sama sekali tidak nampak terlihat ada pihak dari Harvey muncul dalam konferensi pers ini.


...***...


Di perusahaan. Di dalam ruangan CEO.


"Kau benar-benar bisa di andalkan kali ini," ucap Harvey.


"Heh, aku memang selalu bisa di andalkan!" jawab Hansen.


"Kau masih kurang satu tugas lagi," ucap Harvey.


"Tenanglah! Semua aman di tanganku. Ngomong-ngomong bagaimana dengan Theala jika dia melihat ini?" tanya Hansen.


"Aku sudah memberitahunya agar dia tidak banyak berpikir lebih," jawab Harvey.


"Apa dia diam saja mengetahui keluarganya akan kau hancurkan begitu saja?" tanya Hansen.


"Bodoh! Dia tidak perlu tahu detailnya. Toh ini juga secara tidak langsung telah menguntungkannya," ucap Harvey.


"Terserahlah! Memang kau manusia yang paling kejam. Setidaknya berhentilah menganggapnya sebagai mainanmu. Dia benar-benar wanita yang cantik diatas rata-rata," ujar Hansen.


"Akan ku sobek mulutmu, bila kau berani berbicara tentang fisik istriku lagi!" jawab Harvey kesal.


"Haha baiklah-baiklah. Susun rencanamu lagi lalu beritahukan padaku. Aku pergi," kata Hansen meninggalkan ruangan CEO.


...***...


Sedangkan keadaan di mansion kediaman keluarga William.


Theala menonton televisi yang ada di dalam kamarnya. Benar, berita muncul dan siaran konferensi pers yang diadakan ayahnya itupun juga muncul.


"Ternyata ini yang dimaksud oleh Tuan Harvey tadi pagi?" gumam Theala.


Tok tok tok


Pintu kamar di ketuk dari luar. Seorang pelayan masuk ke dalam kamar.


"Nyoya Muda, apakah anda sudah bisa jalan?" tanya Wulan.


"Ada apa, Wulan?" tanya Theala.


"Nyonya Muda, anda disuruh Ketua turun untuk makan siang," jawab Wulan.


"Baiklah. Sebentar lagi aku akan segera turun," jawab Theala.


"Saya akan membantu anda berjalan, Nyonya Muda," kata Wulan.


"Tidak perlu Wulan. Akan sangat terlihat aneh oleh Ketua, bila aku jalan dengan kau membantu memapahku," ujar Theala.


"Baiklah, bila anda menolak. Saya permisi," ucap Wulan membungkukan badannya.


"Terima kasih, Wulan," ujar Theala bergegas menuruni tanggan dan menuju ke ruang makan keluarga.


Louis sudah terduduk disana, menunggu menantunya turun untuk bergabung dengannya.


"Duduklah. Apa kau menonton berita itu?" tanya Louis sesampainya Theala di meja makan.


"Terima kasih banyak. Iya Ketua, benar saya tadi menontonnya," jawab Theala.


"Apa yang ada di pikiranmu?" tanya Louis.


"Saya juga tidak tahu apa maksudnya, Ketua. Tapi Tuan Muda Harvey tadi pagi menyuruh saya untuk menganggapnya hanya sebatas hiburan bagi saya," jawab Theala sopan.


"Hahaha dasar anak ku! Kenapa dia sama sekali tidak bisa bersikap serius barang sekali? Selalu bercanda saja. Benarkan?" tanya Louis.


"Ah.. Iya Ketua," jawab Theala di paksakan untuk mengatakan iya.


Tidak pernah bersikap serius darimananya?


Bahkan selalu mengancamku dengan tampang tanpa pengampunan.


Apanya yang suka bercandaan?


Theala sibuk menampik pernyataan dari Louis untuk Harvey di dalam pikirannya. Jelas sama sekali tidak berani untuk benar-benar terucap dari mulutnya barang sepatah kata pun.


...•••HATE•••...