
Satu minggu kemudian.
Beberapa rentetan prosedur pemeriksaan sudah dijalani Theala dengan sangat patuh. Karena ia sangat ingin segera kembali di kehidupannya.
Namun, tanda-tanda dia sudah diperbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit tak kunjung terlihat juga.
Theala membuka matanya, ia terbangun dari tidurnya. Ya, karena hanya dengan tidur ia akan melupakan rasa bosan yang sudah menghantuinya selama berada di rumah sakit.
"Jas itu? Apa Tuan Harvey berada disini?" gumamnya.
Bola mata Theala mengedar ke seluruh sudut ruang, mencari sosok Harvey, "Ah, apa dia sedang di toilet?"
Fokusnya kini beralih ke sekeliling tubuhnya, hingga ke laci-laci meja nakas disebelah ranjang pasien.
"Aduh, ponselku dimana sih? Perasaan aku selalu menaruhnya di dekat ku. Kenapa tidak ada," gumamnya karena kehilangan barang yang sudah seperti nyawanya selama berada di rumah sakit.
"Sedang apa kau?" tanya Harvey yang keluar dari balik pintu toilet kamar itu.
Melihat Theala sibuk kesana-kemari seperti cacing kepanasan. Harvey semakin penasaran, sebenarnya ada apa.
Kini Harvey sudah berada tepat di samping Theala yang masih belum sadar keberadaannya, masih sibuk dengan kasus ponselnya yang mendadak hilang.
"Ada apa, Thea?" tanya Harvey.
"Astaga! Ah.. Eh..." ucap Theala yang terkejut saat dia menengok ke samping karena tiba-tiba Harvey sudah berada disampingnya.
Berkat kagetnya ia hampir terjatuh ke belakang. Untungnya sebelum itu terjadi, Harvey berhasil menangkap tubuh Theala dan menopangnya dengan salah satu lengannya.
Cukup terasa lama, mungkin sekitar dua sampai tiga menit, Theala bertahan dengan posisi itu, fokusnya hilang di serap tatapan wajah keduanya yang terpaut sangat dekat.
"Sampai kapan kau terus begini? Kau itu sangat berat!" ujar Harvey memecah lamunan Theala.
"M-maaf Tuan..."
Theala salah tingkah, merapikan pakaiannya yang sebenarnya langsung jatuh sempurna tanpa dirapikan, karena yang di kenakannya adalah baju pasien.
"Kenapa anda berada disini? Ini kan sudah larut malam," tanya Theala yang penasaran.
Tumben sekali Harvey malam-malam mengunjunginya di rumah sakit. Ini pertama kalinya.
"Kenapa? Kau tidak suka?"
"Bukan! Saya hanya penasaran...."
"Kalau tidak suka, baiklah, aku akan pergi," ucap Harvey yang hendak melangkahkan kakinya.
"Tidak! Jangan~~" ucap Theala, jarinya memegangi kaos bagian belakang Harvey, menahan Harvey untuk tetap tinggal.
"Apa?" tanya Harvey, menengok ke arah Theala.
"S-saya bosan sendirian, t-tolong temani saya menginap malam ini," ucap Theala ragu.
"Oho~ Sekarang kau sudah bernyali ya? Gadis nakal, mengajak lelaki tampan untuk menemanimu tidur," senyum nakal terlihat jelas di wajah Harvey saat mengatakan kalimat itu.
"Hah?" Theala cengo, tidak paham dengan perkataan Harvey barusan.
Dikala Theala masih cengo, membutuhkan waktu untuk mencerna kalimat Harvey. Berbeda dengan Harvey yang sekarang sudah bersiap untuk tidur, ia merebahkan tubuhnya di ranjang pasien.
"Gadis nakal, kemarilah, apa kau tidak ingin tidur lagi?"
"Saya akan tidur di sofa Tuan--"
Telat melangkahkan kakinya, Harvey lebih unggul kecepatan untuk menghampiri Theala yang masih berdiri dan langsung membopongnya dan menidurkannya di ranjang pasien.
Disusul dengan tubuh Harvey yang turut ikut tidur di ranjang pasien, langsung mendekap erat tubuh Theala ke dalam pelukannya.
"Ah~~ Nyaman sekali. Aku kangen aroma tubuh ini," ucap Harvey yang menenggelamkan wajahnya ke dalam tengkuk leher Theala, "Thea, apa kau masih sakit?" sambungnya.
"T-tidak Tuan, sudah saya bilang dari awal bahwa saya sebenarnya baik-baik saja dan tidak perlu dirawat inap di rumah sakit," jawab Theala polos.
"Benarkah? Bagus!"
"Akkhh!" seru Theala kaget, tengkuk leher Theala di gigit Harvey. Apa lagi kalau bukan sengaja membuat tanda kepemilikan disana.
"T-tuan... Kita sedang berada di rumah sakit. J-jadi--" kalimat Theala terpotong, Harvey membalikan badan Theala terlentang dan ia menaiki tubuh Theala. Membungkam mulut Theala dengan permainan bibirnya yang menderu dalam.
Tidak dapat bergeming, tubuh Theala merespon permainan yang dipimpin Harvey dan kini ia ikut andil ke dalam permainan tersebut. Melupakan fakta bahwa mereka sekarang sedang berada di kamar pasien rumah sakit.
...***...
Dio
Keesokan harinya.
Tubuh Theala masih setia berada dalam dekapan lengan besar, dalam pelukan hangat seorang Harvey William.
Benar-benar pemandangan yang menyejukkan mata di pagi hari yang cerah dimana langitnya sudah menyuguhkan warna biru langit sempurna.
"Jangan terluka lagi, aku mohon, jaga dirimu dengan baik," ucap Harvey yang bangun terlebih dulu, mengecup kening Theala lembut.
Di ruang kerja CEO rumah sakit Regina.
Terdapat papan nama diatas meja tersebut, bertuliskan Direktur Utama dr. Dio Tjandra.
"Jadi bagaimana keadaan istriku?" tanya Harvey setelah masuk dan langsung duduk tanpa dipersilahkan.
"Seperti yang terlihat, dia baik-baik saja," jawab Dio.
"Bukan soal dia terjatuh, tapi..." Harvey menggantung kalimatnya.
"Soal itu juga baik-baik saja."
"Tapi bagaimana bisa dia keguguran saat itu?!" tanya Harvey penasaran.
"Kandungan yang masih muda memang rentan dan lemah, sangat beresiko keguguran jika ibu mengalami stress atau pun terjatuh."
"Kenapa Theala hobi sekali menjatuhkan diri sih?" gumam Harvey.
"Aku pikir itu mustahil bahwa dia akan tetap ceroboh saat tahu dirinya sedang hamil."
"Jadi?" tanya Harvey.
"Mungkin kau harus mengecek cctv di perusahaanmu. Sepertinya, kejadian lalu dan kemarin terjadi disana," usul Dio yang mengingat situasi dan penampilan Theala saat ia selalu dibawa ke rumah sakit dengan mengenakan pakaian kerja kantor.
"Apa kau bilang?!"
"Ayolah Harvey... Kamu tidak bodoh, aku heran apa yang membuatmu menjadi terlihat bodoh seperti akhir-akhir ini. Dan lagi tolong, aku ini dokter yang sangat sibuk. Tidak bisakah kau bermain di rumah sakit lain?"
Sepertinya Dio mulai kesal dengan ulah temannya ini.
"Cih, kau ingin aku menarik semua uangku dari rumah sakitmu sekarang juga?" ancam Harvey.
"Eh? Hehehe aku hanya bercanda, kenapa kau tiba-tiba jadi serius sih," alibi Dio.
Kira-kira alasan tersebutlah yang membuat seorang Dio Tjandra patuh dan diam dengan ulah yang dibuat Harvey William di dalam rumah sakitnya ini, bahkan Dio rela ikut terjun ke dalam drama yang dibuat Harvey.
Seorang dokter terbaik, bahkan juga menjabat sebagai Direktur Utama rumah sakit.
Tidak mungkin mempunyai waktu luang yang cukup untuk ia bermain dokter-dokteran, apalagi merawat secara intensif dibawah pengawasannya langsung untuk seorang pasien hanya karena luka yang sepele.
Kalau bukan karena Dio Tjandra takut semua sokongan dana yang secara keseluruhan 30% saham, nilai investasi adalah dari kemurahan hati seorang Harvey William.
Bayangkan, jika Harvey langsung menarik sahamnya yang bernilai 30%.
Dapat dipastikan rumah sakit milik keluarganya akan goyah kehilangan pondasi terkuatnya, belum lagi kalau pemegang saham lainnya turut ikut menarik investasinya.
Nasib buruk akan langsung menimpanya.
Sekarang aku bingung, memiliki teman seorang milliader muda itu adalah sebuah keberuntungan atau malah kesialan?
Karena sepertinya aku tidak dapat mendapat hanya salah satu sisi kebaikannya saja jika orang tersebut adalah Harvey William.
Mungkin ini seharusnya disebut kesialan.
...•••HATE••••...