HATE

HATE
39



Tidak lama setelah Harvey menutup telepon itu, Theala pun keluar dari dalam kamar mandi.


"Suamiku, kenapa kau kaget melihat ku?" tanya Theala yang terheran akan sikap Harvey.


"Kaget apanya?! Tidak, tuh!" jawab Harvey melengos dan masuk ke kamar mandi.


"Tidak apanya?! Jelas-jelas tampangnya seperti melihat setan, huh!" gumam Theala kesal.


"Suamiku,tidak perlu bantuan saya untuk membantumu mandi?" ujar Theala sedikit menyerukan suaranya agar dapat terdengar oleh Harvey.


"Tidak perlu! Aku bukan anak kecil!" jawab Harvey ketus.


"Cih, kenapa baru sadar sekarang?! Awas saja kalau besok kumat lagi!" gumam Theala mengingat bagaimana sikap Harvey selama ini yang bagaikan bocah punya gangguan mental.


Drrrt Drrrt


Theala meraih ponsel yang bergetar diatas meja nakas samping ranjang tidurnya. Layar itu menunjukkan tulisan,


...📞Hansen Keparat is calling...


Ia pun langsung mendekat ke pintu kamar mandi dan mengetuk pintunya.


"APA LAGI SIH, THEA?!!" seru Harvey.


"Tuan Hansen menelepon berulang-kali sepertinya penting," seru Theala.


"Tinggal angkat saja!" seru Harvey.


Angkat?


Apa aku boleh melakukan itu?


Bukankah mengangkat ponsel seseorang adalah pelanggaran hak privasi?


Terlebih ini ponsel Tuan Harvey.


Theala disibukan dengan monolog di dalam batinnya, takut kalau ia akan mendapat masalah dia pun mengurungkan niat untuk mengangkatnya. Lalu meletakan ponsel itu kembali pada tempatnya seperti semula.


Tak berselang waktu lama, ponsel itu lagi-lagi berdering. Namun, Harvey juga tak kunjung keluar dari dalam kamar mandi. Entah apa yang sedang di lakukannya, kenapa untuk mandi memerlukan waktu yang sangat lama sekali. Apalagi dia hanya sendirian tidak bersama dengan Theala.


Theala yang gemas pun akhirnya mengangkat telepon tersebut.


"Heh, bocah tengik sialan!! Kemana saja kau?!! Kenapa kau seenaknya meninggalkan kakak gantengmu ini yang sedang pingsan di bar sendirian?!! Paling tidak bukankah seharusnya kau memesankan, dan mengantarku ke kamar baru kau meninggalkanku?! Heh, Harvey brengsek kau dengar aku sedang berbicara tidak?!"


Hansen menerocos panjang lebar setelah teleponnya yang entah ke berapa-kali akhirnya diangkat tanpa memberi kesempatan si penerima untuk membuka suara.


Sedangkan Theala yang syok mendengar gaya obrolan kedua anak konglomerat sekelas Harvey dan Hansen yang ternyata lebih kotor dari kalangan orang biasa pun mematung dan membisu, melupakan bahwa dirinya barusan telah mengangkat telepon dari ponsel Harvey.


"Heh, bodoh!! Apa kau masih hidup?!!" seru Hansen karena belum mendapat jawaban dari teleponnya.


"Ah! Maaf Tuan Hansen, ini saya Theala. Tuan Harvey sedang mandi, jadi saya mewakilinya untuk mengangkat telepon," jawab Theala sedikit ragu.


"Oh, Theala?! Sampaikan ke suamimu aku akan membunuhnya besok. Jangan lupa sampaikan padanya ya, cantik," jawab Hansen dengan suara yang berubah drastis menjadi lemah lembut.


"Ba-baik Tuan Hansen, selamat malam," jawab Theala cengo.


...📞Call is ended...


"Lah? Langsung dimatiin? Duo Tuan Muda H yang aneh," gumam Theala saat telepon tiba-tiba di tutup sepihak.


Tepat 1 jam 10 menit akhirnya Harvey keluar dari dalam kamar mandi. Menghampiri Theala yang masih berdiri disamping ranjang.


"Dia bilang apa?" tanya Harvey sembari meraih tubuh Theala dari belakang dengan lembut.


"Di-dia akan membunuhmu besok," jawab Theala.


"Hahaha," suara tawa Harvey memenuhi seisi kamar besar itu.


"Ayo tidur, sini ku peluk! Besok aku dibunuh, kau akan merindukan pelukan suami tampanmu ini," sambung Harvey memimpin Theala untuk tidur di dalam pelukannya.


Tubuh yang hanya berbalut handuk yang menutupi tubuh bagian bawah dengan mudah terlepas begitu saja, hanya hangat tubuh Theala dan selimut yang menutupi dan menyelamatkannya dari dinginnya malam itu.


...•••HATE•••...


Hanya ada para koki yang sudah sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk sarapan dan juga terlihat para pelayan berbagi tugas melakukan pekerjaan bersih-bersih di setiap sudut mansion.


Sepertinya memang penghuni rumah ini tidak terbiasa bangun di dini hari dan hanya para pekerja rumah saja yang diwajibkan untuk menyelesaikan tugasnya, sebelum para Tuan rumah bangun dari tidurnya.


"Selamat pagi Nyonya Theala."


"Ah! Oh.. Tuan Kai, selamat pagi."


Theala nampak kaget oleh sosok Kai Deverra yang dengan tiba-tiba sudah berada dibelakangnya dan menyapanya. Ia tidak menyangka bahwa Kai sudah terbangun dan keluar dari kamarnya di pagi buta.


Ah! Namun, bila di ingat lagi memang sepertinya hanya Kai Deverra yang nampak normal. Wajah tampan berwibawa, dengan segala hiruk-pikuk pekerjaannya dan juga gaya hidup yang tak nampak mencolok seperti Harvey dan Hansen.


"Ada yang anda perlukan di dapur? Biar saya bantu," ucap Theala menawarkan diri.


Kai Deverra sedikit terkejut dengan ucapan Theala barusan, ia sedikit terkekeh saat mendengarnya.


Bagaimana mungkin, seorang istri Harvey William menawarkan diri untuk melayaninya, meskipun Harvey tidak benar-benar mencintainya, namun hal itu dapat di pastikan akan melukai harga dirinya yang sangat tinggi.


"Memang apa yang bisa kau lakukan di dapur? Tidak kah kau lihat, sudah ada banyak koki profesional disana?"


Seseorang menginterupsi obrolan diantara Kai dan Theala. Khas dengan suara pria dewasa yang baru bangun tidur, namun dengan nada yang sedikit tidak mengenakan.


"Selamat pagi Tuan Harvey," sapa Kai Deverra sedikit membungkukan badannya sopan.


"Tuan kenapa sudah keluar kamar?"


"Kau melarikan diri dari pelukanku, darimana datangnya keberanianmu untuk menanyakan hal itu?"


Kai Deverra yang seperti disuguhi drama pasangan suami istri tidak jelas (pasutrigaje) ini pun kembali terkekeh. Bulu kuduknya mendadak merinding, benar saja ada dua pasang mata yang langsung menatap tajam ke arahnya.


Kai pun mematung.


Theala dengan pipi merah mudanya menunjukan ia sedang malu. Sedangkan Harvey malah memasang tampang cuek biasa.


"Saya perlu pamit untuk membriefing para koki," pamit Kai.


Kini hanya tinggal Harvey yang sudah mengenakan kaos putih polos dan celana trainee hitam, dan Theala yang masih sibuk menundukan kepalanya menutupi wajah merahnya.


Keduanya hanya adu diam.


Para Tuan rumah satu-persatu muncul dan ikut bergabung duduk di meja makan. Tentu Harvey dan Theala orang pertama yang sudah berada disana.


Lalu disusul Kai yang sepertinya sudah selesai dengan urusannya, dan juga Louis William yang baru saja tiba. Entah kemana Hansen, karena belum pulang.


Mereka sangat menikmati menu sarapan mereka, sepertinya para koki yang di pekerjakan di mansion ini memang benar-benar koki profesional pilihan. Semua makanan yang disajikan selevel dengan sajian restoran berbintang.


Bagi Theala yang sudah cukup lama menjadi bagian keluarga tersebut, juga masih belum dapat menyesuaikan diri. Karena ia masih sering kali takjub dengan segala fasilitas yang ada di dalam mansion.


"Hello everyone~~ Orang ganteng pulang nih," ucap Hansen yang tiba-tiba menyerobot makanan Harvey dan duduk di kursi sebelahnya.


"Ini masih pagi, jangan merusak mood bisa kan?" ujar Harvey dengan tatapan dinginnya.


"Adik sepupu sialan! Tega ya, tinggalin kakak ganteng terkapar di meja bar sendirian?!" ucap Hansen bangkit dari kursinya dan sekarang sudah mencekik leher Harvey dengan lengannya sembari mengacak-acak rambut Harvey kasar.


Anehnya Kai dan Ketua Louis sama sekali tidak menggubris kelakuan kekanak-kanakan kedua lelaki itu. Mereka hanya melanjutkan sarapan mereka dengan tenang.


Sepertinya hal-hal seperti ini sudah biasa terjadi bagi keluarga ini. Hanya Theala yang menghentikan makannya dan fokus mengamati polah-tingkah kedua Tuan Mudanya itu.


"Ah, lepaskan bodoh! Aku bisa mati tercekik!" ucap Harvey.


"Memang itu tujuanku, sial!" jawab Hansen.


"Hei! Hei! Hei! Rogoh kantong celanaku!" ucap Harvey.


Hansen langsung menghentikan aktifitasnya. Ia langsung merogoh satu persatu kantong celana Harvey, sembari lengannya masih setia mencekik leher adik sepupunya itu.


"Waooow!!! Oke, aku maafkan kau kali ini," ucap Hansen yang sudah kembali duduk tenang di kursinya.


Bibirnya terus-terusan menunjukan senyum sumringah. Tangan kirinya sibuk memainkan sebuah kunci mobil, yang entah mobil apa itu. Sedangkan tangan kanannya dipakainya untuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


...•••HATE•••...