HATE

HATE
53



Lay yang menyusul ke penjara bawah tanah, segera berlari menghampiri Harvey berada. Ketika mendengar suara jeritan dan erangan yang sangat menukik telinga.


Sesampainya Lay disana, ia pun langsung menganga dengan apa yang baru saja terjadi. Kemudian, ia menatap Lucas seakan meminta penjelasan.


Namun, Lucas malah menggelengkan kepala menandakan bahwa dia sendiri juga tidak tahu apa yang dipikirkan Tuan Mudanya saat ini.


"Oh! Lay! Lucas! Dengarkan aku dengan baik!" ujar Harvey yang menyadari Lay sudah berada disamplingnya.


"Iya, Tuan," sahut Lay dan Lucas secara serentak.


"Menghadapi tikus macam ini, gunakan cara yang praktis saja," ujar Harvey.


Dia terus memamerkan senyum iblisnya, masih dengan memainkan senjata api itu untuk menunjuk para tawanan dihadapan mereka.


"Maksud, Tuan?" tanya Lay yang masih bingung, karena ia baru saja bergabung.


Sementara Lucas, sepertinya ia sudah paham sekarang.


Melihat Tuan Mudanya yang sudah cukup memberinya tontonan dari permainan kecil dengan senjata api yang sangat lincah ia mainkan.


Hanya satu jawaban yang ia dapat temukan yaitu, "Siksa target terus-menerus hingga tetes terakhir nyawa mereka. Lalu bunuh saat itu juga."


"Pelajari ini! Ambil senjatamu, arahkan tepat di target, bidik dan pastikan peluru akan bersarang tepat di setiap bagian tubuhnya, kalian harus melakukannya secara beruntun seperti ini......"


Doorrr Doorrr Doorrr Doorrr Doorrr


Harvey menghujani tembakan kepada targetnya seperti ia sedang bermain 'tembak sasaran' di arcade carnaval.


Dan lagi-lagi memamerkan senyum iblisnya sambil berkata, "Dan permainan berakhir tepat saat peluru bersarang tepat di......"


Doorrr


Peluru terakhir bersarang di kepala tawanan itu. Salah satu tawanan mati lagi, tinggal ada 2 tawanan tersisa di dalam sel lembab itu.


"Nah! Lain kali..... Pastikan kalian harus melakukannya seperti itu!" ujar Harvey penuh kebanggaan.


Lay langsung tercengang, melihat kegilaan Tuan Mudanya itu.


Sementara Lucas hanya bisa memejamkan mata, ia sudah puas melihat adegan mengerikan itu sebelum Lay datang.


Sedangkan Lay malah sangat terhibur dengan apa yang telah di lakukan Harvey itu.


Niat hati menyusul mereka untuk berpamitan, karena ia harus segera lepas landas. Malah mendapat hadiah perpisahan, setidaknya begitu di dalam benak seorang Lay Deverra.


"Aku tidak menyangka, bahwa organisasi kalian mengincar Theala menjadi target kalian. Salah besar kalau kalian menganggap wanita itu adalah kelemahan ku!"


Harvey memamerkan senyum miringnya, lalu ia berbalik dan berjalan pergi hendak meninggalkan ruang penjara bawah tanah itu.


"Tuan Harvey, bagaimana dengan sisanya?" tanya Lay menghentikan langkah kaki Harvey.


"Urus mayat-mayat itu seperti biasanya," jawab Harvey tanpa menoleh kebelakang, hanya tangannya yang ia kibas-kibaskan pelan.


Mengisyaratkan untuk memasukan mayat-mayat itu ke dalam kandang Milo dan Cheetoz -anjing buas ras Pit Bull Terrier peliharaan Harvey.


"Maksud saya, mereka?" jelas Lay menunjuk sisa tawanan yang masih hidup dengan senjata api yang di berikan Harvey padanya barusan.


"Lalu kenapa kau masih bertanya? Ada niat untuk membiarkan mereka tetap hidup?" Harvey menjawab dengan melontarkan pertanyaan baru.


"Tapi, Tuan Muda. Bukankah kita perlu menggali informasi dari mereka lebih dahulu?" kali ini Lucas yang bertanya.


Dan Lay yang masih berdiri tepat di depan ruang sel itu hanya menyimak menunggu ijin.


"Sampai mati pun, bahkan arwah mereka pun tidak akan berniat mengatakan siapa Don organisasi mereka yang sekarang. Jadi untuk apa lagi guna mereka hidup? Kasihan Cheetoz dan Milo yang sudah menunggu menu makan malam mereka."


Lay Deverra tersenyum hangat, bukan senyuman iblis.


Melainkan ini terlihat bak seperti malaikat yang sedang tersenyum di depan para calon penghuni surga.


Karena senyuman Lay saat ini benar-benar hangat dan menawan, sosok auranya yang elegan seperti malaikat ia pamerkan saat ini.


Doorrr Doorrr Doorrr Doorrr Doorrr


Rentetan peluru panas keluar mulus dari senjata api di genggamannya. Ia memainkannya sama persis seperti yang ditunjukan oleh Harvey sebelumnya.


"Dasar psikopat ckck."


**


"Saya pamit untuk berangkat, Tuan Harvey," pamit Lay Deverra setelah menuntaskan hiburan kecilnya.


"Hmm... Hati-hati! Kemungkinan akan ada sabotase. Ingat kecelakaan yang menewaskan orang tua kalian," jawab Harvey tiba-tiba teringat kejadian kelam itu.


"Saya sudah menyiapkan pesawat baru, yang baru saja tiba Tuan. Saya tidak akan membahayakan nyawa Ketua," sahut Lay merinci kewajibannya.


Cara kerjanya sama dengan Kai, tanpa di suruh pun dia tahu apa yang harus di lakukan. Harvey hanya membalas dengan anggukan kepala.


Helikopter pun dengan segera meninggalkan mansion Italy bersama Louis dan Lay yang berada di dalamnya.


"Lucas, aku tidur sebentar. Siapkan persiapan kita, malam ini kita bermain sebentar ke wilayah perbatasan musuh," perintah Harvey yang sudah berencana dari awal niatnya kesini untuk menyapa musuh.


"Mengerti, Tuan."


Lucas memberi hormat dengan menundukkan kepalanya dan bergegas menjalankan perintah.


**


Malam hari.


Harvey menyamarkan dirinya menggunakan bucket hat dan juga masker hitam dengan outfit bak seorang kaum muda biasa yang sedang berjalan-jalan.


Berkat menghilangnya dia selama 10 tahun, pertumbuhan menguntungkannya karena fisiknya saat ini tidak akan mudah di kenali oleh musuh.


Disisi lain, ada Lucas yang menyamarkan dirinya menjadi kakek-kakek tua lengkap dengan riasan wajah, wig, pakaian musuh dan juga mengenakan bucket hat, sudah seperti pengemis.


Doorrr Doorrr Doorrr Doorrr


Suara tembakan yang saling bersaut-sautan dari sisi Harvey dan juga sisi Lucas.


Seakan-akan mereka datang dengan banyak anggota bersamanya untuk menyerang klan musuh.


Sat Set Sat Set


Suara gaduh dari gerakan melumpuhkan musuh yang berada di dekatnya dengan tangan kosong, menyerang dari belakang dengan sangat cepat membunuh dengan langsung mematahkan leher musuh.


Disisi lain, di kubu musuh.


Mereka sedang sibuk mengirim informasi terkini kepada anggotanya menggunakan HT.


"Sial! Sepertinya ada yang menyerang kita!" ujar salah satu musuh.


Ceklek Klek


Musuh itu tewas seketika. Lehernya patah.


"Di lihat dari teknik menyerangnya sepertinya anggota mereka hanya sedikit," ujar musuh yang lainnya.


Ceklek Klek


Musuh itu tewas seketika. Lehernya patah.


"Sepertinya mereka anggota bayangan yang di kirim khusus?"


Ceklek Klek


Musuh itu tewas seketika. Lehernya patah.


Pada akhir permainan itu, dimenangkan oleh couple player World Rider. Tentu saja, Harvey dan Lucas. Mereka hanya berdua menyerang di perbatasan musuh.


Ada beberapa anggota World Rider yang berjaga dari kejauhan dengan senapan laras panjang yang sudah siap membidik musuh, namun itu semua tidak diperlukan jika situasi Harvey dan Lucas aman dan terkendali.


Mereka berdua berhasil mengecoh dan melumpuhkan musuh tak bersisa, menyerang seperti seorang bayangan. Yang menyerang dengan sunyi tanpa ketahuan jati diri mereka.


Lucas sengaja hanya mengkoordinasi para anggota bawahannya untuk berjaga dan bersiap, mereka diberi ijin ikut menyerang ketika keadaan menjadi sulit untuk hanya ditangani oleh dia dan Harvey.


...•••HATE•••...