HATE

HATE
12



Harvey


Louis William berkunjung ke perusahaan miliknya yang sekarang dipegang oleh anaknya.


Harvey yang sedang memimpin rapat di ruang rapat ditemani bersama sekretarisnya, Theala. Tidak mengetahui bahwa ayahnya sudah berada di dalam ruangan kantornya menunggunya kembali dari rapat.


Saat Harvey membuka pintu ruangannya sekembalinya ia dari rapat, di buat kaget bukan main dengan kedatangan tamu yang tidak pernah ia inginkan untuk datang mengunjunginya saat sedang sibuk bekerja di perusahaan.


"Ketua, apa yang anda lakukan di kantor saya?" tanya Harvey.


"Ketua apanya?! Panggil ayah bocah sial!" sahut Louis.


"Ayah apanya? Orang tua kurus!" jawab Harvey.


"Hei aku menjadi kurus karena sering memikirkanmu yang nakal. Cobalah kau menurut, pasti ayahmu akan sangat bahagia," ujar Louis.


Sempat termenung beberapa saat, sedangkan Harvey hanya diam malas menanggapi.


"Jangan lupa ayahmu memang Ketua World Rider. Dulu badanku kekar kau juga ingat itu kan? Cepatlah bertunangan dengan Rachel! Ayah segera ingin cucu penerus," sambung Louis.


Harvey tidak menggubris ayahnya. Ia kembali duduk dibalik meja kerjanya sambil sibuk mengerjakan beberapa pekerjaannya disana. Dengan mendengarkan celotehan yang dianggapnya sebagai dongeng peneman kerja.


Louis datang untuk mengejar-ngejar Harvey agar secepatnya menikah. Karena adanya Rachel sekarang Louis makin gencar untuk memaksa anak semata wayangnya itu untuk segera melangsungkan keinginannya tersebut.


Tapi bagi Harvey Rachel bukan apa-apa untuknya. Bahkan untuk dijadikan mainan saja Rachel tidak layak baginya. Program perjodohan itu benar-benar telah semakin mempersulitnya.


Siapa yang akan memiliki anak?


Bahkan sebelum anak itu tumbuh besar pasti sudah akan menjadi perebutan dan diincar sebagai sandera untuk mengancamku.


Kapan aku akan bisa menikmati hidup yang normal tanpa permainan kejam dunia ini.


...**...


Theala


Lift terbuka.


Gadis dengan heelsnya itu keluar dari lift tersebut. Berjalan dengan anggun menuju ruangan CEO.


Tepat di depan ruangan Theala, sebagai sekretaris pribadi CEO. Ia bertabrakan tubuh dengan gadis itu saat membuka pintu ruangannya untuk keluar.


Bruaakk


Suara dua tubuh yang saling bertubrukan dan membuatnya masing-masing terjatuh ke lantai.


Betapa kagetnya mereka berdua saat saling bertatapan muka dan saling berpandang.


Apa?


Kenapa?


Setelah sekian lama aku menghindar dan mencoba menghilang dari hadapan mereka.


Kenapa malah bertemu seperti ini apalagi disini?


Di perusahaan dimana tempatku bekerja untuk mencari uang?


Theala banyak berbicara di dalam hati ketika melihat adik tirinya tiba-tiba muncul di hadapannya.


Rachel tersenyum sinis melihat kakaknya yang masih terduduk di lantai tak kunjung berdiri. Memberikan tatapan mengejek seperti sedang mengolok-olok di dalam hati yang di sampaikannya lewat senyuman sinis itu.


"Ternyata masih hidup? Betapa kecewanya aku~" ucap Rachel dengan tatapan merendahkan.


Karena perut Theala yang sudah membuncit ia menjadi kesusahan untuk mengontrol keseimbangan tubuhnya saat akan kembali berdiri.


Apalagi dengan rok span dan juga heels yang saat ini sedang ia kenakan. Karena itu adalah busana kerjanya sebagai sekretaris yang harus mengutamakan penampilan yang menarik.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Theala.


"Sepertinya kau bekerja disini ya? Haha tapi itu tidak akan lama lagi," ujar Rachel.


"Apa maksudmu?" tanya Theala.


"Aku adalah calon istri CEO perusahaan ini. Cepat atau lambat aku akan membuatmu keluar dari perusahaan milikku," perjelas Rachel menyombongkan diri.


"Hahaha begitukah? Ternyata hidupmu yang tidak ada kontribusinya itu, membutuhkan sangat banyak biaya ya?" ejek Theala.


"Heh, karena aku itu sangat mahal!" pekik Rachel.


Menurut Theala Rachel benar-benar seperti rubah sama persis dengan ibunya. Bagi mereka perasaan cinta itu tidaklah penting. Yang terpenting adalah harta dan kekuasaan.


Sudah sukses merebut dan merampas kekayaan milik keluarga Anderson masih juga berniat ingin mengincar perusahaan keluarga William yang sudah jelas lebih besar dibandingkan milik keluarga Anderson.


"Tidak akan ku biarkan kau merusak citra nama ayah! Gara-gara kau mengejar pria demi hartanya!" gumam Theala.


Rachel pun langsung pergi meninggalkan Theala dan tidak menghiraukannya. Berjalan memasuki ruangan CEO untuk menemui pria incarannya, Harvey.


...**...


Seperti biasanya Rachel merayu dan menggoda Harvey dengan sikapnya yang dibuat-buat manja sebagai serangan ampuh menjadikannya sebagai umpan pengait agar mangsanya terpancing dan mau meladeninya.


Dan juga sama halnya dengan Harvey sang penjelajah dunia dengan berbagai makhluk wanitanya.


Sangat sudah sering menjumpai sikap-sikap rubah seperti yang sedang di perankan Rachel saat ini dengan begitu menyolok dan apik.


Harvey hanya cuek tidak menghiraukan kehadiran Rachel dengan celotehannya. Tetap acuh sembari ia sibuk bekerja dengan laptopnya.


Berharap Rachel bosan mengganggunya dan berlalu pergi tanpa diusir.


Namun semua itu sirna, Rachel tetap enggan mewujudkan keinginan Harvey yang sedari tadi sudah bersikap dingin dan acuh kepadanya.


Benar-benar sangat gigih dan pantang menyerah meski tidak juga mendapatkan perhatian sang Tuan Muda Harvey.


"Sebentar lagi kita bertunangan. Aku ingin berbelanja perhiasan baru untuk acara kita nanti," ajak Rachel.


"Kau mengemis untuk dibelikan perhiasan olehku?" ujar Harvey menohok.


"Apa-apaan ucapanmu itu?! Aku kan juga pewaris tunggal. Tentu aku hanya ingin kau menemaniku berbelanja," ucap Rachel mencari alibi atas niatnya yang sudah terbaca oleh Harvey.


Harvey jelas sudah sangat hapal dengan gerak-gerik dan macam-macam sifat yang dimiliki oleh jenis-jenis wanita rubah semacam ini.


Rachel benar-benar sudah salah menjadikan Harvey sebagai mangsa incarannya.


Untuk menyingkirkan dan menghancur ratakan perusahaan Anderson sangat mudah bagi Harvey. Itupun yang sudah ada didalam pikirannya untuk mengancam Theala agar takut kepadanya.


Tiba-tiba di kepala Harvey muncul sebuah ide.


Sebaiknya aku menculik Rachel dan mengirimnya di suatu pulau agar dia tidak menggangguku lagi dan juga ini kesempatan bagus untukku mengancam Theala.


"Baiklah, aku akan menemanimu berbelanja," kata Harvey.


"Yeay! Ayo sayang kita pergi sekarang," ujar Rachel riang dengan manja.


Harvey menuruti Rachel dan pergi bersamanya. Segala yang di inginkan Rachel dari awal sengaja di turuti oleh Harvey dengan begitu akan memudahkannya melaksanakan rencana yang telah ia susun.


"Kau boleh gunakan kartu ku untuk semua belanjaanmu," ujar Harvey.


"Ah, benarkah? Aku akan sangat senang memakainya," ucap Rachel gembira.


Anak-anak buah Harvey dari gang mafia miliknya sudah bersiap menunggu aba-aba darinya.


Jelas saja rencana itu terlaksana dengan sangat mudah dan rapih. Tinggal memberitahukan kepada Theala dan semua tujuannya akan terpenuhi.


Harvey langsung memberitahukan dan melancarkan aksinya untuk mengancam Theala melalui telepon.


"Keselamatan Rachel berada di dalam tanganmu. Keputusanmu adalah kunci Rachel untuk bisa kembali lagi ke rumahnya," ancam Harvey menyapa ketika sambungan telepon dijawab.


"Sudah ku bilang, kau hanya milikku seorang! Kenapa kau sama sekali tidak takut kepadaku?!" sambung Harvey.


Namun tanpa terduga oleh Harvey, jawaban Theala sangat bertolak belakang dengan yang ada di pikiran Harvey.


Rencananya gagal total.


"Rachel tidak berarti bagi saya. Karena sudah tidak ada hubungannya lagi dengannya meskipun kami memiliki satu ayah," ujar Theala.


Theala menghembuskan nafas lelah kemudian menyambung kalimatnya untuk menjelaskan lagi.


"Ancaman-ancaman itu juga tidak perlu tuan lakukan. Saya sangat menyadari seberapa besar kekuasaan yang anda miliki Tuan Muda."


"Baiklah. Aku akan melepaskan Rachel. Tapi kau harus ingat! Untuk melarang pria lain mendekatimu!" ancam Harvey.


Harvey menutup teleponnya, sekarang dia sibuk memutar otak berpikir apa yang harusnya ia lakukan. Karena bagi Harvey, Theala belum benar-benar takut padanya sampai Theala masih berani dekat dengan pria lain selain dirinya.


Harvey pun melepaskan Rachel dan mengembalikannya ke keluarganya.


**


"Calon istri Tuan adalah Rachel. Tapi kenapa anda menjadikan Rachel sebagai ancamanku?" gumam Theala penasaran.


Walaupun aku bilang Rahcel tidak ada urusannya denganku tetapi dia juga adikku, anak dari ayah kandungku. Untung saja Harvey tidak benar-benar mengirimnya ke pulau pribadi miliknya.


Theala merasa bersyukur di dalam hatinya, bahwa adik tirinya tidak terseret dalam bahaya karenanya.


...•••HATE•••...