
Setelah tiga jumlah kancing atas kemeja milik Harvey terlepas, ia merangkul tengkuk lehernya lalu mendekatkan wajahnya dan mulai mengecup hingga mencium bibir merah miliknya.
Harvey yang sedari tadi hanya berdiam diri saja kini mulai roboh pertahanannya setelah menerima serangan yang mendarat di bibirnya.
Ia membopong Theala dan membaringkannya di sofa lalu menindih badannya, tidak membuang-buang waktu ia langsung bermain dengan seru bersama mainan baru yang dimilikinya secara paksa tersebut.
Permainan mereka pun selesai dalam waktu dua jam lamanya, sekarang sudah waktunya pulang kantor, mereka pun berpisah dan pulang kembali ke rumah mereka masing-masing.
Suara kemercik air yang berasal dari shower jatuh ke lantai kamar mandi, di bawah shower terduduk gadis itu masih berbalutkan busana kantor menangis sambil terungkup memeluk kedua lutut kaki yang dilipatnya.
Air shower yang berjatuhan dengan setianya menemani tangisan Theala dan ikut membantu membasahi sekujur tubuhnya.
...**...
Harvey
Disisi lain Harvey sedang bersenang-senang dengan mainan lainnya yang ia miliki.
Di sebuah bar hotel di dekat perusahaan miliknya, namun berbeda dengan biasanya yang selalu bisa menikmati kesenangan-kesenangan yang telah ia ciptakan sendiri.
Kali ini berbeda, meski tidak pernah mempunyai hasrat ataupun perasaan sekecil apapun terhadap mainannya tetapi ia tetap bisa untuk menikmatinya.
Hanya perasaan bosan dan jenuh yang ia dapatkan ketika ia sedang menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan wanita-wanita mainan miliknya saat ini.
Ada apa yang sebenarnya terjadi padaku?
Kenapa seperti ada sesuatu yang telah berubah.
Ponsel berdering di saku kiri celananya menyadarkan Harvey dari lamunannya.
...📞Ketua is calling...
Begitulah tertulis dilayar ponsel yang sedang menyala itu.
Yang sedang menelpon di seberang sana tidak lain adalah ayahnya sendiri yaitu Louis William.
Tapi begitulah ia menamai nomor ayahnya di kontak nama ponsel miliknya.
"Ada perlu apa ayah menelpon saya malam-malam?" ucap Harvey memulai percakapan saat menjawab teleponnya.
"Masih suka berkeliaran saja kamu ini! Apakah kamu benar-benar tidak bisa berubah?" jawab Louis.
"Cepat katakan, apa yang anda inginkan?" ucap Harvey ketus.
"Ikutilah lagi program perjodohan yang sudah ayah atur untukmu," jelas Louis.
Mendengar kalimat tersebut Harvey langsung keluar dari bar hotel tersebut dan masuk ke dalam mobilnya.
"Siapa yang akan mau menikah dengan anak Ketua World Rider organisasi mafia terbesar bahkan untuk dunia?" pekik Harvey.
Apa yang sedang ayah pikirkan?
Apakah dia sudah gila?
Menyuruhku untuk apa?
Menikah?
Benar-benar hal gila yang tidak pernah terpikirkan olehku!
"Kau tinggal mengikuti rentetan perjodohan yang sudah ayah siapkan untukmu, kau bisa memilih sesuka hati mu gadis yang cantik menurutmu. Seperti sebelumnya," jelas Louis.
"Bagaimana mungkin ada yang mau menjadi menantu dan istri dari seorang penerus Ketua organisasi mafia, sudah jelas hidup mereka tidak akan merasa aman," ujar Harvey.
"Heh baiklah kamu benar, tapi tidak ada yang bisa menolak menjadi menantu dan istri dari konglomerat seorang penerus Ketua perusahaan terbesar," jawab Louis.
"Baiklah. Namun bila perjodohan kali ini juga membosankan seperti sebelumnya sebaiknya ayah berhenti mengaturnya untuk saya," jelas Harvey seakan sudah muak, lalu langsung menutup sambungan telepon begitu saja.
Harvey pun tidak dapat mengelak atas pembenaran yang telah dijelaskan oleh sang ayah untuknya.
Tidak ada alasan ataupun cara untuk menghentikan niat yang direncanakan seorang ayah kepada anaknya, semua pasti beralasan untuk kebaikan sang anak sebagai penerus sang ayah.
...**...
Terduduk sepasang anak muda di salah satu meja makan di sudut restoran elit hotel berbintang, terlihat mereka sedang mengadakan kencan makan malam bersama.
Ya setidaknya seperti itulah yang terjadi dan terlihat meski bukan karena kemauannya sendiri.
Lagi-lagi biasanya Harvey selalu menikmati waktu ketika sedang bersama wanita walaupun hanya sekedar bersenang-senang semata, namun kali ini tidak.
Ia merasa tidak betah dan bahkan merasa sangat muak ingin rasanya segera mengakhiri pertemuan pada malam itu.
Sial!
Sebenarnya apa yang sudah terjadi padaku?
Kenapa aku terus-terusan merasakan hal-hal yang aneh.
Ini benar-benar sulit untukku mengerti.
Bangkit dari duduknya dan menyudahi pertemuan pada malam ini. Ia bergegas keluar dari restoran hotel tersebut, melajukan mobilnya entah kemana tujuannya untuk pergi.
Hingga tanpa ia sadari ia sudah sampai tepat di depan gedung apartemen dimana Theala tinggal, Harvey hanya mengetahui gedung apartemennya itupun karena pernah mengantarkan Theala pulang setelah menginap di rumahnya diakhir minggu dulu.
Tetapi ia tidak mengetahui berapa nomor unit studio apartemen milik gadis itu.
"Kenapa aku bisa mengemudikan mobilku kesini?" gumam Harvey.
Tidak berpikir untuk turun ataupun juga menelpon Theala, dia hanya sibuk dengan pikiran dibenaknya sembari melihat gedung apartemen yang sudah di depan matanya itu dari jendela mobilnya.
Lalu ia mengeluarkan ponselnya untuk menelpon seseorang.
"Heh kau sekarang ada dimana?" tanya Harvey lewat telpon yang ada di genggamannya.
"Di kamar, ada perlu apa kau malam-malam, mengaggetkanku saja," jawab seseorang dari seberang telpon.
"Aku ingin minum-minum, cepat keluar dan temani aku," ucap Harvey tanpa basa-basi.
...**...
Mereka berdua pun sudah bertemu dan duduk berdampingan di sebuah bar hotel.
Harvey menceritakan dan menjelaskan hal-hal yang menurutnya terasa aneh yang sedang dialaminya akhir-akhir ini.
Sontak yang mendengar ceritanya pun langsung tertawa terbahak-bahak, seperti mendapatkan cerita lucu yang sangat mustahil terjadi pikirnya.
"Apa yang lucu?" tanya Harvey bingung.
"Hei, apa kau benar-benar tidak tahu?" goda orang disampingnya.
"Tahu soal apa?" tanya Harvey masih kebingungan.
"Kau sekarang benar-benar terkena getah dari perbuatanmu selama ini! Tapi itu pun juga tidak mungkin terjadi sih, pasti itu mungkin hanya perasaanmu saja karena kau sedang senang-senangnya bermain dengan mainan favoritmu itu jadi saat kau bermain dengan yang lain rasanya akan hampa," jelas orang itu dengan sedikit keraguan.
Hansen yang tiba-tiba di telepon Harvey dengan kebiasaan tersebut sudah seperti pekerjaan tambahan khusus baginya, untuk menemani adik sepupunya kapan pun ia diperlukan.
Benar pasti bukan karena hal-hal yang mengerikan itu!
Aku tidak mungkin memiliki perasaan terhadap salah satu dari mainan-mainanku!
"Baiklah, aku sudah merasa tenang sekarang. Kau pulanglah," ujar Harvey.
"Heh tunggu! Ini pengalaman pertamamu merasa kebingungan dengan perasaanmu. Sebenarnya siapa yang menjadi koleksi baru untuk mainan milikmu?" tanya Hansen penasaran.
"Sudah pulanglah! Aku tidak membutuhkanmu lagi," usir Harvey.
"Cih, aku tidak akan mau membuang waktuku lagi untuk memenuhi panggilanmu seperti ini," jawab Hansen menyindir.
"Lakukan apapun yang kau mau, kalau kau berani!" jawab Harvey santai.
"Cih, sangat menyebalkan! Aku pergi," ujar Hansen sembari melangkah pergi dan melambai-lambaikan tangan tanpa melihat orang yang ditinggalkannya.
Harvey pun menyusul pergi meninggalkan bar hotel dan pulang ke rumahnya.
...•••HATE•••...