HATE

HATE
30



Theala


Permainan suap-suapan ala ibu dan anak telah usai. Suasana kembali menjadi serius.


Theala juga sudah selesai membersihkan tubuh Harvey dengan handuk basah, juga membantu Harvey mengganti pakaian, ya walaupun masih dengan baju pasien.


"Heh, babi betina!" panggil Harvey yang ditujukan kepada Theala, ia menyamakan wajah cantik Theala dengan seekor babi betina.


Theala yang tidak merasa bahwa kalimat tersebut ditujukan untuknya, ia tetap melanjutkan aktifitasnya bersiap-siap untuk tidur, di sofa.


"Tidak hanya buta ternyata juga tuli?!" sinis Harvey.


"Ada apa lagi Tuan Muda?" tanya Theala malas.


"Sini!" perintah Harvey.


Theala bangun, berjalan malas menghampiri suaminya. Sekarang Theala sudah tepat disisi kanan ranjang pasien, masih berdiri.


Harvey menarik tangan Theala kasar, sehingga Theala terbanting menjatuhi dirinya sendiri.


"Aww! Bodoh! Lenganku..." rintih Harvey.


"Maaf Tuan, saya tidak sengaja, kenapa anda menarik saya?" tanya Theala hendak bangkit kembali berdiri.


Namun, tangan Harvey mencegahnya dan mengarahkan tubuh Theala untuk tidur disamping kanannya. Memeluk tubuh Theala, menenggelamkan wajahnya ke dalam tengkuk leher Theala.


"Ayo tidur," perintah Harvey.


Theala yang kurang nyaman dengan posisi tersebut ingin bangun, "Aww! Sakit! Kau menyikut luka tusukan ku!" jerit Harvey.


"Maaf Tuan Muda, tetapi tangan anda sangat berat, ditambah gipsnya..." ucap Theala sedikit ragu, takut Harvey akan semakin memarahinya.


"Diam dan jadilah istri yang baik!" jawaban Harvey tidak mendukung keluhan yang diajukan Theala.


Dengan cemberut Theala tidak ada pilihan, pasrah, mereka berdua tenggelam dalam mimpi mereka masing-masing.


Keesokan harinya,


Sinar matahari masuk menerobos celah tirai yang sedikit terbuka, seperti ada seseorang yang memang sempat membukanya, namun di tutup kembali tetapi kurang rapat.


Theala yang kebetulan tidur menghadap jendela pun terbangun, ia meraih ponselnya di nakas melihat waktu menunjukan pukul 08.00 pagi, sepertinya ia akan kembali terlambat untuk pergi ke kantor.


Ia hendak bergegas bangun dari tidurnya, sebelumnya ia berbalik dan tidak mendapati Harvey berada di sampingnya. Ia benar-benar bangun, lalu mencari keberadaan Harvey disana.


Benaran, jaket Harvey juga menghilang dari sofa, karena panik alhasil Theala hanya mencuci mukanya lalu keluar menuju ke parkiran, tubuh Theala lesu seketika saat ia menyadari mobil yang ia tumpangi kemarin juga sudah tak ada disana.


Harusnya aku curiga karena Tuan Harvey minta di kirim mobil.


Hah...


Bagaimana bisa manusia dengan luka tusukan dan kehilangan banyak darah bisa langsung sembuh hanya dalam dua hari saja?


Apakah Tuan Harvey itu sebenarnya mutan?


Sesampainya di perusahaan, Theala menyempatkan diri untuk mandi terlebih dahulu di dalam kamar mandi yang berada di ruangan Harvey.


...***...


Sedangkan disisi lain, Kai Deverra sedang berkunjung menemui 'teman lama'.


Wilayah Vancouver, British Columbia


Pabrik Hello Wine,


"Wow! Siapa tamu kehormatan ini?"


"Tak perlu basa-basi, aku kesini untuk berkas yang ditemukan di tumpukan dokumen Wine World yang pastinya ada campur tanganmu di dalamnya," ucap Kai membanting berkas tersebut diatas meja Presdir Hello Wine.


"Hahaha ternyata ketahuan, ya? Aku sudah menduganya sih~ Makanya aku berusaha mengirim bosmu ke neraka, memang seorang Don dari World Rider tidak bisa di remehkan."


"Kau, selesaikan itu sendiri atau perlu bantuan ku untuk mengurusnya?" tanya Kai dengan nada suara yang dingin.


"Hohoho ancaman seorang Consiglier kenapa bisa terdengar seperti penawaran?"


Ctiik ctiik


Ctiik ctiik


Kai kembali memainkan korek api klasik itu, hentakan yang dibuatnya sama seperti deru detik jarum jam yang berjalan. Seakan memperjelas, tak ada waktu untuknya meladeni Heint, saingan bisnis dunia bawah dari World Rider.


"Ah~ Ayolah berhenti menghitung waktu untukku," ujar Heint.


"Urus atau di urus?" ulang Kai semakin singkat, masih memainkan korek api klasiknya.


"Baiklah, baiklah, aku akan mengurusnya," jawab Heint.


Kai Deverra pun keluar, sesampainya ia benar-benar sudah berada di jarak aman dari pabrik ia mengeluarkan sebuah remote kecil, nampak ada dua tombol berwarna hijau dan merah, Kai memilih tombol warna merah untuk ditekannya.


Duuuaaarr Duaaarr Duaaarrr


Terdengar suara ledakan yang saling bersaut-sautan dari dalam pabrik milik Heint, kini Kai hanya tersenyum kecut duduk di kursi penumpang di dalam mobil Mercedes Benz E-Class warna abu-abu miliknya.


"Selamat bekerja keras atas pilihanmu untuk mengurusnya sendiri. Maka uruslah kehancuranmu," gumam Kai terkekeh.


"Tuan Kai, memangnya kalau Heint memilih untuk diurus akan berbeda hasilnya?" tanya pria di balik kemudi yang sesekali melihat Kai dari balik spion tengah.


"Maka Heint harus berterima kasih karena aku sudah repot mengurus segalanya agar hancur hingga tak tersisa," jelas Kai.


"Lucas, sisanya kau yang urus, sekarang antar aku kembali ke mansion kediaman William," sambung Kai melirik spion tengah, dan pandangan mereka bertemu.


"Baik Tuan Kai," jawab Lucas.


...***...


Mansion kediaman William.


"Yo! Yo! Yo! What's a cool man~~" sambut Hansen heboh dengan kedatangan Kai.


"Thanks!" Harvey menepuk pundak Kai bangga.


Sedangkan Louis yang sudah mengira semua akan berjalan lancar, duduk tenang di sofa ruang tengah rumah itu. Hanya sesekali melirik ketiga lelaki tampan tersebut, yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri, sama seperti Harvey.


Orang tua Hansen meninggal karena sebuah kecelakaan pesawat yang saat itu membawa mereka kembali dari Swiss. Begitu pula, ayah Kai, yang juga sedang pergi bersama orang tua Hansen. Ketiganya tidak dapat terselamatkan ditilik dari parahnya kecelakaan yang terjadi.


Pesawat mereka bahkan sudah meledak saat masih diterbangkan pilot di ketinggian, jelasnya mustahil jika masih ada orang yang bisa selamat dari kecelakaan besar tersebut. Sejak saat itu Hansen dan Kai dirawat dan dibesarkan oleh Louis William dan diajaknya untuk tinggal bersama di mansion.


Namun, karena tanggung jawab Kai Deverra cukup besar terkadang ia yang paling jarang bisa tinggal di mansion, untuk menyelesaikan pekerjaan lapangan, contohnya yang baru saja terjadi pada pabrik Hello Wine.


"Bagaimana keadaan Tuan Harvey?" tanya Kai yang sebelumnya membalas pujian kedua Tuan Mudanya dengan senyuman hangat.


"Jangan khawatirkan aku," jawab Harvey, ia teringat sesuatu, "Kai! Tolong cari kan pengawal wanita yang mampu bekerja 24 jam dan sekaligus merangkap sebagai sopir dan asisten."


"Apa Tuan Harvey ingin menambah pengawal-pengawal anda dengan pengawal wanita?" tanya Kai memecah keheningan, kini Louis dan Hansen ikut serius mendengarkan jawaban Harvey.


"Tidak. Tidak jadi," jawab Harvey mengecewakan ketiganya.


"Ah! Serius deh! Kalau begitu aku juga mau di carikan ajudan wanita yang cantik ya, Kai?" ujar Hansen yang merasa iri dengan permintaan adik sepupunya.


"Baik, Tuan Hansen. Lalu, Tuan Harvey, anda jadi atau tidak?" ucap Kai.


"Hei, jangan bodoh! Kalau kau pakai pengawal wanita hanya akan memperkeruh keadaan di saat-saat genting!" ujar Harvey menoyor kepala kakak sepupunya. Harvey menyambung permintaannyapermintaannya, "Itu, kau cari kan untuk ku saja. Jangan dengarkan permintaan bodoh anak ini!"


"Hei, kenapa kau boleh sedangkan aku tidak boleh?!" tanya Hansen tidak mau kalah.


"Thea," jawab Harvey.


"Hah?" Hansen bingung.


"Untuk Thea!" jawab Harvey berseru di telinga Hansen.


Kini Hansen sudah berhenti heboh dan beralih meniup jari kepalnya lalu ditempelkannya ke telinga, entah maksudnya apa. Harvey kembali berbicara setelah matanya memutar malas melihat tingkah Hansen.


"Jangan lupa, kualifikasi terbaik yang utama," tekan Harvey pada Kai.


Kai pun hanya membalas dengan anggukan tegas tanpa sepatah kata pun.


...•••HATE•••...