
Hansen
Sore hari di mansion kediaman keluarga William.
Hansen William selaku keponakan dari Louis tentu mengantongi ijin untuk keluar masuk dari kediaman William dengan sangat leluasa.
Di hari itupun Harvey menyuruh Hansen untuk datang berkunjung.
Lalu Hansen setelah ia kembali bekerja dari perusahaan langsung mengemudikan mobilnya menuju ke kediaman keluarga William.
Sesampainya ia di kediaman tersebut, bergegaslah ia menghambur ke dalam rumah dan langsung mencari paman juga sepupunya itu.
"PAMAN LOUIS, HARVEY, DIMANA KALIAN?" teriakan Hansen memenuhi seluruh ruangan.
"Bocah sial! Kau terlalu berisik!" kata Louis yang tiba-tiba ada di belakangnya.
"Hehehe paman, anda apa kabar?" ucap Hansen nyengir sambil menyalami tangan Louis dengan sopan.
"Baik, Harvey ada di kamarnya," kata Louis tanpa basa-basi.
"Baiklah paman, saya permisi," ujar Hansen bersemangat.
Ia pun langsung menghambur melewati lorong-lorong rumah megah tersebut. Menggapai sebuah pintu kamar yang gagah dan kokoh di ujung lorong tersebut. Sebuah kamar utama yang ditinggali Harvey sebagai kamarnya.
Ceklek
Suara dari ganggang pintu itu yang langsung di buka oleh Hansen tanpa permisi.
"Kau sudah gila?! Kenapa kau selalu menghujani ku dengan semua pekerjaan yang seharusnya itu tugasmu?!" kata Hansen mengeluh.
"Aku ingin kau mengatur mengadakan konferensi pers untuk keluarga Anderson," ujar Harvey tanpa menjawab keluhan Hansen.
Hansen sangat bingung dengan apa yang ada di pikiran sepupunya itu. Benar-benar orang yang sangat aneh.
Bukannya ia sangat membenci keluarga Anderson kenapa sekarang malah mau memfasilitasi kepentingan mereka?
Harvey pun langsung menjelaskan pokok permasalahan yang akan mereka sekeluarga perankan. Ikut bergabung ke dalam permainan yang sudah direncanakan Sarah untuknya. Hansen manggut-manggut mengerti kurang lebih apa yang dimaksudkan Harvey. Tanpa pikir panjang Hansen pun mengiyakan apa yang diperintahkan kepadanya. Turut membantu apa yang seharusnya ia kerjakan.
...**...
Kepala sekretaris World Group, Kai Deverra. Mendatangi kediaman Anderson.
"Ketua mengabulkan permintaan anda. Ketua juga mempersilahkan anda untuk mengadakan konferensi pers mengumumkan tentang pernikahan putri anda disalah satu gedung milik William," kata Kai Deverra.
"Saya sangat berterimakasih atas kemurahan hati Ketua kepada kami. Kami sangat menghargainya. Baiklah," ujar Sarah Anderson.
"Pernikahan Harvey dan Rachel akan terus di lanjutkan?" tanya Tommy Anderson.
"Iya ayah. Bukankah ini adalah kabar baik untuk keluarga kita?" jawab Rachel Anderson.
Kai Deverra menjelaskan kepada mereka bahwa segala sesuatu sudah disiapkan untuk menggelar konferensi pers tersebut. Dan semua akomodasi akan di tanggung keluarga William. Pengumuman tersebut akan dilakukan dua minggu lagi.
Sebelumnya semua anak-anak buah juga Hansen sudah di beritahu oleh Harvey dengan rencana-rencananya demi pembalasan dendam ini.
...**...
Harvey meminta Hansen untuk mencari tahu dimana Theala tinggal dan di rawat. Hansen pun langsung mengantongi informasi yang di butuhkan. Lalu melaporkannya kepada Harvey.
"Theala tinggal di apartemen Hera Palace di unit 315. Dia sedang di rawat di RS Regina di kamar 025. Tapi aku tidak tahu dia sakit apa," ujar Hansen.
"Kau sangat bisa di andalkan!" ucap Harvey senang.
"Memang! Aku tidak bodoh sepertimu!" gumam Hansen di belakang Harvey.
"Aku masih bisa mendengarmu! Oh.. Akan ku peringati kau. Jauhkan dirimu dari Theala. Dia adalah milik ku," kata Harvey sedikit mengancam.
"Ternyata benar. Kau jatuh cinta dengannya?" Hansen mulai mengejek.
"Dia adalah mainan terbaik milik ku satu-satunya. Aku tidak rela berbagi mainan dengan orang lain," kata Harvey menjelaskan.
"Terserahlah! Kau akan kena dengan bualanmu itu sendiri," jawab Hansen menyerah lalu berbalik meninggalkan Harvey.
Sesudah semua informasi yang ia butuhkan sudah terpenuhi. Sekaranglah waktunya ia beraksi untuk melanjutkan dari bagian rencananya.
...***...
Theala
Di kamar rawat Theala.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Harvey yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang rawat Theala dengan membawa satu buket bunga dan juga satu parsel buah-buahan segar.
"Tuan.. Anda tidak perlu repot-repot. Tapi terima kasih banyak," ujar Theala menyambut kedatangan Harvey di kamarnya.
"Bukan masalah besar. Sudah seharusnya aku mengunjungi calon istriku yang sedang sakit," kata Harvey sambil ia duduk di kursi samping tempat tidur Theala.
"Calon istri? Maksud Tuan?" tanya Theala bingung.
Apa kepala Tuan Harvey terbentur sangat keras sebelum datang kesini?
"Apa kau berani menolak perintahku?" ujar Harvey.
"T-tapi Tuan.. I-ini terlalu mendadak. Apa Tuan sedang mempermainkan saya?" tanya Theala.
"Kalau kau mau keluarga Anderson hancur. Kau bisa menolak," jawab Harvey.
Apa Tuan Harvey sedang bermimpi?
"Tidak, Tuan. Iya, saya akan menuruti semua kemauan Tuan Harvey," kata Theala putus asa.
"Besok, kita menikah. Aku akan mengurus semuanya, kau tinggal tanda tangani surat dan menjadi pengantin yang cantik. Acara di adakan di mansion kediaman keluarga William," kata Harvey menjelaskan.
Wah... Tuan Harvey benar-benar bermasalah dengan kepalanya, dan aku ikutan gila karenanya.
"Baiklah, Tuan. Terima kasih sudah sudi menikahiku," kata Theala lemas.
Walaupun ayah sudah membuangku tapi aku juga tidak mungkin tega melihat perusahaan yang sudah seperti nyawanya itu hancur begitu saja.
Ayah.
Hanya ini yang bisa ku lakukan sebagai balas budi kepada orang tua yang sudah merawatku selama ini.
Pernikahan yang dipaksakan secara sepihak. Tanpa adanya kejelasan. Prosesi yang sewajarnya terjadi untuk mempersiapkan hari bahagia setiap pasangan di bumi. Mengenakan busana pernikahan. Mengadakan perjamuan pesta. Tertawa dan tersenyum bersama keluarga besar juga para tamu undangan.
Itu semua adalah impian setiap umat wanita di dunia ini. Yang tidak mungkin dapat terwujud di dalam kehidupan Theala. Karena ia adalah putri yang terbuang juga hanya wanita yang tidak mempunyai dukungan dari keluarga yang mempunyai kekuasaan. Jadi ia tidak dapat bergeming atas apa yang sudah di takdirkan untuk ia jalani seumur sisa hidupnya.
...***...
Theala keluar dari rumah sakit. Ia di jemput oleh suruhan-suruhan keluarga William untuk di bawa pulang ke mansion kediaman William. Menjalani prosesi pernikahan yang di lakukan tanpa di dasari adanya perasaan cinta di antara kedua mempelainya.
Theala begitu di buat terkejut. Ternyata pernikahannya di hadiri oleh keluarga besar William dan beberapa tamu VVIP. Yang di adakan sangat tertutup namun tetap megah dan mewah. Juga ada kameramen dan fotografer yang siap mendukementasikan hari bahagia mereka berdua.
"Kau sudah siap?" tanya Harvey.
"Wah, kau benar-benar terlihat sangat menawan hari ini," ujar Hansen.
Tiba-tiba sudah ada dua pria dewasa yang sama tampannya berdiri di belakangnya yang baru saja selesai dirias. Dari pantulan cermin di depan Theala ia sangat jelas melihat bayangan calon suaminya yang terlihat begitu gagah dengan balutan jas putih yang menempel di tubuh Harvey.
Sedangkan di samping Harvey. Sosok pria yang ia kenal.
Hansen.
Terlihat tampan dengan berbalutkan jas hitam yang sedari tadi tidak berkedip melihat penampilan Theala.
"Berhenti melihat istriku seperti itu! Atau akan ku cungkil kedua bola matamu itu!" ancam Harvey sambil menginjak kaki Hansen.
"Ouch! Sakit, sial! Ngomong-ngomong masih calon istri, tuh!" ujar Hansen yang kesakitan.
Prosesi pernikahan pun berjalan dengan lancar dan tertata sesuai dengan protokol dari wedding organizer yang di sewa keluarga William.
Sesudah semua acara selesai. Semua para tamu undangan sudah mulai meninggalkan kediaman William hingga hanya tersisa pelayan-pelayan juga penghuni kediaman tersebut.
"Selamat atas pernikahan kalian," ujar Hansen.
"Selamat datang menjadi menantu William," ucap Louis.
"Terima kasih banyak Ketua. Juga, Tuan Hansen. Dan juga, Tuan Harvey," jawab Theala memberanikan diri.
"Sudahlah! Aku lelah. Aku mau istirahat," kata Harvey.
Harvey berjalan pergi tanpa menganggap Theala yang sudah menjadi istrinya untuk di ajaknya ke kamar bersama.
...•••HATE•••...