
Theala
Sudah selang satu minggu sejak hari pesta pernikahan kami. Sebenarnya aku takut, sangat takut. Namun, entah ada apa dalam diriku yang mengatakan.
"Akhirnya ada seseorang yang mau mengakui keberadaanku di dunia ini."
Tentunya aku juga merasa sangat bahagia ditengah ketakutanku sendiri.
**
Di hari itu,
"Nyonya Theala silahkan bersiap, para pelayan wanita dan tim bridal sudah menunggu anda di kamar tamu. Mari saya antar," ucap kepala pelayan berusia paruh baya yang tiba-tiba mengetuk pintu kamarku, namanya kalau tidak salah... Pak Mumun.
Ah! Sepertinya beliau jarang diceritakan di dalam kisah kehidupan ini ya?
Tim bridal?
Apa maksudnya?
Aku masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Namun, aku hanya bergeming dalam benakku, aku tidak berani untuk banyak bertanya karena itu salah satu larangan yang ada di dalam rincian peraturan yang diberikan oleh Tuan Harvey.
Aku pasrah dengan semua yang dilakukan mereka kepadaku. Sampai aku pada akhirnya menyadari sesuatu.
Oh! Aku didandani menjadi mempelai wanita dengan berbalutkan gaun pengantin yang sangat mewah. Meskipun aku menyadari hal itu, bukan berarti aku sudah mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Benar, aku sama sekali belum mengerti tentang ini, Tuan-tuan mansion kediaman William pun sama sekali tidak terlihat sejak tadi pagi.
Seperti biasa, tidak ada seorang pun yang memberitahu mereka pergi kemana atau pun berpamitan, aku harus sadar diri posisiku di dalam keluarga William bukan sepenting statusku di keluarga ini.
"Sudah siap Nyonya Muda. Wah! Anda benar-benar terlihat sangat cantik," ucap salah satu dari mereka ketika dandananku sudah siap, dan disusul pujian-pujian lain dari yang lainnya.
"Ah! Terima kasih banyak, sudah membuatku menjadi sangat cantik seperti ini," balasku sedikit canggung, aku tidak terbiasa menerima pujian yang terlalu tinggi menurutku.
Aku mengikuti semua arahan yang ditujukan kepadaku dalam diam, sama sekali tidak membuka mulutku untuk memulai obrolan. Hanya saja aku selalu menjawab dengan sopan ketika beberapa orang menyapaku ataupun mengajakku untuk sekedar basa-basi.
Hingga sampai disebuah Hotel yang ternama di Korea meskipun sekarang namanya redup, kabarnya Hotel ini sempat menjadi ikon di Korea, salah satu bisnis keluarga William -World Hotel.
Akhirnya sosok yang aku kenal menampakan dirinya dihadapanku,
"Selamat malam, Nyonya Theala."
Aku menghela napas panjang, merasa lega karena sejak tadi siang aku hanya sibuk bertanya-tanya di dalam pikiranku sendiri.
Theala mengangguk, menatap lekat wajah tampan sosok pria itu yang kini sudah berdiri tepat di depan Theala yang sedang terduduk dengan wajah penantian.
"Malam ini adalah pesta pernikahan anda dan Tuan Harvey, anda diminta untuk mengikuti dan hanya menurut tanpa bertanya. Anda juga tidak boleh memasang ekspresi terkejut ataupun hal-hal lain yang dapat mengundang pertanyaan para tamu undangan."
Kai Deverra, dia sungguh selalu terlihat menawan ketika dia sedang menjelaskan segala detail perintah Tuannya. Sering kali aku penasaran, seorang Kai Deverra itu sebenarnya sosok yang seperti apa? Jika tanpa embel-embel jabatannya sebagai kepala sekretaris keluarga William.
Pernah mendengar pepatah, "Rasa penasaranmu akan membuatmu terluka."
Atau, "Banyak bertanya akan membunuhmu."
Karena sekarang aku sepertinya sudah tidak peduli lagi dengan nyawaku, dan mungkin aku akan menyesali perbuatanku ini untuk seumur hidupku.
"Tuan Kai, apakah anda pernah berkencan? Atau mungkin sekarang anda sedang berkencan dengan seseorang?" tanyaku tiba-tiba membuatnya membungkam mulutnya.
Ekspresinya berubah sangat datar, ya, walaupun ekspresinya selalu tidak jauh dari kata datar.
"Maaf Nyonya, anda tidak di ijinkan menanyakan tentang hal-hal di luar kewajiban saya," jawabnya setelah termenung cukup lama.
Aku hampir mati karena takut dia akan membunuhku, karena hanya ada kita berdua di kamar ini.
"Ah, hahaha habisnya saya terlalu penasaran dengan anda. Mengenal Tuan Harvey dan Tuan Hansen yang karakternya sangat berbeda dengan anda. Ditambah sosok anda yang tidak kalah menawan, menimbulkan rasa penasaran yang tidak terbendung lagi," jelasku canggung sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
"Nyonya Theala tolong hentikan."
"Maksud saya, tangan anda yang terus menggaruk kepala anda. Itu dapat merusak tatanan rambut anda."
Seketika aku langsung menurunkan tanganku dan meletakkannya di atas pangkuanku.
Cih, kirain karena sedang marah besar mendengar ocehanku, bikin orang jantungan saja!
"Sudah waktunya, mari saya antar ke gedung utama," ucap Kai mengulurkan tangan kanannya untuk menuntunku berjalan.
Seperti yang sudah diperintahkan sebelumnya, aku hanya mengikuti permainan mereka. Karena memang sejatinya aku hanyalah boneka bermain si Tuan Muda Harvey William.
Uh! Membicarakannya saja membuatku mual.
Sepertinya memang ketampanannya berguna untuk hal ini, untuk segala hal buruk yang ia lakukan lebih mudah termaafkan -untung ganteng.
Sempat dalam dua menit aku mematung. Meskipun dilarang untuk terkejut, tetap saja tubuhku tidak dapat menerima perintah itu.
Karena saat setengah memasuki ballroom badanku tiba-tiba mematung. Aku melihat dengan sangat jelas disana sudah ada mempelai wanita yang berdiri di atas altar, sosok yang paling aku kenali karena dia adik tiri ku -Rachel Anderson.
Aku langsung bergegas untuk menyadarkan diriku kembali. Pandanganku mengedar ke seluruh sisi penjuru gedung itu, dan mendapati orang tua ku berada disana -ayah dan ibu tiri ku. Yang ternyata juga ada keluarga besar Anderson dan Adelard di dalam kerumunan tamu undangan.
Keringat dingin keluar tanpa aba-aba, mungkin Tuan Harvey sedang berperan menjadi suami yang siap siaga dan tulus mencintai istrinya. Tangannya langsung menggenggam tanganku, menenangkanku dengan pijatan lembut yang berasal dari ibu jarinya.
Dan kemudian seorang Harvey William, memperkenalkan aku sebagai istrinya kepada seluruh orang yang sedang berada di dalam gedung itu. Mereka menatap kami penuh kebingungan, kebahagiaan, dan mungkin juga kemarahan.
"Gadis pintar...." ucap Harvey tepat di telingaku. Membuatku menoleh kearahnya, dan pandangan kami bertemu dengan balasan senyuman hangat dari wajah tampannya.
Mungkin karena aku berhasil melakukan pertunjukan ini dengan sangat baik. Jadi dia memujiku untuk itu?
...•••HATE•••...
Harvey tiba-tiba naik ke atas ranjang dan menyerahkan sebuah dokumen yang ku yakini itu dokumen penting dilihat dari mapnya, saat aku sedang terduduk bersandar punggung ranjang sambil membaca buku.
Lalu ia meletakan kepalanya diatas pangkuanku, dia sedang tiduran memejamkan matanya.
"Maksud Tuan?" tanyaku hati-hati.
"Janjiku. Soal ancamanku yang tidak mempan untukmu," jawab Harvey masih dengan mata terpejam di pangkuanku.
"Saya masih belum mengerti."
"Makanya buka, biar kamu mengerti."
Aku diam tidak menjawab dan menuruti untuk membuka dokumen itu, membaca dengan sangat hati-hati, kalau-kalau aku salah lihat yang di tuliskan disini.
"Tuan, kenapa perusahaan ini jadi milik anda?"
Jujur aku sangat terkejut, apakah hal seperti itu sangat mudah bagi keluarga William.
"Itu atas namamu sih, tapi kalau kau meminta ku untuk menceraikanmu perusahaan itu otomatis menjadi milikku," jelas Harvey. Kini ia membuka matanya untuk menatapku lekat.
Theala masih setia dengan diam, masih sibuk dengan isi pikirannya sendiri guna mencerna apa yang di maksud oleh suaminya. Seakan memberi waktu untuk Harvey melanjutkan penjelasannya.
"Kau bilang ingin terus berkerja, kan? Nah, itu ku kasih satu perusahaan yang cukup besar lah buatmu, ya... Meskipun masih jauh kalau dibandingkan perusahaan milik William," ujar Harvey dengan santai penuh keangkuhan.
"Tapi Tuan, apakah bisa disebut anda memberikan perusahaan kalau dari awal perusahaan ini milik keluarga saya?"
Baiklah, sepertinya aku memang sudah bosan hidup. Mengajukan pertanyaan berbahaya, kemarin Tuan Kai yang buas tenang seperti buaya, dan sekarang Tuan Harvey yang buas seram seperti singa.
"Ckck keluarga apanya?" decihnya sinis dengan tatapan meremehkan, dan bangkit berlalu keluar dari kamar.
Entah, aku harus marah atau malah harus berterima kasih. Aku tidak bisa memahami sosok suamiku itu, yang sudah ku nikahi hampir satu tahun lamanya.
...•••HATE•••...