
Harvey
"Tuan, Lay melampirkan foto Nyonya saat peresmian Hotel, apa anda mau lihat?" ujar Kai setelah melapor pekerjaan seperti biasa, ia juga akan melapor tentang Theala setelahnya.
"Buka dan langsung hapus," ucap Harvey dengan nada bicara dingin.
Aku langsung menutup laptopku yang penuh dengan laporan-laporan pekerjaan yang harus ku periksa sebelum ku setujui. Mendengar nama itu lagi membuatku tidak bisa melanjutkan untuk terus bekerja.
Kemudian aku memutuskan untuk berhenti sejenak, keluar dari ruangan ku menuju balkon untuk menikmati pemandangan kota sembari menyulut sebatang rokok.
"....Theala," gumam Harvey, nama itu selalu berhasil memenuhi kepalanya.
Dia pasti sedang tersenyum kan di foto itu?
Karena Theala mendapat banyak pengakuan atas keberhasilannya memimpin perusahaan dan dari hal yang dia sukai itu -bekerja.
Kalau sekali saja aku melihat fotonya, bisa-bisa aku langsung kembali ke Korea. Aku harus menjauh dari Theala sebisa mungkin, memutuskan untuk ke Italy adalah pilihan yang tepat.
Meskipun, aku tidak bisa melupakannya tapi aku bisa pura-pura merasa baik-baik saja disini.
Sebatas merindukannya seorang diri, tidak apa-apa, bukan?
"Aku rindu. Sangat rindu. Aku merindukanmu, Theala," gumam Harvey setelah menghembuskan asap terakhir dari rokok yang ia sulut.
...•••HATE•••...
Theala
Dua bulan kemudian.
Sarnidia, Italy. Hotel Queila.
"Aku datang ke Italy..." gumam Theala saat baru saja masuk ke dalam kamar dan terduduk bersender dibalik pintu.
Tidak mungkin! Kok bisa?!
Ini mimpi atau kenyataan?!
"Theala kau hebat~~" teriak Theala girang sembari melemparkan diri ke tempat tidur.
Drrrt Drrrt
...📞Lay is calling...
"Halo?" sapa Theala setelah menjawab telepon.
"Nyonya, sudah sampai disana?" tanya Lay.
"Sudah! Italy sangat cantik. Saya jadi tahu kenapa orang-orang suka Italy," jawab Theala penuh antusias.
"Apa sudah bertemu Tuan Harvey?" tanya Lay memastikan.
"Aduh... Kak Lay! Kalau mau langsung bertemu kenapa juga saya harus meminta kalian untuk merahasiakannya?" balas Theala.
"Kalau begitu anda harus segera menemuinya, kalau tidak bisa-bisa tidak bisa bertemu dengan Tuan Harvey," jelas Lay dengan nada bicara khawatir.
"Maaf ya harus membuat kak Lay dan Ketua sekongkol dengan saya. Habisnya saya ingin sekali mengejutkan Tuan Harvey," ucap Theala dengan rasa bersalah.
"Pokoknya anda harus segera pulang kalau besok tidak juga menemui Tuan Harvey. Dan keputusan Nyonya kesana sendirian itu sangat berbahaya!"
Lagi-lagi Lay meninggikan suaranya saat dia merasa khawatir.
"Baik! Theala mengerti~~" ucap Theala sebelum memutus sambungan telepon.
Aku sudah datang dari jauh untuk menemuinya, kalau dia tetap tidak mau menemui ku karena pekerjaan aku akan langsung...
Meminta cerai!
Aku datang hanya untuk menyadarkannya tentang hal itu. Akan ku perlihatkan dengan jelas padanya, kalau dia tidak bisa memperlakukanku seperti dulu lagi dan terlebih lagi sebagai manusia transparan seperti ini.
**
Keesokan harinya.
Kalau begini tidak masalah kan dalam menarik perhatian?
Sekarang aku sudah bersiap dan menatap ke kaca dengan mengenakan mini dress berwana hitam, lengkap dengan sepaket perhiasan berlian hadiah darinya, tidak ketinggalan dengan make up yang sengaja sedikit ku tebalkan dari makeupku biasanya, dengan sepatu heels berhak 5 cm mendukung kakiku terlihat lebih jenjang.
Aku akan berdiri di hadapan Harvey sebagai Theala yang baru!
Tekatku penuh kepercayaan diri bahwa aku pasti bisa melakukannya.
**
Convention Hall Hotel Queila.
"Mrs. Theala, can you speak English?"
tanya seorang karyawan Hotel.
(Nyonya Theala, apa anda bisa berbicara dalam bahasa Inggris?)
"Yes, i do," jawab Theala seadanya.
(Iya, aku bisa.)
"Please follow me, party already start at second floor," ucap karyawan itu.
Aku mengikuti langkahnya untuk bergabung ke dalam pesta. Sebenarnya ini adalah pesta kolega bisnis, aku sengaja meminta undangan dan Tuan Lay menyanggupi itu.
Namanya memang after party, tapi sebenarnya ini adalah acara penting dimana para pemilik dan executive perusahan, hingga tamu VIP yang bersangkutan ikut hadir untuk saling menjalin koneksi bisnis atau sekadar hanya ikut meramaikannya saja.
Dan tentu saja, tanpa adanya undangan tidak akan bisa masuk ke dalam acara ini.
"Mrs. Theala, please come in and take your time as well," ujar karyawan Hotel itu pamit.
(Nyonya Theala, silahkan masuk dan silahkan bersenang-senang.)
Aku hanya membalasnya dengan anggukan kecil dan tersenyum hangat padanya, dan ia bergegas pergi.
Wah... Seperti istana Italy!
Aku menatap kemegahan di dalam convention hall Hotel itu.
Rasanya aku seperti jadi orang pinggiran, semua tamu-tamu disini berpenampilan glamor.
Ah, tidak bisa!
Justru disaat seperti ini aku harus percaya diri!
Ah, aku jadi lapar karena terlalu tegang...
Aku beralih ke buffet makanan berada, aku memilih beberapa cupcake dan segelas whisky.
Setidaknya bisa meredakan rasa laparku, aku tidak boleh fokus makan.
Tujuanku adalah Harvey.
"Rambut hitam? Aku pikir hanya aku yang orang Asia disini," gumam Theala.
Sesaat aku melihat sosok pria dengan seorang wanita cantik berjalan disampingnya dengan merangkul lengan pria itu yang baru saja memasuki hall dari pintu utama.
Tunggu...
"...Harvey?!" gumam Theala mengenali sosok pria barusan.
Padahal aku sudah khawatir apakah dia dihantui mimpi buruk atau ditekan rasa bersalah atas perbuatannya padaku selama ini.
Apakah dia makan dengan benar dan sehat-sehat saja selama ini?
Aku sudah mengkhawatirkan segalanya tentang dia!
Ternyata semuanya percuma...
Dia terlihat sangat baik-baik saja. Dia benar-benar hidup dengan baik di Italy. Itupun sangat terlihat baik dengan bersama wanita bule cantik disampingnya.
Ingin sekali aku menghampirinya dan memberinya beberapa pukulan dari beberapa seni beladiri yang sudah ku pelajari selama tiga tahun ini.
"Pokoknya hari ini aku tidak akan melepaskanmu walau harus mengejarmu sampai ke tempat tidur!" ucap wanita bule yang sedang bersama Harvey saat ini.
Aku mendengar samar-samar dari wanita bule itu pada Harvey, sayangnya aku tidak bisa mendengar kalimatnya yang sebelum itu.
Kraakk
Oh, tidak! Sepertinya hatiku sudah tidak utuh lagi setelah mendengar omongan wanita bule itu ke suamiku.
Ah... Kenapa juga aku harus belajar bahasa Inggris!
Sekarang aku menyesali akan hal itu, walaupun pekerjaanku sekarang mengharuskan aku untuk bisa berbahasa Inggris juga.
Mataku masih terfokus ke arah mereka berdua, kemana pun kaki mereka beranjak hingga mereka berhenti untuk duduk disalah satu meja disana.
Dan ku lihat, Harvey mempersilahkan duduk wanita itu dengan menarik kursi untuknya.
"Sial!" gumam Theala kesal.
Melihat mereka terlihat sangat akrab seperti itu, sepertinya hubungan mereka dekat.
Nyuut
Hatiku terasa sakit saat memikirkan tentang hubungan mereka berdua, dipikiranku pun muncul hal-hal yang sangat mengerikan.
Salah satunya adalah apa mungkin Harvey selama disini juga sering tidur dengan wanita itu?
Ada apa denganku?
Memangnya siapa laki-laki itu, bahkan dia bukan suamiku betulan.
Aku tidak benar-benar mencintainya, ini hanya terbawa perasaan karena dia sudah memberiku perlindungan dan kekayaan.
Iya, pasti begitu!
Plakk
Aku menampar kedua pipiku agar segera tersadar dari lamunanku.
Ayo tenang, pestanya belum berakhir.
Masih ada kesempatan untuk memperlihatkan kepadanya, siapa Theala yang sekarang!
...•••HATE•••...