
Dengan menggunakan helikopter lantas mereka bertamu ke kota-kota lain, mengunjungi tempat-tempat yang terkenal di Italy.
Harvey dan Theala melanjutkan dengan jalan-jalan malam ke menara Pisa, kota Pisa, Italy. Sebelum harus kembali ke hotel untuk beristirahat, karena sekarang sudah hampir tengah malam.
"Disini sangat indah ya, suasananya ramai juga, pantas saja kau betah tinggal disini..." ujar Theala yang dengan gembira mengedarkan pandangannya dan melangkah dengan ceria.
"Aku disini untuk berkerja. Kalau bukan karena kau, mungkin aku tidak akan pernah membuang waktuku seperti ini," jelas Harvey yang berjalan disamping Theala.
Theala pun menghentikan langkahnya, dan menarik lengan Harvey. Kemudian bertanya sembari menengadahkan telapak tangannya.
"Kau punya sapu tangan?"
"Kenapa?" tanya Harvey yang heran dengan permintaan tiba-tiba Theala.
"Tidak usah bertanya, cepat berikan padaku," ujar Theala yang sudah tidak sabar.
Kemudian Harvey menurut dan memberikan apa yang di minta istrinya. Theala pun mengambil sikap tegap dengan melepas alas kakinya setelah menerima sapu tangan itu.
"Aku akan menarikan tarian *Cheoyongmu untukmu. Jangan tertawa dan nikmati pertunjukanku saja!"
"Tarian... *Cheoyongmu?" tanya Harvey yang sedikit ragu.
"Tarian untuk melepaskan kebencian dan mencegah kemalangan," jawab Theala.
"Thea... Kau tidak perlu melakukan-- Ah, sudah terlambat," ujar Harvey yang ternyata Theala sama sekali tidak gentar untuk menghiburnya.
Malam itu di tengah keramaian menara Pisa, Theala menari dengan sangat indah dan terlihat sangat anggun.
Berkat pertunjukannya, Theala dan Harvey di sekelilingi orang banyak yang turut menonton tarian indah dari Theala. Harvey yang tidak rela istrinya menjadi tontonan orang banyak pun menggendong Theala untuk menjauh dari kerumunan itu.
"Tunggu! Sepatuku! Aku baru sekali memakainya!" keluh Theala yang memukul-mukul punggung Harvey digendongannya.
"Akan ku belikan 100 pasang sepatu baru," jawab Harvey yang terus melangkah.
Mereka berhenti di bangku beton di taman yang jaraknya tidak jauh dari tempat sebelumnya.
"Anu... Sekarang kau boleh menurunkanku kok," ujar Theala yang malu karena ia masih diatas pangkuan Harvey.
"Diam dan seperti ini saja," ucap Harvey yang lalu mengulum lembut bibir Theala yang terasa manis untuknya itu.
Ciuman itu bertahan untuk beberapa menit, hingga Theala mendorong wajah Harvey sedikit menjauh. Theala mengeluh dan lagi-lagi memukul dada Harvey.
"Kenapa kau menciumku?! Ada banyak orang yang melihat kita disini!"
"Kau kenapa gemar sekali melakukan kekerasan dalam rumah tangga, sih?!" keluh Harvey menatap tidak suka ke Theala.
"Karena kau pantas mendapatkan itu!" jawab Theala melengos dengan mencibikan bibirnya.
"Mi dispiace, siamo sposini coreani che non sono sposati da molto tempo."
(Maaf, kami pengantin baru dari Korea yang belum lama menikah.)
Harvey dengan santun menyapa ke sekeliling mereka yang sedang memperhatikan mereka disana.
"Apa yang kau katakan?" tanya Theala.
"Aku bilang, aku sangat mencintai istriku dan terus ingin menciumnya," jawab Harvey menatap kedua manik hitam milik Theala lekat.
"Cih! Kalau gitu cium aku lagi! Kalau kau sebegitu inginnya!"
Pertanyaan Theala membuat Harvey tertawa renyah, mungkin Harvey merasa sangat gemas dengan Theala saat ini.
Namun, berbeda dengan Theala yang malah mengerutkan keningnya, setelah mendapat respon Harvey yang menurutnya sama sekali tidak menggubris kalimatnya.
"Kalau begitu aku saja yang melakukannya!"
Setelah Theala mengucapkan kalimatnya, ia pun dengan agresif mengulum bibir Harvey dengan begitu dalam, ciuman lembut dan penuh gairah.
Seperti takdir yang mendukung situasi mereka berdua, beberapa letusan kembang api pun turut merayakan adegan romantis pasangan suami istri itu, yang sebelumnya tidak pernah melakukan hal-hal yang berbau romantis salah satunya seperti saat ini.
Seakan melupakan keadaan sekitarnya yang sedang ramai orang berlalu-lalang.
Ciuman panas itu pun terhenti ketika Harvey menyadari bahwa Theala sedari tadi menahan nafasnya.
"Hei! Bernafaslah! Apa kau bodoh?! Cepat ikuti aku.... Hirup... Buang... Nah pintar... Terus seperti itu..."
Harvey yang menuntun Theala mengingat kembali cara untuk bernafas. Dan intruksinya diikuti Theala dengan sangat baik.
Setelah Theala benar-benar kembali bernafas dengan normal, mereka berdua melanjutkan jalan-jalan malam mereka menembus dinginnya angin malam yang berhembus.
"Jadi, kau sering melakukan 'itu' dengan banyak perempuan?" tanya Theala tanpa menoleh pada Harvey yang berjalan disampingnya.
"Kenapa tiba-tiba jadi bahas itu?" tanya Harvey yang menoleh menatap Theala lekat.
"Harusnya sebelum bertemu denganmu aku mencobanya dengan pria lain, setidaknya untuk berciuman. Karena aku baru pernah melakukannya hanya denganmu," jelas Theala masih tanpa menoleh Harvey dan terus melangkahkan kakinya.
Deg
"Jadi, kau tidak suka dengan aku yang pintar di atas ranjang?" tanya Harvey yang kini menghadang dan menghentikan langkah Theala.
"M-mana mungkin tidak suka? Aku hanya merasa itu tidak adil!" jawab Theala gugup dengan wajah yang semu kemerahan.
"T-tidak butuh! Minggir! Katanya mau tunjukan rahasia besarmu itu?!" ucap Theala sembari mendorong tubuh Harvey menjauh darinya, dan ia pun berjalan mendahului Harvey menuju hotel dimana helikopter mereka terparkir di rooftopnya.
**
Harvey pun mengendarai helikopternya, melewati kota-kota di Italy dengan pemandangan lampu-lampu kota yang menghiasi gelapnya malam terlihat begitu indah bagi Theala yang melihatnya dari atas.
Dari suasana ramai dengan gemerlap lampu-lampu gedung, lantas mereka tiba melewati wilayah pantai yang jarang akan pemukiman bergedung tinggi dan menuju ke suatu pulau yang terletak di pinggiran Sarnidia.
Helikopter mereka pun turun dan mendarat disebuah halaman yang cukup luas.
"Ayo, turun," ujar Harvey mengulurkan tangan kanannya pada Theala.
"Kenapa kita disini? Siapa mereka?" tanya Theala yang sangat kebingungan dengan suasana baru tersebut.
"Kau bilang ingin mengenalku? Turunlah atau perlu aku gendong?" ujar Harvey yang sudah melepas jasnya dan diberikan pada Lucas disana.
Kemudian melipat lengan kemejanya, siap untuk menggendong tubuh Theala.
Namun, Theala hanya membalasnya dengan decihan kesal tak luput beserta raut wajah masam karena malas dengan tingkah Harvey yang menurutnya sangat menyebalkan itu.
Ia pun meraih ukuran tangan Harvey dan kemudian melangkahkan kakinya turun dari helikopter itu, yang tentu saja langsung disambut oleh para bawahan Harvey yang sudah berjejer sangat rapih disana.
Pandangan Theala mengedar untuk mencari sosok yang mungkin ia kenal, barangkali ada disana. Tetapi ternyata orang yang di carinya tak ada disela puluhan baris manusia disana.
"Selamat datang Nyonya," sapa serentak bawahan Harvey yang menyambut disana.
"Ah... Terima kasih banyak. Salam jumpa semuanya..."
Theala menyapa mengangguk-anggukan kepalanya kecil dengan senyuman ramahnya yang ia edarkan ke semua orang disana.
"Selamat datang Nyonya Theala, perkenalkan saya yang bernama Lucas."
Lucas memberi salam dengan membungkukan badan hormat pada Theala, setelah Nyonya Mudanya itu turun dari helikopter.
"Ah, jadi anda yang sering mengirim email padaku? Senang berjumpa dengan anda, Tuan Lucas," ujar Theala ramah dengan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, yang langsung dibalas Lucas dengan senang hati.
"Eheeem!"
Harvey yang tiba-tiba merusak suasana.
Kemudian dia meraih pinggang Theala agar menempel di sampingnya, lalu menatap Theala dan pandangan mereka bertaut.
"Bicaranya sopan sekali ya ke bawahan? Sedangkan dengan bos diatas bosnya malah tidak ada sopan-sopannya."
Bukannya Theala menjawab dengan ramah untuk menyenangkan hatinya, tetapi Harvey malah mendapat pukulan siku yang cukup keras dari Theala. Karena hal itu, membuat Harvey merintih kesakitan. Meskipun bagi Harvey pukulan itu sama sekali tidak terasa apa-apa.
Namun berkat sandiwaranya itu, Harvey berhasil mengambil perhatian Theala dan membuatnya khawatir karena merasa bersalah padanya.
Harvey pun terus melanjutkan sandiwara kecilnya itu sampai Theala benar-benar melupakan apa tujuannya ia dibawa kesana.
Lucas yang melihat Tuan Mudanya begitu mudahnya menipu Nyonya Mudanya, lantas ia pun turut ambil andil dalam sandiwara membodohi Theala.
"Nyonya Theala, tolong baringkan Tuan Harvey disini," ucap Lucas yang berpura-pura panik.
Lucas mengantar Harvey dan Theala ke salah satu kamar utama milik Harvey di mansion itu, setelah Lucas selesai memapah Harvey ia pun sedikit menjauh dari tempat tidur dan berdiri di samping nakas.
"Ah, iya baiklah," jawab Theala pada Lucas.
Kemudian perhatiannya beralih pada Harvey yang masih terlihat kesakitan, memeluk suaminya penuh kekhawatiran.
"Apa benar-benar sesakit itu? Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu seperti ini."
"Apa kau lupa, sekarang kau kan pemegang sabuk hitam di berbagai macam seni beladiri?!" ketus Harvey yang masih setia dengan sandiwaranya.
"Sebaiknya Nyonya Theala harus tinggal disini untuk malam ini agar Tuan Harvey sembuh dulu," saran Lucas yang berinisiatif mengundur terjadinya perang dunia ketiga, yang disebabkan pasangan suami istri tersebut.
"Apa tidak merepotkan?" tanya Theala polos pada Lucas yang masih berdiri tak jauh dari Harvey yang terbaring lemas disana.
"Merepotkan apanya, bodoh?! Ini kan rumah ku!" ketus Harvey dengan nada bicara kesal.
Namun, dibalas tatapan mata yang mengerikan dari Theala yang bahkan seorang yang lemah lembut, membuat Harvey bergidik ngeri dan menutup rapat mulutnya.
Harvey semakin menenggelamkan wajahnya di perut Theala yang masih memeluk Harvey erat, seperti bocah yang takut akan dimarahi oleh ibunya.
"Nyonya Theala tidak perlu berpikir banyak, anda juga beristirahatlah. Bila ada keperluan, anda bisa menekan remot di atas nakas, tombol hijau untuk memanggil pelayan dan tombol merah untuk memanggil saya atau pun Kai. Kalau begitu saya permisi," jelas Lucas yang berlalu pamit untuk undur diri dari hadapan mereka berdua, keluar dari kamar tersebut.
Setelah Lucas pergi dan menutup pintu kamar itu, Theala dengan sabar merawat Harvey yang dikiranya sakit betulan. Melepaskan sepatu, kemeja dan celananya, membasuhnya dengan handuk basah hingga menggantikan pakaian Harvey.
Kemudian mengoleskan minyak angin aroma terapi yang selalu ia bawa di dalam tasnya, pada luka lebam di perut Harvey yang disebabkan olehnya tadi.
Namun, percayalah meskipun itu terlihat lebam biru keunguan, luka itu sama sekali tidak terasa menyakitkan untuk seorang anak Mafia sekelas World Rider.
Sepertinya, di kehidupan sebelumnya Harvey adalah seorang pahlawan negara karena di kehidupan ini, dia memiliki istri sepolos dan secantik Theala. Tidak lupa juga, Harvey yang selalu dikelilingi orang-orang yang sangat setia mengabdi di bawah kepemimpinannya. Bahkan, mereka masih turut melakukan hal-hal bodoh untuk mendukung Tuan Mudanya itu.
...•••...
*Tarian Cheoyongmu adalah tarian rakyat Korea untuk menolak bala, mengusir roh jahat, dan doa ketenangan.
...•••HATE•••...