
Theala
Esok hari.
Masih di rumah sakit Regina.
"Padahal tidak ada patah tulang dan hanya luka lecet juga lebam, tapi kenapa sampai harus menginap di rumah sakit?! Itu pun kamar VVIP! Arrgh~ baru tinggal semalam aku sudah hampir mati karena bosan!" gumam Theala kesal, ia berbicara sendirian di dalam kamar inapnya.
"Makanya, kenapa kau lari-lari?" ucap Harvey tiba-tiba dengan nada dingin saat melangkahkan kakinya hendak masuk, yang saat itu mendengar celoteh Theala.
"Astaga!" jantung Theala seakan mau lepas saking terkejutnya.
"Dasar bodoh! Bisa tidak sih kau tidak membuat masalah dalam sehari saja? Tolong kau diam saja dan nikmati hidup sebagai Nyonya Muda William. Oke?"
Harvey melepaskan jasnya dan ia sandarkan di sofa, lalu ia berbalik melangkah sembari melipat lengan kemejanya, mendekat pada Theala yang masih terduduk diatas ranjang pasien.
Melihat sikapnya yang seperti ini, bagaimana aku bisa mengatakan yang sebenarnya.
Theala hanya sibuk bermonolog di dalam hatinya, memandangi wajah tampan Harvey yang seakan menunjukkan ekspresi khawatir namun dengan keras dia sengaja menutupi hal itu.
"Jangan pernah berpikir untuk kau keluar dari rumah sakit sampai lukamu sembuh total!" ceramah Harvey.
"Kan cuma lecet..." Theala menjawab seadanya.
"Cuma? Kau berdarah! Sampai harus menerima dua jahitan!" geram Harvey tidak Terima dengan jawaban Theala.
"Ehem, permisi Tuan Harvey dan--" sapa seorang dokter pria yang memasuki kamar rawat Theala.
Dokter pria berparas tampan, lengkap dengan ekspresi wajah dingin yang melekat pada dirinya menjadikan hal tersebut sebagai ciri khas dan daya tarik tersendiri untuknya.
Kira-kira usianya tidak jauh berbeda dengan Harvey William.
Dokter tersebut bernama Dio Tjandra, anak dari keluarga Tjandra, ia termasuk dokter terbaik dan juga Direktur utama rumah sakit Regina termuda.
Rumah sakit ternama di negeri tersebut.
"Nona ini, kan?!" sambung Dio Tjandra saat matanya menangkap sosok Theala, melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus tadi, "Apa kabar Nona? Sudah lama ya?"
"Kalian saling kenal?" Harvey menatap lekat dokter Dio.
"Iya," jawab Dio kompak bersama Theala yang menjawab.
"Tidak."
"Hei kalian cari mati? Jawab dengan benar!" dengus Harvey kesal mendengar jawaban keduanya yang tidak sinkron.
"Maaf dokter, tapi saya benar-benar tidak mengingat bahwa saya pernah bertemu anda," ucap Theala sopan.
"Ah... Benar juga, saat itu aku hanya tertarik saat melihatmu. Melihatmu rapuh karena harus kehilangan janin yang kau kandung, sedangkan statusmu di data saat itu kau belum menikah," jelas Dio mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.
Ketika ia mendapati seorang pasien gadis yang cantik natural, berhasil mencuri perhatiannya.
"Hei, kau bosan hidup?! Berani tertarik dengan istriku?!" pekik Harvey yang kini memegang kerah kemeja Dio.
"Dan apa maksud dengan Theala pernah keguguran?!"
Seperti kilatan petir yang menyambar pada siang hari yang cerah bagi Theala. Aib yang sudah ia simpan rapat akhirnya terbongkar secara tidak terduga.
Ah... Bukan aib juga, dapat terbilang itu adalah kebenaran yang sudah Theala sembunyikan dan pendam sangat dalam.
Sangat menyakitkan untuk mengingat hal yang telah membuatnya hidup seperti manusia tanpa jiwa.
"Harvey hei, tenanglah aku yakin dulu dia masih berstatus belum menikah, dan itu dulu hanya sebatas tertarik karena sepertinya dia sangat rapuh dan butuh seseorang untuk bersandar," jelas Dio.
Dio Tjandra adalah teman kuliah Harvey, jadi terkadang mereka bisa leluasa berbicara dengan akrab. Seperti panggilan tanpa embel-embel panggilan Tuan.
"Jelaskan!" kini Harvey memfokuskan kedua bola mata tajamnya ke arah Theala, menatap mata Theala seperti pisau tajam yang akan siap menusuk.
"Benar, saya pernah mengalami keguguran beberapa bulan yang lalu," jawab Theala menundukkan wajahnya.
"Jangan-jangan saat dulu kau sedang dirawat di rumah sakit itu--?" tebakan Harvey terputus oleh jawaban Theala yang membenarkan hal tersebut.
"Benar Tuan...."
"Jadi selama ini kau sebenarnya punya pacar di luar sana?!" tanya Harvey geram.
"Hei.. Aku masih disini, aku harus memeriksa--" ucap Dio terputus.
"Diam!" ucap Harvey memutus kalimat Dio.
"Lalu, anak siapa?!" tanyanya masih setia menatap kedua mata Theala intens.
"A-anak Tuan Harvey..." jawab Theala jujur dengan ragu akhirnya ia menceritakan rahasianya juga.
Harvey lagi-lagi kalang-kabut menyambar barang-barang yang berada di kamar rawat tersebut, mengacak rambutnya kasar penuh emosi, nampak Harvey benar-benar merasa frustasi dengan apa yang sudah ia dengar barusan.
"Hal seperti itu sudah lama terjadi dan mungkin tidak akan mempengaruhi di kehidupan saya ke depan. Jadi saya yakin hal seperti itu tidak akan terjadi la--" ucapan Theala pun ikut terputus.
"Makanya tidak boleh!" ucap Harvey.
Harvey tiba-tiba terdiam dari amukannya, menundukkan kepalanya menjatuhkan pandangannya ke bawah, atmosfer di kamar tersebut tiba-tiba terasa mencekam karena aura dari salah satu orang di ruang itu, Harvey William.
"Selama kau bersama denganku kau tidak boleh terluka sama sekali!" ucap Harvey memecah keheningan ketiganya.
Harvey yang masih frustasi memutuskan keluar dari kamar pasien dengan membanting pintu kencang saat menutupnya.
"Dokter, saya baru pertama kali mendapat perlindungan lebay seperti ini," kini Theala berani membuka mulutnya.
"Nona... Ah, bukan. Nyonya... Tahan ya satu minggu walau membosankan," Ucap Dio.
"Dokter, apa tidak bisa anda bicarakan bersama Tuan Harvey?" mata Theala membentuk puppy eyes.
"Tolong jangan berharap," jawab Dio dengan senyum dinginnya.
"Arrgh menyebalkan! Saya kan cuma luka lecet dan memar saja, kenapa harus berdiam di rumah sakit selama satu minggu!" dengus Theala kesal.
"Mungkin bisa lebih dari satu minggu, karena kasus Nyonya yang pernah mengalami keguguran," timpal Dio dengan nada bicara khasnya yang dingin dan datar.
"A-apa kata dokter?! Itu kan sudah lama sekali, lagi pula pemeriksaan saat itu tidak ada hal yang serius," jawab Theala mengeluh.
"Tolong Nyonya berlapang dada dan mengerti sikap perhatian dari Tuan Harvey. Saya permisi ya," Dio meninggalkan Theala yang nampak kini gilirannya yang terlihat sangat frustasi.
...***...
Beberapa hari kemudian.
"Arrghh!" teriak Theala dengan menjambak rambutnya frustasi.
"Nyonya, apa ada yang sakit?" tanya Dio yang kaget karena merasa ia hanya menyuntikan vitamin ke dalam saluran infus, harusnya tidak akan menimbulkan rasa sakit.
"Dokter, justru karena saya baik-baik saja, itu masalahnya!"
Mata Theala berkaca-kaca, meratapi nasibnya yang harus di pasang infus hanya karena permasalahan kemarin tentang dirinya yang pernah mengalami keguguran beberapa bulan yang lalu, sebab saat ia masuk rumah sakit karena lecetnya ia tidak dipasang infus.
"Saya bosan sekali. Bisa-bisa saya betulan mati kebosanan, karena diperlakukan seperti sedang sakit parah seperti ini. Apa lagi harus di rawat langsung di bawah pengawasan dokter terbaik bahkan Dirut rumah sakit ini."
Keluh Theala yang meratapi nasibnya yang ternyata bisa menjadi rumit hanya karena ia luka lecet dan baiklah keguguran adalah kasus yang penting.
Namun, pemeriksaan tidak menunjukan sesuatu yang serius juga.
"Lakukan sesuatu, dokter~~" kini Theala bahkan merengek meminta belas kasih dari seorang Dio Tjandra.
"Mungkin ini adalah cara seorang Harvey William menunjukan cinta kasihnya kepada wanita spesialnya, yaitu Nyonya Theala."
Lagi-lagi Dio sama sekali tidak tertarik ikut campur dalam drama yang dibuat Harvey untuk Theala.
Cih, cinta kasih apanya?
Melirikku sebagai wanita saja tidak pernah. Tahu tidak?! Tuan Harvey hanya melihatku sebagai boneka! Boneka!
Arrgh!! Percuma... Aku harus dipenjara di kamar pasien ini entah sampai kapan.
Monolog-monolog Theala yang tidak kuasa lagi ia ucapkan.
Ia pasrah, menelan ludahnya kelu, meratapi nasib bahwa sekarang hidupnya sudah bukan lagi miliknya, melainkan dibawah kuasa Harvey yang tidak lain adalah suaminya.
...•••HATE•••...