
Harvey mulai mengerjapkan matanya, bangun dari tidur lelapnya berkat terlalu kelelahan. Tangan kanannya menggerayang kesisi samping tempatnya berbaring, mencari keberadaan Theala yang biasa tertidur di sebelahnya.
"Thea! Kau sudah bangun?"
Beberapa saat Harvey kembali mengatakan sesuatu,
"Hei! Apa kau tuli?!"
"Thea! Dimana kau?!" kali ini Harvey terbangun duduk dari tidurnya.
Beberapa menit kemudian ketika kesadarannya sudah benar-benar pulih,
"Ah, Harvey kau sangat bodoh! Theala kan menghilangkan diri entah dimana?! GPS-nya mati setelah di lacak ke lokasi. Bahkan, sekarang dia benar-benar belum menghubungi ku balik," gumam Harvey saat sudah kembali mengingat kejadian kemarin, ia juga memeriksa ponselnya kalau-kalau sudah ada kabar dari Theala.
Karena adanya rapat penting di perusahaan, mau tidak mau Harvey harus menunda untuk ikut melanjutkan pencariannya dan mempercayakannya kepada Kai, juga Hansen untuk pencarian Theala segala perintah koordinasi ada dibalik kendali mereka berdua.
Sedangkan Harvey harus segera bersiap berangkat ke kantor untuk menghadiri rapat, sebenarnya Hansen juga harus ikut dalam rapat tersebut. Namun, kehadiran Harvey saja sudah cukup untuk perwakilan sebagai Direktur Utama World grup.
Perusahaan World kantor pusat, tempat dimana Harvey dan Hansen bekerja mengelola World grup.
"Apa?! Hasil rapat kau harus ke anak perusahaan World Group yang di Georgia?" ucap Hansen melalui obrolan telepon.
"Iya, aku harus berangkat sendiri untuk memeriksa semuanya. Bagaimana kabar Theala?" ujar Harvey.
"Hei, aku penasaran tentang sesuatu."
"Apa lagi?" tanya Harvey malas.
"Kau benar-benar jatuh cinta pada Thea?" tanya Hansen ingin tahu.
"Thea! Thea! Theala! Panggil dia Theala! Memang kau sedekat apa dengannya, memanggilnya Thea!" geram Harvey out of the topic.
"Ya, ya, ya, Theala! Jawab cepat! Aku sangat penasaran," ucap Hansen.
"Lebih baik pergunakan waktumu untuk hal-hal yang penting saja. Sudah, akan ku matikan. Aku sedang menyetir sekarang."
"Hati-hati! Tentang Theala aku akan mengabarimu secepatnya, dan bila kau ada kesulitan disana beritahu aku juga, atau Kai," ujar Hansen.
"Baiklah! Tentang pertanyaanmu tadi, tidak. Aku tidak memiliki perasaan apa pun untuk Theala. Hanya saja, aku takut dia akan menghancurkan rencanaku untuk menghancurkan keluarganya," perjelas Harvey.
"Nah, kalau terdengar seperti ini baru aku yakin ini benar kau. Aku sempat ragu sebelumnya, dan percayakan urusan ini kepadaku dan kau fokuslah untuk perusahaan terlebih dahulu," ucap Hansen lega.
"Baiklah! ponsel aku matikan," ucap Harvey sesaat sebelum mematikan panggilan telepon dari perangkat mobil.
Georgia, Amerika Serikat adalah daerah yang terkenal akan perkebunan anggur.
Salah satu anak perusahaan yang dimiliki World grup berada di tempat tersebut. Sebuah pabrik produksi minuman, World grup juga memiliki perkebunan di Georgia untuk bahan baku dari pembuatan minuman di pabriknya itu.
Perkebunan anggur merah seluas 3000 hektar di sepanjang jalan menuju lokasi pabrik, salah satu anak perusahaan milik World grup.
Jalur lalu lintas yang menuju ke pabrik sangat curam, karena daerah perbukitan dan perkebunan tentunya jalan tanjakan yang di kelilingi jurang tidak terelakan. Rawannya kecelakaan juga sangat tinggi, karena jarak pandang yang terbatas oleh kabut. Jalan yang tidak terlalu luas pun juga salah satu kendala rawannya kecelakaan di daerah tersebut.
Pabrik 2W atau WW atau juga Wine World.
Salah satu pabrik produksi wine terbesar di dunia karena resep pembuatannya yang berhasil menciptakan cita rasa wine yang sangat nikmat bagi para pecintanya.
Harvey tidak menunda-nunda pekerjaannya, bahkan tidak untuk sekedar istirahat dari perjalanan jauhnya, malah ia langsung melakukan inspeksi keseluruh bagian pabrik, dari pengolahan produksi hingga sampai bagian berkas-berkas perusahaan di pabrik itu.
Ia menemukan beberapa berkas yang sangat ganjal baginya, beberapa lembar berkas tersebut diambilnya dan disimpannya untuk dibawa ke kantor pusat demi pemeriksaan berkas lanjutan.
Tak berhenti disana, ia pun turut memeriksa perkebunan miliknya, memeriksa hasil panen dan juga pertumbuhan bibit pohon anggurnya. Bahkan ia sampai melupakan makan siangnya, rapat selesai tepat sebelum waktu makan siang.
Waktu sudah menunjukan pukul 07.00 malam.
Selama di Georgia Harvey sengaja mengatur ponselnya ke dalam mode senyap karena ingin fokus untuk inspeksi menyeluruh.
Harvey bergegas mengemudikan mobil kesayangannya, mobil Mercedes-Maybach Exelero warna hitam yang menemaninya semasa muda hingga dewasa.
Berbeda dengan Hansen yang memiliki selera mobil jeap besar yang gagah bak mobil penculik seperti di film-film mafia, minat Harvey tentang mobil lebih menyukai mobil tipe sedan sport yang menurutnya lebih nampak elegan ketika seseorang mengemudikannya.
Tiiiiiiiiinnn
Suara klakson truk bergema sangat kencang.
Duaaaarrr
Kecelakaan pun tak dapat terelakan lagi.
Kai yang mendapat kabar dari Hansen kalau terjadi kecelakaan besar di Georgia, Amerika Serikat, langsung mengabarkannya kembali kepada Ketua dan juga Theala, tentu dengan mencari informasi terlebih dahulu apakah tuan muda mereka salah satu korban dari kecelakaan itu.
Hansen pun menyusul Kai ke mansion kediaman William.
"Selamat malam paman, Kai," sapa Hansen sesaat setelah berlari memasuki rumah tersebut.
"Bagaimana, Han? Kau serius Harvey salah satunya?" tanya Louis memastikan.
"Benar paman, mobilnya terdaftar salah satu korban kecelakaan tersebut, saya sudah berulang-kali mencoba menghubungi Harvey tapi tidak ada jawaban terus, paman," jelas Hansen.
Theala yang tidak sengaja mendengar nama Harvey disebut juga mendengar adanya kecelakaan membuatnya penasaran lalu ia ikut bergabung dengan ketiga pria dewasa itu di ruang tengah.
"Apa maksudnya? Siapa yang kecelakaan?" tanya Theala yang tiba-tiba sudah berada di samping Hansen.
Hansen yang merasa kaget tiba-tiba ada sesosok perempuan di tengah mereka sedikit terlonjak, "Kau sudah pulang?" tanya Hansen heboh.
Hampir melupakan fakta Harvey yang mengalami kecelakaan, ia malah heboh membahas Theala disana. Karena Kai lupa mengabari Hansen dan Harvey tentang kepulangan Theala kembali setelah hilang satu malam tanpa kabar.
"Kai! Kenapa kau tidak memberitahuku soal Theala?!" ucap Hansen geram.
"Maaf, saya juga baru tahu, dan saat hendak memberitahu anda tetapi malah perusahaan terjadi masalah ditambah dengan kecelakaan Tuan Muda Harvey membuat fokus saya terpecah," jelas Kai yang merasa bersalah.
Louis hanya menyimak kehebohan anak-anak yang telah di besarkannya itu.
"TUAN MUDA HARVEY KECELAKAAN?!" teriakan Theala memecah kebisingan Kai dan Hansen.
"Theala! Tenanglah! ketahuilah Harvey bukan orang yang lemah. Mobilnya meledak pun, percayalah Harvey sebenarnya tetap bisa bertahan hidup," jawab Louis yang santai dengan menyeruput secangkir kopi hitam.
"Benar yang diucapkan Ketua, anda istirahat saja biar kami yang memeriksa keadaan di Georgia," jawab Kai.
"Tidak! Saya akan tetap ikut dengan kalian, Tuan. Ketua mohon ijinkan saya untuk ikut," pinta Theala dengan tulus.
"Baiklah! Biarkan Theala ikut, kita berangkat sekarang," ujar Louis.
Theala pun berlari mendahului ketiganya, menuju mobil-mobil yang terparkir di halaman depan rumah.
"Theala! Kau jadi ikut tidak?" seru Hansen.
"Saya ikut Tuan, makanya saya menunggu anda--" Theala cengo karena melihat ketiga pria itu bukannya berjalan mengikutinya menuju halaman depan rumah, malah ketiga pria itu sebaliknya, mereka berjalan menuju arah halaman belakang rumah.
Theala semakin cengo ketika matanya membulat lebar melihat helikopter-helikopter yang mesinnya sudah menyala, setidaknya terlihat ada tiga helikopter yang terparkir disana. Siap membawa mereka untuk menuju ke bandara terdekat.
...•••HATE•••...