
Beberapa jam kemudian.
Drrtt
"Tuan Harvey dari mana?" tanya Theala yang terbangun mendengar pintu kamar terbuka, dan melihat sosok Harvey yang ternyata membukanya.
"Menemui Dio."
"Tuan bicara apa dengan dokter? Tuan... Tidak meminta untuk memperpanjang rawat inap, kan?"
"Kau tinggal satu hari lagi di rumah sakit, kalau kondisimu membaik katanya kau sudah boleh pulang."
"Tuan, anda serius?" mata Theala berseri-seri, saking bahagianya.
"Kalau kau ingin terus disini juga tidak apa-apa," ucap Harvey datar.
"Tidak! Tidak mau! Saya sangat ingin pulang secepatnya!" seru Theala tanpa sadar melompat dari atas ranjang untuk turun ke bawah.
"Hei, hati-hati!" seru Harvey panik, takut Theala akan mendapat luka baru jika terjatuh lagi.
"Maaf," Theala menciut, takut kalau-kalau rawat inapnya akan di perpanjang.
"Tapi ada syaratnya," cetus Harvey.
"Syarat?" tanya Theala bingung, memangnya ada apa lagi sampai harus bersyarat.
"Berjanjilah kau akan mematuhi setiap aturan dariku."
"Bukankah saya dari awal sudah selalu mematuhinya, Tuan?" jawab Theala polos.
"Kali ini untuk kebaikanmu sendiri. Ngomong-ngomong sejak kapan kau sangat patuh dengan kata-kataku?"
"Aih~~ Tuan Harvey ini, saya kan memang selalu patuh," kini Theala pertama kalinya, bergelendotan dilengan Harvey dan menyandarkan kepalanya di pundak Harvey.
"Wah, sepertinya yang semalam masih kurang ya?" goda Harvey.
"Baiklah, aturan apa yang anda maksudkan tadi?" Theala mencoba mengalihkan perhatian.
"Kau akan tahu setelah tiba di rumah."
"Tidak bisakah anda memberitahukan kepada saya sekarang saja?" ucap Theala sedikit berseru karena Harvey mulai melangkah keluar dari pintu.
Harvey menyimpulkan sudut bibirnya setelah keluar dari kamar inap Theala, iya, dia tersenyum. Terlihat sangat tulus, sepertinya suasana hatinya sedang baik.
...***...
Theala
Keesokan harinya.
Hari dimana Theala sudah diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit.
Jangan tanya, apa memang semua konglomerat selalu bertindak berlebihan hanya karena luka yang terbilang sepele. Karena aku juga tidak tahu soal itu, baru kali ini, ini kali pertama aku menemui konglomerat yang kebingungan untuk membuang uangnya.
Bukankah rawat inap di rumah sakit Regina sangat mahal? Apa lagi dengan kamar VVIP? Sudah tak terhitung lagi berapa digit nol yang akan tertera di nota tagihan rumah sakitku selama lebih dari satu minggu rawat inap.
Tidak penting berapa pun biayanya. Toh bukan uang ku dan juga bukan keinginanku untuk menginap di rumah sakit selama itu.
Jadi aku tidak perlu merasa cemas dan bersalah kepada uang-uang yang sudah disia-siakan. Yang terpenting sekarang akhirnya aku keluar dari penjara berwujud rumah sakit! Aku akan langsung pergi bekerja hari ini! Aku sangat bersemangat.
Theala terlihat tidak pernah memudarkan senyumannya di sepanjang perjalanan pulangnya sejak keluar dari rumah sakit hingga ke mansion kediaman William.
Setibanya di area mansion, Theala disambut hangat oleh para pelayan dan juga langsung dilayani begitu baik, bahkan jauh lebih baik dari pada sebelumnya.
"Ketua, apa kabar?" sapa Theala yang melihat Louis William.
"Bagaimana luka mu?" tanya Louis.
"Nyonya Muda, anda ditunggu Tuan Muda Harvey di kamar," ucap seorang pelayan.
"Ah, baiklah, aku akan segera menemui suamiku~~" jawab Theala kepada pelayan.
"Ketua, saya pamit undur diri," pamit Theala sopan kepada Louis dan dibalas anggukan oleh Louis.
Sesampainya di kamar. Harvey terlihat sudah rapih dengan setelan jas berdasinya, nampak ia siap untuk pergi ke kantor. Keberadaannya yang masih di rumah, menandakan ia sedang menunggu Theala tiba di rumah.
"Tuan, anda belum berangkat?" tanya Theala, masih setia dengan senyum indahnya.
"Ini ponselmu," Harvey menyodorkan kardus ponsel keluaran paling terbaru yang masih bersegel.
"Ah, ngomong-ngomong tentang ponsel, benar juga saya kehilangan ponsel saya di rumah sakit. Waktu yang pas sekali saya mendapatkan hadiah ponsel dari anda. Terima kasih banyak," ucap Theala menerima kardus ponsel itu.
"Ponselmu aku buang," ujar Harvey datar.
"Oh.. Ternyata dibuang...." jawab Theala masih belum mencerna situasi, sekarang baru sadar.
"A-apa Tuan bilang?"
"Ponselmu sudah tidak layak pakai, jadi aku belikan yang baru. Sudah pakai itu saja," jawab Harvey, memudarkan senyuman di wajah Theala.
"Tuan... Ponsel saya itu baru saya beli satu tahun yang lalu, ketika saya menerima gaji pertama saya dari bekerja di perusahaan anda. Jadi, saya bisa pastikan bahwa ponsel saya masih sangat bagus dan layak di gunakan karena saya juga membeli ponsel keluaran terbaru tahun lalu. Dimana ponsel saya, Tuan?" ucap Theala panjang lebar.
"Ingat tentang yang aku bicarakan di rumah sakit?" tanya Harvey mengintimidasi.
Nyali Theala langsung menciut, tidak berani lagi untuk adu argument.
Tok Tok
Suara pintu kamar yang di ketuk dari luar oleh seseorang.
"Permisi, Tuan Harvey, permintaan anda sudah saya siapkan di luar," ucap Kai yang akhirnya menampakan diri setelah berhari-hari tidak terlihat.
"Terima kasih, Kai," jawab Harvey mengerti apa yang dimaksudkan Kai.
Seperti biasa hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Kai, ia pun berlalu keluar dari kamar. Disusul Harvey yang mengajak Theala agar mengikutinya. Theala pun patuh karena pikirnya untuk mengantar suaminya ke depan untuk pergi ke kantor.
Nampak seorang wanita dengan badan tinggi dan style yang menunjukkan pribadinya yang boyish namun tetap terlihat anggun menawan dengan balutan celana jeans dan kaos crop top berdenim army. Berdiri tegap, disamping mobil Audi R8 berwarna hitam.
Terlihat juga Kai yang ikut berdiri tegap disana, jaraknya tak jauh dari si gadis itu, menunggu Harvey.
Harvey yang sampai di halaman mansion, melirik sekilas mobil dan gadis itu, tatapannya kini beralih pada Kai menunggu penjelasan laporan dari tugas yang sudah diselesaikannya.
Kai pun membalas tatapan Harvey, mengerti arti tatapan yang diberikan Harvey padanya.
"Tuan, ini adalah mobil pesanan anda untuk Nyonya Theala. Ini adalah mobil pribadi anda mulai dari hari ini, Nyonya," jelas Kai, memamerkan sebuah mobil baru disana.
Lalu menyambung kembali penjelasannya.
"Lalu ini adalah pesanan anda untuk Nyonya Theala, dia adalah mantan anggota BIN yang bekerja di luar negeri. Dia juga termasuk anggota terbaik. Wanita ini adalah pengawal, asisten dan sekaligus sopir yang akan bekerja selama 24/7 untuk anda Nyonya Theala."
Sedangkan Harvey hanya manggut-manggut seakan benar paham dengan penjelasan-penjelasan Kai barusan. Theala melongo, masih bingung sebenarnya apa yang sudah terjadi di pagi hari itu.
"Kau di pecat!" ucap Harvey kepada Theala.
"A-apa?!" Theala semakin memasang wajah cengo masam mendengar soal pemecatannya yang sangat tiba-tiba.
"Anda sudah bukan lagi karyawan di World Group. Sebaiknya Nyonya segera kembali ke kamar untuk beristirahat, karena anda baru saja sembuh," timpal Kai mewakili Harvey.
"Aku baik-baik saja! Kenapa semua orang memperlakukan aku seperti orang yang sekarat?!" dengusnya kesal, sudah tidak peduli dengan tata krama yang mengharuskan ia berbicara dengan sopan.
...•••HATE•••...