
Theala
Semakin lama, semakin keterlaluan sikap pria itu! Huh ganteng doang tapi mentalnya kena.
Aku heran kenapa banyak wanita yang mengejarnya ckckck apa bagusnya hanya mengandalkan ketampanan seperti itu.
Ah aku lupa, hartanya!
Benar! ia kan sangat kaya. Yah memang hanya uang yang disebut segalanya.
Theala sudah menyelesaikan aktifitas paginya di dalam kamar, merapikan kamar dan tempat tidur, mandi dan berdandan meskipun ia hanya menggunakan liptint di bibir kecilnya.
Aku harus mencari cara agar Tuan Harvey mau menceraikanku secara baik-baik, jika pria itu marah hidupku sudah dapat dipastikan akan berakhir pada detik itu juga.
Orang itu benar-benar aneh seperti memiliki kepribadian ganda. Aku tidak dapat mengerti apa yang ada di dalam pikirannya. Terkadang ia dapat tiba-tiba bersikap sangat baik dan ramah.
Namun, juga dapat marah-marah tidak jelas tanpa alasan. Dan yang paling menyebalkan adalah senyumannya yang sangat licik itu!
Aku yakin di setiap senyumannya itu, pasti ada sesuatu dibaliknya.
Aku harus mencari sesuatu informasi untuk mempermudah semua rencana ku agar terbebas dari neraka cover surga ini.
Tapi kira-kira dimana aku bisa mendapatkan informasi tentang Tuan Harvey?
"Itu dia!" gumam Theala yang mendapati Kai Deverra tengah duduk di ruang tengah dengan secangkir kopi dan beberapa biskuit dihadapannya.
"Tuan Kai, selamat pagi," Theala menyapa dengan menyuguhkan senyum terindah hari itu.
"Selamat pagi Nyonya Theala," jawab Kai dengan senyum singkatnya dan kembali pada kesibukannya.
"Tuan Kai, maaf saya mengganggu anda. Bolehkan saya menanyakan sesuatu?" Theala menghampiri Kai dengan sangat hati-hati.
"Silahkan. Duduklah di sofa sebelah sana, Nyonya," jawab Kai.
"Apa anda tahu kenapa Tuan Harvey tiba-tiba menikahi saya?"
"Tidak."
"Tidak? Bagaimana mungkin anda tidak mengetahui alasan beliau?"
"Saya memang tidak tahu."
"Kalau tipe wanita Tuan Harvey yang seperti apa?"
"Anda ingin mengubah penampilan anda agar disukai Tuan Harvey?"
"Ah! Tidak! Bukan seperti itu! Baiklah, ini yang terakhir, wanita-wanita yang di kencani Tuan Harvey itu orang yang bagaimana?"
"Apa anda sedang cemburu?"
Tidak! Gila saja kenapa aku harus cemburu untuk pria tampan kaya raya yang kena mental seperti Tuanmu itu?!
"Saya harus pergi, permisi Nyonya," ucap Kai yang langsung pergi tanpa kesopanan.
"Tuan Kai, anda harus menjawab pertanyaan saya terlebih dahulu! Hei, Tuan Kai!" seru Theala menyusul Kai.
Namun, bukannya berhenti. Kai malah semakin memperkencang langkahnya dan berlalu dengan melajukan salah satu mobil di mansion tersebut.
"Huh! Orang itu ternyata lebih parah dari Tuannya! Hm... Sepertinya aku tahu siapa yang harus aku ulik informasi," gumam Theala yang mengingat masih ada satu orang lagi yang sepertinya akan lebih mudah untuk membantunya.
Tapi kemana saja sebenarnya Tuan Hansen, kenapa tidak pernah terlihat di mansion. Bahkan, Lisa juga tidak pernah masuk ke mansion. Karena aku tidak pernah keluar dari mansion.
Haruskah aku menelepon Tuan Hansen? Ah, tapi apa itu mungkin?
**
"Nyonya kenapa sampai datang kemari?"
"Memangnya kenapa? Apa ada larangan untuk aku keluar dari mansion karena pergi ke paviliun?"
"Bukan seperti itu Nyonya, harusnya saya yang menghampiri Nyonya di mansion. Anda tidak perlu repot kemari, ke rumah para pekerja mansion."
"Aiish! Kirain beneran ada larangannya jantungku sudah hampir copot saja, Lis!"
"Tapi Nyonya--"
"Aku bosan, ayo kita pergi ke perusahaan."
"Nyonya harus mendapat izin dahulu dari Tuan Harvey untuk keluar dari area mansion."
"Iya! Iya aku tahu! Lagipula kau juga pasti akan melaporkannya terlebih dahulu kan ke Tuan Kai sebelum mengiyakan permintaanku?"
"Maaf Nyonya, saya tidak bermaksud lain, saya hanya mematuhi SOP kerja saya."
"Baik Nyonya, saya akan membiasakan diri saya agar tidak kaku lagi."
"Bagus! Bersiaplah! Aku akan menunggumu di ruang tengah mansion."
"Baik Nyonya."
Setelah mendapatkan izin dari Kai Deverra, Lisa dan Theala pun bergegas menuju perusahaan pusat World Group dimana Harvey, Hansen, dan Kai bekerja mengendalikan semua anak perusahaan.
...•••HATE•••...
Kai
"Meeting hari ini kau yang menggantikan aku, oke Kai? Istriku sepertinya sangat merindukan aku hehehe," ucap Harvey yang sudah sangat percaya diri.
"Baik Tuan Harvey, bagaimana dengan Tuan Hansen?"
"Dia? Aku lebih percaya kau yang mengurus meeting dari pada orang sepertinya. Biarkan saja perusahaan ini menjadi tempat bermainnya. Jangan beri dia pekerjaan yang sulit, jika tidak ingin dihancurkan olehnya."
"Baik Tuan Harvey. Saya mengerti."
Sebenarnya perusahaan ini hanya tempat bermain untuk kalian berdua Tuan Muda. Hanya saja, anda lebih serius dalam bermain perusahan-perusahaannya karena anda mengincar World Hotel yang dibesarkan oleh mendiang ibu anda.
Kai pun pergi keluar dari ruangan Harvey untuk bersiap memimpin meeting menggantikan tugas Tuannya. Sedangkan disisi lain, Hansen sibuk di dalam kantornya dengan sekretaris barunya. Jangan menerka-nerka apa yang sedang mereka lakukan dibalik ruangan itu.
Theala dan Lisa yang sudah sampai di perusahaan juga ikut bergegas masuk dan menuju ke lantai dimana ruangan Harvey, Hansen, Kai berada.
...•••HATE•••...
Lisa
Namun bukannya langsung masuk ke ruangan milik Harvey, mereka berdua malah menuju ke lorong ruangan Hansen. Tanpa mengetahui bahwa Harvey sudah sangat menunggu kedatangannya.
Tok tok tok
"Tuan Hansen, permisi saya Thea--"
Theala melongo cengo seusai membuka pintu ruangan Hansen.
Dengan bodohnya ia tidak menutup lagi pintu itu untuk bergegas keluar dari ruangnya, malah terpaku dan terus memandangi pemandangan yang ada di hadapannya itu.
Hansen yang duduk di balik kursi kerjanya dengan memangku seorang wanita cantik berpakaian seperti seorang sekretaris yang kancingnya sudah amburadul tak karuan, jelas-jelas barusan mereka sedang menikmati waktu mereka.
"Nyonya Theala!"
Lisa yang tadi hanya berdiri disamping pintu dan tidak ikut masuk pun menyadari sesuatu kejanggalan, dan dengan sigap Lisa menarik tubuh Theala keluar dari ruangan dan menutup pintu itu kembali.
"Maafkan kami Tuan Hansen, ini kesalahan saya. Silahkan melanjutkan menikmati waktu anda," sambung Lisa sedikit berseru dari balik pintu di luar ruangan tersebut.
"Nyonya Theala tidak apa-apa?"
Lisa yang khawatir karena Theala masih bengong.
"Nyonya Theala, apa anda masih disini?" Lisa mulai menggoyangkan tubuh Theala perlahan.
"Ah! Lisa! Gila! Mataku sudah tidak suci lagi kyaaa..." ucap Theala sambil menutup kedua matanya dengan telapak tangannya.
Tapi Nyonya, mata anda memang sudah tidak suci semenjak anda menikah karena anda pasti sering melihat sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari ini.
"Lisa, apa kita salah memasuki gedung?"
"Maksud Nyonya?"
"Sepertinya kita memasuki hotel, bukan perusahaan World Group," jawab Theala masih dengan tatapan kosong.
"Tapi Nyonya, kita tidak salah gedung."
Huh! Nyonya Theala kenapa tiba-tiba seperti ini?
Bukankah dulu saat anda masih bekerja sebagai sekretaris Tuan Harvey juga sering melakukannya dengan Tuan Harvey?
Sampai akhirnya Tuan Harvey jatuh cinta dan menikahi anda?
"Theala, masuklah, apa kalian masih di luar sana?" terdengar suara Hansen memanggil.
"Benar Tuan Hansen, kami masih disini. Nyonya silahkan masuk, saya akan menunggu disini."
Tidak berselang lama setelah Lisa mengatakan hal tersebut, wanita yang tadi bersama dengan Hansen keluar dari ruangan itu. Dan digantikan Theala yang kini beranjak masuk ke dalam.
...•••HATE•••...