HATE

HATE
29



Theala


Harum masakan dengan menu sehat, tak lupa potongan beberapa jenis buah, sudah tertata rapih ke dalam wadah bekal makanan yang diletakan diatas meja makan.


Theala baru keluar dari kamarnya, nampak rambutnya yang masih sedikit basah terlihat ia baru saja selesai mandi untuk membersihkan badannya setelah memasak. Ia bergegas menuju meja makan lalu memasukan kotak-kotak wadah bekal makanan itu ke dalam paper bag, menumpuknya rapih.


"Nyonya Muda, mobil sudah siap," ucap salah satu sopir keluarga William.


"Ah, baik. Tolong tunggu sebentar ya..." jawab Theala ramah. Memang gadis yang baik, ia bahkan tetap berlaku dan berbicara sopan kepada para karyawan kediaman William, walau pun sekarang ia adalah seorang Nyonya Harvey.


Theala berjalan menuju ruang tengah, ruang bersantai dan berkumpulnya keluarga, dapat terbilang ruangan tersebut juga ruang utama keluarga di dalam mansion tersebut. Tidak lupa dengan tentengan paper bag berisikan bekal makan malam untuknya dan Harvey, dan yang paling penting adalah baju ganti untuknya.


Terlihat Louis William sedang duduk di sofa ditemani secangkir kopi, ia menyibukkan diri dengan iPad digenggamannya.


"Ketua, saya ijin pamit untuk pergi ke rumah sakit," ucap Theala sopan dengan nada lemah lembut kepada Louis, ayah mertuanya.


"Tapi ini sudah hampir malam, ada perlu apa kau pergi kesana?" tanya Louis.


"Maaf sebelumnya, Ketua. Maka dari itu saya harus segera kembali ke rumah sakit untuk menemani Tuan Muda Harvey dan menginap disana," jawab Theala menjelaskan maksudnya.


"Wow!" seru Louis kagum sembari mengalihkan tangannya bertepuk tangan.


Sedangkan Theala yang menyaksikan keanehan dari tingkah ayah mertuanya itu malah memasang ekspresi cengo. Bingung, apa ada sesuatu yang salah dari niat baiknya ingin melayani suami dengan baik sebagai seorang istri.


"Harvey! Anak ku! Benar-benar mendapat jackpot!" ucap Louis lagi.


Semakin membuat Theala kebingungan, sebenarnya apa yang dimaksud oleh ayah mertuanya sedari tadi.


"Kalau begitu cepat pergilah dan hati-hati di jalan," jawab Louis yang kembali beralih dengan yang dilakukannya sebelumnya.


"Terima kasih banyak, Ketua. Saya permisi, selamat beristirahat," pamit Theala.


Mobil Audi R8 V10 berwarna hitam terparkir tepat di depan pintu utama, mesin sudah menyala, beserta sopir yang sudah berada dibalik setir kemudi.


"Kenapa pakai mobil ini, pak?" tanya Theala heran karena ia diantar menggunakan mobil sport.


"Maaf Nyonya Muda, Tuan Muda minta di kirim mobil ini, jadi sekalian saya memakai mobil ini untuk mengantar anda," jawab si sopir.


"Loh? Terus bapak kembali pulang ke mansion bagaimana?" tanya Theala.


"Saya kembali dengan taxi, Nyonya Muda," jawab si sopir, mulai melajukan mobilnya berangkat menuju rumah sakit.


Begitu ternyata cara kerjanya para karyawan konglomerat, hmm tidak jauh berbeda dengan orang kaya pada umumnya sih ya...


**


Mobil berhenti di pintu masuk rumah sakit, setelahnya sopir melajukan kembali mobil itu menuju ke tempat parkir VVIP, salah satu fasilitas yang ada di rumah sakit itu.


Rumah sakit Regina.


Sesampainya Theala di kamar pasien Harvey, ia menata barang-barang bawaannya dengan sangat hati-hati, sangat pelan pergerakannya, sengaja agar ia tidak membangunkan suaminya yang masih terlelap pulas.


Makan malam sudah siap ditatanya diatas meja nakas samping ranjang pasien.


Sudah dua hari Harvey dirawat dan harus tinggal di rumah sakit, tepatnya dua hari satu malam, karena luka tusukannya ia lumayan cukup kehilangan banyak darah. Sehingga ia perlu perawatan medis intensif dari rumah sakit.


Merasa tidak tega membangunkan suaminya untuk makan malam karena memang wajah Harvey masih terlihat sangat pucat, mungkin karena luka tusukan itu cukup parah, jadi Theala memilih untuk tetap menunggu Harvey terbangun dengan sendirinya.


Kasian... Tuan Harvey pasti sangat kelelahan, coba biarkan ia tidur sedikit lebih lama mungkin sebentar lagi dia akan segera terbangun, pikirnya.


Benar saja.


Harvey tidak lama kemudian terbangun karena mencium aroma masakan yang sangat harum baginya, masakan rumah sakit seperti makanan anjing menurutnya.


Walau pun fasilitas rumah sakit tersebut bukan main-main, disana juga memfasilitasi chef ahli gizi untuk menghidangkan menu sehat bagi setiap pasien, apa lagi kalau termasuk pasien VVIP pastinya tidak diragukan lagi pelayanan yang akan diberikan dari pihak rumah sakit.


"Hei! Bangun! Dasar babi yang bisa tidur di segala tempat!" seru Harvey yang mendapati Theala menindih tangan kanannya karena tertidur.


"Ah, maaf saya jadi ketiduran, Tuan Harvey sudah bangun... Kalau begitu mari makan malam," ucap Theala yang mulai bangun dan bangkit menyiapkan makan malam dan diletakan diatas meja lipat untuk makan pasien.


"Tapi Tuan--"


Kalimat Theala terpotong karena mata Harvey sudah melotot tajam seperti akan benar-benar bola mata Harvey akan keluar. Ia pun menuruti perintah suaminya itu.


"A-apa yang anda lakukan?"


Theala kaget karena Harvey melepas asal jarum infus dari lengannya begitu saja, tidak berhenti dengan itu, Harvey dengan baju pasiennya malah mengenakan jaket dan hendak bergegas pergi keluar dari kamar pasien.


"Buta?" tanya Harvey yang terpaksa menghentikan langkah kakinya berkat Theala yang berhasil menggenggam lengan Harvey.


"Anda kan belum sembuh, nanti di marahin dokter, loh," ucap Theala polos.


"Aku sudah sembuh! Jadi aku akan pergi. Bahkan, pemilik rumah sakit ini tidak akan berani memarahiku!"


Beberapa menit kemudian Harvey tersadar sesuatu, ia baru saja di perlakukan seperti anak kecil oleh Theala, "Hei! Memangnya aku ini bocah apa?! Singkirkan tanganmu atau aku patahkan?"


"Tuan saya mohon, tinggalah! Tuan baru satu malam dirawat di rumah sakit. Bagaimana mungkin sudah sembuh secepat itu dengan luka anda yang cukup parah?"


Theala memohon, piasnya terlihat benar-benar khawatir dengan keadaan Harvey, ekspresi polosnya membuat Harvey luluh dan mengalah.


Ia kembali menjadi pasien yang baik dan kembali naik ke atas ranjang pasien sesuai arahan Theala yang kini kembali menyiapkan makan malam.


"Sepertinya kau benar-benar harus periksa mata, Thea!" seru Harvey.


"Ada apa Tuan? Apa ada yang salah?" Theala kebingungan.


"Jangan-jangan kau memang buta ya?" sinis Harvey.


"Tidak Tuan, mata saya sehat kok," jawab Theala polos.


Harvey mengangkat lengan kiri bergipsnya seakan sengaja menunjukannya pada Theala.


"Suapin!" perintahnya.


"Ha? Tapi Tuan, saya kan juga mau menyantap makan malam. Saya juga sengaja belum makan untuk menemani anda makan bersama," tolak Theala.


"Bagaimana aku bisa makan sendiri disaat tanganku mustahil untuk memegang sendok?!" tanya Harvey penuh penekanan.


Hah, dasar konglomerat gila!


Yang di balut kan lengan kirinya, memangnya dia orang kidal yang memakai tangan kiri?


Aku juga sedang kelaparan tahu! Sangat! Sangat lapar~~


"Ya sudah kau saja yang makan!" bentak Harvey yang membuang mukanya ke samping, membelakangi Theala bak bocah yang sedang merajuk.


Theala hanya menghela napas pelan, benar-benar pelan sehingga Harvey tak dapat mendengarnya.


"Aaaa~ Pesawat terbang segera masuk~~" ucap Theala yang kini sudah memegang sendok berisi bubur hendak menyuapi Harvey.


Iya, Theala menyerah melihat kelakuan pria dewasa dihadapannya yang sedang bermain role player sebagai anak berusia lima tahun.


"Apa--"


Harvey berbalik ke arah Theala, kalimatnya terputus saat mulutnya membuka sempurna dengan kata A. Sehingga Theala tanpa aba-aba lagi memasukan sendokan bubur itu ke dalam mulut Harvey yang sedang ternga-nga.


"Swiyalan! Kwau pikwir akwu bwayi?" ucapnya tidak karuan, karena bubur yang ada di dalam mulutnya.


"Anda bicara apa, Tuan?" tanya Theala yang mencoba menahan tawanya.


"Sialan! Kau pikir aku bayi?!" ulang Harvey setelah selesai menelan suapan bubur itu.


"Aaaaa~~" Theala mengacuhkan pertanyaan dari Harvey dan terus menghujani suaminya dengan suapan bubur hingga mangkuknya kosong.


Tak diduga Harvey pun juga menurut dan selalu menerima suapan tanpa penolakan lagi, benar-benar seperti bocah yang patuh dihadapan sang ibu.


...•••HATE•••...