
"Apa yang terjadi?! Ada apa ini?!" tanya Theala mulai panik, karena mobil asing terus mencoba mendesak mobil mereka.
"Theala! Diamlah! Segera tundukan kepalamu, jika terdengar ada suara tembakan. Mengerti?!" perintah Hansen tegas, dengan wajah serius dan perasaan khawatir yang menatap kedua manik hitam Theala lekat.
Tatapan mata keduanya bertaut cukup lama.
Theala menelan salivanya kasar. Perasaan gugup dan ketakutan mengambil alih pikirannya. Ia tidak dapat lagi membuka suaranya, dan bahkan melihat situasi di sekitarnya.
Ia hanya bisa menuruti perintah dari Hansen, ia bahkan sekarang sudah menundukkan kepalanya dan bersikap tiarap dengan kedua lengannya melindungi kepalanya.
Doorrr Doorrr Doorrr
Duaarr! Bruakk! Blaarr!
Baru saja Hansen mengatakannya, langsung terdengar beberapa tembakan dari mobil musuh dan juga dari tembakan Kai yang berhasil membuat mobil musuh lepas kendali hingga menabrak pembatas jalan, terbalik, terguling, dan akhirnya meledak.
Dan kejadian itu terjadi, pada saat mereka sudah berada di jalanan yang sangat sepi bahkan tidak ada mobil lain yang berlalu-lalang disana seakan semua sudah diatur oleh seseorang.
"AAAKKH!"
Theala berteriak dengan kerasnya, dia benar-benar merasa sangat ketakutan sekarang. Di saat salah satu mobil musuh berhasil menubrukkan mobilnya dengan mobil mereka.
Hansen dan Kai tetap fokus pada arena bermain mereka.
Suara tembakan dan ledakan besar terus saja terdengar di luar sana. Akan tetapi Theala tidak berani mendongakkan kepalanya sedikit pun, bahkan hanya meliriknya dia tidak berani sama sekali. Dia hanya bisa pasrah dan menggantungkan nyawanya ditangan Hansen dan Kai.
Tanpa disangka, ternyata dua mobil musuh kembali berhasil mendekati mobil mereka yang saat ini tepat berada di belakang mereka.
Doorr Doorr Doorr
Craackk!
Beberapa peluru mengenai kaca belakang mobil hingga kacanya mulai retak.
Duuaakk
Mobil yang dikendarai Kai sedikit oleng berkat tubrukan dari mobil musuh dari belakang, sehingga membuat senjata api milik Kai terlempar ke kursi belakang.
"Apakah kalian tidak apa-apa?!" tanya Kai Deverra panik.
"Kami tidak apa-apa, Kai. Lajukan mobil lebih cepat! Theala harus segera diamankan," perintah Hansen yang langsung di jawab Kai dengan tindakan.
Doorr Doorr Doorr
Duaarr Braakk Blaarr
Hansen menembakan beberapa peluru dari senjata apinya dan mengenai kepala musuh dari dua mobil musuh itu.
Seketika, dua mobil musuh itu menjadi oleng, lalu lepas kendali, menabrak pohon, dan tiang lampu jalan, kemudian terbalik serta terpelanting beberapa kali hingga dua mobil itu meledak dan terbakar.
Hansen berhasil menyingkirkan dua mobil musuh di belakangnya, akan tetapi Hansen tidak menyadari bahwa mobil musuh lainnya sudah berhasil mendekat tepat di samping mereka.
Karena Hansen terlalu fokus dengan musuh yang di belakang mereka.
Doorrr Doorr Doorr
Terdengar suara tembakan yang membabi buta, tepat yang keluar dari jendela sisi Theala.
Peluru yang dilepaskan Theala dengan senjata api milik Kai yang sekarang ada digenggamannya.
Senjata api Kai yang terjatuh tepat dihadapan Theala membuatnya langsung menggenggamnya erat, dan disaat fokus Kai dan Hansen tidak menyadari mobil musuh yang mendekat disisinya ia pun secara brutal menembaki mobil itu dengan asal namun tepat fokusnya pada mobil itu.
Sehingga berhasil membuat mobil musuh oleng dan terguling beberapa meter hingga akhirnya meledak.
Braakk Duuuaarrr Blaarr
Hansen dan Kai yang melihatnya dibuat tercengang, mereka tidak percaya bahwa Theala dalam ketakutannya bisa nekat dan sangat berani menyerang musuh dengan sangat hebat, meskipun caranya masih sangat amatiran.
"THEALA, KAU--"
Seperti berkata, "Ada apa, Tuan?"
"Tuan, kita sudah memasuki wilayah aman. Sekarang kita sedang berada di titik koordinasi kita," kalimat Hansen harus terpotong karena Kai menginterupsinya.
Kalau saja ini bukan dalam keadaan genting dapat dipastikan Kai mungkin sudah tidak dapat berdiri tegap sekarang, karena sudah berani menginterupsinya ketika sedang berbicara.
Kai mengurangi kecepatan laju mobilnya, hingga melihat ada mobil mewah di depan yang sudah menunggu dengan posisi menghadang jalan.
"Cepat turun!"
Hansen turun dari mobilnya dan langsung membawa Theala ikut bersamanya,
"Kau urus sisanya dari sini. Pastikan semua selesai dengan rapih!"
Sekarang ia berbicara pada Kai, lalu masuk ke dalam mobil mewah yang menghadangnya, setelah menyuruh Theala masuk dan duduk di bangku belakang disusul dengannya yang duduk disebelahnya.
Lisa yang berada dibalik kemudi mobil tersebut.
"Kembali ke mansion sekarang!" perintah Hansen tegas.
"Baik, Tuan," jawab Lisa tidak kalah tegas.
Lisa langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk cepat menjauh dari arena pembantaian itu.
Benar, wilayah itu telah dikhususkan untuk perangkap para musuh.
Hansen William masih menatap Theala tidak percaya, setelah apa yang dilihatnya tadi. Ia melepas nafas lega, kini mereka sudah aman dari situasi menegangkan dan tentu saja berbahaya.
Hal tersebut juga pasti baru pertama kalinya bagi Theala.
Dari Theala yang bergetar dan histeris ketakutan sampai tiba-tiba Theala berubah menjadi sosok yang berbeda, dengan tanpa ragu membabi buta menembakan asal ke arah mobil musuh yang mendekat.
...•••HATE•••...
Mansion kediaman keluarga William.
"Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan dari saya?! Kenapa tiba-tiba kita di serang?!" tanya Theala dengan nada sedikit meninggi, karena kejadian yang dia lewati hari ini terlalu janggal untuknya.
Lisa hanya diam dan menundukan kepalanya, sama sekali tidak ada keinginan untuk menjawab.
"Memangnya apa yang kita sembunyikan darimu?"
Di luar dugaan, Hansen malah balik bertanya dengan nada bicara yang sangat dingin. Theala mematung beberapa detik melihat reaksi Hansen yang malah terlihat lebih marah darinya.
"Setidaknya tolong beritahu saya, kenapa hal seperti tadi bica terjadi pada kita?" tanya Theala dengan nada bicara yang kini sangat lembut, mungkin takut oleh aura intimidasi dari Hansen.
Hansen membuang nafas lelah, lalu menjelaskan,
"Kau tahu sendiri, kan? Keluarga William adalah pebisnis besar di dunia. Ada banyak pesaing bisnis di luar sana yang tak segan mengancam dan mengincar nyawa keluarga William setiap saat. Tetapi serangan yang baru kita alami tadi, bukan untuk menyerangku atau pun Kai, mereka pasti sedang mengincarmu, Theala! Sadar, kan? Bahwa sekarang kau juga sudah menjadi seorang William?!"
Diakhiri dengan penekanan pada pertanyaannya untuk Theala.
Membuat Theala langsung memahami situasi. Bahwa, segalanya sudah berubah, hidupnya sudah tak sama lagi seperti sebelumnya.
"T-tapi kenapa saya bisa menjadi target mereka? Bahkan, status saya tidak terlalu penting bagi keluarga William. Tuan Harvey menikahi saya tanpa adanya perasaan sedikit pun. Meskipun terjadi sesuatu pada saya, itu tidak akan membuat pengaruh apa-apa bagi keluarga William."
Mungkin tidak ada yang salah dengan kalimat yang panjang lebar diucapkan oleh Theala. Karena memang seperti itu keadaannya yang ada.
Mereka memang menikah, tetapi tidak lebih dari itu.
Namun setidaknya, Hansen dibuatnya lega mendengar celotehan Theala, wanita itu bisa mempercayai penjelasannya perihal kejadian tadi.
Karena ia tidak ingin Theala mengetahui identitas asli dibalik nama William.
Sampai Harvey sendiri yang akan memberitahunya, setidaknya begitu yang ada di dalam pikiran Hansen saat ini.
...•••HATE•••...