HATE

HATE
44



Theala


"Wah, wah, wah! Putri kerajaan meninggalkan kerajaannya dan datang menemui ku. Ada apa gerangan putri menemui hamba?" ujar Hansen menggoda.


Theala hanya menatap heran lalu menghembuskan nafasnya pelan sembari menutup pintu dan berjalan memasuki ruangan tersebuttersebut.


"Saya akan bersenang hati bila saya dipersilahkan duduk."


"Haha iya, iya duduklah. Ada apa? Dari ruangan Harvey? Ah! Tapi sekarang sedang ada rapat, mungkin dia tidak ada di ruangannya."


"Saya belum ke ruangannya, waktu yang tepat saya bisa disini sembari menunggu beliau selesai rapat."


"Maaf Theala, tapi ruang kerjaku bukan ruang tunggu."


"Maaf Tuan Hansen, tapi saya kemari karena juga ada perlu dengan anda."


"Oh? Silahkan putri, saya mendengarkan," goda Hansen kembali.


"Apa anda tahu, kenapa Tuan Harvey tiba-tiba menikahi saya?"


"Tidak."


"Bagaimana mungkin?! Anda kan orang paling terdekat beliau."


"Perlu kau tahu, aku bukan cenayang yang akan tahu isi pikiran Harvey kalau dia sama sekali tidak cerita padaku terlebih dulu."


"Bukankah banyak wanita cantik, bahkan dari keluarga sepadan yang tergila-gila dengannya? Kenapa harus saya yang bahkan hanya anak buangan?"


"Kenapa kau tidak bertanya langsung padanya?"


Theala terdiam, ternyata ia terpojok dalam pikirannya sendiri karena tidak menemukan hasil yang sesuai dengan perkiraan awalnya. Ia pun pamit dan meninggalkan ruangan Hansen.


Meskipun Harvey dan Hansen adalah saudara sepupu ternyata juga tidak banyak yang mereka tahu satu sama lain atas jalan pikir mereka masing-masing.


Bahkan, Kai Deverra yang golongan salah satu orang terpenting di keluarga William juga tidak mengetahuinya.


Sebenarnya apa sih yang dipikirkan Tuan Harvey sampai nekat menikahiku?


Aku benar-benar ingin tahu tentang itu. Karena aku percaya tidak ada cinta di dalamnya.


...•••HATE•••...


Harvey


"Dari mana saja kau?!!"


Theala tersentak kaget dan dahinya terbentur pintu saat sedang menutupnya.


Karena suara berat yang terdengar seperti kemarahan itu membangunkannya dari lamunan, ternyata dia sudah masuk ke ruangan CEO sambil melamun bahkan ia lupa untuk mengetuk pintu.


"Aduh! Sakit banget hiks.. Kenapa sih suka banget nganggetin?!" gerutu Theala sangat pelan, ia pun berbalik dan berjalan masuk mendekat ke meja kerja Harvey.


"Saya hanya mampir ke ruang kerja Tuan Hansen sebentar sembari menunggu anda selesai rapat," jawab Theala seadanya.


"Hanya?! Ah! Sekarang aku tahu, jadi kau kesini bukan untuk menemuiku tapi menemui Hansen?!"


"Ti-tidak Tuan, saya memang ingin menemui anda. Saya membawakan makan siang untuk makan bersama anda."


Harvey melirik kedua tangan Theala yang kosong tidak sedang membawa apapun digenggamannya.


"Dimana?"


"Iya Tuan?"


"Bekal yang katanya kau bawa dimana?"


"Ah, maaf Tuan masih ada pada Lisa. Saya permisi sebentar," ucap Theala hendak berjalan keluar ruangan.


"Duduk di sofa," ujar Harvey dingin,


"Lisa masuk."


Lisa pun menaruh bekal diatas meja sofa lalu berlalu keluar lagi setelah menundukkan kepalanya hormat.


"Kartu?"


Theala bingung.


"Ah! Belum Tuan. Tetapi saya menyimpannya dengan sangat baik di dalam dompet saya."


"Aku berikan kartu itu bukan untuk disimpan di dalam dompet! Tapi untuk kau gunakan!"


Harvey bangun dari balik meja kerjanya berjalan menghampiri Theala yang sedang terduduk sopan di sofa, bukannya ikut duduk disebelah Theala ia malah membungkuk untuk mendekatkan wajahnya sembari memainkan rambut hitam panjang Theala.


"Bulan ini, kalau kau tidak menggunakan kartu itu 30 kali aku akan membunuhmu. Dan itu berlaku untuk bulan-bulan seterusnya, kau harus rutin memakainya. Mengerti?" ujar Harvey dengan suara dingin menyeramkan.


"Iya? Maaf?"


Theala semakin dibuatnya kebingungan,


"Tapi Tuan, dalam satu bulan hanya ada 30 hari ditambah saya tidak diperbolehkan untuk meninggalkan area mansion dan juga bagaimana cara saya untuk memakai kartu anda sebegitu banyak? Lagipula apa yang perlu saya beli kalau anda sudah menyediakan segala yang sudah sangat lebih dari yang saya perlukan?" sambung Theala dengan kalimat panjang tanpa jeda.


"Aku tidak peduli!" ucap Harvey yang sekarang duduk tepat disebelah Theala.


"Ah! Kalau begitu bagaimana bila diganti dengan saya dalam sebulan harus belanjakan kartu itu dengan nominal yang banyak bukan karena pemakaian yang berulang-kali?"


"Terserah!" jawab Harvey yang sekarang menjadikan paha Theala menjadi bantal kepalanya.


"Baiklah besok saya akan gunakan untuk membeli rumah impian saya dan perabotannya."


"Kau akan benar-benar mati kalau kau berani kabur dariku," sontak Harvey bangun dan beralih duduk kembali dengan mengucapkan kalimat penuh penekanan.


"Hahaha saya bercanda Tuan. Tapi apakah saya benar-benar diijinkan membeli apa pun itu?"


"Kau sedang mempertanyakan kekayaanku?"


"Tidak Tuan, saya hanya takut akan melakukan kesalahan kedepannya."


"Hm, pakailah sesukamu! Lagipula itu black card jadi tidak ada batas limit dan juga kau adalah istri ku. Seorang Nyonya William tidak seharusnya kau hidup dengan sangat sederhana seperti itu."


Kenapa dia jadi imut sekali, padahal aku hanya menggodanya saja hahaha. Bagaimana mungkin aku akan benar-benar menyakitinya karena tidak menghamburkan uangku?


Mereka berdua menghabiskan bekal makan siang bersama, selayaknya pasangan kekasih yang sedang menikmati makan siang dengan penuh kasih.


"Tuan, kenapa anda tiba-tiba menikahi saya?"


Setelah berdiam cukup lama karena sibuk menghabiskan makanan, Theala pun memberanikan diri untuk mempertanyakan kegusaran dalam hatinya.


"Cinta," jawab Harvey dengan santai tanpa ekspresi berarti membuat Theala semakin kesal.


"Tuan, saya sedang serius."


"Jadi, setelah kekayaanku sekarang kau juga meragukan perasaan ku?"


"Tapi itu hal yang paling tidak mungkin terjadi, tolong jawab pertanyaan saya dengan sebenarnya Tuan. Saya memikirkan banyak hal yang saya tidak ketahui, itu membuat saya tidak fokus akhir-akhir ini."


"Tidak perlu memikirkan banyak hal. Kau hanya perlu mengetahui aku mencintai mu makanya aku menikahimu, dan sekarang kau adalah istriku. Jadi kau harus menjadi istri yang menuruti perkataanku sebagai suamimu."


Mata Harvey menatap dalam Theala.


Namun, tetap saja Theala tidak dapat mengerti apa yang ada dipikiran suaminya tersebut. Ia pun juga tidak dapat mempercayai kalimat yang keluar dari mulut Harvey sendiri, karena jawaban tersebut sama sekali tidak memuaskan atas pertanyaannya.


Theala sudah tidak berani untuk banyak bertanya lagi, takut kalau-kalau ia malah akan melakukan kesalahan karena rasa ingin tahunya itu.


Tidak dapat dipungkiri.


Sebenarnya ia juga merasa sangat bersyukur karena Harvey menikahinya, ia menjadi hidup dengan nyaman dan bertemu dengan orang-orang yang mengkhawatirkan keadaannya.


Sangat berbanding terbalik dengan keadaannya yang sebelum menikah, meskipun malah ia sebelumnya ia tinggal bersama keluarganya.


Hingga sampai disaat ia memutuskan memilih hidup sendiri dan keluar dari balik nama keluarga Anderson.


...•••HATE•••...