HATE

HATE
54



Theala


"Maaf, anda siapa?" tanya Theala kepada pria yang kini akan turut serta untuk makan malam.


"Wah, apakah anda yang bernama Theala?" jawabnya malah memberi pertanyaan lain pada Theala.


"Benar, maaf sebelumnya. Karena saya belum pernah bertemu anda. Dan setahu saya, hanya keluarga yang boleh masuk ke gedung utama mansion," jawab Theala seadanya yang dia tahu.


"Hahaha anda pasti bingung, karena saya bisa bergabung di meja makan."


Theala hanya diam dan masih memperhatikan, adanya pria ini duduk di meja makan membuatnya harus tetap berdiri dan sedikit menjaga jarak dari meja makan sampai anggota keluarga lainnya sudah datang.


"Perkenalkan, nama saya Lay Deverra. Panggil saja Lay. Mulai hari ini, saya adalah Executive Assistant anda."


"D-deverra?" tanya Theala karena merasa nama itu sudah ada pemiliknya.


"Hahaha benar Nyonya, saya kakak kandung dari Kai. Sebelumnya saya bertugas di perusahaan cabang Amerika dan Italy. Ini adalah pertama kalinya saya bekerja di kantor pusat di Korea," jelasnya mengenai jejak karirnya selama ini, yang sebenarnya tidak ingin Theala ketahui juga.


Theala membalas dengan senyuman, pikirnya sepertinya apapun tentang dirinya pasti pria bernama Lay tersebut sudah mengetahui semuanya.


Jadi Theala tidak ada keinginan untuk memperkenalkan diri lebih lanjut. Hingga sosok pria paruh baya turut bergabung dengan mereka.


"Ketua, anda sudah pulang? Selamat datang kembali," sapa Theala hormat lengkap dengan menundukkan kepala sopan.


Sosok pria paruh baya tersebut adalah Louis William, yang hanya merespon sapaan Theala dengan menganggukan kepalanya singkat.


...••HATE••...


Sejak kejadian adu tembak di mobil waktu itu, Theala sama sekali tidak di ijinkan untuk keluar dari area mansion.


Disamping itu, ia sendiri juga sebenarnya sangat ketakutan ketika sedang berada di luar mansion.


Meskipun, penjagaan untuknya sudah semakin di perketat dan adanya para pengawal yang selalu mengawasinya sekarang terlalu kentara.


Baru-baru ini Theala malah baru menyadarinya, ia pikir menempatkan Lisa disisinya sudah terlalu berlebihan. Tetapi ternyata yang disiapkan untuknya sekarang malah terlalu dilebih-lebihkan.


**


"Kenapa Tuan Harvey sama sekali tidak membalas satu pun email dariku, ya?" gumam Theala saat melihat akun emailnya dari ponsel.


Theala sedang berbaring di tempat tidur dan setelah melihat ponselnya sebentar ia memejamkan matanya.


Sebenarnya ada atau pun tidak, tidak ada yang berbeda, Theala selalu sendirian.


Namun entah kenapa, aku merasa sangat kesepian tanpa dia.


Benar.


Aku merindukan sosoknya yang selalu memaksa ku untuk menyenangkannya.


"Ah! Ada email masuk," gumam Theala antusias, menerka pasti email dari orang yang sudah ia tunggu-tunggu selama ini.


...____...


...EMAIL - INBOX...


Harvey William


Salam hormat, Nyonya. Saya Lucas, sekretaris Tuan Harvey. Tuan sudah mendarat di Italy dengan selamat, untuk selanjutnya saya akan rutin mengirimkan perihal jadwal Tuan Harvey setiap minggunya.


...____...


Jadi, Tuan Harvey tidak menghubungiku secara langsung ya?


Eh, sekretaris?


Kenapa aku banyak tidak tahu perihal apa pun tentang Tuan Harvey.


Apakah kehidupanku akan ku habiskan sebagai manusia transparan seumur hidup dan akan tetap berakhir seperti ini.


Tentu saja, karena hidup ku bukan milik ku jadi aku tidak berhak memiliki tujuan ku sendiri!


Kenapa masih merengek ke Tuhan!


Aduh.... Dasar bodoh!"


Semalaman Theala hanya mengerutuki dirinya sendiri akan nasib atau pun takdir hidupnya yang terasa kecut itu tanpa adanya kebahagiaan untuknya.


Tuan Harvey bukannya kabur, tetapi dia benar-benar kembali mengabaikan ku sampai tidak berniat menelpon, mengirim pesan, bahkan email pribadi secara langsung pun tidak.


Dia sudah mendapatkan semua yang dia inginkan, jadi dia menarik pembatas lagi.


Tembok yang sejak awal memang sudah berdiri kokoh pada dirinya.


Aku harus bisa membuktikan, kalau aku adalah orang yang paling mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.


Aku akan memperlihatkan kepada dunia, dan juga terutama pada dia yang sudah membuatku sebagai istri transparannya selama ini.


"Selamat pagi, Tuan Lay," sapaku menjumpai pria tampan berkulit putih itu.


"Selamat pagi, Nyonya Theala. Sepertinya anda hari ini nampak semangat sekali, ya?"


"Iya, hehehe saya sudah sangat lama ingin kembali bekerja," jawabku lebih santai dari pertemuan kami sebelumnya.


"Saya juga senang bisa bekerja bersama anda, maka dari itu mohon bantuannya," ucapnya sedikit membungkukan badan singkat.


"Saya juga, mohon bantuannya," jawabku membalas tunduk hormat.


Tiba-tiba aku teringat kalau aku tidak diijinkan untuk memberi hormat dengan membungkuk kepada orang lain selain Tuan Harvey.


Omong-omong sepertinya Tuan Lay ini kepribadiannya sangat jauh berbeda dari Tuan Kai. Kakaknya lebih ramah dan murah senyum, sedangkan adiknya sangat dingin, cuek dan kaku.


Entah kenapa, aku malah merasa kemiripannya menjadi seperti kepribadian mereka lebih banyak kemiripan untuk Tuan Hansen dan Tuan Lay, sedangkan Tuan Kai dan Tuan Harvey.


Mereka berempat malah nampak seperti saudara yang tertukar.


Hari ini adalah hari pertamaku kembali bekerja, lebih tepatnya kembali bekerja dengan posisi jabatan yang tidak pernah terbesit dalam pikiranku sebelumnya.


Theala William, nama yang tertulis di papan nama yang terletak diatas meja kerjaku sekarang.


Di depan nama itu tertulis posisi jabatan ku yang sekarang, meski pun perusahaan ini sudah sangat familiar bagiku tetapi tetap saja entah mengapa aku merasa canggung berada disini.


Perusahaan yang sebelumnya bernama Babel Group milik Tommy Anderson, ayahku.


Dengan tiba-tiba perusahaan ini menjadi milikku sekarang, dan bagaimana cara Harvey sudah mempersiapkan semuanya untuk ku. Segala proses perubahan management hingga nama perusahaan, di selesaikan tanpa sepengetahuanku.


Perusahaan di bidang property, yang sekarang sudah resmi menjadi anak perusahaan dari World Group.


Tentu saja, ada aku yang menjabat sebagai Direktur Utama, dan Tuan Lay yang sudah di tunjuk untuk menjadi Executive Assistant pribadiku.


Selama beberapa bulan aku berhasil menjalani kehidupan baruku. Sebagai seorang istri yang tidak pernah tahu tentang kabar suaminya, dan juga sebagai Direktur Utama perusahaan property yang ternyata sangat disibukan dengan pekerjaan yang menumpuk setiap harinya.


"Nyonya Theala, jadwal anda sudah penuh selama satu tahun ke depan. Jadi akan sulit untuk anda pergi ke Italy menemui Tuan Harvey."


Lay menunjukan jadwal bisnisku yang tercatat rapih dan memang tidak ada sehari pun waktu senggang selain akhir Minggu, itupun harus ku gunakan untuk beristirahat dan juga belajar lebih banyak tentang mengelola bisnis.


"Yah.... Benar-benar tidak bisa ya meluangkan waktu untuk seminggu?" tanya Theala dengan wajah pasrah.


"Tidak bisa Nyonya, karena tidak ada perintah langsung dari Tuan Harvey ikut mempengaruhi kesulitan situasi anda sekarang," jawabnya mengingatkan fakta bahwa hanya Harvey yang berkuasa atas hidup Theala.


"Ah, maaf saya sempat melupakan fakta tentang hidup saya. Selamat bekerja kembali, Tuan Lay. Terima kasih," ucap Theala dan diakhiri dengan menyuguhkan senyuman yang nampak dipaksakan.


"Baik Nyonya Theala, saya permisi. Selamat bekerja," pamit Lay membalas dengan senyuman menawan miliknya.


...•••HATE•••...