
Harvey
Beberapa bulan yang lalu.
Aku sangat marah ketika mengetahui sebab Theala dua kali masuk rumah sakit, dan bahkan aku harus kehilangan calon anakku.
Bodohnya aku, kenapa aku tidak secepatnya menyadari hal itu dan langsung memeriksa kejanggalannya dari cctv perusahaan.
Setelah kebenaran itu terungkap aku selalu merutuki diriku sendiri, kenapa seorang Harvey William bisa sebodoh itu.
Setiap melihat wajahnya, hatiku sangat sakit. Tidak tahu apa alasannya selain merasa bersalah, yang jelas perasaanku yang aku tahu adalah aku tidak ingin melihat Theala merasakan kesakitan lagi.
Apapun itu, fisik maupun batin.
Karena pasti sangat berat untuknya, kehilangan calon anak kita.
Setelah berhasil membalaskan dendam dan kemarahanku pada keluarga Anderson.
Sekarang aku harus mengambil keputusan berat, agar Theala tetap aman dan bisa menjalani kehidupan normalnya kembali.
Aku harus pergi, karena apa yang aku inginkan pasti akan ada resiko yang besar di baliknya.
**
Di bandara. Di hari keberangkatannya ke Italy.
Harvey mengambil ponselnya dari saku celananya, lalu melakukan panggilan telepon.
"Halo ini saya, ayah."
"Hahaha akhirnya kau menerima kewajibanmu sebagai seorang pewaris," ucap Louis dari seberang telepon.
"Ingat janji ayah dan World Hotel akan ayah berikan pada Theala," ucap Harvey dingin.
"Cih, kau tenang saja soal itu! Cepatlah kemari dan urus segalanya sampai tuntas, masalah terus menumpuk dan aku tidak bisa turun tangan langsung," jawab Louis sinis.
"Berjanjilah satu hal, ayah tidak akan membuat cucu ayah masuk ke dalam organisasi," ujar Harvey sedikit menekankan.
"Hmm... Asal kau mengambil tanggung jawab itu," jawab Louis membuat Harvey sedikit merasa lega.
"Aku yang akan memimpin organisasi menggantikan ayah. Tapi kalau sampai Theala dan anak ku nanti terluka, ayah akan menanggung akibatnya," ujar Harvey dengan nada bicara mengancam.
"Sialan! Istrimu hamil aja belum sudah mengancam orang tua. Ya sudah! Terserah! Apapun maumu itu, akan aku turuti. Sejak awal memang organisasi hanya ku percayakan padamu," jelas Louis, membuat Harvey geram ternyata semua ini hanya taktik Louis.
Ku matikan telepon tanpa menjawab lagi, aku sudah muak. Pikiran orang tua itu sangat licik, berapa banyak lagi kebohongan dan rencana licik yang akan dia buat agar semua yang ada disekitarnya terjadi sesuai dengan kehendaknya.
...•••HATE•••...
Theala
Tiga tahun kemudian.
"Theala! Berkatmu martabatku jadi naik, si cantik ini benar-benar menantu idaman!"
"Ah, ayah terima kasih banyak."
Di hadapanku sekarang ini adalah ayah mertuaku.
Siapa yang menyangka, aku dapat berbincang dengan santai kepada Presiden Direktur perusahaan besar sekelas World Group.
Sosok yang dulu sangat ku takuti dan sangat ku hindari.
Kepribadiannya ternyata tidak semengerikan saat aku masih memanggilnya dengan sebutan Ketua di masa lalu.
Seorang Louis William yang sekarang jauh lebih hangat dan menjadi ayah yang baik untukku, kasih sayang seorang ayah yang sebelumnya belum pernah aku rasakan.
"Theala! Gimana bisa adik iparku sehebat ini..."
"Terima kasih banyak, kak."
Kalau yang barusan bicara ini adalah kakak sepupu iparku, Hansen William.
Hubunganku dengannya semakin membaik, aku sangat dimanjakan selayaknya adik kecil di keluarga William.
Tentu saja dia masih melajang, karena sifat pemainnya belum hilang hingga sekarang.
"Nyonya Theala, selamat atas bangkitnya World Hotel kembali dibawah ke pemimpinan anda."
"Terima kasih, sahabatku."
Kali ini tentu saja, Lisa Limiardi. Aku sudah berteman dengannya. Namun tetap saja, sikapnya masih sering kaku padaku.
Karena seorang pengawal, sudah berteman pun aku tetap bos besar baginya -katanya.
"Selamat! Nyonya Theala yang cantik. Anda sangat luar biasa!"
Tentu saja, dia adalah Lay Deverra, kakakku yang lainnya.
Kakak yang sangat gemar sekali memberiku sebuket bunga, setiap aku berhasil menyelesaikan pekerjaanku dengan hasil yang memuaskan.
"Lalu, ini adalah hadiah untukmu yang di pilih khusus dari Tuan Harvey," sambung Lay.
Lay memamerkan sebuah kunci mobil. Yang ku yakini itu adalah mobil super car.
Sudah berapa banyak jumlah mobil mewah yang sekarang ku miliki -pikirku.
Padahal aku tahu dia tidak di Korea.
Tetapi entah kenapa, aku membayangkan dia berada disini dan memberiku banyak hadiah dengan kekayaannya yang selalu menjadi kebanggaannya itu.
Tentu saja, aku juga merindukan ciuman darinya.
Maafkan aku, karena kalau seseorang sudah jatuh cinta.
Seburuk apa pun orang itu akan termaafkan begitu saja.
Bagaimana pun aku mencintai dirinya yang sulit ditebak, sikapnya yang tidak peduli dan kasar.
Namun disisi lain, dia sudah mempersiapkan dan memberi semua yang lebih dari yang ku perlukan tanpa harus aku yang memintanya, tanpa harus dia yang bertanya padaku.
Aku juga selalu mendapat email dari seseorang yang sedang berada di Italy.
..._____...
...EMAIL - INBOX...
Harvey William
Selamat atas keberhasilan anda Nyonya Theala. Tuan Harvey sangat bangga pada anda.
Salam hormat, Kai, Lucas.
..._____...
Jangan berpikir ini dari Harvey, selama tiga tahun aku hanya menerima email dari Lucas dan juga Kai yang memang menyusul Harvey.
Isi email pun hanya jadwal resmi suamiku yang entah bagaimana kabarnya disana.
Tidak ada sekali pun dia sendiri yang mengirim email padaku, tetapi aku patut berbangga diri.
Waktu selama ini aku mampu bertahan, dalam kesepian, dalam kerinduan, dalam pertanyaan yang belum ku ketahui apa jawabannya.
Kerja bagus Theala!
Selanjutnya pun kau akan melakukannya dengan baik!
Padahal aku benci dan sangat kesal dengannya, tapi melihatku yang sangat merindukannya seperti ini...
Sepertinya aku benar-benar mencintainya.
"Apa ayah akan kembali ke Italy?" tanya Theala sedikit ragu.
"Ada apa menantuku?" jawab Louis memandang Theala.
"Tidak, saya hanya ingin bertanya," jawab Theala murung sedikit menekukan wajahnya.
"Kalau kau ingin pergi, pergilah. Biar aku yang mengurus pekerjaanmu untuk sementara," ujar Louis membuat Theala mengangangkat kepalanya kembali, tanpa sadar senyumnya terlukis indah di wajah cantiknya.
"Apa... Saya benar di ijinkan untuk pergi?" tanya Theala sangat hati-hati.
"Iya. Lay akan menemanimu kesana," jawab Louis sembari mengusap kepala Theala lembut.
Tidak dapat ku sembunyikan lagi rasa kebahagiaanku saat ini. Bahkan, senyum di wajahku tidak pernah luntur sekali pun. Hingga waktu dimana aku benar-benar akan pergi, meninggalkan Korea bukan untuk urusan bisnis.
Akhirnya aku sebentar lagi bisa bertemu dengan orang itu, aku ingin melihat wajahnya yang sudah hampir terhapus dari ingatanku.
Aku ingin mendengar suara angkuhnya yang sudah lama tidak menyapa telingaku. Aku merindukannya, suamiku.
Banyak hal yang ingin ku katakan padanya, sangat banyak, sampai terkadang aku merasa ketakutan.
Apakah Theala yang sekarang masih kurang kuat untuk menghadapinya?
"Harvey! Tunggulah aku!" teriak Theala sembari mengemudikan hadiah dari Harvey yang baru saja diterimanya.
Dengan kap mobil yang terbuka, aku menerobos padatnya lalu lintas di sore itu. Merasakan terpaan angin yang cukup kencang menghempas rambut panjangku yang ku biarkan terurai.
...•••HATE•••...