
Waktu telah cepat berlalu.
Hari pertunangan. Bertempat disalah satu hotel berbintang ternama di kota itu. Menempati fasilitas ruang ballroom termegah yang dimiliki hotel tersebut. Rangkaian bunga ucapan selamat dari beberapa rekan bisnis keluarga Anderson berjejer memenuhi disepanjang koridor ballroom. Sedangkan suasana tepat didalam salah satu kamar executive VVIP hotel tersebut.
"Bagaimana semuanya?" tanya Harvey memastikan.
"Sudah siap untuk memulai pertunjukannya," jawab singkat Hansen.
"Apa yang harus ku lakukan?" tiba-tiba Harvey nampak ragu.
"Apa maksudmu?"
"Tadinya aku berniat untuk mempermalukan keluarga mereka di acara ini..."
"Tunggu. Sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan?"
"Apa kau sekarang menjadi bodoh?"
"J-jangan bilang kau mau mengubah skenario kita di detik terakhir?" tanya Hansen ragu.
"Bagaimana kalau kita tetap melanjutkan permainan mereka?Coba kau pikir, bodoh! Kalau kita hanya mempermalukan mereka sampai sini saja, apa itu cukup?" perjelas Harvey panjang kali lebar.
"Ah... Kau benar juga, sepupuku! Tapi apa kau benar tidak keberatan terus bermain menjadi pemain utama aktor dokumenter pembalasan ini?"
Harvey kini beranjak dari sofa lalu berjalan kesisi jendela kamar tersebut, menyandarkan tubuhnya di dinding kaca dan mengedarkan pandangannya keluar jendela seakan sedang mencari seseorang.
"Apa orang-orang kita tidak ada satu pun disini?"
"Untuk apa? Bukankah skenario awal memang pertunangan ini tidak di hadiri oleh pihak kita?"
"Kalau begitu hubungi semuanya untuk segera kesini, hanya panggil mereka untuk berlangsungnya skenario pihak penting tidak perlu datang," jelas Harvey.
"Oke aku paham. Tapi apa kau benar yakin?"
"Percayakan padaku."
"Lalu bagaimana dengan Theala?"
"Aku akan mengurusnya nanti. Urus saja semua yang aku suruh."
"Baiklah... Toh, dia juga istrimu, bukan urusanku kalau-kalau akan ada perang dingin di rumah tangga kalian," Hansen seakan mengingatkan.
Tak perlu memakan waktu terlalu lama untuk mengatur ulang skenario dokumenter pembalasan ala William. Bak tim profesional dalam penggarapan naskah untuk sebuah film. Segalanya telah rampung disusun dengan begitu apik dan rapih, tidak ketinggalan juga begitu pun sudah tersemat dengan list aktor-aktor yang akan ikut meramaikan skenario tersebut.
Semua orang-orang panggilan Hansen sudah tiba di hotel dan mulai ikut berkumpul di ballroom tempat dimana diadakannya acara pertunangan palsu.
"Para hadirin sekalian terima kasih banyak atas waktu yang telah anda luangkan untuk menghadiri acara yang sangat penting bagi kami, keluarga Anderson dan William," seorang pemandu acara telah memulai acara.
"Mari kita sambut peran utama dari acara kita yang meriah ini... Kepada Tuan Muda Harvey dan Nona Rachel di persilahkan menempatkan diri ketengah lantai dansa."
Harvey pun dengan gentle menghampiri Rachel mengulurkan tangan kanannya mengisyaratkan Rachel untuk berdansa dengannya. Begitu pun Rachel dengan sigap langsung menyambar tangan Harvey yang telah terulur di hadapannya tanpa basa-basi.
Keduanya berjalan dengan anggun menuju tengah lantai dansa, tangan Rachel senantiasa tertaut di lengan kanan Harvey bak seorang pangeran dan putri kerajaan yang berwibawa.
Seluruh tamu undangan bergerumun membentuk lingkaran dalam ballroom tersebut melingkari lantai dansa utama menyaksikan kedua sejoli tersebut berdansa dengan indahnya terlihat seperti sepasang merpati yang kasmaran.
"Aku sangat senang bisa berdansa denganmu," ucap Rachel tepat di telinga kiri Harvey.
"Menyenangkanmu, suatu kehormatan bagiku," balas Harvey yang ikut menempelkan bibirnya di telinga kanan Rachel.
Tamu undangan yang ingin ikut berdansa juga dipersilahkan bergabung ke lantai dansa sembari menikmati alunan music klasik bersama pasangan mereka.
Akhirnya penghujung acara pun tiba. Waktu dimana pertukaran cincin pasangan harus dimulai. Lantai dansa kini dikuasai oleh keduanya kembali sedangkan para tamu undangan kembali kesisi membentuk lingkaran untuk menyaksikan momen utama dan terpenting dari acara.
"Ya! Aku mau menjadi tunanganmu. Aku tahu Ketua pasti sangat sibuk yang penting kita berdua tetap bertunangan hari ini."
Tidak penting Ketua mau datang atau tidak karena hasilnya akan tetap sama. Kita akan menikah dan aku akan menjadi Nyonya Muda William hahaha.
Kira-kira begitulah monolog di dalam batin seorang Rachel Anderson yang merasa semuanya sudah berjalan lancar sesuai dengan kehendaknya yang sudah ia rencanakan.
Keduanya pun selesai bertukar cincin.
Dengan begitu keduanya telah resmi menjadi tunangan satu sama lain.
Para tamu undangan pun ikut bersorak-sorai atas pertunangan mereka, beberapa eksekutif pun turut menyapa dan menyalami memberikan ucapan selamat sembari menjilat mencari muka pada Tuan Muda.
Sekarang kau dan keluargamu pasti merasa sangat bahagia hingga seperti terbang ke atas awan. Sayangnya kalian lupa bahwa terbang terlalu tinggi sangat berbahaya. Karena kalian akan dipastikan hancur saat terjatuh dari sana.
Monolog Harvey saat mencermati ekspresi masing-masing dari keluarga Anderson.
Disisi lain seorang gadis berbalut kerudung pasmina cantik juga mencadarkannya sedang mengamati dari kejauhan.
Dia bilang anggaplah hiburan. Apa yang bisa menghibur dari menonton suami bertunangan dengan adik tiri sendiri! Dasar Thea bodoh kenapa juga memikirkan hal yang jelas tidak penting sampai datang kesini untuk melihat pembodohan ini secara langsung.
Theala berbalik hendak pergi meninggalkan ballroom dimana pertunangan Harvey dan Rachel di selenggarakan. Namun, tiba-tiba dia bertabrakan dengan Hansen saat hendak menuju koridor.
"Jalan pakai mata dong!" pekik Hansen.
Gadis itu sama sekali tidak menggubris bentakan sepupu iparnya dan berlalu melanjutkan langkah kakinya pergi.
Tunggu! Aroma ini sepertinya tidak asing. Ah! Ini aroma parfum milik Theala. Jangan-jangan...
"Theala tunggu!" Hansen mencoba mengejar Theala, namun terlambat Theala sudah masuk kedalam lift dan pintu lift sudah tertutup menunjukan lift sudah menuju turun kebawah.
Tidak berlama-lama Hansen kembali masuk ke dalam ballroom sambil berlari panik mencari keberadaan sepupunya, Harvey.
"Hei, kau pikir ini stadion?!" bentak Harvey mendapati sepupunya yang berlarian sejak dari ia masuk ke dalam ruangan.
"Ah, akhirnya aku menemukanmu! Hosh, hosh, hosh," ucap Hansen lega dengan nafasnya yang terengah-engah.
"Kau kenapa?" tanya Harvey heran.
"Tadi ada Theala!" Hansen masih berusaha mengatur nafasnya.
"Hah?! Dimana?! Kenapa kau tidak bilang padaku! Sekarang aku akan pergi menemuinya!" ucap Harvey yang hendak bergegas lari dengan panik.
Hansen menarik jas Harvey membuatnya sedikit terpental ke belakang dan menubruk tubuh Hansen yang di belakangnya.
"Kau cari mati?!" pekik Harvey.
"Telat... Sudah terlambat! Istrimu sudah keluar dari hotel!"
"Gawat! Aku harus segera kembali ke rumah. Kau urus sisanya!"
Harvey tidak lagi memikirkan semua skenario dan rentetan acara di pertunangannya, ia berlalu menyusul Theala pulang kembali kerumah kediaman William. Tidak lupa juga untuk meninggalkan Hansen sendirian di hotel tersebut dengan pekerjaan yang harus diteruskan, juga aktor-aktor pendukung skenario mereka.
Panik.
Mungkin itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan sikap dan emosi Harvey kala ini.
Entah, angin apa yang dapat membuatnya merasa panik dan cemas. Mungkin karena ia belum memberitahukan kepada Theala selaku istrinya tentang skenario baru yang telah disusunnya ulang saat di kamar hotel tadi dengan Hansen.
Karena bagaimana pun Theala tetap seorang istri Harvey William, kalau Theala buka suara semua rencananya akan hancur dan sia-sia. Dan juga sepertinya Harvey sedikit merasa bersalah sebagai seorang suami yang memperlakukan istri seenaknya tanpa perasaan sedikit pun.
...•••HATE•••...