HATE

HATE
48



Harvey


Harvey William sangat disibukan dengan segunung masalah dan pekerjaan yang terus bergulir datang bergantian seakan-akan memang tidak mengijinkan seorang Harvey William untuk lepas dari tanggung jawab yang sudah semestinya menjadi beban yang harus ia pikul seumur hidupnya di dalam kehidupan ini.


Malam ini Harvey William sedang berada di dalam ruang kerja keluarga. Tentu saja ia juga ditemani oleh Hansen William, dan Kai Deverra yang turut andil mengerjakan setumpuk berkas yang berada diatas meja kerja mereka masing-masing. Ketiga pria tampan itu sama-sama mengenakan kacamata, dan sibuk dengan laptopnya masing-masing.


Aura ketegangan, situasi serius yang mencekam, ditambah sosok ketiganya yang berparas dingin dan tegas saat sedang sangat fokus, membuat ruangan tersebut nampak sangat menyeramkan.


"Aku akan pergi ke Italy besok pagi, sesuai rencana. Tolong siapkan," perintah Harvey William tanpa melepaskan fokusnya dan masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Tidak! Aku saja," cetus Hansen tegas.


Kai Deverra hanya melirik Harvey William dan Hansen William secara bergantian, sepertinya posisinya sebagai sekretaris keluarga William menjadikannya serba salah.


"Kai, siapa Direktur Utama World Group yang menjabat sekarang?" tanya Harvey seakan meminta pengakuan.


"Tuan Harvey," jawab Kai seadanya.


"Kai, siapa Don di organisasi World Rider sekarang?" tanya Harvey kembali sangat ingin diakui.


"Tuan Harvey," jawab Kai kembali seadanya.


"Kai, siapa yang paling berkewajiban untuk pergi ke Italy?" tanya Harvey seakan meminta pembelaan.


"Tuan Harvey," jawab Kai secara rasional.


"Pintar. Jadi, siapa yang besok harus pergi ke Italy?" tanya Harvey sekali lagi ingin mendapat pengakuan.


"Tuan Harvey dan Tuan Hansen," jawab Kai Deverra polos.


"Heh, kau bosan hidup?!" sentak Harvey William geram.


"Hentikan drama kalian. Aku muak melihatnya. Biar adil kita berdua yang pergi, seperti kata Kai."


Hansen William menginterupsi obrolan antara dua pria disana.


"Kau harus berjaga disini. Aku bisa menangani yang disana sendiri."


Harvey William berujar dengan tatapan tajamnya kepada Hansen dan beralih ke Kai, sebelum ia melangkahkan kakinya keluar.


Hansen William hanya bisa menghela napas kesal. Sejak kecil ia memang tidak akan pernah menang berurusan dengan Harvey William.


Kai Deverra yang melihat kedua Tuan Mudanya kesal. Ia langsung pamit undur diri dan keluar dari ruang kerja keluarga takut-takut kalau dia yang jadi sasaran amukan pelampiasan kedua Tuan Mudanya itu. Dengan sedikit berlari kecil ia bergegas keluar dari ruangan tersebut, hingga hampir menabrak pak Mumun -kepala pelayan.


...•••HATE•••...


"Tuan Harvey, saya sudah selesai menyiapkan jet pribadi untuk keberangkatan ke Italy. Lalu disana kita akan menggunakan helikopter untuk langsung menuju ke markas besar, dan dari markas besar saya sudah siapkan mobil untuk berpergian selama kita berada disana," jelas Kai Deverra merinci tugasnya yang sudah ia kerjakan.


"Aku akan ke Italy sendiri," cetus Harvey tiba-tiba setelah Kai selesai dengan rinciannya.


"Baikla--" Kai Deverra terdiam beberapa detik hingga akhirnya menyadari, "APA?! Ah maaf Tuan Harvey, tapi--"


Belum juga kalimatnya selesai ia sudah menerima tatapan membunuh yang sama seperti semalam.


"Saya mengerti."


Kai Deverra tidak ingin membuat situasinya semakin buruk dan memilih untuk pergi menyiapkan mobil.


**


"Waktunya tidak tepat sialan!" Harvey William berdecih kesal.


Kalau ini adalah bayaran atas keinginan kecilku.


Apa yang harus aku bayar kalau aku menginginkan hal yang lebih besar?


Harvey William merogoh ponselnya dan melakukan panggilan telepon.


"Halo ini saya, ayah."


Setelah mengambil keputusan rasanya lebih ringan, selanjutnya hanya perlu menjalankan mengikuti arus.


"Silahkan, Tuan Harvey," Kai Deverra membukakan pintu mobil.


Seperti biasa, Harvey William tidak pernah merespon dan hanya masuk hingga duduk di bangku belakang dalam diam.


"Berangkat ke bandara," perintah Harvey kepada Kai Deverra yang sudah duduk di bangku balik kemudi.


**


Di bandara.


"Tuan, apa benar tidak apa-apa saya tidak ikut?" tanya Kai Deverra khawatir.


"Tidak perlu. Tolong jaga Theala untukku," jawab Harvey mantap. Karena pasti berkat tindakannya, keselamatan Theala jadi terancam.


"Kalau begitu saya akan menyuruh Lucas untuk menemani anda selama disana," terang Kai.


Kai Deverra mengangguk paham.


"Tuan Harvey!"


Suara perempuan yang terus berulang-kali terdengar dari kejauhan. Harvey menghentikan langkahnya, ketika mendengar suara yang familiar baginya menyebut namanya.


Suara Theala....


Apa sekarang aku sampai berilusi mendengar suaranya memanggilku?


"Tuan Harvey! Saya kan memanggil anda sejak tadi! Hah... Hah... Hah... Kenapa langkah jalan anda seperti langkah saya berlari hah... hah..."


Sumber suara tersebut sudah berada tepat dihadapan seorang Harvey William sekarang.


Kenapa Theala ada disini?!


Harvey William melepaskan kacamata hitam yang ia kenakan saat ini dengan sangat elegan. Menatap lekat sosok perempuan dihadapannya yang sedang sibuk mengatur nafasnya. Pandangannya beralih ke sosok pria yang selalu berada disisinya itu.


Apa Kai yang memberitahunya?


Sepertinya tidak mungkin, Kai bukan orang yang seperti itu.


Hingga sosok lelaki tinggi, mempunyai mata belok itu menyusul langkah Theala dari belakang.


Nah, kalau dia pelakunya sih aku tidak heran lagi.


Hansen William berjalan santai sembari melepas kacamata hitamnya. Ia menghampiri Harvey, Kai, Theala, dan Lisa yang sedang berkumpul disana.


...**...


Theala


Selalu saja seperti ini, saat terasa sudah menjadi dekat tiba-tiba dia menjauh lagi dan memasang tembok yang sangat kokoh diantara kami.


Membuatku terjebak dalam kebingungan.


Padahal kau akan pergi dengan sikap dingin begini. Tapi kenapa aku malah bersemangat untuk bergerak dan menyusulnya ke bandara. Mau bagaimana lagi dia memang harus pergi untuk bekerja, karena dia memang laki-laki yang seperti itu.


Laki-laki yang terus pergi.


"Tuan Harvey disana hati-hati. Jaga kesehatan. Jangan suka skip makan. Jangan suka begadang di depan laptop dan tidurlah. Saya mohon tolong selalu beri kabar ke saya."


Setelah nafasnya kembali normal dan ia merasa sudah bisa menghirup oksigen dengan bebas. Theala memberanikan diri menyampaikan kepeduliannya untuk suaminya. Sedangkan Harvey tetap diam tidak memberi respon, hanya matanya yang masih lekat menatap wajah Theala Anderson yang sedang gusar.


Padahal aku sudah bela-belain kesini dan mengantarnya pergi baik-baik. Tapi beraninya dia malah menunjukan ekspresi tidak suka dan tatapan mata yang seakan mengatakan.


"Sangat merepotkan."


Huh! Sangat ingin rasanya aku mencungkil kedua bola mata itu untuk santapan anjing terlantar.


"Apa anda tidak punya hati nurani, pergi jauh meninggalkan saya tanpa berpamitan?"


Akhirnya Theala tidak tahan lagi untuk terus menunggu dan sudah frustasi akan perasaannya yang seperti selalu ditarik ulur oleh suaminya tersebut. Tidak peduli lagi akan kelancangannya yang seakan terus mendesak Harvey agar mau memberi respon atas tindakan-tindakannya.


...•••HATE•••...


Harvey


Hati nurani ya...


Benar.


Aku tidak punya itu.


Kalau memang aku punya hati nurani, tidak seharusnya aku menyeretmu masuk ke dalam kehidupanku. Kalau aku punya hati nurani aku tidak boleh lagi membuatmu tenggelam karena disisiku.


Kebetulan atau bukan, mitos atau bukan. Pokoknya kau tidak boleh bersamaku.


Harusnya seperti itu...


Tapi kenapa aku ingin egois?


Pertama kalinya di hidupku aku tidak ingin melepaskan wanita dari sisiku. Pertama kalinya aku takut kehilangan wanita. Pertama kalinya aku tidak ingin seorang pun menyentuhnya.


"Kalau saja saya tahu hari ini anda akan pergi saya pasti akan--" ucapan Theala terhenti berganti dengan kecupan singkat yang ia daratkan di bibir suaminya dengan kakinya yang berjinjit.


Theala... Kau bisa mati kalau terus bersamaku.


Tapi kalau aku bilang aku tidak ingin melepaskanmu, apa kau akan siap bertaruh nyawa hanya untuk berada disisiku?


"Kalau mau melakukannya.... Lakukan yang benar."


Harvey akhirnya membuka suaranya. Kedua tangannya meraih tengkuk leher Theala dan mencium bibir kecil itu sangat dalam, melupakan bahwa mereka sedang berada ditempat umum.


...•••HATE•••...