
Mereka yang melihat cek seharga 5 M terbelalak mata, mereka berpikir dari mana Vio mendapatkan uang sebanyak ini setau mereka Vio itu tidak bekerja bahkan mereka berasumsi Vio mendapatkan uang itu dengan menjual tubuhnya.
Buruk sekali pikiran mereka terhadap orang lain.
Setelah itu Vio dan yang lainnya pergi menaiki helikopter, mang Ujang dan bi Ijah menaiki mobil penjaga berseragam hitam yang selalu membuntuti Vio kemanapun dia pergi.
_______________________________________
Keesokan harinya Vio berada di salah satu Mansion nya di negara A. Vio saat ini tengah bersantai di ruang tamu seorang diri. Menonton televisi menyaksikan berita terhot se antero negara. Membicarakan pernikahan ahli waris keluarga terkaya no.1 di negara A. Vio bersantai riya sambil meminum teh tapi masih dengan tanpa ekspresi.
Padahal didalam hatinya menyimpan kesedihan, kekecewaan yang mendalam terhadap mereka bahkan malah membuatnya bertekad membalaskan dendam suatu saat nanti.
Tidak jauh di belakang Vio, mang Ujang dan bi Ijah menyaksikan berita tersebut. Mereka khawatir dengan keadaan Vio yang sekarang irit bicara hanya deheman dan anggukan saja seperti raga tanpa jiwa.
Tak!!
Tak!!
Dina menuruni tangga dengan memakai pakaian santai. Dina melihat Vio menonton berita tersebut mempercepat langkahnya sampai didepan tv Dina langsung mematikan tv tersebut.
"Vio." ucap Dina lirih melihat air mata Vio terjatuh. Dina langsung memeluk Vio. Vio menangis dengan keras menumpahkan semua yang dia rasakan.
"Huwaaa,, hiks,. Sakit hati Vio. hiks, hiks,, mereka tega mengkhianati Vio Din. mereka jahat." ucap Vio sesegukan.
"Tumpahkan semuanya ya sayang, setelah itu jadilah kuat seperti Vio yang aku kenal, Vio yang tangguh, pemberani dan Vio yang kejam terhadap musuhnya. Balas perbuatan mereka yang mengkhianati mu, aku selalu mendukung mu sayang." ucap Dina sambil mengusap kepala Vio.
Vio yang mendengar hanya menganggukkan kepala tapi cairan dari hidung udah lumer dipakaian Dina.
"Dih, Vio jorok. Cairan di hidungmu keluar tu sampai kena baju ku lagi." ucap Dina yang menghibur Vio agar meredakan tangisnya.
Vio yang mendengarnya langsung menghentikan tangisnya bahkan hidungnya kembang kempis.
"Dina!" teriak Vio.
"Hahahaha." Dina hanya tertawa.
"Gak lucu Din." ucap Vio cemberut
"Duh imutnya, gitu dong jangan seperti mayat hidup kaku begini tu muka." ucap Dina mengelus kepala Vio.
Mang Ujang dan bi Ijah pun berjalan menghampiri mereka. Dengan wajah cengengesan.
"Atuh si Non gini dong senyum gitu, sekarang senyum Non mahal ya, betul gak Jang?" ucap bi Ijah.
"Iya betul tu Neng Vio, Neng Vio kalo gak senyum nyeremin banget ampe ini bulu kuduk pada merinding semua." ucap mang Ujang sambil bergidik.
Vio yang mendengar hanya menganggukkan kepala sambil berkata "Dengar, aku bukan Vio yang dulu. Vio yang dulu sudah mati. Vio yang sekarang adalah seorang yang kejam pada musuhnya, baik terhadap orang terdekatnya, dan kalau kalian mengharapkan senyum ku itu sangat mahal ada masanya diriku akan sering tersenyum tapi untuk saat ini senyum ku sangat jarang terlihat." ucap Vio dengan serius dan tegas.
Mereka yang mendengar hanya menganggukkan kepala mengiyakan perkataan Vio, karena Vio yang sekarang berbeda dengan yang dulu.
"Ok aku ingin bicara serius dengan kalian bertiga, Mang Ujang dan bi Ijah kalian berdua akan segera menikah.. Ka." belum sempat Vio menyelesaikan perkataannya sudah terpotong dengan teriakan mereka
"What?" ucap mereka terkejut
Dina yang mendengar keterkejutan mereka menutup kupingnya karena mereka berdekatan dengannya, Vio yang mendengar teriakan mereka hanya memutar bola malas.
"Yeyeyeye, Ujang gak lagi jadi jones (jomblo ngenes). Akhirnya Ujang gak jadi bujang lapuk. Uhuy. Mak, Ujang bentar lagi nikah." Mang Ujang meloncat-loncat seperti anak kecil dapat permen lolipop.
Bi Ijah yang mendengar hanya terdiam tidak bisa berbicara, bahkan mukanya seperti kepiting rebus karena malu. dih bi Ijah malu-malu meong. wkwk
"Kalian akan segera menikah berkasnya akan diurus secepatnya oleh pengacara Kim Jo." ucap Vio, mereka yang mendengar hanya menganggukkan kepala.
"Din gue mau bikin perusahaan di Australia, kita usahakan dalam waktu kurang lebih 2 bulan perusahaan sudah beroperasi, lu yang bakal jadi wakil gue." ucap Vio dengan serius.
"Siap Queen." ucap Dina dengan wajah serius.
Dina akan memanggil Vio dengan sebutan Queen pada saat ada orang terdekat, kalau di luar dia akan memanggil Nona.
"Aku mau pergi dulu." ucap Vio sambil berdiri
"Loh neng Vio kalau mang Ujang dipecat, bagaimana menghidupi Neng Ijah nanti, masa Mang Ujang ngasih makan bi Ijah batu." protes Mang Ujang, bi Ijah menganggukkan kepala sambil melototi ke arah mang Ujang dikira perut bi Ijah baja bisa makan batu, Mang Ujang yang dipelototi hanya cengengesan.
Dina yang disebelah mereka bahkan tepuk jidat karena ketidak normalan mereka berdua, apa lagi Vio dia hanya menggeleng kepala bingung jalur pikiran mereka yang aneh.
"Mang Ujang dan bi Ijah kalian akan menjadi orang tua kami, sayangi kami seperti bibi menyayangi anak bibi sendiri, tapi ingat aku paling tidak suka yang namanya PENGKHIANATAN." ucap Vio dengan serius
"Baik." ucap mereka serempak. Mereka bahkan terharu bi Ijah bahkan menitikkan air mata karena mereka mempunyai anak yang cantik sekali bahkan mereka bersyukur diangkat menjadi orang tua mereka.
Mereka tahu bagaimana perasaan Vio dibuang dan dikhianati oleh keluarganya sendiri mereka juga tahu kalau Dina yatim piatu. Dina yang disebelahnya bahkan tidak bisa menutupi senyumnya karena dia sebentar lagi merasakan kasih sayang orang tua yang sudah lama diimpikannya sedari kecil.
"Din, rubah style mereka. Mereka akan jadi papa dan mama kita." ucap Vio dengan wajah datar.
"Siap Queen." ucap Dina berdiri sambil hormat
Vio pun berlalu menaiki tangga menuju kamarnya.
______________________________________
2 Jam kemudian, saat ini Vio mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi bahkan Vio sangat lihai seperti pembalap menyalip para musuhnya.
Beberapa saat kemudian Vio sampai ditempat yang penuh dengan memory terindah di hidup nya, taman yang indah, air danau yang jernih, udara yang sejuk bahkan perahu pun masih ada pikir Vio, bahkan Vio saat ini berada di atas perahu tanpa Vio sadari dia bahkan menampilkan senyum yang begitu menawan. Vio mengingat masa lalunya bersama orang tuanya.
**Flashback
"Ayah ibu, tamannya sangat cantik. Vio suka. Lalalala." ucap Vio kecil berjalan sambil bersenandung riang bahkan Vio berlarian kesana kemari. Vio yang berusia 6 tahun
"Vio sayang hati-hati nak." ucap ibu Vio cemas
"Sudah sayang biarkan saja, kita jarang bisa bersantai seperti ini. Lihat anak kita bahagia sekali dia kita ajak ke sini." ucap Ayah Vio meredakan kecemasan istrinya dengan tangan saling bergandengan. Ibu Vio hanya menganggukkan kepala.
"Kamu itu cantik banget sayang, aku makin cinta sama kamu." ucap Ayah Vio dengan tatapan penuh dengan cinta.
Seketika lope-lope beterbangan di udara. Bucin nya kek author. wkwkw
Istrinya yang mendengar itu pun pipinya bersemu merah. "Mas malu ih." ucap ibu Vio sambil menundukkan kepala.
"Loh sayang kenapa jadi malu-malu meong gini sih." goda ayah Vio sambil mencubit ujung dagu istrinya agar menatapnya. Perlahan wajah mereka mendekat. Hanya tersisa beberapa cm lagi.
"Ayah Ibu ayo naik perahu." teriak Vio menghentikan aktivitas mereka. Lah buyar angan mereka berdua menyesap manisnya madu yang bersarang dibibir masing-masing. wkwkw
"Iya sayang." ucap mereka serempak, bahkan wajah ayahnya tersenyum kecut. wkkww
Saat ini mereka sudah naik perahu sambil tertawa dan berfoto riya, Vio kecil begitu bahagia.
"Ayah Ibu weekend nanti kita pergi kesini lagi yah." ucap Vio dengan antusias bahkan senyumnya pun mengembang dari tadi.
"Baiklah sayang weekend nanti kita bakal kesini lagi." ucap Ibu Vio sambil mengusap kepala anaknya. Ayah Vio lagi asik mendayung perahu
"Ayah ibu, nanti setelah Vio dewasa kita kesini lagi ya. Biar Vio yang mendayung perahu ini." ucap Vio dengan janjinya
"Ok sayang." ucap mereka serempak
DOR!!
_____________________________
VISUAL Dina Maureen
Sumber : google
Next ya, duh author perlu asupan gizi bisr semangat. Jangan lupa kasih rate, bom like, komen dan vote. wkwkw