
"Hahahaha.. Sebelum aku pergi dari sini, Kau PERNIKAHAN KITA BATAL." ucap Vio sinis sambil menunjuk Gio.
"Aku tidak sudi menikah dengan wanita tukang selingkuh seperti mu Vio." ucap Gio dengan tatapan jijik.
"Cuih.. bahkan aku menyesal mengenal dirimu selama 2 tahun." ucap Vio sambil meludah ke samping..
Et dah, untung author gak kena. wkwkw
"Gu..." belum sempat Gio membalas ucapan Vio, Ayahnya Gio memotong pembicaraan.
"Pernikahan akan tetap dilanjutkan."
"What? Ayah.. No!" ucap Gio menaikkan 1 oktaf suaranya.
"Dengerin dulu et dah busyet lu anak bau kencur main potong aja ucapan ayah lu, Ayah mau kamu menikah dengan Linda. Mau di taruh dimana muka kami kalau pernikahan ini dibatalkan." lanjut Ayah Gio
"Hmm.. Oke Gio terserah yang lain aja." ucap Gio tersenyum tipis.
"Bagaimana Linda apakah kamu setuju menikah dengan Gio anak ayah?" tanya ayah Gio
Linda pun menganggukkan kepala sambil tertunduk malu mereka tidak ada yang tau kalau Linda sedang menyeringai. Hatinya berbunga-bunga karena sebentar lagi dia yang bakal jadi ahli waris yang dikenal di seluruh negara A dan di luar Negeri.
Yang lain pun merasa lega karena mereka bisa menunjukkan muka ke depan publik, tapi setelah mendengar ucapan Vio mereka terdiam sesaat
"Heh, Malu-malu tapi mau. Padahal kan kalian memang berselingkuh dibelakang gue? Lu bahkan udah nyerahin kesucian lu sama Gio?" ucap Vio dengan sinis menunjuk ke arah Linda.
"Kau jangan menuduh sembarangan ka, buktinya kau lah yang berselingkuh di belakang Kak Gio." ucap Linda menunjuk ke arah Vio
"Hello, Maling teriak maling. You guys are a disgusting couple (kalian memang pasangan yang menjijikkan)." ucapan Vio tatapan dingin tanpa ekspresi.
"Memang anak a***** yang tidak tau di untung, sudah di pungut masih mengigit." lanjut Vio dengan sinis membuat amarah semua orang tersulut.
PLAK!!
SRET!!
Pipi Vio yang kesekian kalinya ditampar. Et dah, tahan amat lu tong.. Bahkan rambutnya dijambak sampai Vio terjatuh kelantai. Vio mendongak menatap orang yang menamparnya ternyata adalah ibu nya Gio mantan calon mertua.
Vio pun membatin "Ya amsyong ampe nih nenek lampir ngikut campur juga, helah bikin mood gue tambah jelek aja ah."
"Diam ae dah lu thor gak usah jawab dasar b***." ucap Vio
"-_-"
Back to story'
Mang Ujang dan para pelayan melihat kehebohan itu hanya terdiam, apa lagi bi Ijah orang yang sangat menyayangi Nona nya sudah menangis dari tadi melihat ketidakadilan, kekerasan, pengkhianatan dan penghinaan yang diterima nona nya bagaimana dia bisa membantu dia hanya pelayan di rumah besar tersebut.
Bi Ijah pun pergi keluar dari sana karena sudah tidak tahan dengan adegan yang mereka lihat, segera mang Ujang menyusul dan para pelayan pergi takut kena imbas nya.
Bi Ijah yang sekarang duduk di taman depan mansion hanya menangis dan melamun. Mang Ujang pun menghampirinya.
"Neng Ijah sudah ya jangan menangis lagi, Ujang tahu ko bagaimana sifatnya neng Vio dia gak mungkin begitu atuh. Neng Vio selama ini teh orangnya baik hati, lemah lembut, lugu, murah senyum, itu semua juga neng Ijah turut andil membesarkan neng Vio. Kita bisa apa neng gak bisa melawan kekuatan mereka kita mah hanya pelayan disini kalau kita di pecat kita gak bakalan punya kerjaan lagi."
"Hikss... hiks.. Jang aku tidak tega melihat Nona diperlakukan begitu.. Hati Ijah sakit Jang." Bi Ijah menangis dalam pelukan Mlmang Ujang.
"Uhuy, dipeluk Neng Ijah. Kesempatan tidak datang dua kali atuh. hehe Berasa hati Ujang mau melayang ini mah." batin mang Ujang, sambil mengelus kepala bi Ijah.
Dina yang saat ini memegang tablet sambil memperhatikan perlakuan mereka kepada Vio walau Vio mengikuti permainan yang mereka ciptakan tapi Dina tetap merasa marah. Wajah Dina memerah sambil menggertak kan gigi, tangan terkepal terlihat buku-buku jarinya memutih.
"Kurang ajar, awas kalian."ucap Dina dengan sorot mata yang tajam.
"Nona, 5 menit lagi kita sampai." ucap pilot
"Pertahankan tetap sesuai dengan waktu, kalau sudah aba-aba dari Queen segera kita mendarat." ucap Dina sambil memejamkan mata menenangkan emosi yang sudah siap meledak. kek bom dong. wkwk
#Mansion Anastasia
"Ingat Gio, Ibu tak sudi punya menantu j***** seperti dia. MENGERTI." bentak Ibu Gio.
Vio pun berdiri, dia bahkan merasa dunianya telah hancur. Vio yang mengetahui permainan mereka bahkan mengikuti keinginan mereka malah dirinya yang berujung mendapat ketidak adilan.
"Hahahaha.. kalian bahkan memandang diriku sebelah mata tanpa mendengarkan penjelasan dari ku!" Vio tertawa menunjukkan sorot mata yang ta.jam.
"Baik.. kalian yang memutuskan hubungan darah dengan ku. Kalian sendiri yang mempercayai orang asing ketimbang darah daging kalian sendiri." ucap Vio dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ingat kata-kata ku, kebenaran akan terungkap suatu saat nanti. Kalian jangan menyesal dikemudian hari membuang berlian demi sebongkah besi karatan,
(hihihi kek tua dong Linda gue kata karatan) batin Vio sambil tersenyum simpul.
Pada saat nanti kalian menyesal. Aku tidak akan menerima maaf kalian lagi bahkan kalian bersimpuh pun aku tidak akan MENERIMANYA ." Ucap Vio dengan tegas.
"Ketidakadilan, kekerasan, pengkhianatan dan penghinaan ini akan aku balas suatu saat nanti." ucap Vio sambil berjalan menuju meja mengambil pisau.
"INGAT.. NAMA KU ADALAH VIONA TANPA MARGA KALIAN, BAGI KU KALIAN SUDAH MATI."
Vio melukai telapak tangannya, darah segar mengalir sampai ke lantai. Dengan menggenggam tangannya Vio berucap dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
"Mata dibalas mata, darah dibalas darah. Saksi bisu yang kalian lakukan padaku akan terbalaskan." Vio berbalik badan, sambil memegang antingnya.
Tit!!
"Segera mendarat, gue udah gak tahan melihat wajah busuk mereka." teriak Vio sambil mengeluarkan air mata.
"Bb..baik." terdengar jawaban suara diseberang sana dengan gugup.
Mereka yang disana melihat Vio berteriak hanya saling pandang sambil mengangkat bahu.
"Entah lah mungkin g***." ucap salah satu keluarganya sambil menyontohkan jari di letakkan di jidat dengan gaya miring.
"Dia frustasi karena di usir gak bawa duit sepeser pun." sanggah yang lain.
Suara pohon dan rumput yang bergoyang diterpa angin akibat putaran dari baling-baling bambu. wkwkw. Baling-baling helikopter.
Diluar mang Ujang yang melihat helikopter mendarat segera berlari ke dalam.
Vio baru melangkah 2 kali segera berhenti. Dina sudah menginfokan kalau helikopter sudah mendarat didepan mansion. Vio hanya menjawab dengan deheman. Baru mau melangkah lagi Vio terdiam melihat mang Ujang berlari ke dalam kek di kejar angsa yang mau nyosor aja. wkwk
"Di... di depan. hoss... hoss." ucap mang Ujang ngos-ngosan.
"Jang ada apa mengapa kau lari-lari sampai ngos-ngosan begitu?" tanya ayah Vio
"Ada helikopter mendarat di depan mansion tuan.. hufftt" jawab Mang Ujang
"Siapa yang datang?" mereka saling pandang satu sama lain karena tidak ada yang tau siapa yang datang.
Vio pun segera berjalan keluar sendirian, dengan tatapan dingin tanpa ekspresi.
Dia tidak memperdulikan orang sekitarnya lagi bagi dia keluarganya sudah mati.
_________________________________________
Visual Meta Amarta/Ibu Gio
Sumber: google
Visual Dion Amarta/Ayah Gio
sumber: google
adoh thor perlu like, komen, rate kalian ya gaes. wkwkw. biar semangat updatenya dapat asupan dari kalian.
.
.
.
.
Tbc*