Great Woman

Great Woman
Episode 23



Setelah identitas Edward and the geng terbongkar oleh Vio, mereka pun menginap di Mansion Vio. Dan mendapatkan pelayanan terbaik atas perintah Vio sebagai ungkapan terimakasih nya.


"Kami belum beli pakaian nona, saya kurang merasa enak dengan pakaian kotor." ucap Arthur yang memang gila akan kebersihan dari pada yang lain.


Vio yang melihat itu pun menganggukkan kepala dengan wajah datar nya.


"Din.." Vio memanggil Dina, Dina yang di panggil pun paham.


Segera Dina beranjak dari tempat duduk nya menelpon seseorang di sana.


Sayup-sayup mereka mendengar Dina memerintahkan entah siapa itu mereka tidak tau.


"Halo.., kosongkan Mall dalam waktu 20 menit. Tanpa ada kecualian. Persiapkan dengan baik.!!" perintah Dina sambil menutup telpon itu tanpa mendengarkan jawaban yang di sana.


"OK.., untuk kalian semua termasuk papa dan mama silahkan kalian bersiap waktu di mulai dari sekarang!!" perintah Vio sambil beranjak dari kursi nya menuju kamar nya.


Mereka yang mendengar itu pun gelagapan sampai berlarian ke sana ke mari seperti anak hilang.


Hanya Edward and the geng dan tim Alpha yang terbengong melihat itu, hanya sekali perintah dari Vio mereka seperti orang kecacingan.


20 menit kemudian mereka semua sudah berkumpul, termasuk Vio yang paling sederhana di antara mereka.


Tapi Edward and the geng tau, kalau pakaian yang di gunakan Vio limited edition.


Segera 6 buah mobil konvoi membelah jalanan 2 mobil pengawal, 3 lain nya di kendarai Edward, Dina dan Andi dan Vio yang berkendara dengan membawa papa dan mama nya.


Mall Brianna toko sepatu wanita terlihat sepasang suami istri yang asik memilih koleksi sepatu yang terpajang di rak nya.


"Sayang ini cantik, aku suka." ucap manja wanita itu dengan bergelayut di lengan suami nya.


"Ok, pilih lagi yang kamu mau Linda sayang." perintah Gio dengan mengusap kepala Linda dengan sebelah tangan nya.


"Ini juga cantik, aku juga mau." lagi Linda meminta model sepatu yang lain.


"Kamu ya suka sekali ngoleksi sepatu." ucap Gio gemas mencubit hidung Linda.


"Ah sayang sakit tau." Linda cemberut. Sedangkan Gio terkekeh melihat ekpresi istri nya itu.


Seketika kebahagiaan mereka buyar dengan kedatangan salah satu pelayan.


"Maaf tuan dan nyonya, Mall ini akan segera kami tutup." pelayan itu dengan sopan menyampaikan perintah dari Manager nya.


"Kamu siapa melarang kami keluar dari sini." Bentak Linda dengan kesal, padahal sudah enak-enakan bermanja ria ada aja gangguan nya. Sabar ya nenek lampir. Hihi.


"Maaf nyonya tapi ini perintah dari atasan saya, silahkan anda sekalian pintu nya lewat sini." pegawai itu mempersilahkan mereka keluar dengan terpaksa mereka pun keluar wajah Linda sudah di tekuk habis gagal beli sabar yang di inginkan nya.


Semua pelanggan di arah kan menuju loby agar memudahkan mereka mengatur supaya tidak menggangu sang CEO dan tamu nya.


#


Mereka berhenti di tempat parkiran VIP yang memang khusus untuk para petinggi Mall, mereka turun semua.


Mereka menuju Mall dengan lift khusus untuk CEO. Karena orang nya banyak jadi mereka membagi 3 kelompok ada yang naik lift umum.


Kelompok pertama Vio, mama, papa, Edward and the geng menaiki lift khusus sedangkan, kelompok kedua Dina, Liza, Lala, Freya, Chloe, dan kelompok ketiga Andi, Vira, Gita, Tara, Roso serta Ola menaiki lift umum.


Karena parkiran dan loby berdekatan Linda dan Gio dari luar tidak sengaja melihat Vio di rombongan itu memasuki lift khusus petinggi Mall. Linda merasa iri Vio bisa naik lift khusus itu dan mengapa dia boleh masuk sedangkan mereka malah di suruh keluar.


Dengan apa yang Vio miliki wajah nya, tubuh bak model, kekayaan nya, orang tua serta kekasih Vio sudah semuanya di miliki Linda. Namanya juga orang serakah tidak pernah merasa puas.


Mereka geram dan mengikuti Vio dari belakang karena mereka tidak bisa naik lift khusus mereka naik lift umum, karena orang nya banyak jadi para pegawai di Mall itu tidak memperhatikan mungkin mereka mengira kalau Linda dan Gio juga ikut dalam kelompok itu mungkin tertinggal pikir salah satu pegawai yang melihat itu.


Mereka di sambut oleh manager Mall bapak Dermawan, dia membimbing Vio dan rombongan ke toko pakaian pria.


Mereka memilih pakaian itu, bahkan tidak segan mereka bertanya dengan Vio cocok apa tidak nya.


Vio bahkan menyuruh mereka memanggil nama nya tanpa embel-embel Nona.


"Vio bagaimana dengan hody ini cocok gak sama aku..?" tanya Edward dengan wajah polos nya. Vio hanya menganggukkan kepala nya.


"Vio bagaimana dengan kaos ini cocok gak..?" tanya Harry dengan senyum tampan nya.


Vio menganggukkan kepala nya lagi.


"Ini gimana cocok gak..?" tanya Arthur dengan wajah baby face nya, Vio menganggukkan kepala lagi dengan datar dia bahkan di buat pusing dengan kelakukan para lelaki di depannya. Mengapa malah bertanya pada nya.


"Vi ini gimana..?" tanya Dennis lagi dengan wajah di imut-imutin nya. Vio menganggukkan kepala lagi. Sabar Vio sabar pikir Vio.


"Cukup, gue pusing liat tingkah kalian seperti bocah." ucap Vio kesal dengan kaki di hentakkan nya dan meninggalkan mereka semua keluar. Mereka bahkan melihat Vio menunjukkan ekspresi seperti itu terkekeh geli karena baru pertama kali melihat sikap Vio yang seperti itu. Menggemaskan.


Mengapa dia bersikap seperti itu pada mereka padahal baru juga ketemu gak nyampe 24 jam, mungkin Vio sudah merasa nyaman akibat kejadian siang tadi.


Vio pun berjalan memasuki tas branded, dia memilih beberapa model yang ingin di pakai nya.


Setelah itu dia keluar tanpa sengaja dia bertabrakan dengan Linda.


BRUG!!


Vio terhuyung ke belakang tapi tidak dengan Linda tubuh nya di tahan Gio.


"Lu jalan gak pake mata ya, main tabrak aja." ucap Linda kesal.


Vio hanya terdiam dengan ekspresi datar nya melihat kedua manusia laknat di depan nya.


"Lu ngapain disini? mau beli barang branded juga tapi gak punya uang apa lu jual tubuh lu ya..?" Sarkas Linda dengan wajah jijik nya.


PLAK!!


Satu tamparan melayang di pipi Linda, bahkan sudut bibir nya terluka. Saking keras nya ayunan tangan Vio.


"Lu jadi wanita jangan barbar Vi, sadar diri lu itu sudah gak suci lagi." ejek Gio dengan sinis.


"Cih, maling teriak maling." Vio berucap dingin sambil menatap mereka.


Keributan yang mereka lakukan mengundang para pegawai berkumpul. Edward and the geng yang mendengar keributan itu pun keluar tak lupa memakai masker nya agar wajah mereka tidak terekspos.


Edward and the geng lebih dulu sampai ke tempat dimana Vio beradu mulut. Gio bahkan mau melayangkan tangan nya tapi di tahan Arthur.


"Selow bro, jadi cowo jangan main fisik." sindir nya sambil menghempaskan tangan Gio.


Salah satu nya berlari mencari pak Dermawan selaku manager itu.


"Pak ada yang lagi bertengkar." jelas pegawai itu dengan napas yang menderu akibat berlari.


Pak Dermawan yang mendengar itu pun melangkahkan kaki nya menuju asal pertikaian. Bahkan Dina dan yang lain pun mengikuti mereka.


Sampai di tempat kejadian wajah Dina, Andi, papa Sean dan mama Berlin menahan emosi agar tidak meledak. Mereka bahkan mengepalkan tangan dengan kuat.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tbc*