Great Woman

Great Woman
Episode 10



“Vio” teriak Dina sambil berlari melihat keadaan Vio bersimbah darah padahal itu darah korbannya. Sampai didepannya Dina memutar tubuh Vio mengecek keseluruhan dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Memang Vio lebay nya kumat. Vio yang diperlakukan seperti itu membuat kepalanya pusing.


“Syukurlah kamu gak papa Vi, sialan anak buah k******, gak guna memang gua hukum mereka entar.” Dina nyerocos tak hentinya sampai matanya mengarah pada 2 wanita di samping Vio dengan penampilan berantakan dan wajah mereka penuh luka.


“Mereka siapa Vio?” tanya Dina menunjuk ke arah mereka, Vio hanya mengangkat bahu dan berlalu meninggalkan mereka.


Vio memang tidak tau siapa mereka. Vio hanya masa bodo, dia gak peduli tentang identitas mereka toh nanti dianya bakal dikasih tau juga oleh Dina.


“Astaga memang itu anak. Dasar gunung es lo.” teriak Dina, Vio yang mendengarnya hanya meangkat jari tengahnya tanpa berbalik badan.


“Sialan.” Dina ngedumel saking kesalnya sama Vio sampai melupakan 2 wanita yang didepannya.


Mereka yang tidak dipedulikan pun saling berbisik.


“Ka kita dikacangin.” bisik wanita sebelah kiri


“Memang lo selalu dikacangin, gue gak tuh.” jawab wanita disampingnya dengan mode songong yang notabennya kakak dari wanita tersebut. Adiknya yang mendengar ucapan kakanya pun merasa kesal.


“Lo” ucap sang adik dengan mata melotot kearah kakanya. Sang kakak pun hanya menjulurkan lidahnya. Karena mereka merasa pegal badannya akhirnya salah satu dari mereka berdehem.


“Ehem.”


Sontak Dina pun tersadar kalau dia tidak sendirian disana. Dengan ekspresi yang berubah seketika terlihat berwibawa.


“Uppss.. Sorry., kenalin Dina Maureen.” ucap Dina sambil mengangkat tangannya kearah mereka . Segera mereka menjawab dengan sopan dan tak kalah wibawanya. Wkwkwk.


“Saya Kim Lala, ini adik saya Kim Liza.” jawab Lala sambil berjabat tangan dengan Dina lalu diikuti dengan Liza.


“Anak dari pasangan Kim Yong dan Yohanna pemilik perusahaan Ky.corp bidang perdagangan diakuisisi oleh perusahaan Jerry Yong paman kalian,


Kim Lala 22 tahun mahasiswa Universitas di Negara A Jurusan Kesehatan, Kim Liza 21 tahun Jurusan Managemen Bisnis.” sahut Dina dengan serius.


Mereka berdua terkejut karena Dina mengetahui identitas mereka. Mereka pun membatin “siapa sih sebenarnya mereka”.


Terlihat dari muka mereka yang bingung seperti orang linglung. Sudut bibir Dina pun terangkat.


“Santai aja tu muka kalian serius amat dah kayak gak pernah lihat cewe secantik gue aja.” ucap Dina songong. Mereka yang mendengar mendengus kesal. Gila PD nya selangit.


“…..”


“Ikut gue.” ucap Dina sambil berjalan mereka pun mengikuti Dina dari belakang.


______________________________________________


#Hotel bintang 5


Waktu menunjukkan pukul 11 malam, terlihat sepasang kekasih yang kelelahan berbaring diatas ranjang setelah mengadakan resepsi pernikahan yang begitu mewah. Banyaknya tamu undangan dari kolega bisnis hingga tokoh terkenal di Amerika.


“Kak aku senang banget bisa jadi istri kamu.” ucap Linda bahagia bahkan hatinya berbunga-bunga.


“Aku juga sayang bahagia mempunyai istri cantik dan seksi sepertimu.” sahut Gio dengan mata penuh dengan kabut nafsu.


Lebay memang wkwkw. Berasa thor mau muntah dengarnya huekk.


Linda yang mendengar itu pun mukanya memerah karena malu, tapi dalam hatinya tertawa bahagia karena sudah menjadi pewaris keluarga terbesar di Negara A bahkan menjadi nyonya Amarta yang di idamkan para kaum hawa diluaran sana.


“Heh Vio, lu lihat sendirikan. Lu sudah bukan siapa-siapa lagi mungkin sekarang lu jadi gelandangan atau lu malah jadi p*****r. Haha. Bahkan lelaki lo yang lo cinta aja berpaling karena pesona gue. Memang gue is the best.” batin Linda kegirangan.


Wkwkw mak lampir gak tau diri.


Linda pun tanpa malu memeluk Gio, Gio yang dipeluk pun melancarkan aksinya karena sudah tidak tahan.


Aduh thor gak kuat. Wkwkw


Adegan bertukar saliva pun terjadi yang awalnya lembut sekarang malah menjadi ******* bahkan tengkuk Linda pun ditekan memperdalam c*im*n mereka tangan Gio yang sebelahnya pun melakukan aksinya memegang salah satu bola kembar.


“Uumm…, Ka Gio.. Sekarang”ucap Linda dengan suara yang tersengal-sengal. Gio yang mendengar itu pun bersemangat. Seketika..


Pedang Gio pun masuk kesarungnya dengan suara ranjang yang berdecit, suara nyanyian syahdu yang saling bersahutan menambah suhu ruangan menjadi panas.


Mereka pun melakukannya berulang kali , membuat mereka bermandikan keringat sampai pukul 4 dini hari baru selesai melakukan konser goyang nyamuk.


Bahkan Linda pun sudah masuk ke alam mimpi, dengan malas Gio menarik selimut menutupi tubuh mereka yang toples. Segera Gio pun ikut terlelap dalam keadaan saling berpelukan.


______________________________________________


#Mansion Vio


Keesokan harinya pukul 10 pagi di Mansion Vio terlihat lelaki menggunakan setelan jas berwarna hitam duduk di sofa ruang tamu mengobrol bersama Dina, Mang Ujang dan Bi Ijah sambil menunggu sang empunya keluar dari kamar. Lala dan Liza masih dalam perawatan dalam kamar khusus dilantai 3 karena luka diwajah mereka.


Sudah 1 jam lamanya mereka menunggu bahkan teh yang disuguhkan pun sudah habis.


“Jo lu sudahkan ngabulin apa yang gue pinta?” Tanya Dina dengan menaik turunkan alisnya.


“Beres pokoknya lu tenang aja, gue banyak koneksi jadi soal membeli tanah kosong sudah terselesaikan tinggal minta tuh anak tanda tanganin doang. Lu tau kan banyak orang yang mau gue jadi pengacaranya tapi guenya yang gak mau. Soalnya bisa berdekatan dengan Queen yang cantiknya jelita, bagaikan bunga mawar berduri.” jawab Jo dengan puitis bahkan cengengesan. Ah lebay. wkwkw


Kim Jo pengacara No 1 di Negara Australia bahkan keahliannya dalam bidang tersebut patut diacungin jempol sebab masalah apapun asal ditangan dia semua jadi beres, Jo bahkan terkenal sampai ke beberapa Negara seperti Negara Amerika, Belanda, Australia, Brazil, Indonesia, Inggris, dan Jepang.


Mereka bahkan menawarkan jutaan dolar hanya untuk menjadikan dia sebagai pengacaranya tapi dia selalu menolak. Jika ada tawaran Jo hanya menjawab.


"Maaf saya sudah menjadi pengacara pribadi Nona V dan kontrak saya selalu diperbaharui setiap tahunnya.”


“Sialan lu Jo, gak bisa liat cewe cantik aja,. Tunggu, ko lo malah bikin kiasan bunga mawar sih kenapa gak sekalian aja bunga kamboja.” sahut Dina dengan kesal sekaligus berpikir bahkan memiringkan kepalanya.


“Aduh ini anak, lu pikir kuburan pake bunga kamboja.” jawab Jo tak kalah kesal, kalau sudah Dina dalam mode Lola (loading lama) begini jadinya itu anak. Susah masuk ke dalam otak.


“Jawab dong Jo.. kenapa malah bunga mawar berduri.” tanya Dina yang sudah penasaran bahkan dia gedek sama Jo. Selalu memberikan kata yang menurutnya susah dipahami.


“Mawar lebih sempurna karena ada durinya. Mawar itu sempurna justru karena punya duri. Cuma banyak orang bilang adanya duri mengganggu keindahan mawar.


Duri itu merusak pemandangan mawar. Padahal justru duri itulah yang membuat mawar dikatakan mawar dan duri itulah membuat mawar dikatakan sempurna.” jawab Jo panjang lebar.


“Lalu apa hubungannya dengan Queen?” Tanya Dina lagi. Dina keponya kumat


“Seperti Queen ku kiaskan seperti mawar. Dan duri seperti aturan tuhan pada setiap wanita. Banyak orang bilang bahwa aturan tuhan bagi wanita merusak keindahan wanita. Membuat wanita sulit bergaul dan susah beraktifitas.


Padahal seperti duri pada mawar. Aturan itu juga membuat wanita dikatakan wanita.” lanjut Jo dengan serius. Gile memang si Jo kata-katanya mantap dah. Ajibb..


“seperti bunga mawar merah ini” tunjuk Jo pada ponselnya terlihat gambar. bunga mawar merah dengan background hitam.


“kenapa bunga mawar backgroundnya berwarna hitam, kan bisa warna hijau, merah atau yang lainnya gitu Jo?” tanya Linda lagi. Hedeh banyak nanya lu.


Mang Ujang dan bii Ijah hanya menyimak sambil nyomot ku kering didepan mereka. Mereka hanya jadi pendengar yang setia. Memang cocok dah.


“Seperti Queen dia tidak mau menjadi mawar berduri ditengah taman. Jika mawar di tengah taman, gampang seseorang akan memetiknya.


Mungkin setelah dipetik hanya di denda 5 dolar, atau di penjara tak lebih dari sebulan. Queen tidak mau seperti itu.


Dia hanya mau menjadi mawar berduri di tepi jurang. Maka background belakangnya berwarna hitam.” jelas Jo.


“Apa maksudnya?” tanya Dina lagi, tuhan Dinda Lolanya kuat hedeh. Gemes sendiri si Jo pen gigit tu bibir dah.


“Dia mau menjadi mawar di tepi jurang, karena suatu tempat saat dia yakin. Kalau kelak ada laki-laki yang memetiknya adalah lelaki yang berani mengarahkan segenap usahanya untuk dia.


Resikonya begitu besar karena berada di tepi jurang taruhannya bukan lagi denda atau kurungan. Tapi bisa jadi nyawa." Jelas Jo lagi.


Setelah itu mereka mendengar suara orang menyahut. seketika mereka berbalik menghadap sang empunya suara.


“Bunga yang beraroma harum dengan kelopak-kelopak yang tertata banyak, dan melindungi benang sarinya dengan seksama tidak mudah mengugurkan mahkota-mahkotanya.


Meskipun dipetik dengan tangkainya dan diletakkan tanpa air, ia mungkin layu, tapi mahkotanya tetap tidak gugur.


Bunga itu masih dilindungi kelopaknya yang tak kalah teguh. Sulit dijangkau, karena harus berhati-hati untuk memetiknya.


Sebab tangkainya yang meskipun kecil, namun kokoh dan berduri. Setiap bagian bunganya begitu mantap dan teguh, selain bentuknya yang indah dan baunya yang harum mawar begtu mempesona.


Mawar begitu misterius, dan elegan semua membuat orang ingin menikmatinya, memetiknya, dan memilikinya.


Namun sekali lagi… tidaklah mudah mendapatkannya. Harus berhati-hati agar durinya tidak melukai, tidak sembarangan bisa diambil, bila tak ingin diserang oleh durinya.


Tangkainya pun kokoh, tak mudah untuk dipatahkan. Sangat teguh pendiriannya, ibarat teguh dengan warna yang dimilikinya tidak mudah meluruhkan harga dirinya untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan jalan prinsipnya.


Betapa mawar tidak mudah mengugurkan mahkota bunganya meskipun ia layu.


Dia akan menjaganya meskipun ia harus berjuang untuk itu, Dan keadaan tidak membuatnya lemah.” ucap Vio panjang lebar dengan bersandar pada dinding menutup mata tetap dengan wajah datarnya.


Vio memang berada di belakang mereka mendengarkan semua pembicaraan mereka tanpa mereka sadari.


Vio yang tidak sadar akan ucapannya itu pun tidak tau kalau dirinya jadi pusat perhatian.


PROK!!


PROK!!


PROK!!


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tbc*