Great Woman

Great Woman
Episode 17



Keesokan harinya terlihat 5 wanita yang duduk di sofa kamar dengan nuansa putih abu-abu.


Dengan ranjang Queen size dengan selimut dan bantal putih abu-abu, lampu tidur hitam diatas nakas dengan tanaman hias bunga lily putih. Sedangkan didepannya terdapat televisi didepan mereka.


Mereka saling bercerita tentang kepahitan hidup yang mereka alami, mereka saling bertukar pendapat. Dari ketidak adilan yang mereka hadapi. Mereka bahkan saling bercerita tentang seorang wanita berhati malaikat yang menolongnya.


“Jadi kalian juga ditolong olehnya..?” tanya Freya kepada kakak beradik itu. Siapa lagi kalau bukan Lala dan Liza.


“Benar, bukan cuman itu dia bahkan mengobati kami yang terluka akibat dari kejadian waktu itu.” jawab Lala dengan raut muka sedih, bahkan Liza hanya menongak kepala keatas agar kiranya air mata itu gak menetes. Teringat mendiang kedua orang tuanya. Senyum dan canda tawa bahkan kejahilan dan kasih sayang yang mereka curahkan kepadanya.


“Dia bahkan menolong kami, bagaimana aku bisa melupakan kejadian itu. Saat dia beraksi semua lawan terkapar ditanah tanpa nyawa.” lanjut Liza.


Mereka berdua yang menceritakan raut wajahnya tidak lagi sedih. Mereka bahkan tersenyum lebar mengingat bagaimana aksi penyelamatan yang Vio lakukan terhadap mereka.


“Bela dirinya patut diacungi jempol, dari yang ku lihat dia juga orang terlatih bisa menggunakan senjata api.” sahut Lala dengan antusias.


“Berarti dia bukan orang sembarangan.” jawab Chloe dengan serius.


“Ingat gak waktu kita diculik, dia mengejar mobil penculik seperti pembalap.” Charlotte berbicara dengan menaikan salah satu alisnya.


“Sudah dipastikan dia bukan orang sembarangan. Dia bukan cuma memiliki satu skill tapi banyak. Dari beladiri, menggunakan senjata api dan mengemudi seperti pembalap.” jawab Lala.


“Tapi dia orangnya sedingin es, gue aja gak pernah liat dia tersenyum. Ngomong juga satu dua kata doang.” keluh Liza. Mereka pun berbicara panjang kali lebar entah apa yang di disuksikann ya hanya mereka dan author yang tau.


#


Vio yang saat ini sedang berada di wardrobe nya sambil memilih baju yang ingin digunakannya. Dia ingin berlatih agar ketahanan tubuhnya semakin kuat. Dengan menggunakan baju tanpa lengan berwarna merah dengan rambut di kuncir kuda memperlihatkan leher jenjang nya yang begitu putih lelaki yang melihat itu pasti meneguk kasar salivanya.


Vio keluar dari kamarnya sambil berjalan melewati salah satu kamar karena pintunya tidak tertutup rapat jadi Vio mendengar gelak tawa mereka didalam sana. Vio yang mendengar mereka tertawa bahagia pun tersenyum sangat tipis sambil melanjutkan jalannya menuju ke ruang bawah tanah yang berada di sebelah ruang khusus yang bertuliskan “DI LARANG MASUK.”


Hanya Vio yang boleh masuk di ruang itu yang lainnya bahkan dilarang untuk mendekat bahkan Dina orang kepercayaannya pun tidak tau apa isi yang ada dalam ruang tersebut.


Vio memasuki ruang bawah tanah yang memang dibuat untuk pelatihan khusus, dengan berlapis pintu yang dimasuki dengan deteksi sidik jari yang memang di buat sedemikian rupa.


Pintunya bahkan 3 lapis dari pintu pertama dengan bahan kayu jati berukiran indah menggunakan password untuk membukanya. Memasuki pintu pertama disuguhkan dengan patung gajah duduk berwarna emas.


Sungguh elegan.


Di samping patung itu terlihat pintu seperti jeruji besi dengan ketebalan besi hingga 10 cm di yakini itu adalah jalan menuju tempat latihan. Untuk membuka pintu itu perlu menyentuh belalai patung gajah tersebut.


Memasuki pintu kedua disuguhkan dengan susunan puzzle kalau disusun itu berbentuk seperti kalajengking dengan simbolnya seperti hruf ‘m’ dengan salah satu ujung berbentuk panah melengkung. Padahal itu hanya untuk kesenangan semata agar tidak bosan.


Tidak jauh dari sana terdapat pintu besi yang begitu besar dengan menggunakan sidik jari baru bisa memasuki ruang itu.


Memasuki pintu itu terlihat lah ruang pelatihan dari ring tinju, lapangan tembak dalam ruangan, lapangan panah, ruang rakit bom dan semacam nya, ruang pelatihan hacker, ruang pebisnis handal, ruang laboratorium penelitian ilmiah, ruang pelatihan otomotif, dan ruang istirahat. Salah satu pintu menuju ke halaman belakang Mansion yang begitu luas untuk lapangan berkuda.


Mama Berlin yang melihat Vio pun memanggilnya.


“Vio sayang.” Vio yang mendengar namanya di panggil pun berhenti dan berbalik badan, mama Berlin yang melihat itu pun mendatangi Vio.


“Dari mana kamu sayang, mama nyariin kamu.” ucap mama Berlin khawatir sambil menggenggam tangan Vio.


“Latihan.” jawab Vio singkat padat dan jelas dengan menunjukkan ekspresi datarnya.


“Ok, lebih baik kamu ke kamar. Mandi terus makan habis itu istirahat ya sayang.”


Vio yang mendengar hanya mengganggukan kepala sambil berlalu meninggalkan orang tua angkatnya. Sampai di kamar Vio membersihkan diri setelah itu dia pun turun ke bawah menuju meja makan.


Di meja makan sudah tersedia makanan yang disiapkan mama Berlin. Vio sendiri yang meminta agar mama Berlin tetap memasak walau ada pelayan yang membantu. Karena Vio paling suka makanan mama angkat nya itu.


Setelah makan dia pun berniat untuk istirahat baru sampai di tangga kedua sudah mendengar suara yang menggelegar memanggil namanya.


Sampai-sampai para pelayan, orang tua nya dan 5 wanita itu berkumpul melihat siapa yang berani memanggil nama Vio sekeras itu. Mereka hanya diam sambil memperhatikan.


Vio tau suara cempreng bagaikan kaleng soda memanggil namanya itu, dia hanya memutar bola mata malas sambil berdiri tanpa berbalik.


“VIONA.” teriaknya.


“Sabar Din, astaga. Lu kaya emak-emak rempong teriak-teriak gak jelas dari depan pagar sampai ke dalam.” omel Jo sambil menahan pergelangan tangan Dina.


“Lepasin dulu Jo.” Jo pun melepaskan tangannya. Dengan secepat kilat Dina berlari menuju Vio. Dan..


HAP!!


Dina langsung memegang pergelangan tangan Vio, Vio pun malah memutar tubuhnya menjadi kebelakang Dina. Dina malah yang terkurung , gak sampai di situ Dina pun mencoba menginjak kaki Vio dari belakang. Vio yang sudah membaca pergerakan Vio pun dengan secepat kilat menghindar.


Vio pun melepaskan Dina, malah Dina yang menyerang Vio kembali dengan mengepalkan tinju menuju ke arah wajah Vio. Vio yang melihat itu melakukan gaya seperti kayang agar terhindar dari pukulan.


Vio hanya melakukan pergerakan menghindari tidak berniat untuk menyerang Dina, karena dia tau Dina saat ini sedang kesal dibuat nya. Akibat ulah dia juga membebani Dina, toh dia juga kan yang jadi orang kepercayaan Vio. Mau bagaimana lagi terima nasib lu Din.


Mereka yang menyaksikan itu pun terbengong hanya Jo yang terlihat santai, bahkan dia dengan tidak sopan nya duduk di sofa tanpa memperdulikan si empu nya rumah yang saat ini adu kekuatan.


Jo pun sebenarnya sudah sering melihat itu karena dia tau Dina hanya menuntaskan kekesalan nya.


____________________________________


**Tbc***