
Dina memberitahukan bahwa para manager mall ingin bertemu dengan pemilik yang baru, karena janji dengan para manager sebenarnya dia males banget, tapi mau bagaimana lagi toh sekarang dia mempunyai usaha mau tidak mau suka tidak suka harus dia terima.
Maka dari itu Vio yang saat ini bersiap dengan menggunakan baju hitam dengan jaket kebesaran nya menggunakan topi bertuliskan ‘Grl Pwr’ disamping kanan topi nya, memakai kacamata hitam dan sambil mengunyah permen karet, dengan celana lefis dan jangan lupa sepatu sport nya.
Dia turun ke lantai bawah, terlihat sepi tidak ada orang hanya para pelayan yang bekerja. Mereka melihat Vio menunduk hormat. Vio hanya acuh, dia berlalu menaiki kendaraan besar seperti kendaraan pembalap moto GP.
Dia melaju membelah jalanan sampai lah dia di parkiran tempat restoran milik keluarga asli nya yang membuang nya. Dia menghembuskan napas berat, dengan langkah yang pasti dia memasuki restoran itu.
Siapa sangka dia melihat nenek lampir marah tidak jelas, dia bahkan mengulum senyum nya mau tertawa melihat Linda yang begitu kesal pakaian yang kotor dan yang pasti bau. Iiiuhh..
Vio merasa jijik melihat itu, lihat lah rahang Vio mengeras karena melihat Linda mau main fisik sebelum melayangkan tangan Vio pun menangkap tangan itu.
HAPP!!
“Lo.” Linda terkejut bahkan mata nya melotot melihat tangan nya di cekal Vio dengan kuat, dia meringis.
“Lepasin gue.” Vio pun menghempaskan tangan Linda hingga ke pentok meja bahkan dia terduduk di kursi.
Memang nenek lampir begitu lemah. Mau bersaing dengan Vio langkahin dulu Author nya. wkwkwk.
Para pelanggan yang sudah berkumpul pun tambah makin ramai para pelayan pun memperhatikan keributan, bahkan Edward and the geng memperhatikan lewat jendela sebab berdekatan dengan tempat duduk Linda.
Mereka saling lirik dan tersenyum entah apa yang ada di otak tampan mereka itu. Ibu Via ‘nama mama Vio’ berhenti heran dengan keributan yang terjadi, dia pun bersuara seketika mereka semua berhamburan keluar restoran karena restoran itu mendadak di tutup untuk sementara.
Hanya tertinggal para pelanggan VVIP tapi mereka kadang tidak perduli dengan kejadian seperti ini.
Linda yang melihat ibu nya datang pun langsung menunjukkan air mata buaya nya, karena Vio membelakangi jadi dia tidak mengerti dia bahkan di buat bingung melihat Linda yang tiba-tiba menangis.
“Kenapa kamu menangis sayang..?” tanya ibu Via dengan nada begitu lembut, di lihat nya anak nya memegang tangan nya sambil di perhatikan berubah membiru, baju nya pun kotor karena tumpahan jus.
Ibu nya belum melihat keberadaan Vio karena terlalu mengkhawatirkan Linda, Vio yang melihat itu hanya memutar bola mata malas.
Raut wajah Vio pun datar, itu tak lepas dari penglihatan 5 pasang mata yang memperhatikan setiap inci gerak tubuh Vio.
Linda pun memainkan drama nya dengan begitu hebat nya “Kakak maafkan aku.” Linda meminta maaf kepada Vio, dengan menunduk.
Gerak tubuh ibu nya pun terhenti mendengar Linda berucap dia bahkan berpaling dan seketika menegang dengan wajah yang menahan amarah.
Entah lah bagaimana bisa seorang ibu begitu membenci anak kandung nya, darah daging nya sendiri. Racun apa yang di berikan Linda, sebegitu hebat nya memutuskan jarak di antara mereka berdua.
“Bagaimana kamu bisa di sini, apa yang kamu lakukan terhadap adik mu..?” tanya ibu Via dengan nada meninggi. Pelayan yang menumpahkan jus itu masih tak bergeming di tempat nya. Dia menunduk takut.
“Nonya Via yang terhormat, saya hanya membantu pelayan ini yang mau di tampar oleh anak ibu. Dan saya tidak mempunyai adik. Sorry.” jawab Vio dengan nada dingin.
“Memang benar bu dia telah menumpahkan jus ke baju ku, lihat lah kotor. Maka nya untuk member pelajaran kepada pelayan kurang ajar ini biar dia kapok. Dia gak becus bekerja. Pecat saja dia ibu.” Jawab Linda dengan sesegukan tapi masih dengan nada memerintah seperti itu.
Ibu Via pun menghembuskan napas kasar bagaimana bisa pelayan nya begitu tidak profesiona seperti ini. Bagaimana nanti malah kualitas restoran ini turun. Pikir nya menimbang tanpa basa basi dia pun memecat pelayan itu.
Toh kurang 1 tinggal cari yang baru banyak yang mau jadi pelayan di restoran milik nya. Memang hati nurani ibu Via tertutup dengan keegoisan nya karena anak nya terluka.
“Maafkan saya nyonya, jangan pecat saya. Anak saya mau makan apa, dia masih kecil. Hikss..” pelayan itu pun memohon bahkan bersujud di depan ibu nya Vio.
Lihat lah dia tidak bergeming sama sekali. Vio yang melihat itu pun mengepalkan tangan, di mana hati nurani ibu nya ini. Mengapa begitu tega terhadap mereka yang butuh pekerjaan.
Mereka berdua terkejut, bahkan pelayan itu pun menongak melihat Vio.
“Gue tidak mengulangi nya lagi. Berdiri..” pelayan itu pun berdiri, Vio pun memegang tangan pelayan itu menarik nya dan berlalu pergi meninggalkan mereka berdua memasuki ruang VVIP 2 itu.
Linda pun melihat sekilas pada saat Vio membuka pintu bahwa di dalam sana lelaki berumur seperti ayah nya, dia pun menyeringai.
“Ibu mengapa Kak Vio masuk ke ruangan itu..?” tanya Linda. Ibu nya hanya menggeleng sambil tersenyum mengelus kepala anak nya sayang.
Karena Linda yang penasaran pun berjalan ke kasir menanyakan ruangan itu atas nama siapa dan di beritahukan bahwa dia manager Mall bapak Dermawan.
Dengan tersenyum senang dia memikirkan rencana agar ibu nya tambah membenci Vio, dia pun memberitahukan pada ibu nya bahwa di dalam sana ada lelaki seumuran ayah nya.
Sontak ibu nya mendengar itu pun menggebrak meja, dengan langkah cepat dia menobrak ruangan itu.
BRAK!!
Yang di dalam sana bahkan terkejut mendengar dobrakan itu, begitu tidak sopan nya. tanpa permisi dia menyelonong masuk.
Linda yang melihat itu pun menyeringai.
Perlakuan Linda dan tindakan ibu nya masih terlihat oleh 5 pasang mata itu. Mereka yang melihat tontonan menarik dari tadi melupakan perut nya yang kosong.
Linda pun berjalan mendekat di dekat jendela kaca ruang VVIP 1 yang terdapat 5 lelaki tampan, Linda mengambil ponsel nya dan menelpon seseorang.
Mereka yang penasaran pun malah menempelkan telinga di jendela itu. Jelas sekali mereka mendengar Linda berbicara dengan seorang lelaki.
“Halo, Rayyan. Gue punya tugas buat lo.”
“Tugas apa bos..?” tanya yang di ponsel nya.
“Gue minta lu celakain itu Vio\, Gue mau lu sama anak buah lu perkosa dia terus lu buang dia di tempat perdagangan para wanita ******.” Perintah Linda.
“Baik bos.”
Linda pun menutup telpon nya dan tersenyum menyeringai. “Lihat Vio sebentar lagi lu bakalan jadi ******\, lu berani main-main sama gue. Heh\, orang tua lu aja membuang lu. Bahkan mereka malah memilih gue yang notaben nya cuman anak angkat.” Ucap Linda\, seketia itu juga mereka yang mendengar itu pun terkejut.
Bagaimana bisa malah anak kandung nya di buang, mereka bahkan memperkenalkan Linda sebagai ahli waris.
________________________________________
VISUAL TARA
VISUAL ROSI
**Tbc***