Great Woman

Great Woman
Episode 21



2 buah mobil berhenti di tempat di mana terjadi pertarungan Vio dan orang suruhan Linda, mereka turun dan terkejut melihat nona nya tersandar di pohon dengan menahan sakit.


Mereka membantu Edward and the geng mengikat orang yang menyerang Vio di salah satu pohon.


Salah seorang pengawal yang berdiri tidak jauh dari mereka menelpon teman nya yang berada tidak jauh dari panti asuhan.


Mereka yang mendengar pun gelagapan, bagaimana bisa Queen mereka terluka. Apa yang akan di lakukan Dina dan Andi kalau mereka tau.


Pasti mereka dapat hukuman yang lebih parah lagi, sudah beberapa kali mereka kecolongan. Tapi hari ini mereka ceroboh karena terlambat mengejar kendaraan Vio.


Salah satu dari mereka menuju ke arah Vio, dia menundukkan kepala sambil berucap "Maafkan kami nona." hanya di balas deheman sama Vio.


Edward and the geng pun menuju ke arah Vio, mereka heran mengapa begitu banyak orang. berpakaian serba hitam, menggunakan kacamata dan memakai anting di telinga kiri mereka.


"Nona apakah nona baik-baik saja?" tanya Arthur cemas.


"Iya, terimakasih." ucap Vio seperlu nya.


"Bagaimana kalau kami mengantar nona pulang." tawar Edward, Vio hanya menganggukkan kepala nya tanda dia setuju.


Vio pun berdiri sambil menuju ke arah mobil Edward, kendaraan Vio pun di bawa salah satu pengawal nya.


Dia masuk sambil bersandar di kursi penumpang sambil memejam kan mata nya, 3 buah konvoi mobil dan di ikuti kendaraan Vio di belakang pergi menuju ke Mansion Vio.


Di lain sisi pengawal yang menerima berita Vio terluka pun bergegas pulang menuju Mansion, salah satu dari mereka turun dari mobil dan berlari secepat mungkin.


Dia bahkan sampai tersandung sofa di dekat nya saking panik nya. Benjol lah jidat nya, dia tidak memperdulikan nya.


Dia memasuki ruang bawah tanah tempat Dina dan Andi melatih mereka.


"Nona.."


"Ketua.."


Napas nya sudah naik turun tidak terkontrol lagi saking cemas nya. Mereka semua yang mendengar teriakan itu pun menoleh karena saat ini mereka sedang istirahat dan berkumpul.


"Ada apa..?" tanya Andi membuka suara.


"Itu.. Queen terluka." jawab nya sambil menundukkan kepala.


"Apa!!" mereka semua terkejut apa lagi Dina, rahang nya sudah mengeras mendengar Vio terluka. Dia paling tidak mau Vio terluka.


"Bagaimana bisa..?" Dina dengan suara meninggi.


"Saya belum tau detail nya, karena kami terbagi di dua tempat. Kami di beritahukan kalau Queen terluka akibat pertarungan." jelas pengawal itu.


Dina dan Andi pun berlari keluar, bahkan dia berteriak memanggil kepala pelayan di suruh nya menyiapkan peralatan medis, memanggil beberapa pelayan yang lain juga.


Sebab profesi kepala pelayan merangkap sebagai dokter, pelayan yang lain juga merupakan perawat yang memang di tugaskan Vio kalau sedang terluka.


Memang Dina berlebihan kalau sudah menyangkut Vio, segala apa pun yang menyangkut kehidupan Vio akan di awasi nya dari hal terkecil sekali pun.


Papa Sean dan mama Berlin pun keluar dari kamar mendengar Dina berteriak.


Kedua pasutri itu pun di buat bingung karena mereka sudah berkumpul semua di depan pintu Mansion.


Mereka pun bertanya pada Vira, Vira pun menjelaskan kalau Vio sedang terluka.


Mereka pun mendengar tak kalah cemas nya, lihat lah Dina, Andi, dan kedua pasutri itu bolak balik seperti setrika.


Mereka yang menyaksikan kelakuan 4 orang di depan nya gitu menggelengkan kepala. Mereka juga khawatir tapi gak berlebihan.


Lihat lah mereka bolak balik ke sana ke mari terkadang ada yang gigit jari.


Tak lama 3 buah konvoi mobil dan kendaraan Vio pun memasuki gerbang Mansion, setelah mobil itu berhenti. Terlihat Vio meringis di salah satu mobil yang mereka tidak kenali.


Vio turun dari mobil di ikuti Edward and the geng, melihat banyak orang di sekitar nya bahkan sudah siap brangkar. OMG.. Vio tepuk jidat.


Terlalu berlebihan.


Vio pun di suruh naik ke brangkar, dia tengkurap karena punggung nya yang begitu sakit.


Semua pengawal berbaris di dekat mobil sambil menunggu. Dina dan Andi sudah menatap tajam ke arah mereka.


"Awas kalian." Dina memberikan peringatan kepada mereka. Mereka hanya bergidik ngeri pasti mereka dapat hukuman.


Vio pun di bawa memasuki Mansion menggunakan lift menaiki lantai 3. Khusus perawatan.


Edward and the geng pun mengikuti mereka dari belakang. Mereka melihat sekeliling Mansion mereka takjub begitu mewah Mansion keluarga nya aja gak semewah ini pikir mereka.


Sampai di ruang perawatan, dokter dan perawat itu menangani Vio. Terlihat jelas raut wajah cemas mereka semua.


Dina dan Andi sudah bolak balik tak karuan, setelah cukup lama mereka menunggu dokter itu pun keluar.


"Bagaimana..?" tanya Dina.


"Punggung Queen mengalami cidera akibat pukulan benda tumpul, tidak parah. Karena sudah saya suntikkan formula yang Queen buat agar mempercepat hilang nya lebam di punggung nya." jelas dokter itu yang merangkap jadi kepala pelayan.


Mereka semua bernapas lega mendengar nya, mereka pun turun ke lantai bawah duduk di ruang tamu menyambut tamu yang belum di jamu mereka.


Saking cemas nya mereka melupakan itu, mereka duduk di sofa. Dina pun sudah mendengar kalau lelaki yang di depan nya ini yang sudah menolong Vio.


"Terimakasih tuan-tuan karena sudah menolong saudari saya." Dina memulai pembicaraan karena di rasa mereka semua canggung dengan situasi yang sekarang mereka hadapi.


"Kami tidak keberatan nona." sahut Harry sambil tersenyum. Mereka yang lain mendengar ucapan terimakasih hanya mengangguk kepala sopan sambil tersenyum.


Duh wanita mana yang gak meleleh melihat senyum tampan nya itu, ayolah. Bahkan 5 lelaki, mereka semua hanya menjerit dalam hati.


"Andi, panggil salah satu anak buah lu." perintah Dina. Andi pun memanggil nya dan sudah berdiri di depan mereka semua, pengawal itu pun menunduk karena salah tingkah karena di tatap puluhan pasang mata.


"Tolong kamu jelaskan apa yang terjadi sebenarnya." pinta Dina dengan tegas.


"Baik nona, saya dan teman saya menunggu di dekat Restoran Anastasia tapi saya tidak tau kalau nona mengadakan rapat di sana. Entah mengapa setelah nona masuk ke dalam restoran itu, pelanggan di sana pada keluar semua.


Setelah itu karena saya penasaran, saya turun bertanya pada salah satu pelanggan mengapa jadi mereka keluar semua dengan raut kesal. Pelanggan itu pun menjelaskan kalau dia melihat seorang pelayan yang di marahin sama nenek lampir bahkan dia mau menampar pelayan itu, untung ada nona yang cantik menggunakan topi." pengawal itu pun menjelaskan panjang lebar, karena dia masih setengah mendapat informasi itu.


Raut wajah papa Sean, mama Berlin, Andi dan Dina pun sudah begitu jelek mendengarnya. Mereka tau siapa itu nenek lampir karena Vio memberikan julukan itu pada Linda.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


**Tbc***