Great Woman

Great Woman
Episode 7



Mereka yang melihat Vio pergi keluar segera mengikutinya mereka penasaran siapa kah yang datang.


Pada saat mereka berhenti semua tercengang melihat seorang wanita dan lelaki turun dari helikopter memberi hormat kepada Vio. Sambil memakaikan mantel hangat di tubuh Vio, mereka tidak tau siapa Vio yang sebenarnya. Hanya terdiam. Bahkan Linda yang melihat itu pun merasa iri, bahkan tangannya terkepal memperlihatkan buku-buku yang memutih. Memang Linda selalu iri apapun yang Vio miliki.


Sayup-sayup mereka mendengar pembicaraan mereka bertiga karena suara baling-baling helikopter yang begitu keras.


"Nona." hormat mereka dengan membungkuk setengah badan.


"Hmm." Vio menjawab dengan deheman, tatapan dingin tanpa ekspresi dan senyuman yang menawan telah hilang dari Viona.


"Semuanya telah siap Nona, anda langsung bisa pergi dari sini." ucap Dina sesaat melihat mata Vio yang menunjukkan kekecewaan dan kesedihan. Vio yang mendengar hanya mengangguk tanpa menjawab.


Vio baru mau melangkah, Linda sudah berjalan menemuinya dengan melenggokkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan bak model berjalan di catwalk. Setelah sampai beberapa meter Linda berbicara sontak Vio mendengar ucapan Linda membuat emosinya langsung tersulut.


"Kak mau kemana, bukan nya kakak sudah tidak mempunyai apapun. Lalu dari manakah orang-orang ini apakah anak buah selingkuhan mu yang menyuruh mereka untuk menjemput mu?" ucap Linda dengan sinis.


Vio yang mendengar hanya menyeringai, lalu Linda pun melanjutkan ucapannya.


"Masa sih kakak jadi wanita simpanan om-om... upss." ucap Linda menahan tawa sambil menutup mulutnya dengan tangan.


Yang lain mendengar penghinaaan Linda terhadap Vio hanya terdiam tidak ada yang membela hanya bi Ijah yang memandang Nona nya dengan sedih dia tau Vio tidak bersalah tapi bi Ijah bisa apa kalau dia ikut campur malah dia di pecat. Dina yang mendengar itu pun mau maju ke arah Linda sudah di hentikan oleh Vio.


Malah Vio yang datang berjalan menuju ke arah Linda dengan tatapan tajam, bahkan sorot mata yang berapi-api seakan mau memakan orang yang dihadapannya. Karena jarak mereka tidak terlalu jauh.


PLAK!!


PLAK!!


SRETT!!


Vio menampar Linda bahkan menjambak rambut Linda sampai mendongak ke arah nya. Linda meringis menahan sakit. Yang lain hendak menghentikannya terdiam karena orang berseragam hitam masuk dari gerbang mengelilingi mereka.


"Ah.. sa..sakitt ka, lepass." Linda berteriak menahan sakit bahkan air matanya pun menetes.


"Lu bilang sakit, heh ini belum seberapa dengar Linda tunggu kehancuran mu. Bagi ku kehancuran mu adalah nomor 1 dihidup ku, jiwa dan raga ku bahkan disetiap aliran darah sampai ke tulang-tulang ku membenci diri mu." bisik Vio. Linda yang mendengar gemetaran air matanya masih menetes dengan derasnya.


"GUE AKAN BALAS DENDAM ATAS PENGHINAAN YANG KALIAN LAKUKAN. DAN TERUTAMA LO DAN LO, tunggu kehancuran 3 keluarga besar Negara Amerika." ucap Vio dengan tegas menunjuk Linda dan Gio tanpa melepaskan tangannya dari rambut Linda. Bahkan Linda diseret Vio sampai ke depan mereka.


Dina yang melihat itu tidak menyangka kalau Vio begitu marah dan kecewa pada mereka. Bahkan Dina baru pertama kali melihat Vio yang murka seperti itu.


"Wadidau, ini sih namanya musuh dalam selimut. Gue aja gak berani nyari masalah sama Vio, lah keluarganya sendiri yang nyari masalah. Mamp*s." batin Dina sambil tersenyum menyeringai.


"DINA!" teriak Vio melepaskan tangannya dari rambut Linda. Linda pun tersungkur di tanah, segera Dina mendengar namanya dipanggil berlari menghampiri Vio


"KAU,, jangan keterlaluan Viona." teriak Gio, yang dipanggil namanya hanya menatap datar tanpa ekspresi.


"KAU WANITA KEJAM VIONA!" teriak ibunya Vio. Vio yang mendengar hanya tersenyum remeh. Dia pun menampilkan tatapan yang begitu jijik memandang Linda.


"Kalian belum tau aja taringnya nona kalau keluar habis kalian." batin Dina sinis.


"Dan satu lagi,, TERIMA KASIH KEPADA KALIAN SEMUA HADIAH ULANG TAHUN YANG KALIAN BERIKAN KEPADA KU SANGAT INDAH DI USIA KU KE 21 TAHUN. SEUMUR HIDUP AKAN KU JADIKAN KENANGAN YANG PALING BERHARGA UNTUK DI MASA DEPAN!" ucap Vio dengan tegas.


"Atuh si non langsung di jadikan pajangan. BUNGKUS SEMUA." teriak mang Ujang sontak semua yang mendengarnya mengalihkan pandangan ke si empunya suara. Mang Ujang yang jadi perhatian semua orang hanya cengengesan.


"Atuh\, maafin Ujang. Ujang keceplosan." ucap Mang Ujang dengan mata polos bagai anak a***** yang minta permen.


PLAK!!


"ADOHH!!, si neng Ijah sakit Ujang teh di pukul." ucap mang Ujang meringis sambil mengusap lengannya yang kena pukul.


"Rasain Jang, kamu sih ini loh suasana menegangkan lo kamu malah nyari mamp*s lagi." sahut Bi Ijah dengan mata melotot.


Sontak mang Ujang dan bi Ijah menutup mulutnya dan menganggukkan kepala.


"Kamu sih Jang." bisik Bi Ijah


"Lah ko Ujang, Neng Ijah juga sama." sahut mang Ujang. Sambil senggol-senggolan mereka. Jodoh gak kemana mang Ujang serahkan pada Author. wkwk.


BRUG!!


Mereka berdua terjatuh\, Mang Ujang jatuh tengkurap. Bi Ijah pun p*nt*t nya mendarat di tanah.


"Aduhh.. Ssttt." Ujang meringis


"Sakittt,, Aduh Jang lu apa-apaan sih. Ingat Jang Ijah gak mau nerima cinta Ujang." tegas Ijah sontak orang yang mendengan suara bi Ijah pun kembali bersuara kek paduan suara aja. kwwkw


"BERISIK!"


Vio yang melihat adegan itu hanya menguap.


"Hoam. Din Kita pergi." ucap Vio melangkah meninggalkan mereka, meninggalkan semua kenangan indah di rumah masa kecilnya.


"Baik nona." jawab Dina. Bi Ijah yang melihat Vio berjalan menuju helikopter pun menyusulnya.


"Non.. Non Vio.. Tunggu bi Ijah non, bi Ijah ikut." sambil berlari bi Ijah berteriak


"Waduh, ditinggal Ijah dan neng Vio Ujang. Gak mau Ujang mau mengejar cinta neng Ijah lagi sebelum jamur kuning melengkung eh salah janur. hihihi." batin mang Ujang


"Neng Vio.. Neng tunggu mang Ujang neng, mang Ujang juga ikut." teriak mang Ujang menyusul Ijah.


Vio mendengar namanya dipanggil pun berhenti tanpa berbalik badan karena Vio sudah merasa lelah bahkan tangan yang disayatnya pun darahnya sudah mengering. Mereka sampai didepan Vio. Bahkan mereka ngos-ngosan mengejar Vio.


"Neng kita ikut neng ya?" ucap mereka serempak


"Nona tidak punya uang buat bayar gajih kalian apakah kalian akan tetap mengikuti Nona kemana pun dia pergi, suka dan duka apakah kalian akan tetap setia dan mempercayainya?" jawab Dina dengan datar,


Vio yang mendengar hanya terdiam dia sengaja mengetes mereka berdua kalau mereka mau hidup susah bareng dia. Tapi siapa sangka Vio mengira mereka tidak mau.


"Gak usah dibayar neng." sahut bi Ijah.


"Iya neng gak usah dibayar, asal dekat dengan neng Ijah sama neng Vio. Mang Ujang udah merasa bersyukur." ucap mang Ujang.


"Hmm." Vio hanya berdehem tanpa ekspresi merespon keantusiasan mereka.


Mereka mendengar jawaban Vio pun bersorak riya bahkan berpelukan, sontak mereka tersadar karena adegan bikin kikuk, langsung melepaskan pelukannya. Bahkan wajah mereka bersemu merah. Aciyee mang ujang cari kesempatan dalam kesempitan. wkwk..


Belum selesai adegan bahagia yang mereka rasakan, sontak tubuh mereka menegang mendengar ucapan Nyonya besar.


"Loh loh.. Jang,, Ijah.. Kalian gak bisa gitu dong.. Kontrak kerja kalian masih setahun lagi. Kalian kena penalti bayar denda 10 kali lipat karena melanggar kontrak kerja." teriak Ibu Vio.


"Aduh Jang gimana ini, kita gak punya duit." cemas Bi Ijah.


"Atuh si neng Ijah, Ujang juga gak punya duit ganti pake apaan jah? daun kh?" sahut mang Ujang sambil gigit kuku.


Vio yang mendengar melirik Dina, Dina yang paham pun segera melaksanakan tugasnya. Dina mengeluarkan cek dari kantongnya. Segera berjalan menuju ke arah penghuni rumah tersebut.


"Ini, silahkan diterima dari Nona saya untuk biaya penalti mereka." ucap Dina dengan datar, melirik sekilas ke arah Vio.


______________________________________________


**Tbc***