
Vio mengetuk pintu ruangan VVIP 2, dan dia masuk bersama pelayan tadi. Mereka yang di dalam itu tercengang bagaimana bisa pemilik mall yang mereka sekarang bekerja begitu cantik bak bidadari serta masih begitu muda.
Mereka pun berkenalan saling berjabat tangan, terlihat Vio begitu berwibawa dengan pembawaan nya yang santai. Sehingga orang yang melihat itu juga ikut terbawa suasana. Mereka larut dalam pembicaraan membuat rencana agar menambah omzet penjualan.
Bukan cuman itu pelayan yang di bawa Vio pun di berikan Vio kerjaan di mall nya itu. Vio tetap dengan ekspresi datar nya sedingin es, sebisa mungkin dia menjawab secara singkat dan padat.
BRAK!!
Mereka terkejut bukan main, mendobrak pintu sehingga terbuka lebar. Sungguh tidak punya sopan santun, lihat lah bagaimana bisa seenak jidat nya main nyelonong begitu saja.
Bisa lah kan dia istri pemilik restoran suka -suka hati dia dong, mereka yang sekarang mengadakan rapat terganggu dengan keributan ini. Ayolah sudah serius nya malah hancur seperti ini.
Dengan langkah yang cepat dia menghampiri Vio.
PLAK!!
Suara tamparan menggema di ruangan itu.
Mereka yang melihat itu sekali lagi ternganga bukan main, bagaimana bisa dia berlaku kasar dengan CEO baru mereka. Ayolah ini hanya permainan yang di mainkan nenek lampir lihat lah Linda yang berada di dekat pintu menyeringai.
Ibu Via menampar Vio, Vio bahkan terkejut dan tidak mengerti mengapa dia di tampar serpeti ini.
Dengan sorot yang tajam menatap ibu nya itu, menunjukkan dia menahan emosi agar tidak lepas kendali.
"Apakah saya ada berbuat salah sama nyonya Via yang terhormat..?" tanya Vio dengan menggertakkan gigi nya.
"Kau ******\, bagaimana bisa kau bersama dengan lelaki yang seumuran dengan ayah mu." sarkas ibu Via sambil menunjukkan jari telunjuk nya menuding Vio tanpa tau apa yang mereka lakukan di ruangan ini.
"Kau memang wanita yang tidak bermoral, memang cocok kau di buang kloleh keluarga mu." Lanjut ibu Via masih dengan nada yang menghina.
Vio yang mendengar itu pun hilang kesabaran nya. "Cukup." Bentak Vio "Nanti kita lanjutin rapat nya, permisi." Vio berlalu meninggalkan mereka semua yang terdiam di ruang itu dengan sorot mata yang sedingin es bagaimana ibu nya bisa berlaku kejam seperti itu menambah luka di hati nya sedalam jurang tak berujung.
Vio melewati Linda yang di dekat pintu sambil Linda berbisik di telinga Vio.
"Nikmati lah, itu salam perpisahan dari ku." Vio berlalu begitu saja tanpa memdengarkan Linda, toh anggap lah sebagai angin lalu.
#
Ruangan VVIP 1, mereka melihat Vio berlalu meninggalkan restoran itu dengan sorot mata yang tajam menahan amarah nya.
"Bro kita ikutin itu cewek." Perintah Edward sambil berdiri mengambil mobil yang baru di beli nya pagi tadi, mereka pun mengikuti dari belakang.
Sampai mereka di parkiran, mereka sekali lagi tercengang melihat Vio menggunakan motor yang besar seperti pembalap GP.
Mereka saling tatap satu sama lain saling bergumam dalam hati "Jiwa laki."
Tanpa Vio sadari dia di ikuti dengan 2 mobil yang berbeda dari belakang, Vio yang hari ini sengaja meminta Dina agar anak buah nya Andi menjaga jarak dari nya.
1 mobil orang suruhan Linda, 1 mobil lagi Edward and the geng. Untuk para pengawal Vio terbagi di dua tempat yang berbeda.
2 mobil di antara nya dekat persimpangan restoran dan 2 lain nya berada di dekat panti asuhan karena Vio berencana menjenguk anak yatim piatu yang kurang beruntung setelah melakukan rapat yang berujung dengan menyakitkan hati nya bertambah dalam luka nya.
Vio memperlambat laju kendaraan nya, dia melihat di kaca spion. Dia merasa di ikuti tapi bukan para pengawal nya melainkan orang lain sebab mobil nya berbeda.
Vio tanpa pikir panjang pun menaikkan gas kendaraan nya. Terjadi lah aksi kejar-kejaran.
"Percepat lagi Edward, dia dalam bahaya." Harry menepuk bahu Edward tanpa memperdulikan kalau orang yang merasakannya meringis.
"Cepat." Teriak Arthur di kursi penumpang, Dennis dan Edric hanya menutup kuping nya.
Mereka tegang melihat aksi Vio begitu lihai nya mengendarai motor itu, cewek yang begitu perkasa.
Menampilkan aksi nya seperti pembalap sungguhan, bahkan suara ban yang berdecit menambah keseruan.
Vio sengaja membawa mereka ke tempat di mana tidak ada orang karena dia tahu, bahwa Linda yang merencanakan sema ini.
Dia ingin melampiaskan amarah nya karena sudah di tahan nya sejak tadi. Menyesakkan dada.
Vio berhenti dan mematikan kendaraan nya. Dia melepaskan helm yang di gunakan nya terlihat lah wajah yang begitu cantik sambil mengikat rambut nya dengan kuncir kuda. Serta melepas jaket yang di gunakan nya.
Para orang suruhan Linda yang berjumlah 5 orang itu pun mendekat ke arah Vio.
Vio dengan santai nya sesekali dengan jari kelingking nya mengorek telinga nya. Kwkwkw.
"Jadi kalian mau gue jadikan apa, ikan pepes apa geprek..?" tanya Vio tanpa ekspresi. Sambil meregangkan tubuh nya yang terdengar bunyi tulang.
"Menghabisi mu." Setelah itu mereka semua menyerang Vio.
Vio dengan lihai menghindari setiap serangan yang di arahkan pada nya dengan membawa helm di tangan nya.
Salah satu dari mereka berniat menendang Vio, tapi kaki nya malaj masuk ke dalam helm. Tanpa pikir panjang Vio pun memutar helm itu ke atas.
BUGH!!
Dia terjatuh karena kehilangan keseimbangan nya, yang lain pun menyerang membabi buta.
Beberapa di antara nya sudah banyak meninggalkan memar di tubuh mereka.
Tidak dengan Vio dia bahkan tidak lecet sedikit pun, hanya begitu banyak keringat nya. Menambah kesan seksi dan menggairah kan.
Dia pun memukul mereka satu persatu dengan helm nya.
BUGH!!
BUGH!!
BUGH!!
BUGH!!
Kejam memang Vio, di pukul pakai helm pasti sakit, mereka semua memegang anggota tubuh mereka yang kesakitan akibat pukulan Vio. Rasakan gimana rasa nya berciuman dengan helm.
Karena Vio yang asik memperhatikan 4 lawan nya yang merintih kesakitan di aspal, dia melupakan seseorang yang saat ini memegang balok kayu yang besar. Tanpa pikir panjang balok kayu itu pun melayang ke punggung belakang Vio.
BUGH!!
Vio terjatuh ke aspal, dia meringis kesakitan punggung nya terasa begitu nyeri, bagaimana dia melupakan 1 orang menghilang di antara mereka. Argghhh... pasti sakit.
Edward and the geng yang baru sampai pun langsung keluar dari mobil menyusul ke arah Vio yang meringis kesakitan.
Mereka pun membalas perbuatan orang suruhan itu dengan menghajar habis-habisan. Vio hanya terduduk bersandar di pohon pinus yang rindang.
Begitu menyejukkan, napas nya tersengal menahan sakit di punggung nya. Belum lagi hati nya begitu perih, mungkin kurang konsentrasi akibat terpecah fokus pikiran nya.
_______________________________________
VISUAL Vira
Tbc*