
Setelah puas menuntaskan kekesalan nya pada Vio, Dina terduduk di sofa dekat Jo. Saat Jo mau minum langsung saja Dina merebut minuman itu dari tangan nya Jo.
Sekali teguk air itu tandas seketika. Jo yang melihat kelakuan Dina tanpa sopan santun pun mendengus kesal.
Memang Dina benar-benar kekelahan akibat beradu tinju dengan Vio. Bukan beradu hanya Dina yang menyerang Vio hanya mengelak dan mengelak saja.
Mereka yang melihat kejadian itu pun tersadar sambil menyenggol satu sama lain. Siapa lagi kalau bukan Freya, Charlotte, dan Chloe. Mereka kan tidak tau siapa Dina dengan berani nya datang langsung buat onar malah menyerang tuan rumah lagi. Pada saat mereka datang Dina lagi menjalankan tugas yang di suruh Vio.
Jadi lah mereka tidak mengenal Dina.
“Ssttt.. mereka siapa..?” bisik Freya pada Lala.
“Ohh., dia Dina salah satu saudara nya sekaligus tangan kanan nya gitu seperti orang kepercayaan.” Jawab Lala tak kalah pelan.
Chloe dan Liza hanya jadi tukang simak.
“Pantesan dia berani sama Vio, terus yang cowok di sebelah nya siapa..?” tanya Charlotte pada mereka. Mereka yang di tanya hanya menggeleng karena memang tidak tau siapa lelaki itu.
Mereka berlima hanya berdiri sambil memperhatikan interaksi orang yang tengah duduk, mama Berlin yang sadar pun langsung tepuk jidat.
Melupakan anak nya yang lain. Segera dia melambaikan tangan memanggil mereka. Mereka pun mendekat ke tempat mama Berlin duduk.
“Jadi mereka bertiga yang lu mau masukin ke kartu keluarga..?” tanya Dina pada Vio yang duduk seorang diri sambil bersandar pada kepala sofa. Vio yang mendengar hanya mengangguk tetap dengan wajah datar nya.
“Ok, karena kalian bertiga belum kenal sama gue. Gue Dina Brianna saudari Vio, dan di samping gue Jo sahabat kami sekaligus pengacara pribadi Vio. Setelah kalian masuk keluarga kami. Kalian berlima akan gue latih sebagai mentor kalian nanti yang jadi asisten gue si Andi.” Jelas Dina panjang lebar sambil memperkenalkan diri nya dan Jo.
Mereka yang mendengarkan hanya mengangguk paham. Dina pun menelpon seseorang dan beberapa menit sampai lah 5 wanita yang Vio minta carikan. Dina pun memperkenalkan nya satu per satu.
“Dari paling kiri ini wanita berpakaian hitam terlihat tomboy bernama Gita rambut pendek pirang di potong seperti lelaki, kulit putih dengan mata sipit, berpakaian hitam putih itu Ola rambut panjang hitam yang bergelombang dengan kulit putih bibir tipis.
Menggunakan pakaian formal abu – abu dia adalah Tara rambut hitam sebahu dengan bibir yang terlihat agak tebal, Rosi berpakaian agak seksi dengan menampilkan belahan depan nya rambut bergelombang bibir tipis dan hidung mancung sedangkan baju merah sebelah paling kanan dia adalah Vira rambut sebahu pirang dengan bibir merah muda.”
Mereka pun mendengar hanya menggangguk sambil berkenalan satu persatu hanya Vio yang diam memperhatikan interaksi mereka.
Bagi Vio yang penting mereka akur satu sama lain dan yang lebih penting tidak ada yang berkhianat itu sudah cukup bagi nya. Trauma akan pengkhianatan jadi dia waspada dari awal pengalaman nya yang dulu.
Vio pun beranjak dari duduk nya sambil melirik Dina dan Jo, mereka yang paham pun mengikuti Vio masuk ke dalam ruang kerja nya. Dia pun memberitahukan agar mereka semua di masukkan dalam satu keluarga.
Dia pun memberikan perintah mulai besok mereka semua di latih habis-habisan agar selesai pas saat pembukaan perusahaan baru yang di adakan 1 bulan lagi di Negara Australia.
Vio tahu sebenarnya mereka mempunyai IQ yang tinggi jadi wajar dia memberikan waktu selama itu.
Bagi Vio itu lama tapi bagi mereka yang mendengar itu waktu yang begitu singkat. Bayangkan 1 bulan loh, hello ini seperti buah simala kama dibuang salah gak di terima salah juga dengan berat hati mereka menyetujui nya.
Mereka hanya menghela napas. Kalau gak sayang sudah di di karungin ini anak pikir mereka.
#
Waktu seminggu berlalu dengan cepat, mereka berlima berkumpul di Negara Indonesia untuk pergi liburan ke New York, Amerika. Lebih baik pergi nya bersama dari pada pergi nya terpisah. Kan susah nanti nya lebih baik gini. Mereka pergi menggunakan pesawat jet pribadi nya keluarga Damara.
Mereka keluar dengan menggunakan masker hitam dengan gaya yang begitu cool serta terlihat seperti aktor, para wanita yang melihat itu pun berteriak histeris ada juga yang memandang mereka sampai kepala nya terputar dan menabrak bak sampah di depan nya, mereka hanya cuek bebek toh kemana pun mereka pergi selalu seperti itu.
Mereka di sambut pegawai hotel AmartaCorp dengan menggunakan fasilitas hotel mereka pun berangkat menuju hotel. Sampai di hotel mereka memasuki kamar presiden suite.
Mulai dari kamar lebih dari 1 hingga 5 ruang tidur, ruang tamu, ruang makan, area kerja yang besar, hingga kolam pribadi tersedia di hotel ini.
Mereka yang melihat mengangguk puas, tidak buruk pikir mereka. mereka pun memasuki ruang tidur masing-masing. Lelah dengan perjalanan begitu panjang.
Keesokan hari nya mereka pun berniat untuk jalan-jalan, mulai dari restoran sampai ke Mall karena mereka hanya membawa 3 lembar pasang baju.
Waktu menunjukkan pukul 1 siang, mereka memasuki restoran milik keluarga Anastasia mereka sudah reservase tempat.
Mereka pun masuk ke dalam ruang VVIP 1, ruangan dengan lampu gantung Kristal dengan meja makan yang panjang. Dari samping mereka bisa melihat aktivitas para pengunjung karena jendela nya terbuat dari kaca tembus keluar tapi mereka yang dari luar tidak bisa melihat aktivitas di dalam ruang itu.
Mereka melihat 2 orang wanita memasuki restoran, yang 1 paruh baya dan yang 1 lagi anak nya. Mereka pun tau kalau mereka adalah pemilik hotel ini, ingat kan berita yang menggegerkan negeri ini tentang pernikahan wanita muda itu.
Mereka duduk sambil berbincang, sesekali mereka tertawa. “Sayang, ibu ke toilet sebentar ya.” Ibu mengelus kepala Linda dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
Linda yang mendengar itu hanya tersenyum sambil mengganggukkan kepala nya.
Sang ibu itu pun pergi ke toilet karena kesebelet. Hanya tersisa Linda dengan memainkan ponsel di tangan nya.
Tanpa di sangka nya pelayan yang menyediakan minuman dengan membawa nampan untuk mereka tidak sengaja tersandung kursi di dekat nya. Seketika itu juga baju Linda kotor tertumpah jus, Linda pun berdiri sambil membersihkan pakaian nya dengan tisu yang di meja.
“Kurang ajar, kerja gak becus. Ini baju mahal lu bisa ganti gak. Kotor ini gajih lu 5 tahun aja gak bisa gantiin ini baju yang gue pake.” Bentak Linda dengan wajah kesal nya.
Pelayan itu pun ketakutan dengan bulir air mata terjatuh di pelupuk mata nya.
“Maafkan saya nona, saya tidak sengaja.. Hiks.. Jangan pecat saya.” Pelayan itu memohon sambil menangkup tangan di dada nya, Linda tak bergeming sama sekali.
Linda bahkan mengayunkan tangan nya. Pelayan itu sudah menutup mata nya. Dia ketakutan tubuh nya sudah gemetaran. Kalau dia di pecat bagaimana dengan anak nya.
HAP!!
______________________________________
VISUAL GITA
VISUAL OLA
**Tbc***