Great Woman

Great Woman
Episode 25



Vio yang saat ini asik berendam dalam bath up nya, bahkan dia pun tidak memperdulikan mereka yang di bawah menggosipin diri nya. Entah kah Vio masa bodo, toh cepat atau lambat pasti terbongkar juga kan pikir nya.


Dia memejamkan mata nya, merasa rileks dengan campuran wewangian yang begitu menenangkan. Dengan musik yang mengalun di dalam kamar mandi menambah kenyamanan yang Vio rasakan.


"Lapor Queen, di luar Mansion jarak 10 meter mematai Mansion kita ada yang bersembunyi di sekitar semak dan juga dalam mobil, sekitar 20 orang bersenjata dan beberapa dari mereka menggunakan katana ada juga yang memakai celurit," sistem Black mengatakan keadaan di sekitar, sebab Vio memantau keamanan mereka dalam jarak kurang lebih 1 KM.


Vio mendengar hanya menghela napas berat, Vio merasa letih, tubuh nya sudah meronta-ronta minta di istirahatkan. Tapi malah ada para cacing pengganggu yang membuat dia bergerak lagi, sungguh Vio merasa sangat kesal. Emosi nya sudah dari tadi di tahan nya.


Terbuka lah mata nya yang jernih menyiratkan kekejaman pandangan nya setajam silet, dia merasa akan haus darah. Vio menyeringai "Lumayan sebagai pelampiasan."


"Black intruksikan kepada mereka agar bersiap, mereka yang tidak bisa bertarung masukkan dalam ruang pelatihan, perintahkan para mesin siap siaga." perintah Vio sambil beranjak dari kamar mandi.


"Laksanakan Queen."


Setelah itu dia pun mengambil pakaian nya dalam wadrobe dengan menggunakan costum seperti cosplay dengan baju putih, berdasi pink, dengan rompi hitam dan sarung tangan coklat menggunakan celana hitam dengan ikat pinggang, serta menggunakan holster di tubuh nya memegang pistol di tangan kanan nya.



Tampilan nya begitu elegan apa lagi dengan semangat yang berapi sudah kepengen menuntaskan para cacing pengganggu.


Vio duduk di kasur nya sambil mengutak atik pistol nya, menunggu Black menginstruksikan apa yang di perintahkan Vio.


Di lantai bawah mereka masih asik menceritakan kisah pahit Vio dengan Dina yang mendominasi pembicaraan.


"Kalian tau, gue aja yang mendengar mereka menghina dan tanpa segan mereka menampar Vio geram sendiri setelah ******. Sialan," umpat Dina gedek sendiri.


Mereka mendengar cerita Dina raut wajah nya berubah kadang mereka menggeram kadang raut nya susah di artikan, apa lagi Edward and the geng mereka hanya datar padahal dalam hati sudah kebakaran jenggot pengen menghancurin keluarga ******** yang tega memperlakukan anak nya seperti itu.


BIP!!


BIP!!


BIP!!


Suara seperti sirine berbunyi nyaring di Mansion, mengalihkan perhatian mereka. Para pelayan sudah berlari ke kamar masing-masing berganti pakaian seragam hitam keluar dengan membawa senjata di tangan.


"Sial." desis Dina sambil berlari di ikuti Andi di belakang menuju kamar mereka berganti pakaian dan mengambil pistol yang tersimpan di bawah tempat tidur. Sedangkan mereka yang melihat hanya bingung, apa lagi sebagian dari mereka ketakutan melihat para pelayan berseragam dengan memegang senjata dengan gagah nya berbaris rapi di halaman Mansion.


"Apa yang terjadi?" Arthur kepo, yang lain hanya mengangkat bahu dan ada juga yang menggeleng. Mereka tidak tau karena mereka baru sebulan berada di sini.


"Perintah Queen, untuk yang tidak bisa bertarung silahkan menuju ruang pelatihan," sistem Black tiba-tiba memerintahkan mereka , mereka yang mendengar bingung mengapa harus ke ruang pelatihan dengan otomatis pintu itu terbuka mereka mengikuti perintah Black hanya tersisa Edward and the geng di ruangan itu, bagi mereka bertarung salah satu hiburan memacu adrenalin.


Dina dan Andi sudah siap dengan seragam nya, berjalan menghampiri Edward and the geng.


"Kalian gak ngikut yang lain?" tanya Andi menatap mereka, mereka yang di tatap menggelengkan kepala. "Ingin bertarung?" tawar Andi, mereka mengangguk bersama.


"Karena kalian ingin bertarung, masuk ke pintu sana ambil senjata yang ingin kalian gunakan." perintah Dina menunjuk pintu di bawah tangga, mereka pun menuju ke ruangan itu dengam Dina memandu. Mereka terkesima melihat isi di dalam nya, lengkap ruangan senjata yang beraneka ragam dari pistol, basoka, katana dan lain nya.


"Gila bro, lengkap banget." takjub Harry


"Kinclong." Edward mengusap pistol di tangan nya.


"Woh pistol Colt 1911." sahut Arthur


"Glock 20," timpal Edric


"Ruger Super RedHawk .454 Casull." takjub Dannis.


"Desert Eagle." tunjuk Harry


Mereka mengalihkan pandangan di salah satu kaca khusus terlihat pistol mematikan di dunia, Smith & Wesson 500 Magnum. Pistol berjenis revolver yang punya daya hancur hampir sama seperti Desert Eagle. Namun pistol satu ini punya kelebihan lain, apalagi kalau bukan akurasinya yang sangat mematikan.


Hal tersebut dikarenakan moncongnya yang lebih panjang dari revolver biasa. Sehingga menawarkan akurasi yang hebat. Kemampuan ini juga didukung oleh kecepatan pelurunya yang bisa menembus angka 2.075 kaki per detiknya.


Dina memutar bola mata malas, ya tuhan para ahli waris malah norak nya minta ampun hedeh.


Mereka memilih senjata yang di gunakan nya, segera mereka keluar dari ruang senjata khusus mereka berbaris menghadap ke depan pintu Mansion.


Terlihat Vio berjalan dengan aura mematikan nya keringat dingin mengucur di pelipis para mereka tak berdampak pada Andi, Dina, Edward and the geng.


Sorot mata yang tajam, aura dingin yang menguar, tubuh yang seksi di tambah jangan lupa set holster yang di gunakan nya menambah kesan garang, Edward and the geng meneguk saliva nya dengan kasar mereka terpesona dan terjebak dalam pesona yang Vio buat.


Vio berhenti di depan mereka, memberi instruksi penyerangan di depan Mansion membiarkan musuh masuk dalam sarang harimau betina yang tak kenal ampun.


Berani mengganggu berani bertanggung jawab.


"Bunuh mereka, tinggalkan satu ketua nya agar bisa di integorasi. Black pastikan layar monitor di ruang pelatihan aktif biar mereka tau apa itu bertarung dan berjuang." Perintah Vio dingin pada sistem Black. Vio terlihat begitu berwibawa, mereka hanya terdiam mendengarkan instruksi.


Black pun mengaktifkan layar monitor yang terlihat di sana Vio memberi wejangen seperti emak-emak yang nyerocos. Padahal Vio hanya berbicara seperlu nya, mereka yang di dalam ruang pelatihan itu menatap dengan serius layar di depan nya.


"Bukan nya gak boleh ya membunuh?" tanya Arthur polos, mereka semua menatap Arthur dengan datar tak terkecuali Vio. Dia memandang wajah baby face lelaki di depan nya ini.


Lelaki ini bukannya mysophobia mengapa malah ngikut bermain pikir Vio.


Ah sudah lah, terserah dia aja. Pasti bakal lucu kalau dia melihat darah. Vio terkekeh kecil tanpa sadar dia menjadi pusat perhatian. Seketika raut nya langsung berubah datar.


Hebat ya mengubah ekspresi semudah membalikkan lembar halaman.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tbc*