Great Woman

Great Woman
Episode 26



Setelah memberi instruksi Vio pun memerintahkan Black membuka gerbang yang menjulang tinggi itu, Beberapa saat masuk lah para kacang pengganggu menggunakan mobil ada juga yang berjalan kaki dan menggunakan motor track.


Mereka pun turun dan saling berhadapan, salah satu dari mereka maju dengan sok gaya, "Dimana Viona?" tanya nya sinis yang di ketahui ia adalah ketua dari geng kacang tersebut.


"Ngapain lu cari Vio?" tanya Dina ketus.


"Serahkan dia, salah sendiri menyinggung bos gue."


"Cih, jadi jongos aja bangga." sahut Edward.


"Ganteng gak usah ikut campur cin," mengerlingkan mata pada Edward, mereka pun pengen muntah melihat lelaki di depan nya seorang banci.


"Oh good, banci." syok Harry sambil memegang kepala nya, karena ia punya pengalaman dengan banci mimpi buruk. Haha


"Ngapa ni anak jadi syok gini?" tanya Andi pada yang lain,


"Lu gak tau yah Harry itu trauma sama banci." jawab Dannis.


"Hahahaha...." serentak mereka pun tertawa mendengar nya ada gitu lelaki takut sama banci, bahkan para kacang pengganggu pun tertawa mendengar nya. Harry muka nya sudah merah padam malu bukan kepalang kartu nya di buka sama si anak ingusan memang sialan.


Vio yang berada paling belakang sudah memutar bola mata nya malas, ia sudah lelah dan letih masih sempat bercanda gitu. Mungkin untuk mengurangi kekencangan urat kali biar pada rileks sebelum bertarung.


"Eh curut lu pada ngetawain gue, sialan." omel Harry tak terima ia sebagai bahan candaan.


"Ok cukup ya, lu pada mau mati ya cari masalah di mari." sinis Dina, memang Dina paling gak bisa diam mulut nya.


"Serahin Viona pada kami," ketus yang di samping banci, lelaki berambut gondrong.


"Oh tidak bisa langkahi dulu mereka!" tunjuk Arthur pada kawan nya, mereka yang di tunjuk menatap horror pada Arthur. Yang menunjuk malah menunjukkan wajah tanpa dosa. Lihat lah menampilkan puppy eyes bikin mereka gemas dengan tingkah laku seorang Arthur Jusuf Samuel sang ahli waris Negara Inggris.


"Kalian.." belum selesai ketua kacang alias si banci itu berucap sudah terdengar bunyi tembakan yang dilontarkan seorang wanita yang berada di atas mobil Alfard punya Edward.


DOR!!


DOR!!


DOR!!


Seketika beberapa orang musuh sudah tergeletak di tanah meregang nyawa, memang Vio sudah menunggu sedari tadi masih juga mereka banyak cincong.


"Woy Sialan kau.." teriak musuh melihat kawan nya meregang nyawa, saku hantam dan suara tembakan terdengar bersahutan banyak musuh yang tergeletak tak bernyawa.


Arthur yang dari tadi hanya memukul dan menendang musuh malah bertemu dengan seorang lelaki yang sudah bersimbah darah di wajah nya.


"Pergi kau sialan jangan deketin gue," teriak Arthur berlari mengelilingi halaman Mansion di ikuti lelaki yang bersimbah darah. Terjadilah aksi kejar-kejaran antara Arthur dengan musuh yang tidak di ketahui identitas nya itu.


DOR!!


"Huwaa darah... Ahhh..." teriak Arthur sambil melihat baju nya yang terkena cipratan darah tanpa perduli banyak pasang mata yang melihat ke absuran nya, ia melepas kan kaus yang di pakai nya memperlihatkan roti kotak nya.


Di ruang latihan mereka ada yang duduk dan berdiri mereka cemas dan begitu kuatir keadaan yang mereka lihat seakan menjadi tantangan hidup bagi mereka, mereka menelan ludah kasar melihat Vio menembak musuh langsung meregang nyawa.


"OMG,, OMG.. " berteriak histeris para gadis yang berada dalam ruang latihan melihat badan Arhur yang begitu seksi bagi mereka.


"Gilaaa,, itu Vio?" salah satu dari mereka takjub melihat tembakan Vio tanpa memperdulikan teriakan para gadis yang lain.


"Ngeri amat.." mama Berlin bergidik ngeri melihat layar yang memperlihatkan baku hantam dan tembakan yang bersahutan, tanah yang sudah bercampur darah menambah keadaan yang kian mencekam.


Setelah beberapa saat musuh sudah tergeletak tak bernyawa hanya ketua yang mereka sisakan hidup, mereka sudah meringkus ketua itu dengan memborgol tangan nya. Pihak Vio pun tidak ada yang menderita luka tembak hanya lebam di wajah dan tubuh mereka. Malam yang melelahkan bagi semua nya, para pelayan pun membersihkan halaman Mansion dan mayat-mayat sudah mereka bawa ke ruang penyimpanan makanan untuk Caca dan Cici.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa mampir ya ke karya author yang lain, jangan lupa kasih like, komen, rate and vote. Tengkyu


**Tbc***