
Mansion Johannes tepatnya di Negara Brazil, terlihat seorang lelaki tanpa menggunakan baju memperlihatkan otot serta dada bidangnya, wajah yang begitu tampan mampu meluluhkan hati para wanita.
Apalagi pada saat lelaki itu tersenyum mampu menghipnotis setiap wanita yang melihatnya bakal berteriak histeris bahkan ada yang pingsan.
Harry yang saat ini bersandar di kepala ranjang sambil melakukan Video Call bersama para sahabatnya. Banyak hal yang mereka bicarakan dari bisnis sampai masalah tuntutan orang tua agar mereka segera menikah di usia muda. padahal mereka masih belum memikirkan masalah wanita.
Tidak ingin di pusingkan dengan drama masalah hati para wnita yang pasti bakal membuat mereka pusing tuuh keliling.
“Gue gak habis pikir sama tu para orang tua, ngapain nyuruh kita nyari pasangan segala coba.” omel Harry.
“Gue lah yang pusing, gue kan yang paling muda di antara kalian. Ngapain juga gue dapat getahnya.” protes Arthur sambil menyesap teh hangatnya.
“Eh, mentang-mentang lu paling muda terus mau protes gitu? No, gak ada yang bisa menolak titah Ayahanda raja dan Ibunda ratu.”sahut Dennis sambil duduk di ruang kerjanya.
“Berisik, gue pusing tau gak. Mengapa coba kriteria cewe yang kita jadiin istri harus sama..?” tanya Edward sambil duduk di balkon.
“Lah kalian kan tau, hoby kita aja sama ya pasti cewe yang kita sukai harus sama lah biar gak ada yang iri, apalagi ya kita semua nih menyukai seseorang yang sama menurut kita menarik perhatian mending itu cewe kita jadikan istri. Anggaplah kita berbagi.” jawab Edric sambil terkekeh.
“Gue sih terserah lu pada aja, kalian kan tau gue paling gak suka ribet. Memang lebih baik gitu aja. Kalau para ortu gak melarang ya gue setuju aja. Asal tu cewe masih murni bro.” sahut Harry
“Gue setuju deh gak ribet, dari dulu kan memang kita kalau menyukai barang ya harus ada minimal itu 5 yang sama jenisnya. Kalau kurang pasti rebutan. Untuk masalah calon istri cukup 1 aja lebih baik biar kita yang berbagi. Asal lu pada jangan mau menang sendiri aja. Malah main serobot aja nanti.” jelas Dennis panjang lebar.
“OK.” ucap Arthur menyetujui. Yang lain juga hanya mengganggukkan kepala.
Mereka pun membicarakan rencana liburan ke New York, minggu depan. Tapi sebelum mereka berlibur, mereka harus menyelesaikan pekerjaannya kurang dalam seminggu, biar mereka tidak terganggu.
New York, Amerika
Viona yang saat ini mendengarkan laporan Andi tentang identitas 3 wanita yang di ajaknya ke Mansion hanya mengganggukan kepala.
“Jadi, mereka yatim piatu..?”tanya Vio memperjelas informasi yang diterimanya.
“Benar Queen, mereka dari bayi sudah ditinggal orang tuanya. Charlotte yang berambut pirang pada berusia 1 bulan ditinggal orang tuanya didekat pos ronda seberang panti asuhan tidak tau jadi diri dia sebenarnya apakah orang tuanya masih hidup sampai sekarang atau sudah meninggal.
Freya berambut hitam lurus bibir sexy pada saat balita berusia 2 tahun kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan hanya dia yang selamat pada saat itu Ibu panti yang berkunjung ke rumah sakit menjenguk temannya tidak sengaja mendengar pembicaraan para perawat karena kasian sebatang kara dia di bawa dan tinggal dipanti asuhan.
untuk Chloe rambut hitam lurus sorot mata yang tegas pada saat berumur 5 tahun tepat didepan matanya orang tuanya dibunuh karena hutang dia yang terluntang lantung sendirian tanpa tujuan bertemu ibu panti dipinggir jalan pada saat itu dia mencari makanan di tempat sampah karena iba ibu panti membawa dia ke panti asuhan.
Maka dari itu mereka bertiga bersahabat selalu bersama dalam setiap duka maupun suka bahkan mereka pada saat sekolah selalu mendapatkan beasiswa, mereka mau melanjutkan ke jenjang perkuliahan tapi karena kekurangan biaya mereka urungkan jadi sekarang mereka bekerja jadi SPG di salah satu Mall terbesar di Negara ini Queen.” jelas Andi panjang lebar.
“OK, segera lu bilangin Dina tambahan untuk 3 orang anggota keluarga, nanti untuk masalah pelatihan mereka lu bantuin Dina. Untuk masalah biaya panti asuhan yang mereka tinggali buat gue jadi Donatur utama perhatikan setiap kebutuhan para anak panti. Untuk masalah Dana lu bilangin aja ke Dina.” sahut Vio menjelaskan sambil duduk bersandar di ruang kerjanya.
“Baik Queen.” jawab Andi. Andi yang melihat Vio melambaikan tangan pun mengerti bahwa dia tidak dibutuhkan lagi disini.
Segera dia keluar meninggalkan Vio yang terdiam sambil melamun entah apa yang dipikirkannya. Hanya kesunyian yang senyap dalam ruang yang hampa tanpa suara.
Ruang Tamu
Terlihat Lala, Liza, Freya, Cloe, Charlotte, Papa Sean dan Mama Belin berbincang-bincang, sesekali mereka tertawa. Tidak butuh waktu lama mereka terlihat akrab karena Papa Sean orang yang humoris mampu mencairkan suasana yang terlihat canggung beberapa menit yang lalu.
“Untuk kalian berdua sudah kami angkat menjadi anak kami.” jawab papa Sean.
“Be..beneran Om..?” tanya Liza dengan mata berbinar. Papa Sean hanya menjawab dengan anggukan kepala sambil tersenyum.
“Yey, akhirnya kita punya keluarga lagi ka.” Liza dengan tersenyum lebar sambil berloncat seperti anak yang mendapatkan permen.
Lala yang melihat adiknya begitu gembira pun hanya menggelengkan kepala, bahkan Lala pun sebenarnya merasa senang hanya saja dia menjaga image agar terlihat lebih dewasa dalam hatinya pun dia bahkan pengen berputar menari-nari saking bahagianya mendapatkan keluarga baru yang mau menerima mereka dengan tangan terbuka tanpa memandang status mereka yang tidak mempunyai harta benda.
Seketika Liza berhenti karena malu menjadi pusat perhatian apalagi dia melihat seorang lelaki dengan tubuh yang tegap berdiri di tangga sambil memperhatikan nya. Segera dia duduk sambil menundukkan kepala.
Lelaki yang melihat dia pun menggelengkan kepala entah apa yang dipikirkannya. Segera dia berjalan ke arah ruang tamu.
“Tuan.” hormat Andi sambil menundukkan kepalanya.
“Gimana Andi, apa yang Vio katakana..?” tanya papa Sean.
“Nona Charlotte, Freya, Chloe, Liza dan Lala. Mereka akan dilatih dan akan dibentuk kepribadiannya. Dan yang bertanggung jawab saya dan Nona Dina.” jelas Andi.
Mereka yang mendengar pun saling lirik satu sama lain.
“Pelatihan..?” tanya mama Berlin bingung.
“Oh ya kalian belum tau karena Nona Dina belum menjelaskan secara detail, untuk masalah ini saya tidak mau mendahului Nona Dina. Nanti saya di hokum.” jawab Andi sambil bergidik ngeri mengingat kembali hukuman yang dia terima kemarin akibat melalaikan tugasnya.
Negara Australia
Di ruang rapat terlihat para petinggi berdiskusi dengan serius membahas masalah Mall yang terbesar karena ada yang mau penjadi pemegang saham sekaligus menjadi pemilik Mall tersebut.
Hacimm!!
“Sialan siapa yang bicarain gue.” geram Dina sambil menggaruk hidungnya yang terasa gatal.
“Lu kenapa Din..?” tanya Jo khawatir.
Dina yang ditanya hanya menggelengkan kepala tandanya dia merasa baik-baik aja. Tinggal sebentar lagi pikirnya kerjaanya bakalan beres.
Tapi dia malah menunjukkan wajah lesu, baru dia ingat habis selesai kerjaan ini dia malah jadi mentor buat para wanita yang akan dijadikan saudaranya.
______________________________________
VISUAL Charlotte
Sumber : google
**Tbc***